Siapa yang ingin keutuhan rumah tangga hancur dengan sebab sebab tertentu. Semua orang mendambakan keluarga yang sakinah (damai), namun apa boleh buat, apabila rumah tangga secara maksimal telah di bangun dan dijaga tetap saja sulit untuk di pertahankan kembali, maka seorang suami boleh menempuh jalur terakhir yaitu berpisah, cara inilah yang disebut dalam syariat Islam dengan sebutan Thalaq.

Kita telah mengenal apa hukum Thalaq? Berapa kalikah Thalaq itu? Bagaimana cara ruju’ kembali apabila telah jatuh Thalaq?. Namun bagaimana hukumnya apabila sang suami mengucapkan Thalaq terhadap istrinya dalam keadaan bercanda?

Jawaban ini mungkin mudah juga didapatkan dari para ulama dan buku-buku agama dengan beraneka ragam kesimpulan. Namun disini penulis seperti biasanya mengangkat dari sisi takhrij kekuatan riwayatnya. terlepas pro kontra antara yang menshahihkan dan mendloifkannya.

Berikut penjelasan riwayat-riwayat tentang Thalaq main-main:

Hadits Aby Hurairoh r.a:

 

pada riwayat Aby Hurairah r.a ini secara penelusuran sanad terdapat 2 jalur, yaitu:

Jalur 1: Abdurrohman bin Habib bin Ardak

حدثنا قتيبة قال : حدّثا حاتم بن إسماعيل عن عبد الرحمن بن أردك عن عطاء عن ابن ماهك عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  ” ثلاث جدهن جد، وهزلهن جد: النكاح، والطلاق، والرجعة.

Dari Abi Hurairoh r.a ia berkata: Rasulullah saw terlah bersabda: “Tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dianggap sah, dan apabila dilakukan dengan bergurau juga dianggap sah, yaitu : nikah, thalaq dan ruju’ “

(Dikeluarkan oleh: Imam At-Turmudzy; Al-Jami’u Al-Kabiru Littirmidzy. Juz 2 no.1184 hal.476 Tahqiq Basyar ‘Awwad cet. Darul Gorb Al-Islamy)

Juga dikeluarkan oleh Ibn Majah no.2039; Abu Daud no.2194; Ibn Khuzaimah no.442; At-Thohawy Ma’any Al-Aatsar; Ad-Daroquthny no.257; Al-Hakim; Baihaqy sunan kubro; Al-Baghwy Syarhu sunnah no.2356; Ibn Jarud no.712; Ibnu Al-Mundzir no.7717.

Semuanya melewati satu jalur yaitu: Abdurrohman bin Ardak<< ‘Atho bin Aby Robbah<< Yusuf bin Mahik<< Abu Hurairoh r.a:

Penilaian rowi:

  • Abu Huroiroh r.a : Shahabat Nabi saw
  • Yusuf bin Mahik : nama lengkapnya Yusuf bin Mahik bin Buhzad. Rowi ini tsiqoh.[1]
  • Atho bin Aby Robbah: Tsiqotun Faqihun, banyak Irsal.[2]
  • Abdurrohman bin Habib bin Ardak: Dloif.

Imam An-Nasai menilai: Munkarul Hadits.[3] Imam Adz-Dzahabi: shoduq padanya terdapat kemungkaran.[4] ibnu hajar memberi nilai layyinul hadits.[5]

Pembahasan:

Atho bin Aby Robbah rowi tsiqoh walau terkenal dengan riwayat mursal dalam riwayat ini mausul bersambung melalui Yusuf dulu sebelum dari Aby Hurairoh.

Adapun Abdurrahman bin Habib bin Ardak rowi ini dinilai Munkar oleh Imam An-Nasai. Dan juga imam Adz-Dzahaby walaupun menilainnya shoduq tapi ia juga berpendapat bahwa hadits yang dibawa oleh Abdurrohman ini ada beberapa hadits yang munkar.

Hemat penulis pada periwayatan ini Abdurrohman bin Habib bin Ardak terdapat kemungkaran, dengan beberapa sebab:

  • Abdurrohman bin Habib dapat riwayat ini dari Atho bin Aby Robbah.
  • Atho bin Aby robbah adalah rowi tsiqoh yang masyhur yang dikelilingi oleh banyak muridnya yang tsiqoh mencapai 137 rowi.
  • Dalam periwayatan marfu’ ini Abdurrohman menyendiri.
  • Abdurrohman rowi lemah, dapat nilai shoduq dari Adz-Dzahaby dan dapat nilai Munkarul Hadits dari An-Nasai
  • Rowi shoduq yang bersendirian dari murid-murid Atho yang jumlahnya banyak ini adalah kemungkaran.

Pada periwayatan ini kalaupun Abdurrohman bin Habib dinilai dloif ringan seperti kesimpulan Ibnu Hajar namun Abdurrohman pada jalur ini tidak boleh bersendirian atas periwayatan dari Atho sampai ke Nabi saw. Karena itu tafarrudnya Abdurrohman pada periwayatan dari Atho adalah kemungkaran dan ini sudah sesuai dengan penilaian Imam Adz-Dzhaby dan lebih tegas lagi pada penilaian Nasai.

Kemungkaran riwayat Abdurrohman bin Habib ini akan sangat terasa ketika Ibnu Jurez seorang murid setia Atho meriwayatkan hanya dari kalam Atho sendiri. Berikut riwayatnya:

أخبرنا أبو سعيد أحمد بن محمد بن زياد بن بشر قال : حدثنا أبو يعقوب إسحاق بن إبراهيم بن عباد الدبري قال: قرأنا على عبد الرزاق بن همام عن ابن جريج عن عظاء قال: من نكح لاعبا أو طلق فقد جاز وقال : لا لعب في الطلاق و النكاح.

Dari Ibnu Jurez dari ‘Atho ia berkata: “Barang siapa yang menikah main-main (tidak serius) atau ia mentalaqnya (main-main) maka telah sah (boleh). Dan ia berkata (atho): tidak ada main-main dalam thalaq dan Nikah”.

(Dikeluarkan oleh: Abdurrozzaq; Mushonnaf. Juz 6 hal.133 cet. Al-Maktabu Al-Islamy)

Abdurrozzaq adalah mushonnif tsiqotun faqihun. Ibnu Jurez rowi tsiqotun faqihun[6] murid terdekatnya atho bin Aby robbah. (penjelasan Atho sudah dibahas diatas).

Sanad ini shohih. Padanya hanya kalam Atho sendiri yang diterima baik oleh Ibn Jurez. Dengan demikian sanad yang dibawa Ibnu Jurez adalah sangat jelas menunjukkan kemungkaran riwayat yang dibawa oleh Abdurrohman bin Habib para riwayat yang marfu diatas. Dan yang mahfudz riwayat dari jalur Atho adalah apa yang di bawa ibnu Jurez dan riwayat itu hanya kalam atho sendiri bukan qoul nabi saw.

 

Jalur 2:

Pada jalur ke 2 ini masih riwayat dari Aby Huroiroh r.a melalui rowi dloif yang bernama Gholib Al-Jazary, berikut riwayatnya:

حدثنا زيد ثنا مسعود ثنا عمر بن أيوب ثنا غالب الجزري عن الحسن عن أبي هريرة  عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ثلاث ليس فيهن لعب من تكلم بشيء منهن لاعبا فقد وجب عليه الطلاق والعتاق والنكاح

Dari Abi Hurairah r.a dari Nabi saw ia bersabda: “tiga perkara yang padanya tidak ada main-main dalam bicara yaitu Thalaq, merdekakan budak dan Nikah”.

(Dikeluarkan oleh: Ibnu ‘Ady; Al-Kamil fie Dlu’afa. Juz 7 hal.109 cet.Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Pada riwayat ini terdapat rowi dloif Gholib bin ‘Ubaidillah, berikut sedikit penjelasan dari para Imam:

  • Ibnu Ma’in menilai: “Laisa bitsiqoh” (dia tidak kuat)[7]
  • Imam Ad-Daroquthny menilai: “Matruk” (haditsnya ditinggalkan)[8]
  • Abu Hatim menilai: “Matrukul Hadits Munkarul Hadits”[9]

Atas kelemahan rowi yang bernama Gholib yang matruk dan munkar maka riwayat yang dibawanya tidak sah sampai Abu Hurairoh r.a dari Nabi saw. Dan riwayat ini sangat lemah sekali tidak sampai pada katagori hadits taqwiyah (hadits lemah yang bisa saling menguatkan) karena riwayat ini Dloif Goir Muhtamal.

Karena itu secara keseluruhan riwayat yang bermuara ke Aby Hurairoh r.a dari Nabi saw tidaklah sah. Sumber riwayatnya munkar. hanya jalur Ibnu Jurez yang mahfudz dengan pengertian riwayat ini adalah ucapan Atho bin Aby Robbah.

Bersambung pada post ke 2 riwayat Abu Darda r.a …………

 


[1] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.1095. No.rowi 7935. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[2] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.677. No.rowi 4623. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[3] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 17 hal.53 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[4] Kitab Mizanul I’tidal; Adz-Dzahaby. Juz.4 hal.270 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah

[5] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.1095. No.rowi 7935. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[6] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.624. No.rowi 4221. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[7] Kitab Mizanul I’tidal; Adz-Dzahaby. Juz.5 hal.399 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah

[8] Kitab sama

[9] Kitab Al-Jarhu wa At-Ta’dilu; Ibnu Aby Hatim. Juz 7 hal.48 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + four =