sosok-imam-mahdiSebelumnya telah dibahas beberapa riwayat yang lemah akan datangnya bendera hitam dari khurosan dimana Imam Mahdy di bai’at disana. bagi yang belum atau ingin membaca bagian sebelumnya silahkan klik disini (bagian pertama) atau klik disini (bagian kedua).

pada bagian terakhir ini, penulis masuk pada riwayat akhir yang didapatkan jalurnya dari Tsauban r.a. apakah riwayat ini shohih?

Berikut takhrij hadits yang telah penulis susun:

3. HADITS TSAUBAN R.A

 

Pada jalur Tsauban R.A ini terdapat 2 jalan:

  1. Jalur Pertama : Kholid Al-Hadzza Dari Aby  Qilabah

 

حدثنا محمد بن يحيى و أحمد بن يوسف, قالا: ثنا عبد الرزاق عن سفيان الثوري عن خالد الحذاء عن أبي قلابة  عن أبي أسماء الرحبي عن ثوبان قال : قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم : ((يقتتل عند كنزكم ثلاثة كلهم ابن خليفة ثم لا يصير إلى واحد منهم ثمّ تطلع الرايات السود من قبل المشرق فيقتلونكم قتلا لم يقتله قوم)) ثم ذكر شيئا لا أحفظه فقال: ((فإذا رأيتموه فبايعوه ولو حبوا على الثلج فإنه خليفة الله المهدي)) رواه أبن ماجه

“Ada tiga orang yang akan saling membunuh di sisi simpanan kalian; mereka semua adalah putera khalifah, kemudian tidak akan kembali ke salah seorang dari mereka. Akhirnya muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun… (lalu beliau menutur-kan sesuatu yang tidak aku fahami, kemudian beliau berkata:) Jika kalian melihat (khalifah yang membawa bendera-bendera hitam) tersebut, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya ia adalah khalifah Allah al-Mahdi.”

(H.R. Ibn Majah Juz 4 hal.412 No.4084 cet; Darul Ma’rifah)

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Abdurrozaq dan Al-Bazzar.

Analisa Sanad:

> Tsauban r.a: Shahabat Nabi saw.

> Abu Asma Ar-Rohby :seorang tabi’ien nama aslinya ‘Amr bin Martsad. Rowi ini tidak banyak meriwayatkan. Dan hanya Imam Al-‘Ijly yang mentsiqohkan.[1]

> Abu Qilabah (Abdullah bin Zaid bin ‘Amr Al-Jarmy) : Tabi’ien Tsiqotun. Banyak memursalkan [2]

> Kholidu Al-Hadzzaa : Tsiqotun Yursil[3]

> Sofyan bin Sa’id bin Masruq Ats-Tsaury.: Tsiqotun, Hafidzun, Faqihun, Abidun, Hujjatun.[4]

> Abdurrozaq bin Hammam Ashon’any: Tsiqotun Hafidzun.[5]

> Ahmad bin Yusuf bin Kholid Al-Azdy: Hafidzun Tsiqotun.[6]

Sanad ini pada dasarnya rowi-rowinya tsiqoh atas penilaian beberapa imam. Mursalnya Abu Qilabah dalam riwayat ini tersambungkan dengan Abu Asma. Begitupun mursalnya Kholid dalam riwayat ini bersambung karena Abu Qilabah adalah syaikhnya. Namun ada beberapa hal yang perlu di kritisi dalam sanad ini:

  1. Abu Asma Ar-Rohby. Rowi ini sedikit dalam periwayatan dan tidak ada yang mentsiqohkan kecuali Imam Al-‘Ijly. Al-‘Ijly termasuk imam yang tasahul (ringan) dalam menilai para rowi. Karena itu disaat para imam yang lain tidak memberikan penilaian tsiqoh pada seorang rowi, maka kesendiriannya dalam penilaian tsiqoh adalah lemah.

 

  1. Kholid Al-Khadzza. Rowi ini walaupun tsiqoh, namun dalam penelusuran riwayat-riwayat yang dibawa oleh Kholid terdapat riwayat-riwayat yang idhthirob (goncang) ketika kholid tafarrud. Berikut satu riwayat yang penulis ajukan akan kegoncangan riwayat Kholid Al-Khazza:

 

Riwayat Kholid Al-Khadzza dari Kholid bin Aby Shilt.

Imam Adz-Dzahaby mengomentari riwayatnya dikitab Mizan[7]:

“خَالِدُ بن أبي الصَّلْتِ عن عِرَاكِ بن مَالِكٍ عن عَائِشَةَ: حَوِّلُوا مَقْعَدَتِي نحو الْقِبْلَةِ أو قد فَعَلُوهَا، لَا يَكَادُ يُعْرَفُ، تَفَرَّدَ عنه خَالِدٌ الْحَذَّاءُ، وَهَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ! فَتَارَةً رَوَاهُ الْحَذَّاءُ عن عِرَاكٍ، وَتَارَةً يقول: عن رَجُلٍ عن عِرَاكٍ”.

Riwayat yang dikomentari oleh Imam Adz-Dzahaby ini tepatnya dikeluarkan oleh Imam Ad-Daroquthny no.167. Imam Ath-Thohawy Kitab Syarhul Ma’anil Aatsar no.6595 dan no.6598. Imam Ibnu Majah di kitab sunannya no.324. Imam Ahmad di kitab Musnadnya no.25063, 25899. Dan Ishaq di kitabnya no.1095.

Semua sanadnya bersumber dari Kholid Al-hadzza dari Kholid bin Aby Shilt.

Imam Adz-Dzahaby menilai riwayat yang dibawa oleh Kholid Al-Hadzza adalah munkar karena beliau menyendiri dan riwayatnya idlthirob. Di riwayat lain ia menyebutkan langsung dari ‘Irok dan diriwayat yang lain lagi ia sebutkan dari seseorang (majhul) dari ‘Irok.

Riwayat ini telah nyata goncang, terlihat kholid hafalannya berubah.

Kegoncangan ini akan nampak jelas ketika didapatkan riwayat yang mahfudz (terpelihara) yang Imam Al-Bukhory sebut di kitabnya Tarikh Kabir Juz 3 hal. 156:

“وقال ابن بكير: حدثني بكر، عن جعفر بن ربيعة، عن عراك، عن عروة: أن عائشة كانت تنكر قولهم: لا تستقبل القبلة. وهذا أصح”.

Imam Al-Bukhory menilai inilah riwayat yang benar dari ‘Irok dari ‘Urwah dari ‘Aisyah r.a. karena itu masih di kitab ini Imam Al-Bukhory menilai riwayat yang dibawa oleh kholid Al-Khazza adalah Mursal.

Dalam riwayat ini nampak kegoncangan riwayat yang dibawa oleh Kholid Al-Khazza dari segi matan dan sanad.

Dan oleh karena itu walaupun kholid ini didapatkan pada riwayat-riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory dalam kitab Shohihnya, namun riwayatnya akan selalu di ikuti oleh sahabatnya yaitu Ayub As-Sakhtiyani rowi paling tsiqoh muridnya Abu Qilabah, karena Imam Al-Bukhory tau bahwa kesendirian kholid adalah lemah apalagi apabila menyendiri dari Abu Qilabah tanpa disertai oleh murid Abu Qilabah yang paling tsiqoh yaitu Ayyub.

Atas beberapa riwayat yang dibawa oleh Kholid terjadi goncangan maka sangat kuat penilaian Abu Hatim terhadap Kholid Al-Hadzza dengan mengatakan:

يكتب حديثه ولا يحتجّ به

“Haditsnya dicatat namun tidak dipakai hujjah”[8]

Perubahan hafalan Kholid telah di nilai oleh Hamad bin Zaid semenjak kembalinya dari negri Syam:

أشار حماد بن زيد إلى أنّ جفظه تغير لمّا قدم من الشام وعاب عليه بعضهم دخوله في عمل السلطان

“Hamad bin Zaid memberi isyarat bahwa hafalan (kholid) telah berubah semenjak pulang dari negri Syam dan sebagian (para imam) telah menilai cacat padanya disaat ikut masuk dalam urusan kenegaraan (sultan)”[9]

Pernyataan Hamad bin Zaid sangat akurat dan terbukti dari beberapa riwayat yang dibawa oleh Kholid goncang, begitupun riwayat bendera hitam yang dibawa oleh Kholid, bahwa riwayat yang dibawanya adalah cacat yang tersembunyi.

Pengingkaran Ibnu ‘Ulyah Kuat.

Dari cacat yang tersembunyi inilah Ibnu ‘Ulyah yang biasa menerima riwayat dari Kholid mengingkarinya:

حدّثني أبي، قال: قيل لابن علية في هذا الحديث، فقال: “كان خالد يرويه”، “فلم يلتفت إليه، ضعَّف ابن علية أمره، يعني حديث خالد عن أبي قلابة عن أبي أسماء عن ثوبان عن النبي صلى الله عليه وسلم في الرايات”

“Aku dapat kabar dari Ayahku (Ahmad bin Hanbal) dan ia berkata: dikatakan hadits ini kepada Ibnu ‘Ulyah dan ia (Ahmad bin Hanbal) katakan: Kholid telah meriwayatkannya” namun Ibnu ‘Ulyah menghiraukannya. Ibnu ‘Ulyah melemahkan urusan (riwayat) nya, yaitu hadits kholid dari Aby Qilabah dari Aby Asmaa dari Tsauban r.a dari Nabi saw tentang hadits bendera-bendera (hitam)”.[10]

Khusus riwayat bendera hitam yang dibawa oleh kholid diingkari oleh Ibnu ‘Ulyah, padahal cukup banyak riwayat-riwayat lain yang Ibnu ‘Ulyah dapat dari Kholid ini. Ini diketahui bahwa Ibnu ‘Ulyah tidak menerima kesendirian Kholid dalam riwayat ini. Penilaian Ibnu ‘Ulyah sangat kuat. Riwayat yang dibawa kholid seorang dari Abu Qilabah terdapat kemungkaran yang tersembunyi. Karena itu penulis menilai tidaklah benar Abu Qilabah menceritakan tentang riwayat ini ke kholid, atau tidaklah benar kholid dapat berita ini dari Abu Qilabah. Kalaulah riwayat ini benar dari Abu Qilabah maka Ayub seorang rowi tsiqoh pasti meriwayatkannya.

  1. Jalan Kedua: ‘Aly bin Zaid dari Abu Qilabah

 

حدثنا وكيع عن شريك عن علي بن زيد عن أبي قلابة عن ثوبان قال : قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم : إذا رأيتم الرايات السود قد جاءت من قبل خراسان فأتوها، فإن فيها خليفة الله المهدي.

Rasulullah saw bersabda: “Apabila kalian melihat bendera-bendera hitam yang datang dari khurosan maka datangilah (kelompok itu) karena disana terdapat kholifah Allah yakni Al-Mahdy.

(Dikeluarkan oleh Imam Ahmad; Musnad Imam Ahmad. Juz 37 hal.70 No.Hadits 22387 cet. Muassasatu Ar-Risalah)

Analisa Sanad:

> Tsaubah r.a: Shahabat Nabi saw.

> Abu Qilabah (Abdullah bin Zaid bin ‘Amr Al-Jarmy) : Tsiqotun.[11]

> ‘Ali bin Zaid bin Jud’an : Dloif. Hanya Ya’qub bin syu’bah yang mentautsiqnya. Dan At-Turmudzy menilai Shoduq. Imam Abu hatim: haditsnya ditulis tapi tidak dipakai Hujjah.[12]

> Syarik bin ‘Abdullah : Shoduq Yukhty Katsir (Banyak salah) menurut ibn Hajar. Dan banyak juga imam yg lainnya memberi nilai Tsiqoth. [13]

Jalur ini terdapat beberapa cacat:

  1. Riwayatnya Ghorib.

‘Aly bin Zaid bin Jud’ah tidak memiliki jalur periwayatan dari Abu Qilabah. Penulis tidak temukan satupun riwayatnya didapatkan dari Abu Qilabah kecuali hanya diriwayat ini. Karena itu, kembali kepada manhaj Imam Muslim bahwa riwayat seperti ini adalah munkar. Imam Muslim berkata:

“Dan apabila contohnya seperti Imam Zuhry dan Hisyam bin Urwah yang (terkenal) kebesarannya dan banyak shahabatnya yang termasuk para ahli huffadz yang kuat hafalan haditsnya, dan hadits kedua (Imam) ini tersebar, diikuti dan riwayatkan oleh seluruh shahabat-shahabat yang lainnya secara ittifaq (sefakat), kemudian (disaat itu) terdapat seseorang yang meriwayatkan dari keduanya (Zuhri dan Hisyam) beberapa riwayat hadits yang tidak dikenal oleh shahabat-shahabat Zuhri dan Hisyam. Dan seorang rowi tersebut tidak termasuk kelompok mereka dalam periwayatan, maka riwayat (rowi ini) tidak boleh diterima dari contoh seperti ini”.[14])

‘Aly bin Zaid tidak sah menjadi rowi dalam sanad ini. Begitupun Syarik dari ‘Aly bin Zaid adalah jalur ghorib yang tidak didapatkan dalam sanad keguruan antara keduanya. ‘Aly bin Zaid dinilai rowi lemah. Yahya bin Ma’in menilai: “Dia rowi dloif”, “dia Dloif dari segala riwayatnya”, Dia tidak bisa dipakai hujjah”. Karena itu atas kelemahan rowi ini dan keghoriban jalur sanad yang dibawanya dari Abu Qilabah menunjukkan riwayatnya adalah Munkar.

‘Aly bin Zaid rowi SYI’AH seperti apa yang dikatakan Imam Al-‘Ijly. Dia sangat berlebihan dalam faham syi’ahnya. Ibnu ‘Ady mengomentari kesyi’ahannya:

وكان يغلى في التشيّع في جملة أهل البصرة

“Dia sangat berlebihan dalam faham Syi’ahnya di kalangan para ulama bashroh (‘Iraq)” [15]

Muhammad bin Minhal menukil perkataannya Yazid bahwa ‘Aly bin Zaid ini seorang syi’ah rofidloh.

Atas penjelasan diatas, riwayat yang dibawa oleh ‘Aly bin Zaid tidak sah menjadi Mutabi’ bagi Kholid. Sebaliknya kholid yang telah keliru meriwayatkan dari berubahnya hafalan saat ia pulang dari Syam yang disana telah tersebar informasi seperti ini dari kalangan Syi’ah.

  1. Sanadnya terputus (Munqothy)

Selain pada sanad ini sangat lemah dengan terdapatnya ‘Aly bin Zaid bin Jud’an, juga pada sanad ini terputus. Abu Qilabah tidak mendengar dari Tsauban r.a.

Jalur ini riwayatnya Munkar dikarenakan keghoriban seorang rowi yang bernama ‘Aly bin Zaid yang membawa riwayat dari Abu Qilabah dan beberapa kelemahan yang lain.

Kesimpulan:

Dari keseluruhan riwayat yang telah penulis ungkap berikut penilaian-penilaian para ahlu jarh dan ta’dil atas semua rowi, penulis simpulkan bahwa:

  1. Hadits tentang bendera-bendera hitam yang datang dari khurosan ini adalah lemah dan tidak sah informasi ini datang dari Nabi saw yang disampaikan kepada para shahabat-shahabatnya seperti Tsauban r.a, Abu Hurairoh dll.
  1. Hadits tentang bendera-bendera hitam yang datang dari khurosan ini tercium informasi kebid’ahan yang dihembuskan oleh rowi-rowi lemah dari kalangan syi’ah. Dan terbukti kelemahan-kelemahan rowi syi’ah diatas semuanya dari wilayah bashroh yang sekarang ‘Iraq.
  1. Apabila kita hubungkan dengan masa berdirinya daulah Abbasiyyah di basroh Iraq penulis berpendapat riwayat ini ada hubungannya dengan situasi politik waktu itu dalam mendirikan daulah ‘Abbasiah.

 

Wallahu A’lam.

Akhukum Fillah.

Abu Aqsith. Dadi Herdiansah.

Pameungpeuk Bandung Jawa Barat Indonesia


[1] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 22 hal.223 No.4445 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[2] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 508 cet. Darul ‘Ashimah

[3] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 292 cet. Darul ‘Ashimah

[4] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 394 cet. Darul ‘Ashimah

[5] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 607 cet. Darul ‘Ashimah

[6] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 102 cet. Darul ‘Ashimah

[7] Kitab Mizanul I’tidal; Imam Adz-Dzahaby. Juz 2 hal.414 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[8] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 8 hal.180 No.1655 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[9] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 292 cet. Darul ‘Ashimah

[10] Kitab Al-‘Ilal wa Ma’rifaturrijal; Imam Ahmad. Juz 2 hal. 325 no.2443 cet. Darul Khony

[11] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 14 hal.542 No.3283 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[12] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 20 hal.434 No.4070 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[13] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 12 hal.462 No.4070 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[14]     Kitab Shohih Muslim; Muqoddimah hal. 5-6. Cetakan: Daru Al-Mughny

[15] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 20 hal.439 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 4 =