Silaunya Dunia

silaunya dunia“Beribu Nasehat telah di ucap, Berjuta kata Petuah telah di tulis, namun masih saja banyak yang jatuh terhempas dengan derasnya arus dunia hingga kejurang kehinaan”.

Seorang Pemimpin dengan seenaknya menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyat yang tak berdosa. Para pejabat dengan tanpa malu memakan uang yang bukan haknya. Para Artis dengan tanpa dosa memperlihatkan auratnya, Para Pelajar tanpa punya rasa tanggung jawab menyia-nyiakan waktu dengan berleha-leha yang mestinya ia gunakan untuk belajar.

Gemerlapnya dunia membutuhkan kaca mata berfikir yang kreatif dan mata hati yang bersih hingga tidak cepat silau dengan apa yang tampak manis di rasa hijau dilihat.

Perhelatan yang sangat jelas antara pro dan kontra baik perpolitikan yang akhir-akhir ini memanas, perang pisik maupun perang pemikiran, Perekonomian yang turun naik, merupakan sesuatu yang sudah tidak menjadi tabu di kalangan masyarakat dari kalangan bawahan hingga kalangan atas, pejabat hingga konglomerat, pelajar hingga mahasiswa. Hingga diakhir perhelatan tercipta Pemenang dari yang kalah, Penjajah dari yang dijajah, Atasan dari bawahan, Pengusaha dari karyawan, yang terkenal dari yang terasing dan yang kaya dari simiskin.

Dengan kaca mata berfikir yang kreatif dan mata hati yang bersih, bagi seorang muslim harus menjadi catatan bahwa kedudukan yang tinggi para pemimpin, kecantikan para artis, kepopuleran para aktor, Kepintaran para cendikiawan, kekayaan para Hartawan tidaklah berarti jika tidak memiliki ketaqwaan yang tertanam dalam hati.

Cara berfikir seperti ini perlu kita tanamkan agar kita tidak cepat silau dengan apa yang mereka miliki.

Kedudukan, tahta dan jabatan masih menjadi tujuan utama untuk diperebutkan bagi para politikus untuk memberikan pengaruh terhadap ide dan gagasan-gagasannya.

Sebuah ayat begitu mudahnya mereka pelintirkan untuk mendapat dukungan yang kuat dari jama’ahnya. Ribuan milyar uang begitu mudahnya mereka bagi-bagikan kepada masyarakat untuk mendapatkan posisi yang starategis.

Alat-alat kosmetik berbahan kimiapun mengambil posisi penting di dalam persaingan para wanita guna memuaskan keinginannya untuk tampil cantik, dengan merobah sesuatu yang dirasa kurang, kulit hitam bisa dengan mudah menjadi putih, hidung pesek bisa dengan mudah menjadi bangir. Hingga tergiur untuk memamerkan auratnya dengan bangga didepan hal layak. Dirasa sayang, … jika sesuatu kelebihan pisik itu tidak dipertontonkan, hingga syariat islam dicampakkan.

Begitu tepatnya syaitan menempatkan Kekayaan dan kecantikan sebagai senjata hipnotisme untuk mempengaruhi jutaan umat manusia yang hidup didunia fana ini hingga banyak yang terhempas dan berguguran ditelan manisnya rayuan dan hijaunya penampakan.

Mereka yang termakan rayuan manisnya dunia menganggap bahwa dunia beserta isinya cukup bagi mereka untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun sampai kapankah kebahagiaan itu akan mereka rasakan? hingga bencanapun memporak porandakan kebahagiaan itu tak tersisa. Karena tanpa manisnya iman justru kebahagiaan itu ibarat bayangan di telan waktu, lama kelamaan akan hilang dengan terbenamnya matahari. sebaliknya, … ketakutan semakin mencekam serasa menggerogoti diri mereka ketika kekayaan yang mereka miliki takut hilang, kedudukan yang mereka nikmati takut lepas, kecemerlangan otak yang mereka agung-agungkan takut menyusut ditelan usia, kecantikan yang mereka banggakan takut mengkerut ditelan waktu.

Sudah berapa banyak orang yang dilanda oleh kesedihan yang hina dari sesuatu hal yang sepele dan sia-sia. Alangkah lemahnya semangat dan tekad mereka seperti perkataan mereka yang tergambarkan dalam al-Qur’an pada ayat-ayat berikut :

“Kami takut jika mendapat bencana” (QS. 5 : 52)

“Berilah aku izin untuk tidak ikut berperang, dan janganlah kamu (Muhammad) menjerumuskan aku dalam fitnah” (QS. 9 : 49)

Orang yang sudah tersilaukan dengan gemerlapnya dunia akan memiliki dua sifat seperti yang diprediksi oleh Rasulullah SAW : “Panjang angan-angan dan Benci akan kematian”.

Pikiran mereka hanyalah tertuju pada masalah perut, makanan, rumah, kedudukan, populeralitas tanpa sedikitpun untuk menghiasi diri dengan kelembutan iman. Perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada sesuatu yang bersifat konsumtif tanpa punya kepentingan-kepentingan besar untuk mengisi waktu mereka dengan sesuatu yang bermanfaat. Menuntut ilmu misalnya, melaksanakan ibadah seperti shalat, zakat, shaum dan haji, menebarkan salam, membantu yang lemah, dsb.

Bukannya Islam melarang untuk meraih kedudukan, popularitas, kesenangan dan kekayaan. Namun disana ada sesuatu hal yang perlu di perhatikan hingga tidak terhempas kedalam cara-cara yang kotor.

Banyak para Jutawan tumbuh subur di negri kita dengan cara-cara yang kotor hanya karena tergiur dengan kekayaan yang hanya sesaat dengan mengkorupsi uang rakyat, akhirnya negara dirugikan dengan menumpuknya utang yang harus dibayar, beban biaya hidup yang sudah tidak bisa terjangkau oleh masyarakat biasa.

Banyak para Pemimpin yang menyalahgunakan kedudukannya dengan cara yang tidak terpuji. Menghianati kepercayaan, menindas dan menyerang yang lemah. Permusuhan dan peperangan antar daerah, etnis, dan negara merupakan kenyataan dari bobroknya seorang pemimpin yang hanya ingin memuaskan nafsunya saja yang hanya sesaat.

Mereka para pelajar yang bermental kapas menyalahgunakan kewajibannya untuk menuntut ilmu dengan cara-cara kotor untuk meraih nilai dan prestasi, tanpa mau bersusah payah menempuh waktu dengan belajar dan menghapal. Bisanya hanya hura-hura tanpa berfikir apa jadinya masa depan mereka kelak. Hingga tanpa mengikuti sekolah secara formalpun dalam satu hari orang begitu mudahnya mendapatkan Izajah. Alhasil kreatifitas berfikir mereka terbatas hingga menghasilkan orang-orang yang lemah dan bodoh. Begitu mudahnya mereka mengikuti perkataan dan pendapat seseorang tanpa mau susah payah untuk mengkaji kebenaran pemahaman tersebut.

Orang akan lebih cenderung untuk memilih yang praktis ketimbang bertele-tele. Layaknya Jaring-jaring yang tersimpul rapih tergantung diemperan pasar dilewat begitu saja oleh pembeli karena disampingnya ada penjual ikan siap untuk dimasak, sehingga banyak para pemuda pengecut yang bisanya hanya main wanita tanpa mau bertanggung jawab dalam pernikahan. Para pedagang dengan mengurangi timbangannya untuk lebih cepat dapat untung. Para artis sanggup menggadaikan apa yang dimilikinya guna meraih populariatas. Bahkan sekaliber ulama dalam pandangan manusia sekalipun berani menjual ayat-ayat dengan membolehkan sesuatu yang sudah jelas diharamkan oleh Allah SWT dan mengharamkan apa yang dihalalkanNya demi sesuatu yang mereka tuju yaitu Kedudukan dan Popularitas.

Hingga dengan carut marutnya kondisi dunia dalam kaca mata Islam saat ini, jauh hari sebelumnya Rasulullah SAW mewanti-wanti umatnya akan tipu daya dunia yang setiap detiknya sanggup merobah keimanan seseorang menjadi kupur, Kedermawanan seseorang menjadi pelit, amanah menjadi khianat, Keoptimisan menjadi pesimis, kekuatan menjadi lemah, keadilan menjadi dzalim, kelembutan hati menjadi keras, ketawadluan menjadi sombong, begitulah seterusnya.

Namun dengan keimanan dan ketaqwaan yang kita miliki paling tidak akan merasa cukup dengan apa yang telah Allah beri dan tidak membuat kita silau dengan dunia, tanpa harus bersedih hati katika sesuatu yang kita harapkan tidak kita miliki seperti apa yang mereka miliki, atau berbangga diri dengan apa yang kita miliki Seperti apa yang tidak mereka miliki. Wallahu ‘A’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *