Setiap tahun kaum muslimin yang memiliki keluasan harta menjawab seruan Allah subhānahu wata’āla dalam berqurban pada hari raya ‘Idul Qurban. Alhamdulillah pada setiap pelosok desa kesadaran berqurban ini masih tinggi dan diharapkan tetap terjaga sunnah ini sampai generasi-generasi berikutnya. Namun terkadang muncul pemahaman-pemahaman yang berbeda di masyarakat tentang berqurban ini yang mengharuskan mereka bertanya dan menjadi tugas para ahli ilmu untuk menjawab permasalahan umatnya.

Pada dasarnya umat Islam memahami bahwa 1 ekor kambing itu mewakili 1 orang, 1 sapi atau 1 unta mewakili 7 orang. Hanya saja akhir-akhir ini muncul pemahaman bahwa 1 ekor kambing bisa oleh satu keluarga sampai telah terjadi iuran bersama antar satu sekolah misalnya dimana para murid iuran bersama untuk pembelian hewan qurban. Disisi lain bagaimana kedudukan berqurban ini? Hewan apa saja yang masuk udhiyyah? 

Dalam perspektif syari’at (fiqh), qurban memiliki makna ritual, yakni menyembelih hewan qurban yang telah memenuhi kriteria tertentu dan pada waktu tertentu, Syariat qurban adalah simbol pengorbanan kita kepada Allah subhānahu wata’āla, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya dan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan Allah subhānahu wata’āla kepada hamba-Nya. Bentuk pengorbanan kita kepada Allah subhanahu wata’ala ini tentunya dengan mengorbankan hewan ternak yang paling bagus sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain sehat fisik juga umur hewan qurban telah sampai pada yang ditetapkan dalam hal ini genap 1 tahun untuk kambing. Namun dilapangan tingginya permintaan kambing qurban yang tidak setara dengan jumlah kambing cukup umur membuat konsumen memilih berqurban dengan kambing apa adanya daripada tidak berqurban sama sekali.

Penelitian ini bertujuan menganalisis sanad hadis dan matannya yang ada dalam kitab mashadir ‘Ashliyyah, kemudian dilakukan kritik sanad dan matan, juga kritik syarah sampai pada kesimpulan.

  1. Hukum Ibadah Qurban Pada Hari Raya

Riwayat Pertama: Shahih

  حدثنا مسلم قال : حدثنا شعبة ، عن الأسود عن جندب قال : صلى النبي صلى الله عليه وسلم يوم النحر ثمّ خطب ثمّ ذبح فقال : مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda: “Barangsiapa yang menyembelih hewan sebelum shalat (hari raya), maka sembelihlah yang lain sebagai penggantinya dan siapa yang belum menyembelihnya maka sembelihlah dengan nama ALLAH subhanahu wata’ala.” (H.R. Al-Bukhary) [1]

Takhrij Hadis:

Imam Al-Bukhary selain meriwayatkan di no. 985, juga meriwayatkan pada no.5500 melewati Abu ‘Awanah dari Al-Aswad. No. 5562 melewati adam dari syu’bah. No.7400 melewati Hafs bin ‘Umar dari Syu’bah. No. 5561 dari shahabat Anas bin Malik. Diikuti oleh Imam Muslim meriwayatkan dari jalan salam bin sulaim dari Al-Aswad no. 1960. Juga dari jalur Anas bin Malik no. 1962. Imam An-Nasai no. 4368 melewati Abul Ahwas dari Al-Aswad. Al-Humaidy no. 793 melewati Sufyan dari Al-Aswad. Dan masih banyak lagi jalur lain yang dikeluarkan oleh beberapa imam.

Hadis ini shahih dengan rowi-rowinya tsiqah dan teriwayatkan banyak jalan.

Riwayat Kedua: marfu munkar

 حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدّثنا زيد الحباب حدّثنا عبد الله بن عيّاش عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال : من كان له سعة ولم يضحّ فلا يقربنّ مصلاّنا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda :“Barangsiapa yang memiliki kemampuan (keluasan rezeki) dan tidak menyembelih, maka jangan dekati tempat shalat kami.” (H.R. Ibnu Majah No. 3123)[2]

Takhrij Hadis:

Hadis ini juga selain dikeluarkan oleh Ibnu Majah, juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad No.8273[3]. Imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak  No. 3468 dan No.7565. Imam Al-Baihaqy dalam kitab As-Sunan Al-Kubra Juz 9 hal.260, dan Imam Ibnu Abdil barr[4] Juz 23 hal. 190.

Semua sanad pada kitab-kitab diatas bermuara ke Abdullah bin ‘Iyyas. Rowi ini lemah. Berikut penilaian para imam:

Abu Hatim                           : “Laisa bi Matien” (dia tidak kuat)

Abu Daud & An-Nasai           : “Dlaif” (dia lemah)[5]

Al-Hafidz Ibnu Hajar             : “Shaduq Yaghlith” (dia shaduq ada kesalahan)[6]

Riwayat yang melewati Abdullah bin ‘Iyyas ini lemah dan telah menyalahi riwayat yang lebih kuat dimana riwayatnya mauquf.

Berikut riwayatnya: mauquf shahih

حدثنا عبد الوارث بن سفيان قال حدثنا قاسم بن أصبغ قال حدثنا محمد بن إسماعيل الترمذي قال ابن أبي مريم قال أخبرنا يحيى بن أيوب عن عبيد الله بن أبي جعفر عن الأعرج عن أبي هريرة وأخبرنا الليث بن سعد وبكر بن مضر قالا أخبرنا عبيد الله بن أبي جعفر عن ابن هرمز قال سمعت أبا هريرة –وهو في المصلى- يقول مَنْ قدر على سَعَة فلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang memiliki kemampuan (keluasan rezeki) dan tidak menyembelih, maka jangan dekati tempat shalat kami.”  (Ibnu Abdil Barr 1387H/1967M) Juz 23 Hal. 191.

Riwayat ini dari segi sanad telah menyalahi riwayat yang marfu. ‘Ubaidillah bin Aby Ja’far dari Al-A’raj dengan riwayat mauquf telah menyalahi Abdullah bin ‘Iyyas dari Al-A’raj. Abdulllah bin ‘Iyyas rowi lemah adapun ‘Ubaidillah bin Aby Ja’far rowi tsiqah. Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai ia Tsiqah[7]. ‘Ubaidillah ini diikuti oleh Ja’far bin Rabi’ah sebagai mutabi’ nya ‘Ubaidillah. Ja’far bin Rabi’ah seorang rowi tsiqah.[8]

ورواه جعفر بن ربيعة وغيره عن عبد الرحمن الأعرج عن أبي هريرة موقوفا[9]

Riwayat ini yang mahfudz  adalah mauquf perkataan Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu. adapun riwayat yang dimarfukan adalah munkar.

Bersambung, Klik disini ….


[1] Imam Al-Bukhary. Shahih A-Bukhary. Ar-Riyadl: Maktabah Ar-Rusydi, 1427H/2006M hal. 134-135

[2] Kitab Sunan Ibnu Majah Juz 3 Hal. 529 No. 3124 Cetakan: Darul Ma’rifah. Beirut.

[3] Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Juz 14 hal. 24 No. 8273 Cet. Muassasatu Ari-Risalah

[4] Ibnu Abdil Barr. At-Tamhid. Cet. Darul Hadits, 1387H/1967M.

[5] Kitab Tahdzibbul Kamal; Imam Mizzy. Juz 15 hal. 411 No. 3472 Cetakan: Muasasatu Risalah

[6] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 355 no. 3546 cetakan: Darul ‘Ashimah

[7] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 636 no. 4309 cetakan: Darul ‘Ashimah

[8] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 199 no. 946 cetakan: Darul ‘Ashimah

[9] Kitab As-Sunan Al-Kubra. Imam Al-Baihaqy. Juz 9 hal. 260 cet. Dairatul Ma’arif

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + thirteen =