Takhrij Doa Berbuka Shaum Dzahaba Dzamau

Ibadah Shaum adalah ibadah yang rutin dilaksanakan oleh Nabi kita Muhammad saw baik shaum wajibnya maupun shaum sunnatnya. hampir pada setiap bulannya Nabi Muhammad melaksanakan ibadah ini dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt.

Dalam tata cara shaum diantaranya kita mendapatkan keterangan riwayat doa berbuka ketika shaum. Diantara doa berbuka itu adalah sebagai berikut:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.

Sebagai sumbangsih kajian, berikut pembahasan singkat takhrij kedudukan riwayatnya:

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ اﻟﺤﺴﻦ ﺃﺧﺒﺮﻧا اﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ واقد ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺮﻭاﻥ ﻳﻌﻨﻲ اﺑﻦ ﺳﺎﻟﻢ اﻟﻤﻘﻔﻊ، ﻗﺎﻝ: ﺭﺃﻳﺖ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻘﺒﺾ ﻋﻠﻰ ﻟﺤﻴﺘﻪ  ﻓﻴﻘﻄﻊ ﻣﺎ زاد ﻋﻠﻰ اﻟﻜﻒ ﻭﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻥ النبي ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺇﺫا ﺃﻓﻄﺮ ﻗﺎﻝ: ﺫﻫﺐ اﻟﻈﻤﺄ ﻭاﺑﺘﻠﺖ اﻟﻌﺮﻭﻕ ﻭﺛﺒﺖ اﻷﺟﺮ ﺇﻥ ﺷﺎء اﻟﻠﻪ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami ‘Aly bin Al-Hasan, telah menghabarkan kepada kami Al-Husein bin Waqid, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Salim Al-Muqaffa ia berkata: Aku melihat Ibnu ‘Umar memegang janggutnya dan memotong apa yang lebih dari kepalannya dan berkata: Adalah Nabi saw apabila berbuka, ia berdoa:Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.”

(Dikeluarkan oleh Imam Abu Daud; Sunan Aby Daud Juz 3 hal:149 No.2351 Cetakan: Muassasatu Ar-Rayyan)

Selain oleh Imam Abu Daud, juga diriwayatkan oleh:

  1. Imam Al-Bazzar: kitab Musnad Al-Bazzar. Juz 12 Hal. 24 No. 5395 Cetakan Muassasatu ‘Ulumi Al-Quran. Melewati jalan Ibrahim bin Sa’id dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Husein bin Waqid.
  2. Imam An-Nasai: kitab ‘Amalul Yaum Wallailah Linnasai. Hal. 268 No.299 Cetakan Muassasatu Ar-Risalah. Melewati jalan Quraisy dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Husein bin Waqid.
  3. Imam At-Thabarany: Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir Lit-Thabarany. No.14097 Cetakan Maktabah Ibnu Taimiyyah. Melewati jalan Ibnu Aby ‘Awanah dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Husein bin Waqid.
  4. Imam Ibnu Sinny: Kitab ‘Amalul Yaum Wallailah. Hal. 226 No.478 Cetakan: Maktabah Darul Bayan. Melewati jalan Quraisy dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Husein bin Waqid.
  5. Imam Ad-Daraquthny: Kitab Sunan Ad-Daraquthny. Juz 3 Hal. 156 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah. Melewati jalan Aly bin Muslim dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Husein bin Waqid.
  6. Imam Al-Hakim: Kitab Al-Mustadrak ‘Ala As-Shaihain. Juz 1 Hal. 583 No. 1536 Cetakan: Darul Haramain. Melewati jalan Ibrahim bin Hilal dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Al-Husein bin Waqid.
  7. Imam Al-Baihaqy: Kitab Ad-Da’awat Al-Kabir. Juz 2 Hal. 97 No.499 Cetakan: Al-Gharaz. Melewati Yahya bin Aby Thalib dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Al-Husein bin Waqid.
  8. Dan Kitab As-Sunan As-Sugra Lilbaihaqy. Juz 2 hal. 112 No.1390 Cetakan: Darul Wafa’. Diriwayatkan secara Mu’allaq.
  9. Dan Kitab Syu’abul Iman. Juz 3 Hal. 407 No. 3902 Cetakan: Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah. Diriwayatkan secara Mu’allaq.
  10. Imam Al-Baghwy: Kitab Syarhu As-Sunnah Juz 6 Hal. 265 No.1740 Cetakan: Maktab Al-Islamy. Melewati jalan Yahya dari ‘Aly bin Al-Hasan dari Al-Husein bin Waqid.

 

Riwayat ini walaupun dikeluarkan oleh 9 Imam dari kitab-kitab yang di susunnya, namun muaranya tetap pada satu jalur tunggal yaitu dari:

Aly bin Al-Hasan dari Al-Husein bin Waqid dari Marwan dari Ibnu ‘Umar r.a Dari Nabi saw.

Berikut Gambar Skema Sanadnya:

Penilaian Rowi:

  1. Aly bin Al-Hasan :

هو أحبّ إلي من علي بن الحسين بن واقد

Imam Abu Hatim: “Dia lebih aku suku daripada ‘Aly bin Al-Husain bin Waqid”[1]

لم يكن به بأس إلا أنهم تكلّموا فيه في الإرجاء

Imam Ahmad: “Dia tidak apa-apa, hanya saja ia diperbincangkan dalam hal Irja’nya (Murji’ah)”[2]

وكان عالما بابن المبارك

Abu Zakaria: “Dia orang ‘Alim disisi Imam Ibnu Al-Mubarak”[3]

وكان عالما بابن المبارك

Yahya bin Ma’in: “Dia orang ‘Alim disisi Imam Ibnu Al-Mubarak”[4]

سئل أبو داود عن سفيان بن زياد فقال: من أصحاب ابن المبارك أثبت ابن المبارك وبعده سليمان وبعده علي بن الحسن بن شقيق

Abu Daud di Tanya tentang Sufyan bin Ziyad, maka ia berkata: “Dia (Sufyan) termasuk shahabat Ibnu Al-Mubarak, (Murid) Imam Al-Mubarak paling Atsbath dan setelahnya Sulaiman dan setelahnya ‘Aly bin Al-Hasan bin Syaqiq”[5]

ثقة حافظ

Ibnu Hajar: “Dia itu Tsiqah (terpercaya) dan Hafidz (Penghafal)”[6]

 

  1. Al-Husein bin Waqid :

وقال أبو بكر بن أبي خيثمة عن يحيى بن معين: ثقة

Yahya bin Ma’in: “Dia itu Tsiqah (terpercaya)”[7]

وقال أبو زرعة و النسائي : ليس به بأس

Abu Zur’ah dan Imam An-Nasai: “Dia itu tidak ada masalah”[8]

وقال ابن حبان : كان من خيار الناس وربّما أخطأ في الروايات

Ibnu Hibban: “Ia termasuk orang yang baik dan boleh jadi ia ada kekeliruan dalam riwayatnya”[9]

وقال العقيلي : أنكر أحمد بن حنبل حديثه

Imam Al-‘Uqoily berkata: “Imam Ahmad mengingkari Hadits (Al-Husein)”[10]

وقال الأثرم : قال أحمد : في أحاديثه زيادة ما أدري أي شئ هي؟

Imam Ahmad berkata: “Pada Hadits-haditsnya terdapat tambahan dimana aku tidak mengetahui darimana ia dapat? ”[11]

وقال الساجي : فيه نظر وهو صدوق يهم

Imam As-Sajy berkata: “Fihi Nadzar (perlu diteliti) dan ia termasuk rowi Shaduq yang ada kekeliruan”[12]

ابن حجر : ثقة له أوهام

Ibnu Hajar: “Tsiqah (terpercaya) namun memiliki kekeliruan-kekeliruan”[13]

 

  1. Marwan bin Salim Al-Muqaffa :

روى عنه حسين بن واقد ولا أدري هو مروان مولى هند أم غيره؟

Abu Hatim : “(Marwan Al-Muqaffa) diriwayatkan oleh Husein bin Waqid, dan Aku tidak tahu apakah ia Marwan Maula Hind atau bukan”[14]

مروان المقفّع روى عن ابن عمر

Al-Bukhary: “Marwan Al-Muqaffa meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar”[15]

مروان بن المقفع : روى عنه الحسين بن واقد

Ibnu Hibban: “Telah meriwayatkan dari (Marwan) adalah Al-Husein bin Waqid”[16]

روى عنه الحسين بن واقد المروزي وعزرة بن ثابت الأنصاري

Imam Al-Mizzy: “Telah meriwayatkan darinya Al-Husein bin Waqid dan ‘Azrah bin Tsabit Al-Anshary”[17]

ابن حجر : مروان بن سالم المقفع مصري مقبول من الرابعة

Ibnu Hajar: “Marwan bin Salim Al-Muqaffa orang Mesir Maqbul”[18]

 

Penjelasan:

Apa yang didapat dari berbagai penilaian para imam diatas dapat disimpulkan bahwa jalur tunggal ini hemat kami didalamnya terdapat kekeliruan yang bersumber dari Al-Husein bin Waqid. Berikut kekeliruan-kekeliruan Al-Husein pada riwayat ini:

  1. Al-Husein bin Waqid walau dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma’in namun ia memiliki kekeliruan seperti yang dinilai oleh Ibnu Hibban dan Imam As-Sajy. (lihat pendapatnya diatas)
  2. Kekeliruan Al-Husein bin Waqid di jelaskan dengan baik oleh Imam Ahmad, karena Al-Husein pada beberapa hadits hasil kajiannya terdapat tambahan-tambahan yang tidak diketahui dapat dari siapa?
  3. Kekeliruan Al-Husein pada riwayat ini adalah membawa rowi majhul yang bernama Marwan Al-Muqaffa. Rowi yang tidak dikenal ini hanya disebutkan oleh Al-Husein bin Waqid saja sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Hatim diatas dan juga Imam Ibnu Hibban.
  • Adapun riwayat ‘Azrah bin Tsabit dari Marwan seperti yang disebutkan oleh Imam Mizzy tidak dikatahui keberadaan riwayatnya tentang apa dikitab yang mana? sehingga Imam Abu Hatim dan Ibnu Hibban lebih tepat menyebutkan bahwa hanya Al-Husein saja yang membawa rowi majhul ini.
  1. Yang sangat melemahkan riwayat ini dari apa yang dibawa oleh Al-Husein bin Waqid adalah menyandarkan Marwan sebagai rowi majhulnya kepada Ibnu Umar r.a. sedangkan Ibnu Umar r.a adalah seorang shahabat Nabi saw yang masyhur dalam periwayatan hadits.
  2. Ibnu ‘Umar r.a adalah shahabat Nabi saw yg paling banyak meriwayatkan setelah Aby Hurairah ra, jumlahnya mencapai 2.630± hadits.
  3. Jumlah murid yang meriwayatkan darinya mencapai 300±, rowi (lihat kitab Tahdzibul Kamal). Dari jumlah murid yang sangat banyak ini Imam Nafi’ lah yang paling Atsbat, terkenal akan mulazamahnya dengan ibn Umar r.a diikuti setelahnya Salim bin ‘Abdullah kemudian Abdullah bin Dinar kemudian setelahnya Imam Mujahid, Ikrimah dll.
  4. Dan selain ke 5 rowi diatas masih banyak rowi-rowi tsiqoh lainnya yang senantiasa meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a dan mulazamahnya (kedekatan) dengan Ibnu Umar r.a tidak diragukan lagi kredibilitas hafalanya yang dimana riwayat-riwayatnya masyhur dan dikenal.

 

Atas dasar ini kesendirian Al-Husein kekeliruannya pada riwayat ini nampak terlihat disaat menyandarkan rowi majhul terhadap Ibnu Umar r.a yang masyhur.

Kesendirian Al-Husein dengan menyandarkan rowi majhul kepada Ibnu ‘Umar adalah bentuk kemungkaran terhadap murid-murid Ibnu ‘Umar yang banyak yang tsiqah. Dimana Imam Nafi’ ketika rowi majhul meriwayat ini dari Ibnu ‘Umar r.a? atau kemana para shahabat Ibnu ‘Umar yang lain seperti Salim bin ‘Abdillah, Abdullah bin Dinar, Mujahid dan ‘Ikrimah dalam periwayatan ini?

Akan hal ini Imam Muslim dengan standar kritisnya telah mengingatkan:

“Dan apabila contohnya seperti Imam Zuhry dan Hisyam bin Urwah yang (terkenal) kebesarannya dan banyak shahabatnya yang termasuk para ahli huffadz yang kuat hafalan haditsnya, dan hadits kedua (Imam) ini tersebar, diikuti dan riwayatkan oleh seluruh shahabat-shahabat yang lainnya secara ittifaq (sefakat), kemudian (disaat itu) terdapat seseorang yang meriwayatkan dari keduanya (Zuhri dan Hisyam) beberapa riwayat hadits yang tidak dikenal oleh shahabat-shahabat Zuhri dan Hisyam. Dan seorang rowi tersebut tidak termasuk kelompok mereka dalam periwayatan, maka riwayat (rowi ini) tidak boleh diterima dari contoh seperti ini”.

(Lihat Kitab Shohih Muslim; Muqoddimah hal. 5-6. Cetakan: Daru Al-Mughni)

Pemahaman Imam Muslim ini diikuti oleh Syaikh Amr Abdul Mun’iem dalam kitabnya:

ﻓﻤﻦ ﺃﻭﺟﻪ ﺍﻟﺸﺬﻭﺫ ﺃﻭ ﺍﻟﻨﻜﺎﺭﺓ : ﺃﻥ ﻳﺮﻭﻱ ﺍﻟﺮﺍﻭﻱ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻔّﺎﻅ ﺍﻟﻜﺒﺎﺭ ﻻ ﻳﺸﺎﺭﻛﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻣﻦ ﺍﻟﺜﻘﺎﺕ ﺍﻷﺛﺒﺎﺕ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭﻳﻦ , ﻓﻴﻨﻔﺮﺩ ﺑﻪ ﻋﻨﻪ , ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺻﻞ ﺁﺧﺮ ﻳﻌﻀﺪﻩ

“Dari contoh Syudud dan Nakaroh (munkar) yaitu dimana seorang rowi meriwayatkan hadits dari seorang Imam Hafidz yang terkenal, dan dari shahabat-shahabat Imam Hafidz ini yang Tsiqoth dan Masyhur tidak ada seorangpun yang mengikuti (rowi tersebut), sehingga rowi ini menyendiri dari (Imam) tersebut. Maka keadaan hadits seperti ini tidak bisa membantu (menguatkan) sumber (hadits) yang lain”.

(Lihat Kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 179-180 cetakan: Daru Ad-Diyai)

Atas dasar ini penulis menilai sudah tepat Imam Ibnu Mandah menilai riwayat yang dibawa Al-Husein dari Marwan dari Ibnu ‘Umar r.a adalah Gharib (asing). Imam Al-Mizzy mengutip perkataannya:

قال الحافظ أبو عبد الله هذا حديث غريب لم نكتبه إلا من حديث الحسين بن واقد

Al-Hafidz Abu Abdillah berkata : ini adalah hadits ghorib, kami tidak menulisnya, selain dari haditsnya al-Husain bin Waaqid.

(Lihat kitab Tahdzibul Kamal Juz 27. Hal. 391 cetakan: Muassasatu Ar-Risalah)

Riwayat yang dibawa oleh Al-Husein ini sangat jelas gharib (asing) dimana tidak ada satupun para shahabat Ibnu ‘Umar r.a yang mengenal riwayat ini. Kapanpun dimanapun riwayat doa berbuka ini hanya dikenal oleh Al-Husein dari Marwan yang majhul.

Imam Ahmad berkata:

ﻻ ﺗﻜﺘﺒﻮﺍ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻐﺮﺍﺋﺐ , ﻓﺈﻧّﻬﺎ ﻣﻨﺎﻛﻴﺮ

       “Janganlah kalian catat (pakai) hadits-hadits gharib, karena ia itu termasuk hadits-hadits yang munkar”[19]

Yang masyhur dari kalangan shahabat Ibnu ‘Umar r.a hanya tentang memotong janggut saja. Berikut riwayatnya:

وكان ابن عمر إذا حجّ أو اعتمر قبض على لحيته فما فضل أخذه

“Adalah Ibnu ‘Umar r.a apabila berhaji atau umrah dia memegang jenggotnya dan memotong selebihnya” (Kitab Shahih Al-Bukhary. No.5892 cet. Maktabah Ar-Rusydy)

Ini baru riwayat yang mahfudz (terpelihara). Imam Nafi’ adalah murid setianya Ibnu ‘Umar r.a karena itu Imam Al-Bukhary memasukkan riwayat ini dalam kitab Shahihnya. Dan riwayat ini masyhur (terkenal) tanpa ada tambahan do’a berbuka seperti yang dibawa oleh Al-Husein melewati rowi majhul sebelum ke Ibnu ‘Umar r.a.

Karena itu riwayat memotong janggut dengan ada tambahan do’a berbuka dari Marwan rowi majhul ke Al-Husein adalah bentuk kemungkaran kedua dalam matan setelah kemungkaran pertama yang dibuatnya pada sanad.

Dalam hal ini penilaian Imam Ahmad bahwa Al-Husein pada beberapa haditsnya terdapat tambahan-tambahan yang aneh adalah penilaiannya yang sangat akurat, terbukti pada riwayat ini Al-Husein dari rowi yang tidak dikenal memasukkan tambahan berita yang tidak dikenal oleh para shahabat Ibnu ‘Umar r.a

Kesimpulan:

Diatas telah kami sampaikan bahwa Ibadah Shaum adalah suatu ibadah yang sering dilaksanakan oleh Nabi saw begitu juga para shabahatnya. pada tema tema tertentu dalam rutinitas ibadah yang lain beberapa riwayat yang shahih sanadnya telah sampai kepada kita semua dengan riwayat ahad, aziz bahkan sampai masyhur padahal tidak lebih penting dan tidak lebih rutin pelaksanaannya dibandingkan shaum.

Namun kenyataannya ibadah rutin ini khusus tentang riwayat doa berbukanya hanya melewati sanad tunggal yang lemah, dimana disana terdapat rowi yang menyendiri Marwan yang diterima oleh Al-Husein. tidak ada yang mengenal siapa Marwan bin Salim Al-Muqaffa’ ini? penulis melihat sepertinya doa berbuka ini juga tidak dikenal oleh siapapun pada generasinya kecuali Al-Husein yang dapat dari Marwan. karena itu nampak riwayat ini sangat gharib (asing). kegharibannya hanya bisa ditujukan pada rowi Al-Husein walaupun ia dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma’in namun Imam Ahmad berdasarkan penelusuran riwayat-riwayat Al-Husein, menemukan kejanggalan dari matan yang dibawanya yaitu Al-Husein terkadang membawa tambahan-tambahan yang tidak dikenal entah darimana ia dapat? padahal informasi awalnya yaitu Ibnu Umar pernah memotong janggut seukuran kepalan tangan telah diketahui oleh murid-murid ibnu Umar yang tsiqah diantaranya Imam Nafi’. namun kita tidak mendapatkan informasi dari imam Nafi’ atau dari murid-murid Ibnu Umar yang lain disaat Ibnu Umar memotong janggut mengkabarkan doa berbuka ini selain Marwan.

Marwan Al-Muqaffa tidak memiliki sanad keguruan kepada Ibnu Umar r.a. Marwan hanya meriwayatkan dari Ibnu Umar riwayat ini saja. nampak jelas ia adalah rowi majhul dan bukan ahlu riwayat (yang biasa meriwayatkan hadits). rowi seperti ini dengan keasingannya, dengan membawa nama Ibnu ‘umar dan dengan matan yang tidak dikenal oleh murid-muridnya Ibnu ‘Umar yang tsiqah adalah suatu kemungkaran.

Hemat penulis Marwan ini benar-benar tidak ada, Al-Huseinlah yang keliru menyandarkan rowi majhul ini terhadap Ibnu ‘Umar. Al-Husein memiliki kekeliruan yang perlu diperhatikan.

Seorang rowi tsiqah sekalipun tanpa ada biografi kekeliruan dapat ditolak dan dipertanyakan riwayatnya ketika membawa tambahan informasi yang tidak dikenal oleh shahabat yang lainnya dari guru yang sama semisal kekeliruan Tsu’bah pada riwayat Amien. Zaidah pada riwayat menggerakan jari. Syarik pada turun hendak sujud. bahkan sampai Yahya bin Sa’id Al-Qatthan pada menyimpan kedua tangan diatas dada dalam sidekap. mereka semua tsiqah (terpercaya) tsabtun (kokoh) Hafidz (penghafal) dll. namun riwayatnya dinilai ada kekeliruan. apalagi Al-Husein ini ketsiqahannya tidak lebih dari mereka. Al-Husein hanya dapat tsiqah dari Ibnu Ma’in saja disaat para imam yang lain hanya sebatas menilai shaduq bahkan dibawah shaduq. Apalagi Imam Ahmad menolak beberapa riwayatnya karena dinilai terdapat tambahan-tambahan yang munkar. adapun Ibnu Hajar penilaian tsiqah padanya adalah bentuk komprominya dari berbagai penilaian yang ada, namun Al-Hafidz tidak lupa mencantumkan kekurangan Al-Husein yaitu Auham (terdapat kekeliruan-kekeliruan).

Demikian pembahasan tentang riwayat doa berbuka ini kami susun sangat singkat dengan kesimpulan bahwa riwayat doa berbuka ini riwayatnya lemah. tentunya dalam setiap kajian yang telah kami susun di situs ini sangat menghargai pada kesimpulan yang berbeda dengan kami.

Dan tidak lupa dalam setiap kajian yang kami susun di situs ini apabila ada kekurangan dalam rujukan atau kurangnya riwayat kami sangat menantikan masukan dari ikhwan semua. kolom komentar telah kami siapkan.

 

Akhukum Fillah

Abu Aqsith – Dadi Herdiasah Pameungpeuk – Bandung Jawa Barat Indonesia.

 


[1] Kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil. Ibn Aby Hatim. Juz 6 Hal.180 No rowi 984. Cet. Ihya Turots Al-‘Aroby.

[2] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 20 hal. 372 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[3] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 20 hal. 373 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[4] Kitab Tahdzibut Tahdzib; Juz 3 hal. 151 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[5] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 20 hal. 373 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[6] Kitab Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.692. No.rowi 4740. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[7] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Al-Mizzy. Juz 6 hal. 494 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[8] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Al-Mizzy. Juz 6 hal. 494 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[9] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 1 Hal. 438 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[10] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 1 Hal. 438 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[11] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 1 Hal. 438 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[12] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 1 Hal. 438 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[13] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Hal.251. No.rowi 1367. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[14] Kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil; Ibn Aby Hatim. Juz 8 Hal.271 No rowi 1241. Cet. Ihya Turots Al-‘Aroby.

[15] Kitab At-Tarikh Al-Kabir; Al-Bukhary. Juz 7 hal.374 No.1605 Cetakan: Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah

[16] Kitab At-Tsiqath; Ibnu Hibban. Juz 5 Hal. 424 Cetakan: Dairatu Al-Ma’arif

[17] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Al-Mizzy. Juz 27 hal. 390 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[18] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Hal.931. No.rowi 6613. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[19] Kitab Syarhu Lughati Al-Muhaddits: Syaikh Thariq ‘Aud hal.321 cetakan: Maktabah Ibnu Taimiyyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *