Sampai detik ini hadits sering kali masih di artikan secara tekstual, oleh karenanya ketika kita menemui hadits-hadits yang tidak masuk akal atau sulit di terima dengan akal sehat, kita cenderung menolak bahkan mengingkarinya, itulah salah satu hal yang dilakukan oleh para orientalis untuk menghujat Islam terlebih untuk menjelek-jelekkan Rasulullah sebagai sumber hadits itu sendiri.

Salah satu hadits yang mereka tolak kebenarannya adalah hadits tentang lalat. Tapi bagaimana pun mereka gigih untuk mencari kelemahan Islam, namun akhirnya argument-argumen mereka terkalahkan dengan penemuan-penemuan modern mengenai penelitian tentang sayap lalat yang mengandung racun dan penawar. Hadits tentang lalat yang jatuh ke air derajatnya adalah shahih, sebab itu bagi kita sebagai seorang muslim adalah wajib mempercayai hadits tersebut, karena  inti dari ajaran Islam itu sendiri adalah percaya, walaupun banyak dalam ajaran-ajaran Islam yang memang tidak masuk akal, karena agama bukanlah rasio atau akal, melainkan wahyu ilahi, oleh karenanya kita tetap harus mengimani  hadits tersebut, walaupun menurut kita tidak masuk akal, pun Allah tidak akan menciptakan sesuatu yang tidak bermanfaat, semua ciptaan Allah tidak ada yang tidak berguna, hanya akal kita saja yang tidak mampu untuk menjangkau itu semua.

Hadits tentang lalat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

عن أبي هريره قال : قال رسول الله ﷺ : إذا وقع الذباب فى شراب أحدكم فليغمسه ثم لنزعه فإن فى أحد جناحيه داء وفى الآخر شفاء

Abu Hurairah r.a berkata: bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bila lalat jatuh kedalam air minum salah seorang diantaramu, maka hendaklah di benamkan, dan kemudian buanglah lalat tersebut. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada yang sebagian lagi terdapat penawarnya (obatnya)”

  1. Tinjauan Derajat Hadits

Berikut penulis kutip hadits tentang lalat berikut sanad lengkap dan pembahasan takhrijnya:

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ بْنُ حُنَيْنٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً»

 “Apabila lalat jatuh kedalam air minum salah seorang diantaramu, maka benamkanlah (lalat itu) seluruhnya, kemudian buanglah (lalat) tersebut. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap satu lagi terdapat penawarnya (obatnya)”

Hadits ini dikeluarkan oleh: Imam al-Bukhāri No.3320[1]

Hadits ini berdasarkan I’tibar riwayah (penelusuran riwayat) didapatkan berasal dari 3 shahabat Nabi saw. Yaitu:

  1. Abu Hurairah r.a
  2. Abu Sa’id al-Khudry r.a
  3. Anas bin Malik r.a

 

Berikut daftar bagan riwayatnya:

 

 

  • Jalur Abu Hurairah r.a

Untuk jalur Aby Hurairah r.a ini teriwayatkan oleh 5 orang muridnya yaitu para tābi’īn:

  1. ‘Ubaid bin Hunain
  2. Sa’īd al-Maqburī
  3. Tsamāmah bin ‘Abdillāh bin Anas
  4. Abu Shālih
  5. Muhammad bin Sīrīn

 

► Jalur Abu Hirairah r.a ke ‘Ubaid bin Hunain

 

 Untuk jalur ‘Ubaid ini dikeluarkan oleh dua mukharrij yaitu:

  • Imam al-Bukhārī[2]
  • Imam Ibnu Mājah[3]

Seluruh rowi yang ada pada jalur-jalur ini adalah tsiqah. kecuali rowi yang bernama Muslim bin Khalid di jalur Ibnu Majah. Rowi ini shadūq lahu auhām[4] (jujur namun memiliki kekeliruan-kekeliruan). Namun pada periwayatan ini Muslim bin Khālid tidak sedang keliru sebab jalurnya dikuatkan oleh jalur Imam al-Bukhārī.

Kesimpulan Jalur ‘Ubaid bin Hunain:

Dengan demikian jalur ‘Ubaid bin Hunain yang meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a ini kuat oleh sebab itu Imam al-Bukhārī memasukkan riwayat ini di kitab shahīnya.

 

► Jalur Abu Hirairah r.a ke Sa’id al-Maqbury

Untuk jalur Sa’īd al-Maqburī ini dikeluarkan oleh 4 Imam Mukharrij, yaitu:

  • Imam Ibnu Khuzaimah[5]
  • Imam Ibnu Hibbān[6]
  • Imm Abu Dāud[7]
  • Imam Ahmad bin Hanbal[8]

Untuk riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbān berporos pada Ziyad bin yahya yang diikuti oleh Imam Ahmad sehingga keduanya telah kuat sama-sama meriwayatkan dari Bisyr bin al-Mufadlal seorang rowi tsiqah, Tsabat (kokoh) ‘Abidun (ahli ibadah).[9]

Bisyr bin al-Mufadlal diikuti periwayatannya oleh Sufyan yang juga seorang rowi tsiqah. keduanya sama-sama meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ajlan seorang rowi shaduq yang mukhtalith (hafalannya berubah/pikun).

Pada dasarnya periwayatan Ibnu ‘Ajlan ini lemah jika sendirian karena dikhawatirkan ketika ia meriwayatkan sendirian riwayatnya sedang tercampur. Walaupun ia di jalur ini tafarrud (menyendiri) meriwayatkan dari Sa’id al-Maqbury namun riwayatnya tetap diterima karena ada syāhid (saksi) di jalur lain yang mendukung periwatannya yaitu di jalur ‘Ubaid dari Abu Hurairah r.a yang sudah dibahas sebelumnya. Oleh karena itu walaupun ia menyendiri di jalur ini namun dipastikan periwayatannya sedang lurus dan hafalannya sedang bagus.

Kesimpulan Jalur Sa’id al-Maqbury:

Dengan demikian jalur Sa’id al-Maqbury yang meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a ini juga kuat saling menguatkan dengan jalur ‘Ubaid dari Abu Hurairah r.a.

 

► Jalur Abu Hirairah r.a ke Tsumāmah bin ‘Abdullah bin Anas bin Malik

Untuk jalur Tsumāmah ini dikeluarkan oleh 3 Mukharrij yaitu:

  • Imam Ahmad
  • Imam ad-Dārimī
  • Imam Ishāq bin Ibrāhīm

Ketiga imam ini riwayatnya berporos pada Hammād bin Salamah seorang rowi tsiqah ‘ābidun[10] (terpercaya dan ahli ibadah). Walaupun dijalur ini ia tafarrud dari Tsumamah namun kesendiriannya kuat.

Riwayat Hammad di terima oleh 3 orang rowi yaitu Abu Kamil dan Aswad yaitu syaikhnya Ahmad bin Hanbal pemilik kitab Musnad. Dan satu lagi yaitu Sulaiman bin Harb syaikhnya Ishaq bin Ibrahim pemilik kitab Musnad.

Kesimpulan Jalur Tsumāmah bin ‘Abdullah:

Dengan demikian jalur Tsumāmah yang meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a inipun kuat saling menguatkan dengan jalur ‘Ubaid dan jalur Sa’id al-Maqbūrī dari Abu Hurairah r.a.

 

► Jalur Abu Hirairah r.a ke Abu Shālih Dan Ibnu Sīrīn

Untuk riwayat yang dikeluarkan oleh Imam al-Bazzār didapatkan rowi yang bernama Muhammad bin ‘Ajlan. Namun rowi ini sudah ada pada jalur Sa’id al-Maqbūrī yang penulis bahas sebelumnya. Dimana riwayat Ibnu ‘Ajlan yang diterima oleh Bisyr dan Sufyan menyebutkan Ibnu ‘Ajlan dapat dari Sa’īd al-Maqbūrī dari Aby Hurairah r.a. adapun di jalur ini Ibnu ‘Ajlan dapat dari al-Qo’qō’ melewati Yahya bin Muhammad bin Qois.

Yahya ini rowi shaduq Yukhti Katsīr[11] (Jujur namun banyak salah) versi Ibnu Hajar di Kitab Taqribnya. Adapun Yahya bin Ma’in menilai ia rowi dlaif.[12] Kemudian Ibnu Hibbān menilai:

كان يقلب الأسانيد ويرفع المراسيل من غير تعمد، لا يحتجّ به

“Ia (Yahya bin Muhammad) adalah suka menukar-nukar sanad dan memarfu’kan riwayat-riwayat yang mursal tanpa disengaja, ia tidak bisa dipakai hujjah”[13]

Penjelasan Ibnu Hibban diatas mengindikasikan Yahya di jalur ini telah keliru dan sanadnya tertukar. Dengan demikian jalur yang mahfudz riwayat Ibnu ‘Ajlan adalah apa yang diriwayatkan oleh Bisyr dan Sufyan yang keduanya tsiqah yaitu Ibnu ‘Ajlān dapat riwayat ini dari Sa’id al-Maqbūrī dari Aby Hurairah r.a. (lihat jalur Sa’īd al-Maqbūrī pada halaman sebelumnya). Dan bukan dari al-Qo’qō’ dari Abu Shālih.

Kemudian untuk jalur satu lagi yaitu yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thohāwī diatas juga didapatkan dengan sanad tunggal, namun rowi-rowinya cukup baik. Terdapat rowi yang bernama Murajjā bin Rajā atau dikenal dengan nama Abū Rajā. Rowi ini dinilai oleh Ibnu Hajar shadūq rubbma wahm[14] (jujur dan boleh jadi ada kekeliruan). Namun dengan melihat jalur lain dari 3 jalan yaitu ‘Ubaid, Sa’īd al-Maqbūrī dan Tsumāmah dipandang jalur tunggal ini diterima dan terkuatkan oleh 3 jalur kuat yang lain.

Kesimpulan Jalur Abu Shalih Dari Abu Hurairah r.a:

Dengan demikian pada jalur Abu Shalih ini adalah Munkar. Sanadnya tertukar. Karena itu tidak ada pada periwayatan Abu Hurairah r.a ini diterima oleh Muridnya Abu Shālih. Adapun pada jalur Muhammad bin Sīrīn sanadnya baik.

 

Kesimpulan Akhir Jalur Abu Hurairah r.a

Dari seluruh pembahasan diatas nampak bisa disimpulkan bahwa untuk jalur Aby Hurairah r.a ini yang teriwayatkan oleh 5 orang muridnya yaitu para tābi’īn, kedudukan riwayatnya adalah sebagai berikut:

  1. ‘Ubaid bin Hunain : Jalurnya Shahih
  2. Sa’īd al-Maqburī : Jalurnya Shahih
  3. Tsamāmah bin ‘Abdillāh bin Anas : Jalurnya Shahih
  4. Abu Shālih : Jalurnya Munkar
  5. Muhammad bin Sīrīn : Jalurnya Hasan

 

Pembahasan Bersambung, Klik disini ……..


[1] Kitab Shahih al-Bukhārī: Imam al-Bukhārī No.3320 Juz 4 hal.130

[2] Kitab Shahih al-Bukhārī: Imam al-Bukhārī. Untuk jalur 1 No.3320 Juz 4 hal.130. Untuk jalur ke 2 No. 5782 Juz 7 hal. 140.

[3] Kitab Sunan Ibnu Majah: Ibnu Mājah. No. 3505 Juz 4 hal. 540.

[4] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 938

[5] Kitab Shahīh Ibnu Khuzaimah: Ibnu Khuzaimah. No. 105 Juz 1 hal. 95

[6] Kitab Shahīh Ibnu Hibbān: Ibnu Hibbān. No. 1246 Juz 4 hal. 53

[7] Kitab Sunan Abī Dāud; Abu Dāud. No. 3844 Juz 5 hal. 654

[8] Kitab Musnad Ahmad: Imam Ahmad. Jalur 1 No.7141 Juz 6 hal. 553 Jalur 2. No.7353 Juz 7 hal.174

[9] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 171

[10] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 268

[11] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 21066

[12] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 31 hal. 524

[13] Kitab Tahdzību al-Kamāl: al-Mizzī. Juz 31 hal. 524

[14] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Ibnu Hajar. Hal. 929

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + sixteen =