Terdapat hadits yang dijadikan pegangan fiqih bahwa:

  1. Imam tetap berdiri apabila sudah sempurna walau ma’mum mengingatkan kealpaannya dari Tasyahuud Awal
  2. Sujud Sahwi boleh dilakukan sesudah salam.

Diantara hadits yang dijadikan pegangan dalam masalah ini adalah:

Hadits Jabir Al-Ju’fie

18410- حدّثنا حجاج قال سمعت سفيان عن جابر عن المغيرة بن شبيل عن قيس بن أبي حازم عن المغيرة بن شعبة قال ؛ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ.

Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian berdiri (dari dua raka’at) dan belum sempurna dalam berdirinya maka duduklah, dan apabila sudah sempurna (berdirinya) maka janganlah duduk, dan sujudlah pada sujud sahwi”.

(H.R. Imam Ahmad No. 18410 Juz 6 hal. 236 cet. ‘Alimul Kutub)

Juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah.

Jalur sanad ini titik kelemahannya ada di Jabir bin Yazid bin Al-Harits bin  Abdu Yaguts bin Ka’b bin Al-Harits Al-Ju’fie atau dikenal dengan Jabir Al-Ju’fie. Berikut komentar para Ahlu Jarh:

وقال إسماعيل بن علية عن شعبة : جابر صدوق في الحديث

Dari Syu’bah : “Jabir itu Shoduq dalam hadits”.

وقال أبو أحمد بن عدي : له حديث صالح

Ibnu ‘Ady : “Ia memiliki hadits yang baik”.

يحيى بن معين : وكان جابر كذّابا

Yahya bin Ma’in : “Jabir itu Pendusta”.

وقال في موضع آخر : لا يكتب حديثه ولاكرامة

Di tempat lain Yahya mengomentari : “Haditsnya tidak dicatat begitupun karomahnya”.

يحيى بن يعلى المحاربي : قيل لزائدة : ثلاثة لا تروي عنهم لم لا تروي عنهم ؟ ابن أبي ليلى، وجابر الجعفي ، والكلبي ؟ : أما جابر الجعفي فكان والله كذابا

Yahya bin Ya’la : dikatakan kepada Zaidah: “tiga orang dimana engkau jangan meriwayatkan dari mereka. Yaitu Ibnu Aby Laila, Jabir Al-Ju’fie dan Al-Kalby. Adapun Jabir Al-Ju’fie demi Allah ia seorang pendusta”.

وقال أبو حاتم الرازي ، عن أحمد بن حنبل : تركه يحيى وعبد الرحمن.

Abu Hatim dari Ahmad bin Hanbal : “Yahya dan Abdurrohman meninggalkannya (Matruk)”

وقال النسائي : متروك الحديث

An-Nasai : “Ia Matruk”

وقال الحاكم أبو أحمد : ذاهب الحديث

Al-Hakim Abu Ahmad : “Ia Dzahib (haditsnya ditinggalkan)”.[1]

 

Dari keseluruhan komentar diatas Al-Hafidz Ibnu Hajar menyimpulkan dalam kitab Taqribnya:

ابن حجر : ضعيف رافضي

“Ia Dloif seorang Syi’ah Rofidloh”.[2]

Penjelasan:

Al-Hafidz menyimpulkan rowi ini dloif dengan mengkompromikan antara yang menjarh dan menta’dil. Bentuk kompromi seperti ini bisa difahami sebagai berikut:

  1. Jabir Al-Ju’fie walau di pandang shoduq oleh Syu’bah namun banyak yang menjarh.
  2. Jarh (kritikan) yang diberikan oleh para imam semisal Yahya bin Ma’in adalah kritikan keras dengan menilai Jabir Al-Ju’fie seorang pendusta.
  3. Jabir Al-Ju’fie ini seorang Syi’ah rofidloh yang berlebihan dalam Syi’ahnya[3] dan “ia seorang Syi’ah yang mencaci shahabat shahabat Nabi saw”

 

Yang bisa kami fahami Al-Hafidz menilai rowi ini dinilai dusta oleh Yahya bin Ma’in disebabkan banyak dustanya dalam kesyi’ahannya adapun riwayat-riwayat yang tidak ada hubungannya dengan faham syi’ahnya dapat diperhitungkan seperti yang dinilai oleh Syu’bah, sehingga Al-Hafidz cukup menilai rowi ini Dloif yang kedloifannya bisa diperhitungkan apabila banyak jalan yang mendukungnya hingga riwayatnya dapat diterima.

Hanya saja khusus pembahasan hadits ini Al-Hafidz menilai dengan keras sekali. Dalam kitabnya Talkhis Al-Habir ia mengatakan:

ومداره على جابر الجعفي ، وهو ضعيف جداً

“muaranya (jalur ini) ke Jabir Al-Ju’fie, dan ia dloif sekali”[4]

Oleh karena itu penilaian Imam An-Nasai dengan Matruknya dan Yahya bin Ma’in dengan penilaian Dusta adalah menunjukkan bahwa Jabir ini riwayatnya lemah sekali (dloif gair muhtamal).

 

Mutabi’ dari Jabir Al-Ju’fie

Para Imam banyak mengomentari akan ketafarrudan (kesendirian) Jabir dari jalur ini, diantaranya Ibnu Hajar dalam kitab talkhisnya diatas bisa kita fahami bahwa Jabir dalam jalur ini menyendiri.

Namun disaat beberapa Imam menilai akan ketafarudan jabir Al-Ju’fie di jalur ini, Syaikh Al-Bany dalam kitabnya Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shahihah[5] menilai bahwa Jabir Al-Ju’fie ini memiliki mutabi’ (rowi penyerta). Adapun yang di maksud Syaikh adalah sebagai berikut:

 

Hadits 1: Qois bin Ar-Rabie

حدثنا حسين بن نصر قال ثنا شبابة بن سوار قال ثنا قيس بن الربيع عن المغيرة بن شبيل عن قيس بن أبي حازم قال : ” صلى بنا المغيرة بن شعبة ، فقام في الركعتين ، فسبح الناس خلفه ، فأشار إليهم أن قوموا ، فلما قضى صلاته ، سجد سجدتي السهو ، ثم قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا استتم أحدكم قائما ، فليصل ، و ليسجد سجدتي السهو ، و إن لم يستتم قائما ، فليجلس ، و لا سهو عليه ” .

Qois bin Aby Hazim berkata: Al Mughiroh r.a shalat bersama kami, kemudian ia berdiri (langsung) setelah dua raka’at. Orang-orang bertashbih dibelakangnya, (hanya saja) Al-Mughirah r.a memberi isyarat agar orang-orang berdiri saja (mengikutinya). Dan tatkala shalatnya telah selesai, Ia (Al-Mughirah) sujud sahwi kemudian berkata: telah bersabda Rasulullah saw: “Apabila salah seorang diantara kalian telah berdiri sempurna maka (lanjutkan) shalatnya, dan sujud sahwi lah (diakhri) dan apabila belum sempurna berdirinya maka duduklah (sempurnakan tahiyyat awal), dan tidak ada sujud sahwi padanya”.

 (H.R. At-Thohawy; Syarhu Al-Ma’any Al-Aatsar No. 2561 Juz 1 hal. 440 cet. ‘Alimul Kutub)

Hadits 2 : Ibrahim bin Tuhman

حدثنا ابن مرزوق قال ثنا أبو عامر عن إبراهيم بن طهمان عن المغيرة بن شبيل عن قيس بن أبي حازم قال : صلى بنا المغيرة بن شعبة فقام من الركعتين قائما  فقلنا : سبحان الله ، فأومى ، و قال : سبحان الله ، فمضى في صلاته ، فلما قضى صلاته وسلم سجد سجدتين ، و هو جالس ثم قال : صلى بنا رسول الله فاستوى قائما من جلوسه فمضى في صلاته فلما قضى صلاته سجد سجدتين وهو جالس ثمّ قال: إذا صلى أحدكم ، فقام من الجلوس ، فإن لم يستتم قائما فليجلس ، و ليس عليه سجدتان ، فإن استوى قائما فليمض في صلاته ، و ليسجد سجدتين و هو جالس “

Dari Qais bin Aby Hazim ia berkata: Al-Mughirah r.a shalat bersama kami, maka ia berdiri dari dua rakaatnya (tanpa duduk dulu). Kami katakan: Subhanallah, (hanya saja) ia memberi Isyarat dan berkata : Subhanallah. Hingga berlalulah sampai ia selesai dari shalatnya  dan salam ia sujud sahwi (masih) dalam keadaan duduk ia berkata: Rasulullah saw shalat bersama kami kemudian ia berdiri dari duduknya (tanpa tahiyyat awal) sampai berlalu dan setelah selesai shalatnya ia sujud sahwi. Dan masih dalam keadaan duduk ia bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian shalat dan berdiri dari duduknya (tanpa duduk tahiyyat awal) maka apabila belum sempurna berdiri (kembalilah) untuk duduk dan tidak ada sujud sahwi padanya. Dan apabila berdirinya sudah sempurna maka teruskan shalatnya dan (diakhir shalat) sujud sahwilah”.

(H.R. At-Thohawy; Syarhu Al-Ma’any Al-Aatsar No. 2562 Juz 1 hal. 440 cet. ‘Alimul Kutub)

 

Dua hadits diatas yaitu jalur Qois bin Rabi’ dan Jalur Ibrahim bin Tuhman adalah sama-sama mendapatkan riwayat dari Al-Mughirah bin Syubail. Ini artinya berdasarkan jalur riwayat difahami bahwa kedua rowi diatas bersama Jabir Al-Ju’fie sama-sama mendapatkan riwayat dari Al-Mughirah bin Syubail.

Berikut gambaran sanad riwayatnya:

Namun apakah jalur ini telah benar? Lalu bagaimana para imam semisal Ibnu Mulqin dalam kitabnya Al-Badrul Munir, Ibnu Hajar dalam kitab Talkhisnya, Imam Ash-Shon’any dalam kitabnya Subulus Salam dll menyatakan bahwa Jabir Al-Ju’fie tafarrud dalam riwayatnya dari Al-Mughiroh?

Apakah mereka para Imam keliru? Apakah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ath-Thohawi telah luput dari mereka?

Dari dua jalur riwayat yang di ajukan oleh Syaikh Al-Bany berikut penjelasannya:

 

Jalur Qois bin Ar-Rabie’ dari Al-Mughiroh bin Syubail

Qois bin Ar-Rabi’ ini rowi dloif, Munkar dan Matruk. Dalam kitab Tahdzibul Kamal kami tidak menemukan sanad keguruan Qois bin Rabi’e[6] dari Al-Mughirah bin Syubail, malah yang di dapat sanad keguruannya ke Jabir Al-Ju’fie. Artinya Qois bukanlah thobaqohnya Jabir, namun Qois adalah muridnya Jabir Al-Ju’fie. Untuk meyakinkan sanad keguruan ini, Imam Ad-Daroquthny mengeluarkan riwayat dari jalur ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ النُّعْمَانِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بُدَيْلٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ عَنْ جَابِرٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُبَيْلٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِى حَازِمٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلمقَالَ « إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فَقَامَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ فَاسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلْيَمْضِ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ وَلاَ سَهْوَ عَلَيْهِ

Pada riwayat yang dikeluarkan oleh Ad-Daroquthny ini sangat jelas dan seolah-olah menjelaskan bahwa apa yang dikeluarkan oleh Imam Ath-Thohawy pada sanadnya terputus, dimana antara Qois ke Al-Mughirah bin Syubail itu ada jabir Al-Ju’fie. dengan ini nampak jelas bahwa sebenarnya Qois bin Ar-Rabie’ bukanlah mutabi’nya Jabir Al-Ju’fie namun Qois adalah muridnya Jabir dimana Qois dalam sanad yang dikeluarkan oleh Imam Athohawy sebenarnya masih meriwayatkan dari Jabir. Jatuhnya Jabir dalam sanad yang dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dimungkinkan karena kekeliruan dari syaikhnya Ath-Thohawy.

Jalur Ibrahim bin Tuhman dari Al-Mughiroh bin Syubail

Begitupun jalur ini, Dalam kitab Tahdzibul Kamal[7] Ibrahim bin Tuhman tidak memiliki sanad keguruan dari Al-Mughirah bin Syubail, malah sebaliknya Ibrahim bin tuhman ini sanad keguruannya masih dari Jabir Al-Ju’fie sendiri. Jalur ini masih didapatkan di kitab Syarhul Ma’any dari Imam Ath-Thohawy. Ini artinya kemungkinan besar di kitab ini masih terjadi keterputusan sanad seperti halnya jalur Qois ke Al-Mughirah bin Syubail diatas. Untuk membuktikannya pada jalur ini memang tidak ada satupun kitab primer yang memaushulkannya (menyambungkannya), namun kami dapat mengajukan beberapa alasan dibawah ini.

  1. Tidak ada satupun riwayat tentang tema apapun dimana Ibrahim bin Tuhman mendapatkan riwayat dari Al-Mughirah bin Syubail kecuali di jalur ini yakni di kitab Syarhul Ma’any.
  2. Di kitab ini telah terbukti jalur sanad Qois ke Jabir Al-Ju’fie terputus langsung ke Al-Mughiroh bin Syubail dengan dengan dalil bahwa Imam Ad-Daroquthny masih di jalur ini menyambungkannya oleh Jabir Al-Ju’fie.
  3. Dengan bukti kelirunya jalur sanad Qois ini maka semakin kuatlah jalur Ibrahim ke Al-Mughiroh pun adalah kekeliruan yang dimuat di kitab ini (yakni sanadnya terputus).
  4. Imam Al-Mizzy di kitab Tahdzibul Kamal mencantumkan sanad keguruan Ibrahim bin Tuhman ini dapat riwayat dari Jabir Al-Ju’fie yang tentunya Al-Mizzy menemukan pada tema tema yang lain bahwa Jabir Al-Ju’fie lah sebagai gurunya Ibrahim bin Tuhman, diantaranya:

 

 حدثنا محمد بن رزيق بن جامع نا إبراهيم بن المنذر نا معن بن عيسى عن إبراهيم بن تهمان عن جابر الجعفي عن نافع عن ابن عمر قال : كان خاتم النبي (ص) ورقا كله ثم كان عند أبي بكر ثم كان عند عمر ثم كان عند عثمان ما شاء الله ثم هلك عند عثمان

رواه الطبراني في كتاب المعجم الوسيط : 6523

 حدثنا أبو الحسن محمد بن الحسين العلوي رحمه الله تعالى إملاء أنا عبد الله بن محمد بن شعيب الزهراني ثنا أحمد بن حفص حدثني أبي حدثني إبراهيم بن طهمان عن جابر الجعفي عن عدي بن ثابت عن عبد الله بن يزيد الأنصاري عن أبي أيوب الأنصاري أنه صلى مع رسول الله (ص) بجمع صلاة المغرب ثلاث ركعات وصلاة العشاء ركعتين فصلاهما جميعا بأذان وإقامة واحدة.

رواه البيهقي في كتاب السنن الكبرى للبيهقي : 1889

 

  1. Seperti yang sudah dikutip diatas tidak ada satupun imam yang menganggap Ibrahim bin Tuhman ini sebagai mutabi’nya Jabir Al-Ju’fie, yang didapatkan malah sebaliknya mereka para Imam semisal Ibnu Mulqin, Ibnu Hajar, Ash-Shon’any dll menyatakan bahwa muaranya riwayat ini hanya di Jabir Al-Ju’fie saja, ia tafarrud (menyendiri) dalam jalur ini.

 

Dengan beberapa argument yang kami ajukan diatas, para imam dulu semisal Ibnu Hajar sangat kuat dalam I’tibar sanadnya bahwa sebenarnya Jabir Al-Ju’fie dalam riwayat ini dari Al-Mughirah bin Syubail menyendiri. Tidaklah benar Qois dan Ibrahim sebagai rowi penyertanya (mutabi’). Jalur Qois dan Ibrahim dari Al-Mughirah yang di keluarkan oleh Imam Ath-Thohawy adalah sanad terputus yang dimana antara keduanya Qois ke Al-Mughirah dan Ibrahim ke Al-Mughirah terdapat Jabir Al-Ju’fie.

Ini adalah sanad tunggal, Jabir Al-Ju’fie rowi lemah telah dinilai matruk oleh Imam An-Nasai dan Pendusta Oleh Imam Ibnu Ma’ien. Jalur yang dibawa oleh Jabir ini adalah lemah sekali yang tidak bisa saling menguatkan dengan riwayat lain yang semakna (dloif gair muhtamal).

 

Syawahid Jabir Al-Ju’fie

حدثنا عُبَيْدُ اللَّهِ بن عُمَرَ الْجُشَمِيُّ ثنا يَزِيدُ بن هَارُونَ أخبرنا الْمَسْعُودِيُّ عن زِيَادِ بن عِلَاقَةَ قال صلى بِنَا الْمُغِيرَةُ بن شُعْبَةَ فَنَهَضَ في الرَّكْعَتَيْنِ قُلْنَا سُبْحَانَ اللَّهِ قال سُبْحَانَ اللَّهِ وَمَضَى فلما أَتَمَّ صَلَاتَهُ وسلم سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فلما انْصَرَفَ قال رأيت رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه و سلم- يَصْنَعُ كما صَنَعْتُ.

(H.R.Abu Daud; Sunan Aby Daud No. 1037 Juz 2 hal. 78 Cet. Muassasatu Rayan)

Juga diriwayatkan oleh Ad-Darimy dalam kitab sunannya no. 1501[8], At-Thohawy dalam kitab Syarhu Ma’any Al-Aatsar no. 2556[9],

Jalur ini dari segi matan jelas berbeda, padanya tidak ada perintah untuk duduk atau meneruskan berdiri. Jalur ini lebih tepatnya di nilai Ziyad bin ‘Ilaqoh sebagai mutabi’nya Qois bin Aby Hazim, hanya saja jalur ini terdapat cacat dari rowi Al-Mas’udy:

  1. Al-Mas’udy:

Nama lengkapnya ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin ‘Abdullah bin Mas’ud Al-Mas’udy Al-Kufie. Rowi ini Shoduq Mukhtalith (pikun) di akhir hidupnya[10]. Riwayat yang dibawanya lemah apabila diketahui setelah terjadinya pikun.

Pada sanad diatas yang dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Darimy, Ath-Thohawy jalurnya Al-Mas’udy meriwayatkan ke Yazid bin Harun.

قال محمد بن عبد الله بن نمير: كان ثقة فلما كان بأخرة اختلط سمع منه عبد الرحمن بن مهدي ويزيد بن هارون أحاديث مختلطة

“Ibnu Numair berkata: Ia itu Tsiqoh dan di akhir hidupnya ia pikun. Abadurrahman bin Mahdy dan Yazid bin Harun telah mendengar hadits-hadits darinya (disaat Al-Mas’udy) sudah dalam keadaan pikun”[11]

Ini berarti riwayat Yazid di jalur ini lemah karena mendapatkan riwayat dari Al-Muhmudy yang sudah dalam keadaan pikun.

Syaikh Al-Bany mengomentari riwayat ini dalam kitab Ashlu Shifati Ash-Shalati:

لكن تابعه عنه أبو داود الطيالسي؛ فأخرجه في ” المسند ” (95) : ثنا المسعودي به. وقد قال الإمام أحمد: “وإنما اختلط المسعودي ببغداد، ومَنْ سمع منه بالكوفة والبصرة؛ فسماعه جيد “.
قلت: والطيالسي بصري؛ فلعله سمعه منه فيها.

Akan tetapi ia (Yazid bin Harun) diikuti oleh Abu Daud Ath-Thoyalusy yang ia keluarkan dalam kitab Musnadnya (95) : Telah menceritakan kepada kami Al-Mas’uddy,… Dan sungguh telah berkata Imam Ahmad: Al-Mas’udy telah berubah (pikun) disaat ia di Baghdad, dan barang siapa mendengar darinya di Kufah dan Basrah maka Sama’ (pendengarannya) adalah baik.

Aku (Syaikh Al-Bany) berpendapat: Dan Ath-Thoyalusy adalah orang Bashrah, semoga saja ia mendengar darinya disana.

Komentarku (Abu Aqsith)

Hadits Ath-Thoyalusy yang dimaksud oleh Syaikh sebagai berikut:

حدثنا أبو داود قال حدثنا الْمَسْعُودِيُّ عن زِيَادِ بن عِلَاقَةَ صلى بِنَا الْمُغِيرَةُ بن شُعْبَةَ فَقام في الرَّكْعَتَيْنِ الأولَيَيْن فًسَبَّحوا بهِ فَمضَى فيِ صَلاتِهِ فلما فَرَغً سَجَدَ سَجْدَتَيْن ثُمَّ سَلَّمَ وَقال هَكَذا فَعَلَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عَليْهِ وَسلَّم

(H.R. Abu Daud At-Thoyalisy; Musnad Abu Daud Ath-Thoyalisy. Juz 2 hal. 72 cet. Hajar)

Jalur ini dipastikan mutabi’nya Yazid bin Harun dimana keduanya sama-sama mendengar dari Al-Mas’udy. Untuk Yazid diketahui ia mendapatkan riwayat disaat Al-Mas’udy sudah pikun, namun apakah Ath-Thoyalusy mendengar darinya sebelum Al-Mas’udy pikun?

Abu Daud Ath-Thoyalusy mendengar hadits-hadits dari Al-Mas’udy pun sama dengan Yazid yaitu disaat Al-Mas’udy sudah dalam keadaan pikun walaupun Ath-Thoyalusy ini dari Basrah.

Al-Bahghdady dalam kitab Tarikh Baghdad mengutip sejarahnya:

وكان حافظا مكثرا، ثقة ثبتا. وقدم بغداد وشعبة و المسعودي بها فسمع منهما، وكان يذاكر في ذالك الوقت.

“ia (Ath-Thoyalusy) adalah seorang Hafidz banyak (meriwayatkan hadits), ia tsiqoh dan Tsabath. Datang ke Baghdad dimana Syu’bah dan Al-Mas’udy ada disana dan mendengar (meriwayatkan) dari mereka berdua. Dan pada saat itulah ia Mudzakarah”

(Kitab Tarikh Baghdad Juz 10 hal.32 No. 4570 Cetakan: Darul Ghorb Al-Islamy)

Kutipan ini sudah jelas, Ath-Thoyalusy mendengar dan meriwayatkan hadits-haditsnya dari Al-Mas’udy disaat ia ke Baghdad dan berjumpa dengannya.

Pernyataan Khotib Al-Baghdady tersebut di perkuat dengan pernyaataan Al-‘Iroqy dalam kitabnya At-Taqyid Wal Iedloh:

أن المصنف اقتصر على ذكر اثنين ممن سمع منه بعد الاختلاط وهما عاصم بن على وأبو النضر هاشم بن القاسم وممن سمع منه أيضا بعد الاختلاط عبد الرحمن ابن مهدي ويزيد بن هارون وحجاج بن محمد الأعور وأبو داود الطيالسى و علي بن الجعد

“Mushonnif (Al-‘Iroqy) menyebutkan dua orang yang mendengar darinya (Al-Mas’udy) setelah ikhtilath adalah ‘Ashim bin ‘Aly dan Abu Nadlor Hasyim bin Al-Qoshim. Dan masih mendengar darinya setelah ikhtilath adalah ‘Abdurrahman bin Mahdy, Yazid bin Harun, Hajjaj bin Muhammad, Abu Daud At-Thoyalusy dan ‘Aly bin Al-Ju’d”

(Kitab At-Taqyied Wal Iedloh Syarh Muqoddimah Ibn Shalah; Syaikh Al-‘Iroqy. hal. 400 Cet. Darul Hadits)

Ini sudah jelas, walaupun Ath-Thoyalusy penyusun Musnad ini orang Bashroh namun ia mendengar dan meriwayatkan dari Al-Mas’udy di Baghdad pada saat Al-Mas’udy telah berubah hafalannya.

Riwayat ini lemah (dloif) yang tidak bisa di jadikan sandaran dalam hujjah. Kelemahan Al-Mas’udy yang sudah ikhtilath ini perlu ditangguhkan dan ditolak riwayatnya apabila tidak ada penguat dari jalur yang lain disebabkan rowi yang sudah berubah hafalan ini ada diantara dua kemungkinan. apabila tidak ada penguat maka lemahlah riwayatnya.

Riwayat Al-Mas’udy ini dloif muhtamal. Namun jalur Jabir Al-Ju’fie tidak bisa menopang dan mengangkat riwayatnya disebabkan Jabir Al-Ju’fie kelemahannya dloif goir muhtamal dan matannyapun berbeda. Sehingga riwayat Al-Mus’udy tetap dalam keaadaan lemah dan kemungkinan besar riwayat yang dibawanya telah tercampur dengan apa yang ia faham sendiri atau kekeliruan yang lainnya.

Catatan:

  1. Imam lupa duduk tasyahud apakah dilanjut berdirinya padalah ma’mum sudah mengingatkan dengan ucapan Tasbihnya atau imam duduk riwayatnya lemah.
  2. Sujud sahwi setelah salam riwayat-riwayatnya lemah.

 

Wallahu A’lam Bishawab.

 

Abu Aqsith, Dadi Herdiansah

Pameungpeuk, Bandung – Jawa Barat.


[1] (Lihat keseluruhan penilaian diatas di kitab Tahfdzibul Kamal Juz 4 hal. 465 cet.Muassasatu Risalah)

[2] Kitab Taqribu Tahdzib; Ibnu Hajar. Muhaqqiq: Abul Asybal Hal. 192 Cetakan: Darul ‘Ashimah

[3] Kitab At-Ta’rif bitashhih At-Tarikh; Abu Ja’far Ahmad bin Ibrohim.

[4] Kitab Talkhis Al-Habir; Ibnu Hajar. Hal. 833 Juz 2 cetakan: Adlwaus Salaf

[5] Kitab Silsilatu Al-Ahadits Ash-Shahihah; Syaikh Al-Bany. Juz 1 hal. 638 Cetakan: Maktabah Al-Ma’arif

[6] Kitab Tahfdzibul Kamal; Al-Mizzy Juz 24 hal. 25 cet.Muassasatu Risalah

[7] Kitab Tahfdzibul Kamal; Al-Mizzy Juz 2 hal. 108 cet.Muassasatu Risalah

[8] Kitab Sunan Ad-Darimy; Imam Ad-Darimy No.1501 hal. 421 cetakan: Qodimy Kutub Khonah

[9] H.R. At-Thohawy; Syarhu Al-Ma’any Al-Aatsar No. 2562 Juz 1 hal. 439 cet. ‘Alimul Kutub

[10] Kitab Taqribu Tahdzib; Ibnu Hajar. Muhaqqiq: Abul Asybal Hal. 586 Cetakan: Darul ‘Ashimah

[11] Kitab Tahfdzibul Kamal; Al-Mizzy Juz 17 hal. 224 cet.Muassasatu Risalah

[12] Kitab Tahfdzibul Kamal; Al-Mizzy Juz 2 hal. 108 cet.Muassasatu Risalah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × three =