ULAMA YANG TERLAHIR DARI MANUSIA-MANUSIA SISA

Mempelajari Ilmu Agama, memahami dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang bukan hanya milik para Ulama dan para Santri. Tapi sejujurnya merupakan kewajiban setiap orang muslim. Namun dengan minimnya jumlah Ulama yang ada dan minimnya pengetahuan masyarakat akan ilmu agama merupakan penyebab akan kekeliruan pola pikir mereka. Seolah-olah realita yang tumbuh dimasyarakat komunitas muslim saat ini berkata bahwa tugas ulamalah yang hanya untuk mempelajari, mengkaji al-Qur’an dan al-Hadits, atau lebih jauh memahami dan mengerti ajaran Islam sampai titik permasalahan mengenai hukum.
Tentunya realita tadi bisa dibuktikan lagi dengan masih banyaknya umat Islam yang hanya cukup apa kata ulama. mereka melaksanakan tanpa mau susah-susah mempermasalahkan benar tidaknya argumen yang mereka dapat.

Masalahnya, pemahaman masyarakat muslim yang keliru ini diperparah oleh kebijakan para orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya kependidikan umum hingga Ilmu Agama dimarjinalkan guna meraih nilai-nilai duniawi. Padahal anak-anak mereka adalah generasi yang akan melanjutkan risalah Islam.

Mereka lebih bangga memiliki anak pandai berbahasa inggris dari pada berbahasa arab. Padahal pemahaman ilmu Agama tidak pernah lepas dari Bahasa Arab. Bahkan semakin parah ketika anak-anak mereka tidak bisa membaca al-Qur’an, mereka para orang tua tidak lebih perhatian seperti perhatiannya untuk memanggil guru privat bahasa Indonesia bagi anaknya. Walaupun memang ilmu-ilmu umum pun perlu diberikan kepada mereka guna menambah wawasan. Namun jikalau ilmu agama di kesampingkan bahkan dinomor duakan hingga kenyataan ini sudah meluas diseluruh umat islam, maka suatu saat kita akan sulit sekali mendapatkan para ulama yang dapat menyelesaikan permasalahan umat.

Layaknya kita musafir di tengah padang pasir yang kehausan, ulama adalah Oasenya. Lalu jikalau Oase yang kita cari tidak kunjung ketemu, apakah kita sanggup meneruskan perjalanan yang begitu jauh tanpa tenaga tersisa hingga sampai ketempat yang kita tuju ?

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, ketika kita dapatkan hampir di setiap Pesantren-pesantren yang banyak menampung para santri, kebanyakan dari mereka adalah manusia-manusia sisa. Dimana Pesantren dijadikan alternatif kedua setelah mereka tidak lulus tes masuk di sekolah-sekolah umum unggulan atau perguruan tinggi. Alhasil, .. Pesantren sebagai Pabriknya Ilmu agama seolah-olah menghasilkan para Ulama yang terlahir dari manusia-manusia sisa, yang tidak ditopang oleh akalnya yang kuat dan tajam, jiwanya yang teguh menghujam kemaksiatan.

Hingga dari jumlah Ulama yang sangat minim kita dapatkan sebagian besar dari mereka adalah Ulama-ulama yang terlahir dari manusia-manusia sisa tadi. Sedangkan manusia-manusia luar biasa “super” telah lepas dan luput dari perhatian kita, bahkan semakin jauh dari Ilmu Agama. Hingga kepandaian mereka diarahkan pada ilmu-ilmu umum guna mengejar nilai-nilai materialis. Bahkan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam guna menyerang dari dalam. Hingga muncul pemikiran-pemikiran yang dipertuhankan. Mereka lebih bangga pada pemikiran mereka daripada harus menerima dogma ajaran Islam yang tidak mereka fahami secara akal. Sekalipun mereka faham, namun dengan begitu mudah mereka putar balikan fakta kebenaran dengan kecemerlangan otak mereka hingga rivalnya tidak bisa berkutik ditengah perhelatannya.

Bahkan kalau kita jujur berapa pesantrenkah dari sekian banyak pesantren yang tersebar diseluruh pelosok negri ini, yang benar-benar menerapkan kurikulum berbasis agama tanpa dicemari oleh kurikulum lain yang sedikit telah menggeser kurikulum inti yang ada dipesantren ? minim sekali. Tidak lebih dari 5 % yang masih mengkhususkan diri membina dan mengarahkan para santrinya pada Ajaran Islam.

Disatu sisi minimnya Ulama sekaliber Bukhori kita rasakan, tapi disisi yang lain gelar keulamaan pada saat ini begitu mudah didapat oleh siapa saja. Tergantung masyarakat menilai. Hanya dengan bisa ngomong saja soal agama walaupun sepatah dua patah kata, di tunjang dengan penampilan yang meyakinkan, orang dapat meraih gelar ulama dengan mudah tanpa harus bersusah payah masuk Pesantren 6 tahun lamanya.

Tidak sedikit para ulama yang berasal dari kalangan artis dan pelawak ikut memeriahkan da’wah dipentas dunia ini. Bahkan yang berasal dari Muallafpun mengisi deretan para ulama yang ada dimasa kini. Itu baru sebagian dari para ulama yang kita kenal. Belum lagi para ulama yang belum kita kenal. mereka yang ada di mesjid-mesjid, pesantren-pesantren, dan seluruh daerah yang ada pelosok-pelosok negri. dari manakah latar belakang mereka ? dari sekian jumlah ulama itu dapat kita hitung sebagian besar mereka bukanlah jebolan hasil didikan Pesantren dengan kurikulum agama yang utuh. Namun justru mereka yang terlahir dari pendidikan umum, bahkan diantara mereka ada yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan sedikitpun. Maka dengan begitu kiranya telah lengkap akan sebuah judul diangkat “Ulama yang terlahir dari manusia-manusia sisa”

Kenyataan ini tidaklah penulis sayangkan, karena da’wah adalah sebuah tuntutan bagi siapapun selama dia itu muslim. Selama mereka itu mampu untuk berda’wah tanpa melihat latar belakang mereka, kenapa tidak ? hanyalah ketidak setujuan itu baru bisa kita benarkan manakala kita dapatkan diantara mereka itu yang berda’wah tanpa memiliki dasar yang kuat secara Qur’an dan Sunnah. titik.

Namun dari sekian jumlah para ulama itu, harus ada diantara mereka yang terlahir dari manusia-manusia super yang memiliki kecerdasan yang terlihat semenjak kecil dan diarahkan untuk mempelajari Ilmu Agama secara continue. Dibimbing dan disekolahkan kepesantren.

Para orang tua yang memiliki anak-anak yang cerdas harus ada satu diantara anak-anak mereka untuk di hibahkan ke Pesantren guna melayani Umat Islam yang sedang linglung ditelan arus.

Jangan sampai terjadi,.. cita-cita orang tua dan sang anak yang cerdas untuk masuk ke Pesantren kandas, .. ! hanya karena sayang sang anak yang memiliki izajah dengan nilai yang tinggi tidak dipakai untuk masuk sekolah negri.

Idealnya, sebuah Pesantren seharusnya memiliki kekhususan dengan satu wujud serta memiliki daya jual yang tak bisa ditawar-tawar oleh pembeli dengan sistem kurikulum agama yang siap mencetak para ulama-ulama dari manusia-manusia super. Dan ini harus di dukung oleh para orang tua yang memiliki anak yang pintar, cerdas dan jenius untuk disekolahkan di Pesantren dan diarahkan khusus untuk mengkaji Ilmu Agama hingga dikemudian hari terlahir para ulama sekaliber al-bukhori dan muslim. Namun melihat kondisi sekarang, harapan itu sepertinya masih tertutup kabut yang sangat tebal walau sebenarnya dekat tuk diraih.

Ulama laksana bola lampu memancarkan cahaya yang menerangi sekelilingnya. Namun perlu kita sadar bahwa terang tidaknya ruangan tergantung pada kualitas bola lampu tersebut. Begitupun figur seorang ulama. Baik tidaknya suatu tatanan masyarakat tergantung kualitas ulama yang mereka miliki.

Minimnya jumlah ulama juga kita rasakan manakala mereka pada meninggalkan alam dunia ini satu persatu dengan bergesernya waktu. Ini merupakan kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri dimana taqdir kematian tidak pernah memandang bulu. Dengan kematian mereka, umat Islam pada hakekatnya sangat dirugikan. Namun sebenarnya kerugian itu bisa diminimalisir manakala pengkaderan sejak dini dari sekian juta jiwa anak yang lahir dari umat Islam harus ada sebagaian para orang tua mengarahkan anak mereka yang pintar dan jenius untuk mengkhususkan diri mengkaji ilmu agama sebagai manifestasi umat Islam dikemudian hari. Hingga tercipta Ulama yang benar-benar seorang ulama yang faham betul akan ajaran Islam yang dikajinya untuk meneruskan langkah-langkah para ulama yang telah meninggalkan kita.

Minimnya jumlah para ulama adalah sebuah kenyataan. Kenyataan ini akan sangat kita rasakan pula manakala kita tidak mendapatkan para penghafal Qur’an menjamur dinegri kita yang mayoritas muslim seperti menjamurnya pada masa-masa kekhalifahan.. Hanya karena al-Qur’an pada saat ini mudah kita dapatkan dalam mushaf begitu mudahnya alasan tuk tidak menghafal itu di pegang. Memang kita setuju bahwa pemahaman lebih penting dari hafalan. Namun lebih penting lagi jikalau hafalan disertai pemahaman daripada berpijak diatas pemahaman saja.

Dampak dari demikian adalah sulitnya orang mencari imam dalam shalat. Rasulullah bersabda : “Diantara tanda-tanda kiamat adalah orang-orang yang berada dalam mesjid saling dorong karena tak ada yang mengimami mereka” (HR. Abu Daud)

Dan para penghafal Hadits sebagai pemelihara Sunnah. seperti didapatkannya pada jaman para shahabat Nabi hingga para tabi’in.

Sejatinya, Ulama menjadi panutan masyarakat guna memberikan bimbingan akan ajaran Islam yang benar. Menasehati, mengarahkan, mengingatkan bahkan menegur. Namun karena kualitas para ulama yang sangat minim, ulama sebagai panutan masyarakat tidak tampak dilapangan. Mereka dimata masyarakat sekarang sudah hilang kehormatan dan kewibawaannya.

Fenomena yang demikian menjadikan banyak para ulama yang sudah tidak didengar dan diturut lagi akan nasehatnya dengan diacuhkan begitu saja tanpa kesan yang berbekas dihati pendengar.

Wallahu A’lam Bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *