Post ini lanjutan pada judul post sebelumnya, bagi yang belum membaca silahkan klik disini, ….

Setelah kita bahas riwayat pertama dan kedua, berikut riwayat ketiga dan keempat:

Riwayat Ketiga: shahih

 حدثني حجاج بن الشاعر حدثني يحيى بن كثير العنبري أبو غسان حدثنا شعبة عن مالك بن أنس عن عمرو بن مسلم عن سعيد بن المسيب عن أمّ سلمة أنّ النبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال: إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda: “Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” [1] (H.R. Muslim)

Hadis ini shahih dengan banyak jalan dan rowi-rowinya tsiqah karena itu Imam Muslim mengeluarkan di kitab Shahihnya.

Riwayat Keempat: shahih

 عبد الرزاق عن الثوري عن إسماعيل و مطرف عن الشعبي عن أبي سريحة قال : رأيت أبا بكر وعمر وما يضحيان

Abu Sarihah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Aku melihat Abu Bakr dan Umar keduanya tidak memotong qurban” (H.R. Abdurrazzaq No. 8139) [2]

Takhrij:

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabarany Juz 4 hal. 18 juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad No. 5493[3] melewati Mu’tamir dari Ismail bin dengan teksnya sebagai berikut:

لقد رأيت أبا بكر وعمر وما يضحّيان عن أهلهما خشية أن يستنّ بهما

Abu Sarihah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Sungguh aku melihat Abu Bakar dan Umar keduanya pernah tidak memotong qurban untuk keluarga mereka dikhawatirkan dianggap sunnah (wajib) ” (H.R. Abdurrazzaq No. 8139)

Riwayat ini shahih:

Abu Sarihah adalah Hudzifah bin Asid Al-Ghifary: Shahaby [4]

‘Amir Asy-Sya’bi adalah rowi tsiqah masyhur Faqihun Fadlilun [5]

Mutharrif bin Abdullah bin Mutharrif tsiqah [6]

Ismail bin Aby Khalid Al-Ahmasy seorang rowi yang tsiqah tsabtun [7]


SYARAH HADIS

Riwayat pertama walau ada perintah untuk menyembelih dengan lafadz falyadzbah namun perintah ini masih ihtimalat belum jelas (gair sharih) untuk menunjukkan kewajibannya, karena perintah itu ada illat sebelumnya yaitu dikarenakan seseorang menyembelih sebelum waktunya.

Riwayat kedua yang mahfudz adalah perkataan Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dan perkataannya belum sampai menunjukkan kewajiban. Lafadz fala yaqrabanna masih memungkinkan perkara yang dibenci ketika seseorang meninggalkan untuk berqurban. Hampir sama kasusnya pada larangan memakan bawang putih misalnya:

 عنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا

dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat terjadinya perang Khaibar: “Barangsiapa memakan dari pohon ini, yaitu bawang putih, maka jangan sekali-kali dia mendekati masjid kami.” (H.R.Al-Bukhary) [8]

Larangan untuk mendekati masjid pada riwayat ini tentunya bukan berarti memakan bawang putih adalah haram, namun dibenci (makruh) karena baunya. Dari sini dapat diambil kesimpulan larangan mendekati masjid atau mushalla belum cukup untuk dijadikan hujjah haramnya sesuatu.

Adapun riwayat ketiga dapat diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengaitkan ibadah qurban dengan iradah  (kehendak), bukan menetapkan tanpa memberi pilihan. Karena itu pada riwayat ketiga ini menunjukkan berqurban hukumnya tidak sampai pada wajib namun hanya sebatas sunnah. dan dikuatkan dengan riwayat keempat bahwa Abu Bakar radliyallahu ‘anhu dan Umar radliyallahu ‘anhu pernah tidak berqurban dengan sebab dihawatirkan kaum muslimin memandangnya wajib.

Riwayat ketiga dan keempat sudah sangat jelas menunjukkan kedudukan hukum berqurban yaitu Sunnah. dan apabila dikompromikan dengan riwayat kesatu dan kedua maka dapat difahami bahwa perintah disana sangat dianjurkan (sunnah mu’akkadah).

Berikut pandangan para ulama yang memandang sunnah.

Pandangan Ibnu Hazm:

قال أبو محمد : لا يصحّ عن أحج من الصحابة أنّ الأضحية واجبة، و صحّ أنّ الأضحية ليست واجبة

Tidak ada riwayat shahih dari seorang Shahabatpun bahwa berqurban hukumnya wajib” [9]   (Ibnu Hazm 1349H, hal. 358)

Pandangan Imam Atha:

عبد الرزاق عن ابن جريج قال : قلت لعطاء : أواجبة الأضحية على الناس؟ قال لا, وقد ذبح رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ibnu Jureij pernah bertanya ke Imam Atha: “Apakah menyembelih qurban itu wajib bagi manusia?” Ia menjawab, “Tidak. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban.” [10] (Abdurrazzaq 1391 H)

Imam An-Nawawi:

اختلف العلماء في وجوب الأضحية على الموسر فقال جمهورهم هي سنة في حقه إن تركها بلا عذر لم يأثم ولم يلزمه القضاء

“Para ulama berselisih pendapat mengenai wajibnya qurban bagi orang yang memiliki kelapangan rizki. Menurut mayoritas ulama, hukum berqurban adalah sunnah. Jika seseorang meninggalkannya tanpa udzur, ia tidaklah berdosa dan tidak ada qodho’. (Imam An-Nawawi, Shahih Muslim Bisyarhi An-Nawawi 1349 H)[11]

 

Bersambung,. klik di sini ….


[1] Imam Muslim. Shahih Muslim. No. 1977 Ar-Riyadl: Darul Mughny, 1419H/1998M.

[2] Kitab Mushannaf ‘Abdurrazzaq Jilid 4 hal. 381 No. 8139 Cet. Al-Majlis Al-‘Ilmi

[3] Kitab Al-‘Ilal Wa Ma’rifati Ar-Rijal Li-Ahmad bin Hanbal. Juz 3 hal. 337 cet. Darul Khany

[4] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 226 no. 1163 cetakan: Darul ‘Ashimah

[5] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 475-476 no. 3109 cetakan: Darul ‘Ashimah

[6] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 948 no. 6752 cetakan: Darul ‘Ashimah

[7] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 442 no. 1163 cetakan: Darul ‘Ashimah

[8] Imam Al-Bukhary. Shahih Al-Bukhary. Hal. 118 No. 853. Ar-Riyadl: Maktabah Ar-Rusydi, 1427H/2006M.

[9] Ibnu Hazm. Al-Muhalla. Mesir: Idarah Ath-Thiba’ah Al-Muniriyah, 1349H

[10] Kitab Mushannaf Abdurrazzaq. Juz 4 hal. 380 No. 8134 cet. Al-Maktab Al-Islami

[11] Kitab Shahih Muslim Bisyarhi An-Nawawi. Mesir: Idarah Muhammad Abdullatif, 1349 H.Juz 13 hal. 110

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 − 2 =