SHALAT ISYRAQ (Haditsnya Lemah)

isyroq 1Shalat Isyraq adalah Shalat dluha yang dilaksanakan diawal waqtu yaitu dimulai terbitnya matahari dengan ketentuan yang akan melaksanakan Shalat Isyraq ini setelah melaksanaan Shalat Shubuh duduk duduk dimasjid dengan berzikir sampai terbitnya matahari tersebut.

Apakah penetapan Shalat Isyraq dengan kaifiyat tersebut haditsnya Shahih?

Berikut takhrij hadits tentang shalat isyraq tersebut:

1. Hadits Anas bin Malik r.a

isyroq anas bin malikPada hadits Anas bin Malik r.a ini terdapat 3 Jalur periwayatan, yaitu:

Jalur 1:

Semua Mukhorrij (At-Turmuddzy dan Al-Baghwy) bermuara pada Abi Dzilal>> Anas r.a>> Nabi saw:

حدثنا عبد الله بن معاوية الجمحي البصري ، قال حدثنا عبد العزيز بن مسلم، قال حدّثنا أبو ظلال، عن أنس قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة”  قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “تامة تامة تامة”

“Barangsiapa shalat shubuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allah hingga terbitnya matahari kemudian ia shalat 2 roka’at, maka baginya seperti fahala haji dan umroh”. Anas r.a berkata (lagi): Rasulullah saw lalu bersabda: “sempurna,. Sempurna,. Sempurna”.

(Dikeluarkan oleh: At-Turmudzy; Al-Jami’u Al-Kabiru Lit-tirmidzy. Juz 1. Hal. 582-583 No.586 cet.Darul Ghorb Al-Islamy)

Penjelasan  rowi:

  • Abdullah bin Mu’awiyah : Tsiqotun [1]
  • Abdul Aziz bin Muslim Al-Qosmaly : Tsiqotun [2]
  • Abu Dzilal Al-Qosmaly : Dloif [3]
  • Anas bin Malik r.a : Shahabat Nabi saw

Pada sanad diatas, yang menjadi titik kritisnya adalah rowi dloif yang bernama Abu Dzilal Al-Qosmaly. Namanya Hilal bin Aby Hilal Al-Qosmaly.

Ibn Ma’in mengatakan: ((ضعيف ليس بشيئ  )). At-Turmudzy bertanya ke Al-Bukhory ttg Abu Hilal, dijawab : “Muqoribul Al-Hadits” maksudnya: kedloifannya tidak menjatuhkan tafarrudnya jadi goir muhtamal. Namun pernyataan Al-Bukhory ini masih umum. Adapun khusus periwayatan dari Anas r.a, Imam Uqoily dalam kitabnya “Adl-Dlu’afa” hal.346. Jilid 4: menukil perkataan Al-Bukhory :

هلال أبو ظلال القسملي عن أنس، عنده مناكير

“Hilal Abu Hilal Al-Qosmaly dari Anas r.a adalah banyak kemungkaran”.

Pernyataan Al-Bukhory ini memang tidak menunjukkan Abu Dzilal adalah rowi munkar, namun dengan pernyataan ini khusus periwayatan dari Annas bin Malik r.a apabila Abu Dzilal ini tafarrud (menyendiri) dari Anas bin Malik maka haditsnya munkar. Pengkhususan ini dilandasi beberapa sebab yaitu:

  • Anas bin Malik r.a termasuk shahabat Nabi saw yang banyak sekali muridnya dari para kalangan tabi’ien yang meriwayatkan darinya. Apabila kita lihat pada kitab Tahdzibul Kamal jumlah tabi’ien yang meriwayatkan dari Anas r.a mencapai jumlah 217 orang rowi yang didalamnya banyak rowi-rowi tsiqoh.[4]
  • Abu Dzilal termasuk rowi yang sedikit meriwayatkan dan dia termasuk rowi dloif dimana kesendiriannya dalam riwayat Anas r.a adalah menunjukkan kemungkarannya. Apabila Abu Dzilal ini tafarrud (menyendiri) dari Anas bin Malik maka pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab adalah dimana rowi-rowi lain yang berjumlah 216 orang? Dimana rowi-rowi tsiqoh rijal Al-Bukhory dan rijal Muslim yang banyak meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a? seperti Ibrohim bin Maisaroh, Anas bin Sirien, Busyair bin Yasar, Bukair bin Akhnas, Bayan bin Bisyri? Atau Tsabit Al-Bunany riwayat jama’ah? Dan masih banyak lagi rowi-rowi tsiqoh sebagai muridnya Anas bin Malik r.a.
  • Riwayat tentang Ibadah Shalat seperti Shalat Isyraq ini apabila benar Anas bin Malik mengabarkan, maka tidak mungkin hanya di ketahui oleh rowi dloif Abu Dzilal saja. Karena riwayat tentang Shalat adalah sesuatu berita yang sangat penting harus di ketahui oleh rowi-rowi lain seluruhnya atau minimal setengah dari muridnya, walau rowi yang meriwayatkannya tidak harus semuanya.

Karena itu dengan penjelasan diatas, pertanyaan yang harus dijawab: Apakah Abu Dzilal dalam jalur Anas bin Malik r.a ini benar benar tafarrud?

Ternyata hasil penelusuran riwayat didapatkan jalur ke 2 dan jalur ke 3 dari Anas bin Malik r.a. berikut penjelasannya:

Jalur 2:

وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ في الناريخ أنا أبو الطيب محمد بن عبد الله بن المبارك نا عمرو بن هشام  نا عبد الله بن الجراح القهتاني نا عبد الخالق بن إبراهيم بن طهمان عن أبيه عن بكر بن خنيس عن ضرار بن عمرو عن ثابت البناني عن أنس بن مالك قال : “………………… يا عثمان من صلى الغداة في الجماعة ثم ذكر الله حتى تطلع الشمس كانت له كحجة مبرورة وعمرة متقبلة”

“Ya Utsman barang siapa yang melaksanakan shalat shubuh berjama’ah kemudian berdzikir pada Allah swt hingga terbit matahari, maka baginya seperti fahala ibadah haji mabrur dan umroh yang diterima”..

(Dikeluarkan oleh: Al-Baihaqy; Syu’abul Iman. Juz 7. Hal. 138 No.9762 cet.Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Riwayat ini tidak bisa menjadi mutabi bagi Abu Dzilal karena matannya tidak menyebutkan Shalat Isyroq setelah duduk duduk dan berdzikir.

Disaat matannya berbeda riwayat ini sangat dloif karena pada sanadnya terdapat DLIROR BIN ‘AMR. Rowi ini munkarul Hadits.

Yahya bin Main menilai: “La Syai”. Imam Al-Bukhory dan Ad-Daulaby mengatakan “Fihi Nadzor” (penilain yang sangat dloif). Dan juga rowi ini dinilai Munkarul Hadits oleh Ibn ‘Ady. [5] dan terakhir Imam Ad-Dzahaby mengatakan: “Matrukul Hadits”.[6]

Dengan begitu tidaklah benar Ada Tsabit Al-Bunany rowi jama’ah dalam periwayatan ini dari Anas bin Malik, karena rowi yang mengabarkan dari Tsabit dari Anas adalah rowi Matruk (ditinggalkan) dan rowi yang Munkar.

Karena itu Jalur riwayat yang dibawa oleh Dliror ini sangat lemah (dloif syadid) riwayatnya dloif goir muhtamal (riwayat yang tidak bisa menguatkan riwayat Abu Dzilal dalam kategori hasan lighoirih dari segi matan juga sanadnya)

Jalur 3 :

أخبرنا أبو نصر بن قتادة أنا أبو العباس محمد بن إسحاق الضبعي نا الحسن بن علي بن زياد السري نا ابن أبي أويس نا عبد الله بن وهب عن ثوابة بن مسعود عمن حدثه عن أنس بن مالك أنه قال : “………………… يا عثمان بن مظعون من صلى صلاة الفجر في الجماعة ثم جلس يذكر الله حتى مطلع الشمس كان له في الفردوس سبعون درجة بين كل درجتين كركض الفرس ………”

“Wahai Utsman bin Madz’un barangsiapa shalat fajar (shubuh) berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allah swt hingga terbit matahari maka baginya fahala syorga firdaus 70 derajat. Diantara dua derajatnya seperti pacuan kuda……….”

(Dikeluarkan oleh: Al-Baihaqy; Syu’abul Iman. Juz 7. Hal. 138 No.9762 cet.Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Sanad jalur diatas adalah : Baihaqy>> Abu Nashr>> Muhammad bin ishaq>> Al-Hasan bin ‘Aly>> Ibnu Aby Aus>> Abdullah bin Wahab>> Tsawwabah bn Mas’ud>> Anas r.a>> Nabi saw:

Isi matan pada riwayat ini juga tidak menyebutkan Shalat Isyroq setelah duduk duduk dan berdzikir. Karena itu riwayat inipun tidak bisa menjadi mutabi bagi riwayat Abu Dzilal. Disaat matannya berbeda, dari segi sanadpun cacat.

Pada jalur sanad ini terdapat dua cacat:

  • Rowi Tsawwabah bin Mas’ud. rowi ini rowi munkar. Ibnu Yunus dalam kitab tarikhnya mengatakan: “Munkarul Hadits”.[7] Dan setelahnya tidak didapatkan penilaian lain selain ini dan tidak ada seorangpun yang menta’dilnya.
  • Rowi majhul (tidak dikenal): rowi ini disebutkan oleh Tsawwabah sebagai syaikhnya.

Dengan dua cacat ini Nampak jelas riwayatnya munkar terdapat rowi majhul (tidak dikenal) yang disebutkan oleh rowi munkar yaitu Tsawwabah.

Jalur ini Dloif Goir Muhtamal (riwayat dloif yang tidak bisa dipakai hadits taqwiyyah dengan riwayat Abu Dzilal dari segi matan dan sanad)

Kesimpulan Jalur Anas bin Malik r.a:

Dengan demikian pada dasarnya Abu Dzilal walaupun dloifnya muhtamal namun riwayat yang dibawanya dari Anas bin Malik r.a disini adalah riwayat Munkar, karena Abu Dzilal tafarrud dalam periwayatannya dari Anas bin Malik r.a. sedangkan Anas bin Malik r.a banyak sekali rowi-rowi tsiqoh sebagai muridnya.

2. Hadits Abu Umamah r.a dan Utbah bin Abd r.a:

Hadits Umamah r.a dan Utbah r.a Terdapat 2 jalur:

Jalur 1 :

Jalur satu ini riwayat-riwayatnya Mudltorib Syadid (sangat goncang). Semua riwayat muaranya ke: Abi ‘Amir>> Aby Umamah dan Utbah ra>> Nabi saw: melalu jalur rowi Al-Ahwash. Berikut penjelasannya:

Riwayat 1:

حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا سهل بن عثمان ثنا المحاربي عن الأحوص بن حكيم عن عبد الله بن غابر عن أبي أمامة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من صلى صلاة الصبح في مسجد جماعة يثبت فيه حتى يصلي سبحة الضحى كان كأجر حاج أو معتمر تاما حجته و عمرته”

(Dikeluarkan oleh: Ath-Thobarony; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8. Hal. 180 No.7663 cet.Maktabah Ibn Taimiyyah)

  • Jalur sanadnya: Ahwash<< Abu ‘Amir (ghobir)<< Aby Umamah r.a<< Nabi saw:

Riwayat 2:

أخبرناه أبو محمد بن طاوس، أنا أبو الغنائم بن أبي عثمان ، أنا أبو محمد عبد الله بن عبيد الله، نا أبو عبد الله المحاملي، نا يوسف بن موسى، نا ابن فضيل ، نا الأحوص بن حكيم، حدثنى عبد الله بن عابر، عن عتبة بن عبد السلمي عن أبي أمامة الباهلي –هكذا قال محمد بن فضيل – عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول : “من صلى صلاة الصبح وهو في الجماعة ثم ثبت حتى يسبّح فيه سبحة الضحى فصلى ركعتين أو أربعا كان له مثل أجر حاج و معتمر تام له حجه و عمرته”

(Dikeluarkan oleh: Ibnu ‘Asakir; Tarikh Madina Damasyq. Juz 7. Hal. 352-353 cet. Darul Fikr)

  • Jalur sanadnya: Ahwash<< Abu ‘Amir (‘Abir)<< ‘Utbah r.a<< Aby Umamah r.a<< Nabi saw:

Pada jalur riwayat 2 ini berbeda dengan riwayat 1 ada tambahan ‘Utbah r.a.

Riwayat 3:

حدّثنا أحمد بن عمرو الخلال المكي ثنا يعقوب بن حميد ثنا مروان معاوية عن الأحوص بن حكيم، ثنا أبو عامر الألهاني ، عن أبي أمامة و عتبة بن عبد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول : “من صلى الصبح في مسجد جماعة ثم مكث حتى يسبّح تسبيحه الضحى كان له كأجر حاج و معتمر تام له حجته و عمرته”

(Dikeluarkan oleh: Ath-Thobarony; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8. Hal. 174 No.7649 cet.Maktabah Ibn Taimiyyah)

  • Jalur sanadnya: Ahwash<< Abu ‘Amir<< Aby Umamah r.a dan Utbah r.a<< Nabi saw:

Pada jalur riwayat 3 ini juga berbeda yakni Abu Umamah dan Utbah r.a keduanya berserikat.

isyroq abu umamahSecara keseluruhan pada jalur 1 ini apabila kita perhatiikan ketiga riwayat diatas simpulan sanadnya sebagai berikut:

  • Riwayat 1: Ahwash<< Abu ‘Amir (ghobir)<< Aby Umamah r.a<< Nabi saw:
  • Riwayat 2: Ahwash<< Abu ‘Amir (‘Abir)<< ‘Utbah r.a<< Aby Umamah r.a<< Nabi saw:
  • Riwayat 3: Ahwash<< Abu ‘Amir<< Aby Umamah r.a dan Utbah r.a<< Nabi saw:

Dari ketiga riwayat yang dibawa oleh Ahwash terlihat goncang (mudltorib) dimana shahabat nabi saw yang ia sebut kadang Aby Umamah, kadang Utbah dulu dari Aby Umamah, kadang Aby Umamah dan Utbah r.a.

Bahkan ketidak ajegan riwayat Al-Ahwash ini akan sangat terasa ketika riwayatnya bukan dari Aby Umamah dan juga bukan dari Utbah tapi dari Ibn Umar r.a yang akan dibahas pada hadits ke 3 setelah ini.

Titik kritis penilaian pada jalur ini ketidak ajegan Ahwash dalam riwayat. Rowi ini dloif. Berikut penjelasan rowi Ahwash bin Hakim:

Ibnu Ma’in menilai: “La Syai” (dloif). Juga Imam An-Nasai menilai dloif.[8] Adapun Imam Ahmad mengatakan: “Haditsnya tidak ada satupun yang lurus”.[9]

Abu Hatim mengatakan:

الأحوص بن حكيم ليس بقوي، منكر الحديث، وكان ان عينة يقدم الأحوص على ثور في الحديث فغلط ابن عينة في تقديم الأحوص على ثور، ثور صدوق ، والأحوص منكر الحديث.

“Al-Ahwash bin Hakim tidak kuat, dia  rowi Munkarul Hadits. Ibnu ‘Uyainah mendahulukan Al-Ahwash daripada Tsaury dalam Hadits, maka (Nampak) keliru (penilaian) ibnu ‘Uyainah dalam mendahulukan Ahwash daripada Tsaury. Imam Tsaury itu Shoduq sedang Al-Ahwash rowi munkarul hadits”.[10]

Abu Hatim telah menyatakan kekeliruan Ibnu ‘Uyainah dalam mendahulukan Al-Ahwash daripada  Tsaury dimana Abu Hatim menilai bahwa Tsaury ini rowinya shoduq sedangkan Al-Ahwash rowi munkar.

Penilaian Abu Hatim ini cukup kuat dan diperkuat oleh Yahya bin Said:

قال علي : وسمعت يحيى بن سعيد يقول: كان ثور عندي ثقة

‘Aly berkata: Aku mendengar Yahya bin Said mengatakan: “Tsaury menurutku dia rowi Tsiqoh””[11]

Dan dengan melihat penilaian diatas bisa disimpulkan bahwa Al-Ahwash adalah rowi munkar sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Hatim. Penilaian Abu Hatim ini sebanding dengan riwayat yang dibawa Al-Ahwash pada jalur 1 ini dimana riwayatnya goncang (mudlthorib).

Jalur 1 yang dibawa oleh Al-Ahwash ini “idthirob” dan dia rowi munkar. Jalur 1 ini dloif goir muhtamal (dloif  yang tidak bisa tertolong)

Jalur 2:

حدّثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا المغيرة بن عبد الرحمن الحراني ثنا عثمان بن عبد الرحمن عن موسى بن علي عن يحيى بن الحارث عن القاسم عن أبي أمامة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صلى صلاة الغداة في جماعة ثم جلس يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثمّ قام، فركع ركعتين انقلب بأجر حجة و عمرة”

“Barang siapa shalat shubuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allah swt hingga terbitnya matahari, kemudian ia berdiri dan shalat 2 rokaat maka akan di balas sebanding fahala haji dan ‘Umroh”.

(Dikeluarkan  oleh Ath-Thobarony; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8 hal.209 no.7741 cet. Maktabah Ibn Taimiyyah)

Jalur sanadnya: Husein<< Al-Mughiroh<< Utsman bin Abdurrohman<< Musa bin ‘ulay<< Yahya<< Al-Qosim<< Aby Umamah r.a<< Nabi saw:

Pada jalur ke 2 ini titik kritris penilaiannya ada pada Utsman bin Abdurrohman dan Musa bin ‘Ulay. Berikut penjelasannya:

  • Utsman bin ‘Abdurrohman: rowi ini dinilai Shoduq oleh Ibnu Hajar dengan disebutkan ‘Ilalnya yakni:

صدوق أكثر الرواية عن الضعفاء و المجاهيل فضعّف بسبب ذالك حتى نسبه ابن نمير إلى الكذب.

“dia rowi shoduq, tapi kebanyakan riwayatnya dari rowi-rowi dloif dan dari rowi-rowi majhul (tidak dikenal) karena itulah ia didloifkan dengan sebab itu sehingga Ibnu Namir menisbahkannya dengan dusta”.[12]

Imam Al-Bukhory mengatakan: “dia meriwayatkan dari orang-orang lemah  (dloif). Adapun Abu hatim menilai rowi ini shoduq. Dan Abu ‘Arubah menilai: ”dia tidak apa-apa dan ia meriwayatkan dari kaum yang majhul dengan kemungkaran”.

(lihat penilaian diatas di kitab Tahdzibul Kamal juz 19 hal.429-430)

Dari penilaian diatas Imam  Ibnu Hajar cukup tepat dengan menyimpulkan rowi yang bernama Utsman bin ‘Abdurrohman rowi shoduq yang banyak meriwayatkan dari rowi dloif dan majhul. Dan apabila diketahui riwayatnya dari rowi majhul tadi maka riwayatnya jelas munkar seperti apa yang dikatakan Aby ‘Arubah.

Apakah pada riwayat yang dibawa oleh Utsman disini dari rowi majhul?

  • Musa bin ‘ulay:

Apabila di lihat dari daftar guru-guru Utsman di kitab rijal semisal Tahdzibul Kamal maka kita tidak akan mendapatkan gurunya yang bernama Musa bin ‘Ulay. Namun apabila kita lihat dalam daftar keseluruhan rowi didapatkan rowi Musa bin ‘Ulay bin Robbah Al-Lakhmy dari jalur guru dan murid yang lain.

Apakah yang dimaksud Musa bin ‘Ulay sebagai gurunya Utsman adalah Musa bin ‘Ulay bin Robbah?

Dapat dipastikan Musa bin ‘Ulay sebagai gurunya Utsman bukanlah Musa bin ‘Ulay Al-Lakhmy dengan dasar:

  • Pada daftar riwayat Musa bin ‘Ulay Al-Lakhmy tidak didapatkan sanad keguruan ke Yahya bin Al-Harits (seperti pada riwayat sanad yang dibahas ini). Juga tidak kita dapatkan muridnya Musa bin ‘Ulay Al-Lakhmy yang bernama Utsman bin
  • Musa bin ‘Ulay bin Robbah Al-Lakhmy seorang Amir di Mesir dan para syaikhnya orang-orang Mesir atau para pendatang yang sudah menetap di Mesir. Adapun Yahya bin Al-Harits (rowi di riwayat ini) orang Syam Dimasyq yang tidak didapatkan riwayatnya pernah keluar dari negrinya, sehingga disini terlihat sangat jauh kemungkinannya bertemu Antara Musa bin ‘Ulay bin Robbah dengan Yahya bin Al-harits.

Dari dua alasan diatas Nampak jelas bahwa Musa bin ‘Ulay yang ada diriwayat ini yang dapat dari Yahya bin Al-harits adalah bukan Yahya bin ‘Ulay Al-Lakhmy. Siapa Musa bin ‘Ulay ini?

Dengan melihat siapa yang meriwayatkan darinya yaitu Utsman bin ‘Abdurrohman seorang rowi yang biasa meriwayatkan dari rowi majhlul maka dapat dipastikan Musa bin ‘Ulay yang dibawa oleh Utsman ini rowi majhul ‘Ain (rowi yang tidak dikenal).

Dan terakhir kemajhulan Musa bin ‘Ulay yang diriwayatkan oleh Utsman bin Abdurrohman ini akan sangat terasa riwayatnya MUNKAR ketika ternyata terdapat beberapa jalur yang diriwayatkan oleh beberapa rowi tsiqoh dari Yahya bin Al-Harits riwayatnya tidaklah seperti riwayat yang dibawa oleh Utsman dari rowi majhul ini.

Mari kita tela’ah secara lebih dalam khusus jalur Abu Umamah r.a:

Bersambung (Klik disini untuk melanjutkan …..)


 

[1] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.548. No.rowi 3655. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[2] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 18 hal.2204 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[3] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 30 hal.351 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[4] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 3 hal.353 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[5] Kitab Lisanul Mizan; Ibn Hajar. Juz 4 hal.340 cet.Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyah

[6] Kitab Al-Mughny  fi Ad-Dlu’afa; Imam Ad-Dzahaby. Juz 1. Hal.496 cet.Darul Kutub Al-‘Ilmiyah.

[7] Kitab Lisanul Mizan; Ibn Hajar. Juz 2 hal.401 cet.Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyah

[8] Kitab Mizanul I’tidal; Adz-Dzahaby. Juz.1 hal.315 cet. Darul Maktab Al-‘Ilmiyah

[9] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 2 hal.292 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[10] Kitab Al-Jarh Wa At-Ta’dil; ibn Aby Hatim. Juz 2 hal. 327-328 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

[11] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 2 hal.291 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[12] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.666. No.rowi 4526. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

6 thoughts on “SHALAT ISYRAQ (Haditsnya Lemah)

  1. Syahrasaddin

    Subhanallah tenyata kembali ke Islam murni itu sulit, tapi sesungguhnya Islam Murni itu mudah tidak memberatkan, karena yang memberatkan itu tambahan amal yg dibuat orang-orang kemudian, gitu ya Tadz ? Mohon copy tulisan shalat siyraq (1 dan lanjutannya tadz, syukron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *