TAKHRIJ SHAUM 6 HARI SYAWWAL DAN BANTAHANNYA TERHADAP Ust. M.A

A. PELEMAHAN SANAD IMAM MUSLIM SEBAB KEBERADAAN SA’AD BIN SA’ID

Riwayat Imam Muslim tentang shaum 6 hari pada bulan syawwal telah dinilai dlaif (lemah) oleh beberapa pengkaji hadits diantaranya Ust. M.A. Benarkah dlaif (lemah)?

Berikut sedikit penjelasan dari kekeliruan yang mendlaifkan.

Riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya adalah sebagai berikut:

Sanad Pertama:

  1164ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺃﻳﻮﺏ، ﻭﻗﺘﻴﺒﺔ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ، ﻭﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺠﺮ، ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻋﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ، ﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﺃﻳﻮﺏ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﺟﻌﻔﺮ، ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﻗﻴﺲ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﺑﻦ اﻟﺤﺎﺭﺙ اﻟﺨﺰﺭﺟﻲ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻳﻮﺏ اﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﺃﻧﻪ ﺣﺪﺛﻪ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺛﻢ ﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳﺘﺎ ﻣﻦ ﺷﻮاﻝ، ﻛﺎﻥ ﻛﺼﻴﺎﻡ اﻟﺪﻫﺮ»

Sanad Kedua:

وحدّثنا ابن نمير حدثنا أبي حدّثنا سعد بن سعيد أخو يحيى بن سعيد أخبرنا عمر بن ثابت أخبرنا أبو أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بمثله

Sanad Ketiga:

وحدّثناه أبو بكر بن أبي شيبة حدّثنا عبد الله بن المبارك عن سعد بن سعيد قال سمعت عمر بن ثابت قال: سمعت أبو أيوب رضي الله عنه يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بمثله

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa shaum Ramadlan kemudian diikuti oleh shaum 6 hari pada bulan Syawwal, maka seperti Shaum setahun”.

(Kitab Shahih Muslim; Imam Muslim Juz 1 Hal. 521 No.1164 Cetakan: Darul Thayyibah)

Pada sanad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini walau memiliki tiga jalur sanad periwayatan namun bermuara ke Sa’ad bin Sa’id bin Qais dari ‘Umar bin Tsabit dari Abu Ayyub dari Nabi saw.

Berikut bagan silsilah sanadnya:

Pada riwayat Imam Muslim ini yang dipermasalahkan adalah rawi yang bernama Sa’ad bin Sa’id. Berikut penilaian para Ahlu Jarh terhadapnya:

قال عبد الله بن أحمد بن حنبل عن أبيه : ضعيف

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata dari bapaknya: “(Sa’ad) rawi lemah”

قال ابن معين : صالح

Yahya bin Ma’in berkata: “Dia itu shalih”

وقال محمد بن سعد : كان ثقة قليل الحديث

Ibnu Sa’ad berkata: “Ia itu Tsiqah (terpercaya) hanya saja sedikit haditsnya”

وقال النسائي : ليس بالقوي

Imam An-Nasai berkata: “Dia itu tidak kuat”.

وقال عبد الرحمن بن أبي حاتم : سمعت أبي يقول : سعد بن سعيد الأنصاري كان لا يحفظ

Ibnu Aby Hatim berkata: Aku mendengar bapakku (Abu Hatim) berkata: “Sa’ad bin Sa’ied Al-Anshary bukan seorang penghafal”

وذكره ابن حبان في كتاب الثقات وقال : كان يخطئ

Ibnu Hibban memasukkan (Sa’ad) ke kitabnya Ats-Tsiqath dan berkata: “Dia itu (terdapat) Kekeliruan”

وقال الترمذي : تكلموا فيه من قبل حفظه

Imam Ath-Tirmidzy berkata: “Mereka (para ahlu hadits) membicarakannya (melemahkannya) dari segi hafalannya”


Dari berbagai penilaian diatas Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Taqribu At-Tahdzib menyimpulkan penilaiannya:

صدوق سيء الحفظ

“(Sa’ad bin Sa’id) adalah rawi shaduq (jujur) hanya saja buruk hafalannya”.

Kesimpulan Al-Hafidz dalam menyikapi rawi seperti Sa’ad bin Sa’id ini hemat penulis telah tepat disebabkan Sa’ad memang banyak dikritik dari segi hafalannya.

Dan apabila nilai yang disimpulkan Al-Hafidz Ibnu Hajar ini kita ambil sebagai sandaran maka memang riwayat Sa’ad bin Sa’id kesendiriannya adalah lemah.

Rawi semisal Sa’ad ini dibutuhkan riwayat pendukung untuk mengangkat riwayat yang ia bawa, apabila ia menyendiri riwayatnya dinilai lemah dan apabila ada mutabi’ (rawi lain yang menyertainya) maka riwayatnya baik.

Sanad yang bermuara ke Sa’ad dari ‘Umar bin Tsabit Dari Abu Ayyub Al-Ashari ini bukan saja Imam Muslim yang mencatat dalam kitab Shahihnya, namun juga telah dicatat oleh para imam yang lain, yaitu:

  1. Imam Ahmad; Kitab Musnad Imam Ahmad No. 23533 melewati Abu Mu’awiyah dari Sa’ad
  2. Imam At-Tirmidzy; Kitab Sunan At-Tirmidzy No. 759 melewati Ibnu Munie’ dari Abu Mu’awiyah dari Sa’ad
  3. Imam Abdurrazzaq; Kitab Al-Mushannaf. No. 7918 melewati Daud bin Qais dan Ibnu Jureij dari Sa’ad
  4. Imam Al-Bazzar; Kitab Musnad Al-Bazzar. No. 9097 melewati Zuhair dari Sa’ad
  5. Imam Abu ‘Awanah; Kitab Mustakhraj. No. 2696 melewati Muhadlir dari Sa’ad
  6. Imam At-thahawy, Imam Ahmad, Imam Al-Humaidy di kitabnya melewati Sufyan dari Sa’ad
  7. Imam Asy-Syasyie; Kitab Musnad Asy-Syasyie. No. 1142 melewati Ibnu ‘Amr dari Sa’ad

 

Para imam ini mencatat riwayat pada kitab-kitabnya semua bermuara ke Sa’ad bin Sa’id Al-Anshary.

Namun perlu diketahui bahwa Sa’ad bin Sa’ied pada riwayat ini kenyataannya tidaklah menyendiri. Berikut rawi yang menyertainya:

ﺣﺪﺛﻨﺎ اﻟﺤﻤﻴﺪﻱ ﻗﺎﻝ: ﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ اﻟﺪﺭاﻭﺭﺩﻱ، ﻋﻦ ﺻﻔﻮاﻥ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻢ، ﻭﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻳﻮﺏ اﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳﺘﺎ ﻣﻦ ﺷﻮاﻝ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﺻﺎﻡ اﻟﺪﻫﺮ

ﺣﺪﺛﻨﺎ اﻟﺤﻤﻴﺪﻱ ﻗﺎﻝ: ﺛﻨﺎ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﺼﺎﺋﻎ، ﻋﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻳﻮﺏ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻤﺜﻞ ﺫﻟﻚ

(Kitab Musnad Al-Humaidy; Imam Al-Humaidy Juz 1 Hal. 371 No.385 dan 386 Cetakan: Darus Saqaa)

Pada riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Al-Humaidy ini nampak jelas bahwa bukan saja Sa’ad yang meriwayatkan dari ‘Umar bin Tsabit. Akan tetapi Safwan bin Sulaim dan Yahya bin Sa’id pun meriwayatkan dari ‘Umar bin Tsabit. Berikut bagan silsilah sanad dari ketiga rawi tersebut:

Untuk jalur Safwan bin Sulaim ke Ad-Darowardy ke Al-Humaidy adalah jalur baik.

Safwan bin Sulaim rawi tsiqah (terpercaya):

أحمد بن حنبل : ثقة من خيار عباد الله الصالحين

Imam Ahmad bin Hanbal menilai: “(Safwan) rawi Tsiqah termasuk sebaik-baiknya hamba Allah yang Shalih”.

وقال أحمد بن عبد الله العجلي و أبو حاتم و النسائي : ثقة

Imam Al-‘Ijly, Imam Abu Hatim dan Imam An-Nasai menilai: “(Safwan) adalah rawi Tsiqah”.


Disini nampak kuat, Safwan sebagai rawi penyerta (Mutabi’) bagi Sa’ad adalah rawi tsiqah.

Selain Al-Humaidy, jalur Safwan ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Thabarany dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir No.3911 melewati Dliror bin Shard dan Yahya Al-Hamany.

Berikut riwayatnya:

 ﺣﺪﺛﻨﺎ اﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ اﻟﺘﺴﺘﺮﻱ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺤﻴﻰ اﻟﺤﻤﺎﻧﻲ ﺣ، ﻭﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ، ﺛﻨﺎ ﺿﺮاﺭ ﺑﻦ ﺻﺮﺩ، ﻗﺎﻻ: ﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ، ﻋﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ، ﻭﺻﻔﻮاﻥ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻢ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻳﻮﺏ اﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻭﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳﺘﺎ ﻣﻦ ﺷﻮاﻝ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﺻﺎﻡ اﻟﺪﻫﺮ

Oleh karena itu secara umum jalur Safwan adalah baik dengan sendirinya (Hasan Lidzatih) saling menguatkan dengan jalur Sa’ad yang keduanya sama-sama dapat riwayat dari ‘Umar bin Tsabit menjadi (Shahih Lighairih).

Namun belum cukup sampai sana. Kedua rawi ini (Safwan dan Sa’ad) juga diikuti oleh Yahya bin Sa’id yang juga meriwayatkan dari ‘Umar bin Tsabit seperti pada jalur sanad diatas riwayat Al-Humaidy no.386. Dan Yahya bin Sa’id ini adalah Yahya bin Sa’id bin Qais Al-Anshary yang tsiqah saudaranya Sa’ad bin Sa’id bin Qais Al-Anshary.

 

B. KEKELIRUAN Ust. M.A DALAM PENYEBUTAN NAMA RAWI YAHYA BIN SA’ID

Dalam kajiannya Ust. M.A yang melemahkan riwayat shaum syawwal ini telah keliru dalam penyebutan rawi yang seharusnya adalah Yahya bin Sa’id bin Qais Al-Anshary, namun beliau menunjuk pada Yahya bin Sa’id Al-‘Athar.

Beliau berkata:

“Ibnu Hajar telah menyatakan bahwa yahya bin sa’id adalah lemah. Dan hadits tersebut tidak populer di kalangan sahabat”

 

Komentarku:

Pada pernyataan ini beliau nampak keliru menunjuk seorang rawi dlaif.

Kami kutip dua nama Yahya yang beriringan tersebut di kitab Taqrib karya Al-Hafidz:

  يحيى بن سعيد العطار الأنصاري الشامي ضعيف من التاسعة أيضا مات قبل الذي قبله بمدة

 يحيى بن سعيد بن قيس الأنصاري المدني أبو سعيد القاضي : ثقة ثبت من الخامسة مات سنة أربع وأربعين أو بعدها

(Kitab Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.1056. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.)

Pada kitab ini yang benar adalah Yahya bin Sa’id bin Qais bukan Yahya bin Sa’id Al-Athar.

Yahya bin Sa’id bin Qais adalah rawi tsiqah saudaranya Sa’ad bin Sa’id. Artinya kedua saudara ini sama-sama meriwayatkan tentang shaum syawwal dari ‘Umar bin Tsabit didampingi juga oleh Safwan. Adapun Yahya bin Sa’id Al-‘Athar tidak memiliki sanad keguruan kepada ‘Umar bin Tsabit. Dari segi thabaqahnya juga terpaut jauh, keduanya tidak sezaman.

Yahya bin Sa’id Al-‘Athar termasuk thabaqah (generasi) ke 9 mana mungkin dapat riwayat dari seorang tabi’in pada generasi ke 3 dan ke 4?

Atas kekeliruan beliau ini gugurlah hujjah-hujjahnya. Mana mungkin menentukan riwayat shaum syawwal ini lemah disaat argument yang dibangunnya adalah terdapat kekeliruan (Wahm)?

Jalur Yahya bin Sa’id bin Qais ini walaupun melewati Ismail bin Ibrahim As-Shaig yang Majhul hal namun dengan dua jalur dari Safwan dan Sa’ad dapat dikuatkan riwayatnya. Sehingga pada tahap ini sudah nampak baik kuat riwayatnya dimana ketiga rawi diatas yaitu Sa’ad, Safwan dan Yahya sama-sama mendapat riwayat dari ‘Umar bin Tsabit dari Abu Ayyub Al-Anshary dari Nabi saw.

Dengan ini dapatlah diketahui bahwa tidaklah benar apabila Sa’ad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan oleh Imam yang lain di kitabnya adalah tafarrud (menyendiri). Penilaian cacat pada sanad Imam Muslim terhadap Sa’ad adalah kecerobohan.

Imam muslim mendapat tiga jalur periwayatan yang muaranya ke Sa’ad dimana Sa’ad walaupun memiliki kelemahan namun Imam Muslim sangat mengetahui bahwa Sa’ad tidaklah menyendiri. Dan Imam Muslim menilai jalur Sa’ad yang sampai kepadanya adalah Shahih dimana sa’ad pada jalur ini ada dalam keadaan baik periwayatannya.

Ust. M.A mengatakan:

“Untuk perawi Safwan dalam hal meriwayatkan hadis puasa syawal itu selalu di sertai dengan sa’ad bin Sa’id yang lemah. Dan tiada riwayatnya dalam kutubut tis’ah kecuali di sertai dengan perawi lemah tadi”

Komentarku:

Dalam komentarnya yang ana fahami sepertinya Ust. M.A menilai apabila rawi tsiqah (terpercaya) diiringi oleh rawi dlaif (lemah) maka rawi tsiqah tersebut ikut lemah.

Namun dalam ilmu hadits justru sebaliknya, apabila dua rawi beriringan yang satu lemah dan yang satu lagi kuat, maka bukan yang kuat ikut jadi lemah malah sebaliknya yang lemah menjadi kuat dan kelemahan rawi itu hilang dalam riwayat tersebut. ini dalam kitab shahih al-bukhary biasa disebut riwayat Maqrun. Dalam kitab shahihnya banyak kita dapatkan Al-Bukhary meriwayatkan sanad-sanad maqrun dimana rawi lemah di gandeng (disertai) oleh rawi yang tsiqah.

Apabila logika Ust. M.A diterapkan maka akan banyak sekali riwayat-riwayat dalam kitab Shahih Al-Bukhary yang beliau dlaifkan.

 

C. PELEMAHAN ‘UMAR BIN TSABIT AL-ANSHARY

Setelah pelemahan ditujukan kepada Sa’ad bin Sa’id adalah keliru dan terbukti gagal karena ternyata Sa’ad bin Sa’id riwayatnya pada tema ini dalam keadaan baik yang diantara sebabnya dapat dibuktikan oleh dua rawi lain yaitu Safwan dan Yahya bin Sa’id yang sama-sama meriwayatkan dari ‘Umar bin Tsabit Al-Anshary, maka pelemahan sanad ini berlanjut pada rawi diatasnya yaitu ‘Umar bin Tsabit seorang tabi’ien.

Ust. M.A berkata:

“Jadi hadis puasa enam hari dibulan syawal, ujung-ujung nya dari satu orang yaitu ‘Umar bin Tsabit seorang rank tiga tabiin pertengahan.

Jadi lahirnya hadis tentang enam hari puasa syawal ini di masa tabiin dari ‘Umar bin Tsabit, dan di kalangan tabiin maupun sahabat, hadis itu tidak populer, ia ganjil sekali”

Komentarku:

Ust. M.A dalam hal ini terdapat 2 kekeliruan, yaitu:

1. Pelemahan ‘Umar bin Tsabit.

‘Umar bin Tsabit adalah rawi tsiqah. Dan andaikan dalam sanad ini menyendiri maka kesendiriannya adalah kuat karena ia rawi tsiqah dan mendapat ilmu keguruan sudah tepat dari shahabat Rasul saw yang bernama Abu Ayyub Al-Anshary.

قال النسائي : ثقة

Imam An-Nasai: berkata: “ia itu tsiqah” [1]

وقال الترمذي : صحيح

Imam At-Tirmidzy berkata: “ia itu (haditsnya) shahih” [2]

وقال العجلي : مدني نابعي ثقة

Imam Al-‘Ijly berkata: “ia itu seorang penduduk madinah kalangan tabi’ien rawi tsiqah (terpercaya)” [3]

قال ابن حجر : المدني ثقة

Imam Ibnu Hajar: “dia itu seorang penduduk madinah yang tsiqah” [4]


Terhadap ‘Umar bin Tsabit ini tidak ada seorang ahlu jarh yang mengkritiknya atau menilainya lemah. ‘Umar ini rawi tsiqah di zamannya. Kesendiriannya kuat dijalur ini.

 

2. Tuduhan ‘Umar bin Tsabit Menyendiri (tafarrud)

Riwayat tentang shaum 6 hari dibulan syawwal ini ‘Umar bin Tsabit tidaklah menyendiri, disini nampak jelas beliau terburu-buru dalam I’tibar riwayatnya. Selain jalur ‘Umar yang kuat teriwayatkan kepada 3 rawi yaitu Safwan, Sa’ad dan Yahya juga terdapat jalur lain yang kuat yaitu:

 

Bersambung,……..

 

Abu Aqsith – Dadi Herdiansah

Pameungpeuk – Bandung – Jawa Barat – Indonesia


[1] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Al-Mizzy. Juz 21 hal. 283 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[2] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Al-Mizzy. Juz 21 hal. 283 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[3] Kitab Tahdzibut Tahdzib; Juz 3 hal. 216 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[4] Kitab Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.714. No.rowi 4904. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *