Adalah benar bahwa segala permasalahan kedudukan hadits sudah sejak dahulu dibahas oleh para ulama hadits. Yang pertama pada tema-tema tertentu disepakati keshahihannya secara ijma’ (sepakat bulat). Dan yang kedua pada tema yang lain telah terjadi perselisihan ada yang menerima ada juga yang menolaknya, atau ada yang mendiamkannya tanpa kita dapatkan pendapatnya. dalam pendapat juga tekadang sebagian ulama kita dapatkan referensi berikut hujjahnya, namun di sebagian yang lain hanya kita dapatkan pendapatnya saja tanpa kita ketahui penjelasannya.

Pada yang kedua inilah terjadi ragam pemahaman di kalangan ulama sekarang. ada yang tabu dalam membahas dan berpendapat, sehingga meninggalkan kajian dan diskusi dan cukup apa kata ulama tertentu tanpa mau belajar apa hujjah dibalik pendapat yang diikutinya. Ada juga yang ingin mendalami dan mengetahui sebab terjadi perselisihan tersebut, kemudian mempelajarinya mana kiranya dari dua pendapat tersebut yang dinilainya lebih kuat dan ilmiah.

Pada post kali ini penulis ingin mengungkap seluruh jalur pada tema Isyarat Telunjuk dalam duduk tasyahhud.

Pada tema ini penulis memulai pada point inti yang ada pada dua riwayat kemudian melebar sampai ke hadits-hadits ashal (sumber utama) sebagai hujjah bahwa kedua hadits inti yang penulis bahas adalah syadz (cacat).

Hadits Pertama: Tidak Menggerak-gerakan adalah Syadz (cacat).

berikut redaksi haditsnya:

 حدثنا هلال بن العلاء، ويوسف بن مُسَلّم، قالا: ثنا حجاج، قال: ثنا ابن جُرَيْج، أخبرني زياد، عن محمد بن عجلان ، عن عامر بن عبد الله بن الزبير، عن عبد الله بن الزبير، أنّه  ذكر: “أن النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- كان يشير بأصبعه إذا دعا، و لا يحَرِّكُهَا”.

“Dari Abdullah bin Zubair r.a bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama berisyarat dengan jarinya (telunjuknya) dan tidak menggerakkannya” (H.R. Abu ‘Awanah Juz 5 hal.385).

Riwayat ini telah terdapat tambahan lafadz لا يحركها  (tidak menggerakkan) yang tidak didapatkan pada riwayat-riwayat lainnya masih pada jalur ini, diantaranya riwayat Imam Muslim dalam kitab shahihnya:

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، ح قَالَ: وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ – وَاللَّفْظُ لَهُ  قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ يَدْعُو، وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ، وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى، وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ»

dari Abdullah bin Zubair r.a ia berkata: adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama apabila duduk ia berdoa dan meletakkan tangan kanannya diatas pahanya yang kanan begitupun tangan kirinya diatas pahanya yang kiri dan ia mengisyaratkan dengan telunjukknya, ….” (H.R. Imam Muslim Juz 1 hal. 408)

Pada riwayat Imam Muslim ini masih jalur Ibnu ‘Ajlan dari ‘Amir dari bapaknya Abdullah bin Zubair r.a tidak kita dapatkan lafadz لا يحرّكها seperti pada riwayat pertama diatas.

Beberapa pengkaji hadits menilai Ibnu ‘Ajlan sebagai tersangka utamanya yang menambah lafadz “tidak menggerakan” dan sebagian lagi ada yang menilai Hajjaj, ada juga Ibnu Jureij sebagai tersangka utamanya.

Siapakah yang benar-benar sebagai tersangka utamanya?

Read More, …..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen + 11 =