Post ini lanjutan dari post sebelumnya, jika belum membaca silahkan klik disini ….

Untuk jalur berikutnya adalah:

  • Jalur Abu Sa’id al-Khudry r.a

Untuk jalur Aby Sa’id al-Khudry r.a ini hanya teriwayatkan oleh Abu Salamah saja, berikut bagan riwayatnya:

 

Abu Salamah adalah anak dari Abdurrahman bin ‘Auf seorang shahabat Nabi. Ia seorang rowi tsiqah. dan yang meriwayatkan darinya adalah Sa’īd bin Khālid bin ‘Abdillāh seorang rowi dla’if menurut Imam an-Nasāi[1] namun Imam ad-Daraquthny menilai ia dapat dipakai hujjah[2]. al-Hāfidz Ibnu Hajar menyimpulkan penilaiannya dengan shadūq[3].

Jalur ini adalah baik. Dan kalaupun penilaian Imam an-Nasāi diambil bahwa Sa’īd adalah rowi da’īf tetap saja pada periwayatan ini hafalan Sa’īd sedang bagus terbukti di jalur-jalur lain yang sudah dibahas menguatkan periwayatannya.

 

  • Jalur Anas bin Malik r.a

Untuk jalur Anas bin Malik r.a ini juga hanya sanad tunggal dimana yang menyebutkan dapat dari Tsumāmah dari Anas adalah ‘Abdullah bin al-Mutsannā seorang rowi yang dinilai tidak kuat oleh Imam an-Nasāi[4]. Adapun Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah dan Abu Hātim menilai ia shālih[5]. Ibnu Hibbān menilai ia rubbamā akhta (ia ada kekeliruan)[6]. Atas keseluruhan penilaiannya al-Hāfidz Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa ‘Abdullah bin al-Mutsannā seorang rowi shadūq katsīru al-ghalath[7] (ia jujur namun banyak salah).

Melihat jalur yang ia bawa disini menyebutkan Tsumāmah dapat dari Anas dan dibandingkan dengan jalur Hammād pada periwayatan Abu Hurairah yang sudah dibahas penulis menilai pada jalur yang dibawa oleh ‘Abdullah bin al-Mutsannā ini keliru. Terbukti di jalur Hammād seorang rowi yang tsiqah menyebutkan bahwa Tsamāmah dapat dari Abu Hurairah r.a. oleh sebab itu jalur yang dibawa oleh ‘Abdullah bin al-Mutsannā sanadnya lemah dan yang mahfudz adalah jalur Hammād dari Tsumāmah dari Aby Hurairah r.a.

  • Kesimpulan Seluruh Jalur Periwayatan

Dengan memperhatikan seluruh jalur yang telah penulis bahas diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Hadits tentang lalat jatuh ke air kemudian Rasulullah saw. Menyuruhnya untuk dibenamkan dulu derajatnya
  2. Dari 3 jalur periwayatan yang di sandarkan kepada 3 shahabat Nabi saw, jalur yang mahfudz hanya 2 jalur yaitu jalur Abu Hurairah dan jalur Abu Sa’id al-Khudry saja. Adapun untuk jalur Anas r.a didapatkan kekeliruan dari rowi ‘Abdullah bin al-Mutsannā.

 

  1. Tinjauan dari segi semantik (makna kebahasaan)

Dalam ilmu hayat (Biologi), bahwa tiap sesuatu yang berbahaya ada penetralnya, kalau tidak ada tentu lalat tidak bisa hidup. Dalam lafal lain: “Dalam makanan seseorang diantara kamu”, sebagai pengganti kalimat :”dalam minuman salah seorang  diantara kamu, “apabila lalat itu jatuh ke dalam makanan/minuman itu, maka hendaklah dicelupkan lalat itu; sebagaimana tambahan dsalam riwayat Al-Bukhari sebagai penguatnya. Dalam Abu Dawud tertulis: “Perhatikanlah”, dan dalam Riwayat Ibnu Sukni, tertulis: “Hendaklah ia memperhatikannnya”, sebagai pengganti kalimat: ”hendaklah ia celupkan”.. Kemudian hendaklah dicabut (dikeluarkan) lagi setelah dicelup itu. Dalam hadits itu terkandung “pengertian” perlahan-lahan sewaktu mengeluarkannya sehabis di celup itu..

Hadits tersebut sebagai dalil yang jelas menunjukkan boleh membunuh lalat untuk mencegah bahaya/penyakit, hendaknya dibuang tidak boleh di makan  dan menunjukkan bila lalat itu mati di dalam zat yang cair, maka tidak menjadikannya najis, sebab nabi SAW, memerintahkannya untuk mencelupknnya, karena sebagaimana diketahui bahwa dengan di celup itu lalat akan mati, terutama bila minuman /zat itu panas, seandainya lalat itu menajisi makanan, maka sungguh  beliau sudah menyuruh membuang makanan yang di jatuhi lalat itu, tapi kenyatannnya beliau hanya menyuruh memeliharanya dengan baik.

عن سلما الفارسى رضي الله عنه قال : ان النبي صلى الله عليه وسلم قال : يا سلما ايها طعامااو شراب ماتت فيه دابة ليست فيه نفس ساءلة فهو الحلال  اكله وشربه ووضؤه. ( رواه الترمذى والدارقطنى)

Dari Salman Al-Farisi r.a: Menerangkan bahwasanya nabi SAW bersabda: Hai Salman setiap makanan/minuman yang di dalamnya binatang yang tidak mempunyai darah yang mengalir telah mati, maka makanan dan minuman itu halal dimakan dan di minum atau boleh untuk mengambil air salat” (H.R At-Tirmidzi dan Ad-Daruquthny)

  1. Tinjauan Dari Segi Hukum

Ditinjau dari segi hukum, air suci yang kurang dari dua kulah yang kejatuhan lalat ataupun binatang sejenis yang tidak mengeluarkan darah (darahnya tidak mengalir) maka hukum air tersebut adalah suci dan boleh di gunakan untuk bersuci. Hukum lalat itu sama dengan hukum binatang-binatang serangga lainnya yang tidak mempunyai darah yang mengalir, seperti lebah, nyamuk dan yang sejenis itu. Karena hukumnya berlaku umum berdasarkan keumuman illatnya (alasannya), dan tidak ada hukum karena tidak ada penyebabnya. Oleh karena penyebab najisnya adalah darah yang mengalir dan kematian binatang yang darahnya mengalir dalam makanan, sedang serangga itu tidak mempunyai darah yang mengalir, maka hukumnya tidak menajiskan makanan, karena tidak ada illatnya.

  1. Tinjauan dari segi kesehatan dan penelitian modern

Alasan perintah mencelupkan lalat itu adalah agar obat penawar racun keluar dari lalat itu  sebagaimana keluarnya penyakit/racunnya sudah di maklumi bahwa pada lalat itu terdapat zat beracun. Itulah sebabnya Rasulullah memerintahkan untuk membunuh zat beracun itu dengan  zat yang bermanfaat (anti toksin) yang ada pada sebelah sayapnya. Sudah banyak dokter yang menjelaskan  bahwa sengatan kalajengking dan semut bila bekas sengatannya itu  di  gosok dengan lalat, maka nyata sekali hasiatnya dan hilang rasa gatalnya, hal itu hanyalah Karena ada zat  sebagai obat  yang ada pada lalat itu[8]

  1. Tinjauan Pendapat
  2. Pendapat yang mendustakan hadits lalat

Para ahli yang menolak  hadits ini, dengan arti tidak mengakui bahwa nabi  telah menyabdakan  hadits ini ialah Dr Taufiq Shidqy, dalam kitabnya Sunatul Kainat, beliau menerangkan :

“ Demam tiga hari, demam tujuh hari, adalah di sebabkan lalat, satu lalat, bertelur 900 ekor dan hidup paling lama tiga minggu. Penyakit ini bernama “Pappatalassi”, nama lalat yang yang menjadi penyebabnya dikenal  dengan nama “Phlebtomus Pappatatassi”. Pendapat beliau di kuatkan oleh para ahli sarjana kedokteran Inggris, telah menetapkan bahwa diantara penyebab utama terjangkitnya penyakit Kolera di kalangan pasukan sewaktu pecah perang  pada tahun 1899-1902 adalah lalat.[9]

Berkenaan dengan hadits yang di riwayatkan oleh al-Bukhāri dari Abu Hurairah ini, walaupun sanadnya shahih, masuk kedalam golongan hadits musykil. Terdapatnya hadits itu di dalam  Shahih Bukhari, tidak menjadi dalil yang positif  (qoth’iy) bahwa Nabi benar-benar  bersabda demikian. Tegasnya menurut dokter ini, perintah Nabi membenamkan lalat adalah untuk memberi suatu petunjuk, bukan untuk menekankan kita untuk berlaku demikian, karena beliau juga berpedoman pada  sabda Rasulullah “Aku ini hanya seorang manusia, karena itu apa yang aku terangkan  kepadamu  dengan membawa nama Allah, terimalah ia, hak dan benar. Tetapi  sesuatu yang aku terangkan  berdasarkan pendapatku, maka mungkin bisa salah. Aku ini hanya seorang manusia”.[10]

DR Maurice Bucaille juga termasuk yang menyangkalnya, Menurut rasional yang ilmiah bahkan anak SD kelas VI pun pasti tahu, bahwa lalat adalah binatang kotor, yang makanannya adalah bangkai, kotoran manusia dan hewan, sampah dan sebagainya.

Lalat juga menyebarkan berbagai penyakit mulai Kholera, Diare, Desentry, Thypus, TBC, dan sebagainya. Hal ini disebabkan lalat adalah media berbagai kuman penyakit (carier patogen) mulai bakteri patogen bahkan virus penyebab berbagai penyakit, yang menempel di badannya. Pelajaran inipun pernah kita terima ketika masih di SD yaitu di pelajaran IPA khususnya Ilmu Pengetahuan Hayat (biologi). Sungguh tidak “masuk akal” hadits di atas. Wajar saja bila DR. Maurice Bucaille yang merupakan seorang dokter ahli bedah asal Perancis yang sudah masuk Islam-pun menyangsikan hadits tersebut. Secara rasional dan logika, mungkin hal ini benar dan hadits di atas “ngawur”[11]

  1. Pendapat yang membenarkan hadits lalat

Studi yang dilakukan oleh Universitas Colorado di Amerika menunjukkan bahwa lalat tidak hanya berperan sebagai karier patogen (penyebab penyakit) saja, tetapi juga membawa mikrobiota yang dapat bermanfaat. Mikrobiota di dalam tubuh lalat ini berupa sel berbentuk longitudinal yang hidup sebagai parasit di daerah abdomen (perut) mereka. Untuk melengkapi siklus hidup mereka, sel ini berpindah ke tubulus-tubulus respiratori dari lalat. Jika lalat dicelupkan ke dalam cairan, maka sel-sel tadi akan ke luar dari tubulus kecairan tersebut.

Mikrobiota ini adalah suatu bakteriofaq yang tak lain adalah virus yang menyerang virus lain serta bakteri. Virus ini dapat dibiakkan untuk menyerang organisme lain. Bakteriofag sendiri saat ini sedang dikembangkan sebagai terapi (pengobatan) bakteri terbaru.

Penelitian ini dilakukan seiring dengan meningkatnya spesies bakteri yang semakin resisten (kebal) dengan obat-obatan antibiotik yang tersedia. Mikrobiota yang terkandung di lalat ternyata juga mengeluarkan suatu metabolit aromatik yang menekan siklus hidup plasmodium sebagai patogen yang terkandung di beberapa jenis lalat.

Penelitian paling mutakhir dilakukan oleh perusahaan farmasi Glaxo Smith-Kline yang tengah mensponsori penelitian Dr. Joanna Clarke dari Universitas Maquarie. Pada mulanya penelitian menunjukkan bahwa pada satu sayap pada bakterinya, sedangkan sayap yang lain ada proteinnya. Kemudian Clarke dalam penelitian selanjutnya berusaha membuktikan bahwa lalat mempunyai kemampuan untuk menghasilkan antibiotik.
Sejauh ini penelitian itu telah menemukan bahwa empat spesies yang ia teliti (termasuk lalat rumah) memproduksi berbagai bentuk antibiotik pada berbagai bentuk antibiotik pada berbagai stadium dari siklus hidupnya. “Penelitian tersebut dipublikasikan tahun 2002, namun sampai sekarang belum diketahui kelanjutannya, “kata spesialis penyakit dalam dr. Rawan Broto, SpPD. Namun penulis tetap merasa “prihatin”, mengapa Hadits Nabi Muhammad justru orang Non Muslim yang membuktikan kebenarannya dengan melakukan berbagai eksprimen dan penelitian laboratorium sehingga mereka memperoleh manfaatnya, padahal banyak Hadits-hadits dan Ayat-ayat Al Quran yang perlu kita diteliti untuk mencapai manfaatnya (Subhanallah yang mewahyukan kepada Muhammadl saw sebagai rasul-Nya)[12]

Dr. AMIN Ridha, Dosen penyakit tulang di jurusan Univ.Iskandariyah telah melakukan penelitian tentang “hadits lalat ini” bahwasanya lalat  memproduksi zat sejenis enzim  yang sangat kecil yanag dinamakan  bakteri yofaj, yaitu tempat tumbuhnya bakteri. Dan tempat ini menjadi tempat tunbuhnya  bakteri pembunuh dan bakteri penyembuh  yang ukurannya sekitar 20:25 mili micron. Maka jika seekor lalat mengenai makanan atau minuman, maka harus di celupkan  keeluruhan badan lalat tersebut  agar keluar zat  penawar bakteri tersebut. maka pengetahuan ini  sudah di kemukkan oleh nabi kita Muhammad SAW dengan gambaran  yang menakjubkan bagi siapapun  yang menolak  hadits tentang lalat tersebut. Dan di zaman sekarang, para pakar penyakit  yang mereka hidup berpuluh-puluh tahun, baru bisa mengungkap rahasia ini, padahal sudah  di bongkar informasinya sejak dahulu. Yaitu kurang lebih 30-an tahun yang lalu mereka menyaksikan  dengan mata kepala mereka sendiri  obat berbagai penyakit yang sudah kronis  dan pembusukan  yang sudah menahun  adalah lalat.

Berdasarkan hal ini, jelaslah bahwa ilmu pengetahuan dalam perkembangannya telah menegaskan penjelasannya dalam teori ilmiyah  sesuai dengan yang mulia ini. Dan mukjizat ini sudah  dikemukakan semenjak dahulu kala, 14 abad yang silam sebelum para pakar.

  1. Tinjauan Umum

Beberapa orang tidak senang dengan ide membenamkan lalat dalam makanan atau minuman. Namun, ini bisa diterapkan dalam kasus-kasus darurat. Ketika, misalnya, seseorang berada di padang pasir, hanya memiliki sedikit air atau minuman. Dalam kasus ini orang itu tidak punya pilihan selain untuk melakukan seperti yang direkomendasikan oleh Nabi. Jika tidak, maka ia akan mati kehausan atau infeksi. Jika seseorang merasa jijik, maka ia tidak harus melakukannya, tapi ia tidak memiliki hak untuk menolak keaslian hadits ini. Hadits ini sangat otentik, seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Sekelompok peneliti Muslim di Mesir dan Arab Saudi melakukan beberapa percobaan pada wadah berbeda yang berisi air, madu dan jus. Mereka membiarkan jenis cairan tersebut dihinggapi lalat. Kemudian mereka tenggelamkan lalat di beberapa wadah ini. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa cairan yang tidak ada lalat ditengelamkan mengandung banyak bakteri dan virus, sementara wadah yang lain di mana lalat benar-benar ditenggelamkan tidak terdapat bakteri dan virus.

Penemuan bahwa ada penangkal untuk patogen, dan bahwa ada berbagai jenis bakteri dan “Bakteriofag”, baru diketahui pada dekade terakhir abad ke-20.

Sedangkan Nabi menyinggung soal ini 1400 tahun yang lalu, ketika manusia hampir tidak tahu tentang fakta-fakta ilmu pengetahuan modern. Namun, jenis informasi yang akurat seperti ini, bahwa salah satu sayap lalat membawa penangkal patogen yang dibawa oleh sayap yang lain, hanya bisa berasal dari Wahyu Ilahi yang diajarkan kepada Nabi oleh Allah SWT.

 

 

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Hadits tentang lalat jatuh ke air kemudian Rasulullah saw. Menyuruhnya untuk dibenamkan dulu derajatnya shahih
  2. Dari 3 jalur periwayatan yang di sandarkan kepada 3 shahabat Nabi saw, jalur yang mahfudz hanya 2 jalur yaitu jalur Abu Hurairah dan jalur Abu Sa’id al-Khudry saja. Adapun untuk jalur Anas r.a didapatkan kekeliruan dari rowi ‘Abdullah bin al-Mutsannā
  3. Matan seluruh hadits relative sama walaupun tidak identik. Perbedaan mencolok yang mencolok hanya pada kata liyanzi’hu (Bukhari) dan liyathrahhu (Ibnu Majah). Namun makna kata ini sama.
  4. Dari penelitian ilmiah terbukti bahwa lalat yang ditenggalamkan seluruhnya pada air tidak terdapat bakteri-bakteri jahat, sedangkan lalat yang tidak ditenggelamkan mengandung bakteri yang berbahaya.
  5. Hadits ini masih relevan diterapkan untuk zaman sekarang dalam kasus-kasus darurat. Ketika, misalnya, seseorang berada di padang pasir atau hutan, hanya memiliki sedikit air atau minuman. Dalam kasus ini orang itu tidak punya pilihan selain untuk melakukan seperti yang direkomendasikan oleh Nabi. Jika tidak diminum maka ia akan mati kehausan atau jika diminum tanpa dibenamkan dahulu lalatnya ia akan infeksi . Jika seseorang merasa jijik, maka ia tidak harus melakukannya, tapi ia tidak memiliki hak untuk menolak keaslian hadits ini. Hadits ini sangat otentik, seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan para imam mukharrij yang lainnya.

Dengan demikian terbukti bahwa hadits lalat tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya baik dari sisi keshahihan hadist maupun pembuktian ilmiah.

 

Akhukum Fillāh
Dadi Herdiansah,

Pameungpeuk – Bandung – Jawa Barat – Indonesia

 


[1] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 10 hal. 405

[2] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 10 hal. 405

[3] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 929

[4] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 16 hal. 27

[5] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 16 hal. 26

[6] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 16 hal. 27

[7] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 540

[8] Terjemah Subulussalam h.56

[9] Terjemah kitab Subulussalam h.57

[10] Koleksi hadis-hadis hukum 1, h.34-35

[11] http://www.kafilasyuhada.wordpress.com

[12] http://www.kafilahsyuhada.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

six + seven =