Tema ”Kembalinya Khilafah ‘Ala Minhāji Nubuwwah (Haditsnya Lemah)” ini sebenarnya telah lama kami share tepatnya tanggal 5 April 2016 di situs ini (klik disini) yang dimana catatan lanjutannya belum kami postkan.

Post lanjutan tersebut lebih fokus pada analisis rawi ketiga yang majhul yaitu Daud bin Ibrāhīm al-Wāshitī. Siapakah rawi ini?.

Sebelum post lanjutan ini kami share, beri kami kesempatan untuk menanggapi sebuah catatan yang dikutip pada sebuah situs tgl. 5 Maret 2018 sebagai kritik balik terhadap catatan yang telah kami share sebelumnya tanggal 26 Mei 2016 masih di situs tersebut. Memang terlihat jeda waktu yang cukup lama antara tanggapan dengan tema yang dikritiknya, namun itu kami anggap hanya sebagai tekhnis saja.

Tanggapan:

Pada judul Kritik Nalar Hadis Khilāfah Akhir Zaman (Kritik Atas Kritik) tersebut disebutkan:

Dinilai Tsiqah, Tapi Koq Syadz?

Kami Jawab:

Udah popular bahwa Syādz itu suatu istilah datang dari rawi yang tisqah ia menyendiri dengan lafadz yang dibawanya menyelisihi rawi/jalur lain yang lebih tsiqah darinya atau lebih banyak darinya.

Ketika teori-teori para ulama ahli hadits kita rujuk, maka sepantasnyalah praktek-praktenya mereka pun kita tela’ah sebagai rujukan pula, agar keselarasan teori dengan praktenya mereka lebih dalam kita fahami bukan sekedar asumsi dari teorinya belaka.

Pada judul Kritik Nalar Hadis Khilāfah Akhir Zaman (Kritik Atas Kritik)  tersebut kami dapatkan definisi Syādz pengkritik mengutip di kitab Fath Al-Mughits fii at-Ta’liq ‘Ala Taysir Mushthalah Al-Hadits, dimana disebutkan bahwa Syādz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi Maqbūl tanpa dijelaskan apa maksud Maqbūl disana? dan tidak mengutip redaksi lain untuk bisa saling menjelaskan makna tersebut.

Berikut kami rujuk antara teori dan praktenya para ulama ahlu hadits:

Kaidah Syādz :

  1. Kitab Muqaddimah Ibni Shalāh. Bab: an-Nau’u ats-Tsālits ‘Atsar: Ma’rifatu asy-Syādz. Juz: 1 hal.77

وَذَكَرَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَنَّ الشَّاذَّ هُوَ الْحَدِيثُ الَّذِي يَتَفَرَّدُ بِهِ ثِقَةٌ مِنَ الثِّقَاتِ، وَلَيْسَ لَهُ أَصْلٌ بِمُتَابِعٍ لِذَلِكَ الثِّقَةِ.

“al-Hākim menyebutkan bahwa Syādz adalah hadits  dimana rawi tsiqah menyendiri (tafarrud) dari rawi-rawi tsiqah yang lain, dan ia tidak memiliki rawi lain sebagai mutābi’nya”

  1. Kitab Nuzhatu an-Nadzar Fie Taudlīh Nukhbati al-Fikar: al-Hāfidz Ibnu Hajar. Hal. 214:

وعُرِفَ بهذا أَنَّ بينَ الشَّاذِّ والمُنْكَرِ عُموماً وخُصوصاً مِن وَجْهٍ؛ لأنَّ بينَهُما اجْتِماعاً في اشْتِراطِ المُخالفَةِ، وافْتراقاً في أَنَّ الشَّاذَّ رواية ثقة أو صدوق، والمُنْكَرَ رواية ضعيف. وقد غَفَلَ مَن سَوَّى بينَهُما، واللهُ أَعلمُ.

“Dan diketahuilah dengan ini bahwa antara Syādz dan Munkar umum atau khusus adalah antara keduanya terdapat kesamaan (berkumpul) dalam syarat mukhālafahnya, dan berbeda pada (istilah) yaitu bahwa Syādz adalah riwayat rawi tsiqah atau shadūq adapun Munkar adalah riwayat rawi dlaif. Dan lalailah orang yang menyamakan antara keduanya. Wallāhu A’lam”.

  1. Kitab an-Nukat ‘Alā Kitāb ibni as-Shalāh Libni Hajar. Al-Fashlu ar-Rābi’. Juz 1 hal. 182

أن الشاذ هو أن يخلف الثقة من هو أوثق منه أو أكثر،

“Syādz adalah rawi tsiqah yang menyelisihi orang (rawi) yang lebih tsiqah darinya tau lebih banyak darinya”

  1. Kitab at-Taqrīb wa at-Taisīr Lin-Nawāwi. Bāb an-Nau’u ats-Tsālits ‘Atsar: Syādz. Juz 1 hal.40:

الشاذ هو عند الشافعي وجماعة من علماء الحجاز ما روى الثقة مخالفاً رواية الناس

“Syādz menurut Imam asy-Syāfi’ie dan Jama’ah para ulama Hijāz adalah: (Hadits) yang diriwayatkan oleh rawi Tsiqah menyelisihi riwayat orang-orang ”

  1. Kitab al-Ittijāhāt al-‘āmmah Lil-Ijtihād wa Makānatu al-Hadīts al-āhād Fīhā. Nuruddin Muhammad ‘Itr. Juz 1 hal. 39:

الحديث الشاذ هو ما رواه الثقة مخالفًا لمن هو أوثق منه بمزيد ضبط، أو كثرة عدد.

“Hadīts Syādz adalah apa yang diriwayatkan oleh rawi tsiqah menyelisihi rawi lain yang lebih tsiqah darinya sebab kelebihan dlabitnya atau lebih banyak jumlahnya”.

  1. Kitab ‘Ilmu ‘Ilali al-Hadīts wa Dauruhu Fie Hifdzi as-Sunnati an-Nabawiyyati. Ibnu Muhammad ‘Abbās. Bab: asbābu al-‘Illati Fie al-Hadits. Juz 1 hal. 41

قال الحاكم: “فأَمَّا الشاذ فإنه حديثٌ يتفرد به ثقة من الثقات، وليس للحديث أصل متابِعٌ لذلك الثقة” فيظهر من تعريفه أن الشاذ هو الحديث الذي انفرد به الثقة خالف أم لم يخالف.

Imam al-Hākim berkata: Syādz adalah hadits  dimana rawi tsiqah menyendiri (tafarrud) dari rawi-rawi tsiqah yang lain, dan ia tidak memiliki rawi lain sebagai mutābi’nya”. Maka disini nampak jelas dari ta’rif al-Hākim bahwa Syādz adalah hadits yang di dalamnya terdapat rawi tsiqah yang menyendiri (tafarrud) menyelisihi atau tidak menyelisihi.

=========

Dari kaidah-kaidah diatas sudah sharīh dan terang benderang seperti terang benderangnya matahari. Seluruh para ahli hadits sudah pada memahami makna syādz datang dari rawi tsiqah atau minimal rawi shadūq. Adapun datang dari rawi dlaīf disebut munkar. Ini pelajaran dasar yang sudah pada difahami oleh para penuntut ilmu.

Dari kaidah-kaidah syādz diatas apabila disimpulkan maka:

Telah terjadi Syādz apabila seorang rawi tsiqah atau shadūq menyendiri (tafarrud) dalam lafadz yang dibawanya disaat jalur-jalur lain tidak ada yang membawa tambahan itu. Jalur-jalur lain yang dimaksud adalah jalur yang shahīh yang padanya terdapat rawi yang lebih tsiqah darinya atau jumlah jalurnya lebih banyak.

Untuk lebih kuat dari teori-teori diatas kami kutip praktek-prakteknya para ahlu hadīts sebagai relevansi antara teori dan praktek:

Praktek Pertama:

Mukhālafatu Tsiqāth Yahya bin Sa’īd al-Qaththān

Siapa yang tidak kenal dengan Yahya bin Sa’id al-Qaththān bagi pecinta ilmu hadits? seorang rawi tsiqah mutqin hāfidz sekaligus ahli jarh ta’dīll yang terkenal (masyhūr).

Al-Qaththān pada suatu tema haditsnya meriwayatkan tentang tata tertib meludah di Masjid. Periwayatannya sampai kepada Imam at-Tirmidzy No. 571. Imam an-Nasāī No. 807. Imam Ahmad No. 27221 dll. Berikut riwayatnya:

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيٍّ، عَنْ طَارِقِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُحَارِبِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا صَلَّيْتَ فَلَا تَبْصُقْ عَنْ يَمِينِكَ وَلَا بَيْنَ يَدَيْكَ، وَابْصُقْ خَلْفَكَ وَعَنْ شِمَالِكَ إِنْ كَانَ فَارِغًا، وَإِلَّا فَهَكَذَا» ، وَدَلَكَ تَحْتَ قَدَمِهِ، وَلَمْ يَقُلْ وَكِيعٌ، وَلَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ: «وَابْصُقْ خَلْفَكَ»

Rasulullāh saw. Bersabda: “Apabila engkau shalat maka janganlah meludah ke samping kananmu dan jangan pula antara kedua tanganmu (ke depan), akan tetapi meludahlah ke belakangmu atau ke samping kirimu jika kosong, jika tidak maka seperti ini”.[1]

(sanad hadits ini milik Imam Ahmad No. 27221)

Pada riwayat milik imam at-Tirmidzy No. 571 masih melewati al-Qaththān ada tambahan lafadz:

أَوْ تَحْتَ قَدَمِكَ اليُسْرَى

“atau di bawah telapak kakimu yang kiri”[2]

Sanad hadits ini baik, hanya saja Yahya bin Sa’īd tafarrud (menyendiri) dalam periwayatan ini pada lafadz tambahannya “wabshuq khalfaka” (meludahlah kebelakangmu) di saat para rawi lainnya yang se-aqran dengannya tidak membawa lafadz tersebut. Diantara riwayat pembandingnya:

 حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ

Rasulullah saw. Bersabda: “Jika seorang mu’min sedang shalat, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan Rabbnya. Maka janganlah ia meludah ke depannya dan janganlah ke samping kanannya, akan tetapi (meludahlah) ke samping kiri, atau di bawah telapak kakinya”

Hadits ini milik Imam al-Bukhāri[3]. Dan masih banyak jalur-jalur lain yang senada dengan ini.

Hadits ini sebagai contoh bahwa yang mahfudz adalah:

  1. Meludah ke kiri atau
  2. ke Bawah telapak kaki,

Adapun tambahan pada jalur yang dibawa oleh Yahya bin Sa’id terdapat tambahan “Ke belakang”. Tambahan ini jika dilihat menurut kacamata pertentangan lafadz tidak terjadi sebab al-Qaththān hanya menambah saja tanpa merubah lafadz ashalnya. Namun kesendirianya dengan lafadz tambahan itu telah terdeteksi oleh Imam Ahmad masih dalam hadits di atas dengan perkataannya:

وَلَمْ يَقُلْ وَكِيعٌ، وَلَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ: «وَابْصُقْ خَلْفَكَ»

“Dan tidaklah Wakī dan ‘Abdurrazzāq mengatakan meludahlah kebelakangmu”

Perkataan Imam Ahmad ini adalah bentuk pengingkarannya dari apa yang dibawa oleh Yahya bin Sa’īd al-Qaththān walau ia seorang rawi tsiqah mutqin hāfidz sekaligus ahli jarh ta’dīll yang terkenal (masyhūr). Imam Ibnu Rajab mengutip perkataan Imam Ahmad ini dalam kitab syarahnya:

وقد أنكر الإمام أحمد هذه اللفظة في هذا الحديث، وهي قوله: ((خلفك)) ، وقال: لم يقل ذَلِكَ وكيع ولا عبد الرزاق

“Dan sungguh (nyatalah) bahwa Imam Ahmad telah mengingkari lafadz pada hadits ini yaitu ucapannya : ‘ke belakangmu’. Dengan berkata: ‘Dan tidaklah Wakī dan ‘Abdurrazzāq mengatakan meludahlah kebelakangmu’ “

(Kitab Fathul Bāri Libni Rajab. Bāb Liyabshuq an yasārihi au tahta qadamaihi al-yusra. Juz 3 hal 13)

Begitupun Imam ad-Dāruquthni mengindikasikan bahwa ini adalah wahamnya al-Qaththān dengan berkata:

هي وهم من يحيى بن سعيد، ولم يذكرها جماعة من الحفاظ من أصحاب سفيان، وكذلك رواه أصحاب منصور عنه، لم يقل أحد منهم: ابزق خلفك

“ini adalah bentuk waham (kelirunya) Yahya bin Sa’īd (padahal) sekumpulan rawi lain yang hāfidz dari sahabat-sahabat sufyan tidaklah menyebutkan tambahan itu, begitupun sahabat-sahabat Mansūr tidaklah satupun dari mereka mengatakan: “meludahlan ke belakangmu”[4]

Ini adalah sebuah pelajaran bahwa tidaklah muthlaq setiap riwayat yang dibawa oleh rawi tsiqah adalah diterima riwayatnya, terlebih membawa lafadz tambahan yang tidak dikenal oleh orang (para ahlu riwayat dan ahlu naqd) dizamannya sampai zaman akhir periwayatan. Apabila terjadi demikian maka nampaklah bahwa selurus-lurusnya rawi dalam periwayatan dengan tingkat keterpercayaan yang tinggi tetap saja mereka adalah manusia bukan malaikat yang ada peluang khilaf dan kelirunya (wahm).

Pada judul Kritik Nalar Hadis Khilāfah Akhir Zaman (Kritik Atas Kritik)  tersebut pengkritik mengajukan 5 bentuk shigah mukhālafah yaitu:

  1. Jika mukhalafah itu disebabkan merubah susunan sanad, atau menggabungkan mauquf (ucapan shahabat) dengan marfu’ (ucapan Nabi), maka dinamakan Mudraj.”
  2. Jika mukhalafah itu disebabkan mendahulukan atau mengakhirkan (rawi pada susunan sanad atau kalimat pada matan), maka dinamakan Maqlub.
  3. Jika mukhalafah itu disebabkan menyisipkan rawi (pada susunan sanad), maka dinamakan Al-Mazid fii Muttashil al-Asaanid.
  4. Jika mukhalafah itu disebabkan mengganti rawi dengan rawi lain atau terjadi kontradiksi pada matan dan tidak dapat ditetapkan mana yang rajih (terkuat), maka dinamakan Mudhtharib.
  5. Jika mukhalafah itu disebabkan merubah lafal namun susunan redaksinya tetap utuh, maka dinamakan Mushahhaf.

Jika ke-5 shigah ini dipakai sebagai tolok ukur mukhālafah, pada point keberapakah Imam ad-Dāraquthny mengukur sehingga beliau menilai Yahya telah menyelisihi shahabat-shahabat Sufyan?

Pada point kebarapakah Imam Ahmad mengukur sehingga beliau mengingkarinya dengan mengatakan “Dan tidaklah Wakī dan ‘Abdurrazzāq mengatakan meludahlah kebelakangmu”?

Apakah cukup dengan 5 shigah mukhālafah tersebut di atas sebagai tolok ukur perbandingan riwayat sehingga kelirulah orang yang menilai mukhālafah jika tidak ada pada 5 shigah tadi walaupun yang menilainya sekaliber ulama Imam ahlu jarh mutaqaddimīn sekalipun?

 

Apabila ke-5 point yang diajukan ini  tidak masuk katagori mukhālafah nya Imam Ad-Dāraquthny dan Imam Ahmad, bagaimana jika kita terapkan qaul yang lain yang telah kami kutip sebelumnya diatas tentang kaidah-kaidah syādz? misalnya masih pendapat Ibnu Hajar di kitabnya An-Nukat:

أن الشاذ هو أن يخلف الثقة من هو أوثق منه أو أكثر

“Syādz adalah rawi tsiqah yang menyelisihi orang (rawi) yang lebih tsiqah darinya atau lebih banyak darinya”

Imam Ahmad dan Imam Ad-Dāraquthny menilai Yahya walaupun tsiqah namun ia bersendirian (tafarrud) dengan lafadznya disaat jalur-jalur lain yang lebih banyak tidak membawa lafadz yang diriwayatkan oleh Yahya. Padahal lafadz yang dibawanya tidak menyelisihi lafadz-lafadz ashal yang dibawa oleh rawi-rawi lain. beliau cuma menambah “meludahlah kebelakang” tanpa menghapus dan mengurangi lafadz ashal tadi. oleh sebab itu lafadz tambahan itulah yang mukhalafah yang mendatangkan tambahan hukum baru.

Padahal Yahya bin Sa’id al-Qaththān seorang rawi tsiqah mutqin hāfidz sekaligus ahli jarh ta’dīll yang terkenal (masyhūr) nyaris tidak ada satupun ahlu naqd yang menjarahnya (mencelanya). Dan tentunya sangat jauh statusnya dengan Habib bin Salim yang sedikit periwayatannya  hanya mendapat ta’dīl (pujian) Tsiqah dari Abu Hātim dan mendapat nilai jarh (celaan) disisi al-Bukhāri dengan spesifikasi nilainya Fiehi Nadzar. sehingga lafadz tambahan yang dibawanya berdampak kerancuan.

Ini baru tanggapan apabila penilaian Tsiqah Imam Abu Hatim dipakai pada rawi yang bernama Habib bin Salim, bahwa Habib ini menyendiri dalam lafadz kembalinya Khilafah Nubuwwah, padahal riwayat-riwayat yang lain tidak satupun menyebutkan kembalinya khilafah Nubuwwah.

Lafadz tambahan yang dibawa oleh jalur Habib rancu. Memang benar setelah masa berlalunya khilafah Abu Bakar r.a sampai dengan Khilafah ‘Ali bin Abī Thālib r.a masih ada khilafah-khilafah yang lain seperti khilafah mu’āwiyah, khilāfah Umayyah, Abbāsiyyah sampai Khilāfah Utsmani 1300 M – 1922 M, namun khusus khilafah kenabian atau lebih dikenal dengan khilāfah ‘alā minhāji an-Nubuwwah hanyalah khilafah khulafāu Rāsyidin yang empat dan ini masanya 30 tahun. ini sudah dipertegas oleh hadits lain:

حدثنا سوار بن عبد الله، حدثنا عبد الوارث بن سعيد ، عن سعيد بن جمهان ، عن سفينة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “الخلافة النبوة ثلاثون سنة ، ثم يؤتي الله الملك ، أو ملكه من يشاء”  قال سعيد: قال لي سفينة: أمسك عليك: أبا بكر سنتين، وعمر عشرا، وعثمان اثنتي عشرة، وعلي كذا، قال سعيد: قلت لسفينة: إن هؤلاء يزعمون أن عليا لم يكن بخليفة، قال: كذبت أستاه بني الزرقاء، يعني بني مروان.

Nabi saw bersabda: “Khilafah kenabian itu 30 tahun. Kemudian setelahnya Allah mendatangkan era kerajaan” Sa’id berkata, Safinah berkata kepadaku: “hendaklah engkau tetap bersama Abu Bakar selama 2 tahun, bersama Umar selama 10 tahun, bersama Utsman selama 12 tahun, demikian juga dengan ‘Ali (±6 tahun). Sa’id berkata: “Aku bertanya kepada Safinah, “mereka menganggap bahwa Ali bukan seorang Khalifah?” ia Menjawab: “Keturunan Bani Az-Zarqa, yaitu bani Marwan telah berdusta”.

(H.R.Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 5 hal.27 no.4646 juga no.4647 cet.Daru Ibn Hazm)

Takhrijnya sudah kami bahas dipost sebelumnya

hadits ini bagi kami sudah terang benderang bahwa khilafah nubuwwah yang dimaksud adalah kekhilafahan shahabat Nabi saw. yang 4 yaitu khilafah khulafaurrasyidin yang jumlah masa tahunnya selama 30 tahun. sehingga ketika jalur Habib pada riwayat Imam Ahmad no. 18319 menyebutkan akan datang lagi khilafah kenabian selain khilafah yang 4 adalah sebuah kerancuan.

Al-hafidz telah memperjelas makna Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah:

حَدِيثِ الْخِلَافَة بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَة لِأَنَّ الْمُرَاد بِهِ خِلَافَة النُّبُوَّة وَأَمَّا مُعَاوِيَة وَمَنْ بَعْده فَكَانَ أَكْثَرُهُمْ عَلَى طَرِيقَة الْمُلُوك وَلَوْ سُمُّوا خُلَفَاء ، وَاَللَّه أَعْلَمُ

“(berdasarkan) hadits khilafah setelahku 30 thn sesungguhnya yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah Khilafah Nubuwwah (Khalifah yang 4), adapun Mu’awiyah serta penguasa-penguasa setelahnya yang jumlah mereka sangat banyak berjalan diatas thariqah (tabi’at) al-muluk (raja-raja) walaupun semuanya dinamakan sebagai Khalifah. Wallahu a’lam.“

(Kitab Fathul Bary; Ibnu Hajar. Juz 12 hal. 392 Cetakan: Darul Ma’rifah)

Demikian untuk tanggapan pertama ini kami sampaikan walau penulis masih lebih tentram dan memilih pada penilaiannya Imam al-Bukhārī dengan menilai Habib Fiehi Nadzar yakni rawi yang sangat lemah yang tidak bisa menguatkan jalur lain atau dikuatkan.

Untuk contoh hadits kedua meneruskan praktek pertama diatas, dan tanggapan yang lainnya in syā Allāh apabila ada kesempatan In Syaa Allah kami lanjutkan.

 

Akhūkum Fillāh.

Abu Aqsith, Dadi Herdiansah

23, Maret 2018

 

[1] Kitab Musnad Ahmad: Imam Ahmad Juz 45 hal. 197 No. 27221

[2] Kitab Sunan at-Tirmidzy: Imam at-Tirmidzy. Juz 1 hal. 571 No. 571 Cetakan: Dārul Gharab al-Islāmi.

[3] Kitab Shahih al-Bukhāri: Imam al-Bukhāri. Hal. 64 Bab: Meludah kesamping kiri atau di bawah telapak kaki

[4] Kitab Fathul Bāri Libni Rajab. Bāb Liyabshuq an yasārihi au tahta qadamaihi al-yusra. Juz 3 hal 13

1 KOMENTAR

  1. Apakah riwayat Yahya bin Sa’īd al-Qaththān tidak bisa dihukumi sebagai riwayat ziyadatuts tsiqah?

    Apakah ada perbedaan istilah antara riwayat syadz dengan ziyadatuts tsiqah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four − four =