Sunnahkah Shaum 9 Hari di Bulan Dzul Hijjah?

Soal Inbox:
Apa tanggapan ust tentang hadits shaum 9 hari pertama dzulhijjah yang banyak di shohihkan oleh para ulama?

Jawab:
Pertanyaan ini banyak juga ditanyakan oleh yang lain terutama pada saat saat akan masuk bulan Dzul Hijjah.

Tentang soal yang ditanyakan berikut haditsnya:

أربع لم يكن يدعهن النبي صلى الله عليه وسلم: صيام عاشوراء، والعشر، وثلاثة أيام من كل شهر، وركعتين قبل الغداة

“4 hal dimana rasul saw tidak pernah meninggalkannya yaitu: Shaum Asyuro, syaum asyar (10 hari dzulhijjah) dan tiga hari disetiap bulannya, dan 2 rokaat sebelum shubuh”

Ana pribadi berpendapat hadits ini dloif. Kedloifannya disebabkan Idlthirob Syadid (kegoncangan yang dahsyat).

Semua kegoncangan bermuara ke Hunaidah bin Kholid.
Al-Hurr dan Al-Hasan meriwayatkan dari Hunaidah dengan macam vareasi matan dan sanad:

1. Al-Hurr bin Shoyyah meriwayatkan dari Hunaidah. Dari Al-Hurr kemurid terjadi perbedaan:
a. Abu ‘Awanah dapat dari Al-Hurr dari Hunaidah dari istrinya dari sebagian Istri-istri Nabi saw
b. Amr bin Qois dan Abu Ishaq dapat dari Al-Hurr dari Hunaidah dari Hafshah.
c. Zuhair dapat dari Al-Hurr dari Hunaidah dari Hunaidah dari Hafshah.

2. Al-Hasan bin Ubaidillah dari Hunaidah dari Ibunya dari Ummu Salamah.

Secara takhrij keseluruhan hunaidah diriwayatkan hanya oleh dua orang yakni Al-Hurr bin Shoyyah dan Al-Hasan bin Ubaidillah dimana dari arah keduanya terjadi pebedaan sanad dari Hunaidah ke atas.

Sanad seperti ini jelas muaranya dari Hunaidah sendiri, disaat Hunaidah mengabarkan ke Al-Hurr dengan beberapa sanad yang berbeda dari Hafsah dan istrinya (Mubham) juga Hunaidah mengabarkan ke Al-Hasan bin Ubaidillah dari Ibnunya dari Ummu Salamah.

Mana diantara kedua alur sanad ini yang benar?

Apabila kita perhatikan antara Al-Hurr dan Al-Hasan maka bisa diketahui informasi yang benar datang dari Al-Hasan bin Ubabidillah, adapun informasi yang datang dari Al-Hurr dianggap Syaad. Ini dapat diketahui disebabkan:

1. Al-Hasan bin Ubaidillah rowi yang paling banyak meriwayatkan hadits dibandingkan Al-hurr sehingga dari segi dobt hafalannya bisa di ketahui.
2. Al-Hasan adalah rowi jama’ah kecuali Al-Bukhory sedangkan Al-Hurr hanya rowi Abu Daud, tirmidzy dan nasai saja.
3. Al-Hasan mendapat penilaian tsiqoh dari banyak Imam daripada Al-Hurr.
a. Al-Hasan telah distsiqohkan oleh Ibnu ma’in, Abu hatim An-Nasai dan Al-‘Ijly. Ditambah dari yahya bin said al-Qothon (5 Imam) kita tau Al-Qothon imam yang paling keras dlm jarh.
b. Sedangkan Al-Hurr hanya ditsiqohkan oleh Ibn Ma’in Abu Hatim dan An-Nasai dan ditempat lain bahkan Abu hatim menilai Sholihul hadits.

Ini artinya informasi yang berbeda sanad dan matan dari keduanya yang benar adalah dari arah Al-Hasan.

Namun walaupun ditsiqohkan oleh banyak imam seperti yang ana kemukakan diatas, Al-Hasan ini dapat Ma’lul dari Imam Al-Bukhory:

لم أخرج حديث الحسن بن عبيد الله لأن عامة حديثه مضطرب

“Aku tidak mengeluarkan hadits dari Al-Hasan bin Ubaidillah disebabkan keumuman haditsnya adalah Mudlthorib (goncang)”.

Lihat kepekaan Imam Al-Bukhory sungguh sangat kuat berani beda dengan para imam yang lain disaat Al-Hasan ini banyak ditsiqohkan. Dan penilaian Al-Bukhory ini sungguh sangat tepat dengan bukti riwayat yang dibawa Al-Hasan ini memang terbukti terjadi Idltirob.

Riwayat Hunaidah yang goncang ini bertentangan dengan riwayat Aisyah r.a:

“ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صائماً العشر قط “، ولفظ مسلم الآخر: “أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصم العشر”.

“Aku tidak pernah melihat rasul saw shaum 10 hari (dzulhijjah) dan lafadz Muslim: “Bhw Nabi saw tidak pernah shaum 10 hari (dzulhijjah)”.

Riwayat Hunaidah walaupun menetapkan shaum 9 hari dzulhijjah (Mutsbit) tidak bisa menjatuhkan riwayat yang mentiadakan (Manfie) yang dibawa oleh riwayat Aisyah r.a. dimana riwayatnya sangat shohih.

Al-Mutsbit Muqoddam ‘Ala Manfie (Yang menetapkan didahulukan daripada yang mentiadakan) ini berlaku apabila dari kedua riwayat ini sama kuat dalam segi sanad dan matan.

Karena itu tidak boleh dikatakan bahwa yang tahu adalah hujah atas yang tidak tahu, karena Aisyah telah hidup bersama Nabi saw. beberapa tahun. Sekiranya shaum ini (10 hari) disyariatkan niscaya beliau melakukannya dan tentu saja Aisyah melihatnya.

Khusus kajian takhrijnya In Syaa Allah menyusul, sampai saat ini waktu tidak memihak untuk berlama-lama dalam kajian takhrij.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *