Sikap Istri Menghadapi Suami Pelit

uang-3

Soal :
Bolehkah seorang istri mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya untuk kepentingan anak-anaknya dikarenakan sang suami PELIT bin Koret?

Jawaban :
Para suami wajib untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Kewajiban memberi nafkah ini didasarkan pada beberapa dalil, diantaranya firman Allah swt;

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

“Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya” (Q.S. Ath-Tholaq : 6)

Dan firman Allah swt;

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara yang baik” (Q.S. Al-Baqoroh : 233)

Seorang suami yang mampu tapi tidak memberikan nafkah yg cukup terhadap keluarganya jatuh kepada dosa, lalu bagaimana pula ketika SUAMI itu berniat menikah lagi?

Bukanlah sunnah yang ia gapai ketika berniat mendua tapi mungkin nafsu yang ia capai.

Karena itulah, apabila seorang suami yang mampu tidak memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, maka diperbolehkan bagi istrinya untuk mengambil uang suaminya tanpa sepengatuhannya.
Wallahu A’lam.

Ketentuan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah r.a;

أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ، فَقَالَ: «خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ، بِالْمَعْرُوفِ

“Sesungguhnya Hindun binti Utbah berkata, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang pelit, ia tidak memberikan kecukupan nafkah padaku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya dengan tanpa sepengetahuannya.” Maka beliau bersabda: “Ambillah dari hartanya sekadar untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga anakmu.” (Shohih Bukhori, no.5364)

Namun diperbolehkannya seorang istri mengambil uang suaminya hanya sebatas nafkah yang wajib bagi suami untuk istri dan anak-anaknya dan tidak diperbolehkan lebih dari itu. Sedangkan kadar nafkah yang wajib adalah sebatas kecukupan pada umumnya sebatas dari kemampuan suami, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt;

. لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (Q.S. Ath-Tholaq:7)

Dan hendaknya hal ini hanya dilakukan jika memang sudah tidak bisa lagi dirundingkan baik-baik dengan suaminya, demi menjaga ketentraman dan keutuhan rumah tangga.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *