Posisi Imam dan Ma’mum Ketika Shalat Berduaan

Terdapat hadits riwayat Ahmad no. 3061 yang di jadikan dalil bahwa ma’mun berdiri sedikit mundur dari imam apabila sholat berjamaah berdua. Namun berdasarkan kajian ilmu hadits yang telah dirintis oleh para ulama dulu menunjukkan bahwa riwayat Ahmad no. 3061 ini Syad (cacat) yang tidak bisa dijadikan dalil dalam beramal. Lalu bagaimana seharusnya posisi ma’mum dan Imam apabila sholat berduaan?

Imam Al-Bukhory membuat BAB khusus dalam kitab shohihnya berjudul:

باب يقوم عن يمين الإمام بحذائه سواء إذا كانا اثنين

“Bab Berdiri Di Samping Kanan Imam Secara Sejajar Jika Hanya Dua Orang”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata tentang maksud kata “Sawaan” (sejajar sama rata):

لا يتقدم ولا يتأخّر

“Tidak kedepan dan tidak mundur” (Fathul Bari, 3/38)

Adapun hadits ibn Abbas yang mundur sedikit padanya terdapat Hatim. beliau dalam riwayat ini tafarrud (menyendiri). karena itu Imam Al-Bukhory tidak memasukkannya kedalam kitab shohihnya. adapun riwayat yang sejajar beliau masukkan lebih dari 3 jalur riwayat.

Berikut sedikit penjelasan takhrij haditsnya:

  1. Jalur 1 :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ أَبِي صَغِيرَةَ أَبُو يُونُسَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، أَنَّ كُرَيْبًا، أخْبَرَهُ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ، قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ آخِرِاللَّيْلِ، فَصَلَّيْتُ خَلْفَهُ، فَأَخَذَ بِيَدِي، فَجَرَّنِي، فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ ، فَلَمَّا أَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى صَلاتِهِ، خَنَسْتُ ، فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِي: ” مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ ؟ “، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَيَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُصَلِّيَ حِذَاءَكَ، وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ الَّذِي أَعْطَاكَ اللهُ ؟ قَالَ: فَأَعْجَبْتُهُ، فَدَعَا اللهَ لِي أَنْ يَزِيدَنِي عِلْمًا وَفَهْمًا

“Ibnu Abbas berkata: aku mendatangi Rasulullah saw di akhir malam. lalu aku shalat di belakangnya. Beliau mengambil tanganku dan menariknya dan membuatku berada di sisinya (maksudnya di sisi sebelah kanan beliau). Ketika beliau mulai masuk shalat, aku mundur. Lalu Rasulullah shalat. Usai shalat, beliau berkata kepadaku: “Ada apa denganku. Aku posisikan kamu di sisi (setara) denganku lalu kamu mundur?”

Aku menjawab, “Wahai Rasulullah. Apakah layak bagi seseorang shalat sejajar denganmu sementara engkau adalah utusan Allah -subhanahu wa ta’alaa-, di mana Allah -subhanahu wa ta’alaa- telah memberimu (hikmah)?”

Ibnu Abbas berkata, “(jawaban) ku membuatnya senang. Lalu beliau berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta’alaa- agar Dia menambahkan ilmu dan kepahaman kepadaku.”

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad; Musnad Ahmad No. 3061. Juz 3 Hal.330 cet.Darul Hadits Al-Qohiroh)

Dari riwayat ini seluruh rowinya tsiqoth.

  1. Abdullah bin bakar bin Habib As-Sahmy Al-Bahily Abu Wahab Al-Bashory. Rowi ini Tsiqotun. [1]
  2. Hatim bin Aby Shogir ibn Muslim Abu Yunus Al-Qusyairy. Rowi ini Tsiqotun. [2]
  3. Amr bin Dinar Al-makky Abu Muhammad Al-Atsrom Al-Jumahy. Rowi ini Tsiqotun-Tsiqotun-Tsiqotun (luar biasa 3x diulang oleh ibn Uyainah) [3]
  4. Kuraib bin Abi Muslim Al-Qurosy Al-Hasyimy. Rowi ini Tsiqotun. [4]
  5. Ibn Abbas: Sahabat Nabi saw.

Riwayat ini jalurnya kuat. Rowi-rowinya tsiqoth. Namun khusus Hatim bin Aby ibn Muslim disaat di tsiqohkan oleh Imam Ahmad, Nasa’I dan Ibn Ma’in. Abu Hatim menambahkan penilaiannya Sholihul Hadits (sederajat dengan Shoduq). Dan riwayat inilah yang dijadikan dalil bahwa ma’mun sedikit mundur kebelakang apabila sholat berduaan dengan imam.

  1. Jalur 2 :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى وَرَقَدَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Ibnu Abbas berkata: Aku shalat bersama Nabi saw pada suatu malam. Aku berdiri di samping kirinya, (namun) rasulullah saw menarikku kesebelah kanannya, kemudian ia shalat dan tidur. Maka tatkala Muadzin datang (hendak adzan) maka ia bangun dan shalat dan tidak berwudlu (lagi).

(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhory; Shohih Al-Bukhory No.726 hal.102 cet.Maktabu Ar-Rusydi)

Jalur 2 ini riwayat Al-Bukhory Rowi-rowinya Tsiqoth. Dan bisa di cek para rowinya di kitab rijal hadits.

  1. Jalur 3 :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ صَلَّى وَرُبَّمَا قَالَ اضْطَجَعَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى ثُمَّ حَدَّثَنَا بِهِ سُفْيَانُ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ لَيْلَةً فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ اللَّيْلِ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَضَّأَ مِنْ شَنٍّ مُعَلَّقٍ وُضُوءًا خَفِيفًا يُخَفِّفُهُ عَمْرٌو وَيُقَلِّلُهُ وَقَامَ يُصَلِّي فَتَوَضَّأْتُ نَحْوًا مِمَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ جِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ وَرُبَّمَا قَالَ سُفْيَانُ عَنْ شِمَالِهِ فَحَوَّلَنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ صَلَّى مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ اضْطَجَعَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ أَتَاهُ الْمُنَادِي فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ فَقَامَ مَعَهُ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ قُلْنَا لِعَمْرٍو إِنَّ نَاسًا يَقُولُونَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ قَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يَقُولُ رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ ثُمَّ قَرَأَ{إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

dari Ibnu ‘Abbas r.a, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur sampai mendengkur kemudian bangun dan mengerjakan shalat. Atau ia mengatakan, “Nabi berbaring hingga mendengkur, kemudian beliau berdiri shalat. Kemudian [Sufyan] secara berturut-turut meriwayatkan hadits tersebut kepada kami, dari [‘Amru] dari [Kuraib] dari [Ibnu ‘Abbas] ia berkata, “Pada suatu malam aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu melaksanakan shalat malam. Hingga pada suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan berwudlu dari bejana kecil dengan wudlu yang ringan, setelah itu berdiri dan shalat. Aku lalu ikut berwudlu’ dari bejana yang beliau gunakan untuk wudlu’, kemudian aku menghampiri beliau dan ikut shalat di sisi kirinya -Sufyan juga menyebutkan sebelah kiri-, beliau lalu menggeser aku ke sisi kanannya. Setelah itu beliau shalat sesuai yang dikehendakinya, kemudian beliau berbaring dan tidur hingga mendengkur. Kemudian seorang tukang adzan datang memberitahukan beliau bahwa waktu shalat telah tiba, beliau lalu pergi bersamanya dan shalat tanpa berwudlu lagi.” Kami lalu katakan kepada Amru, “Orang-orang mengatakan bahwa mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur, namun tidak dengan hatinya.” Amru lalu berkata, “Aku pernah mendengar Ubaid bin Umair berkata, “Mimpinya para Nabi adalah wahyu.” Kemudian ia membaca: ‘(Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku akan menyembelihmu..) (Qs. Ash Shaaffat: 102).

(Diriwayatkan oleh: Imam Al-Bukhory; Shohih Al-Bukhory No.138 hal.29 cet. Maktabu Ar-Rusydi)

Jalur ini riwayat Al-Bukhory. rowi-rowinyapun sangat kuat.

  1. Jalur 4 dan Jalur 5:

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ ، حَدَّثَنَا عَمْرٌو ، عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ ، عَنْ كُرَيْبٍ ، مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّهُ قَالَ : نِمْتُ عِنْدَ مَيْمُونَةَ ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ، فَتَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَأَخَذَنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، فَصَلَّى فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ، ثُمَّ نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَفَخَ ، وَكَانَ إِذَا نَامَ نَفَخَ ، ثُمَّ أَتَاهُ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ فَصَلَّى ، وَلَمْ يَتَوَضَّأْ.

قَالَ عَمْرٌو : فَحَدَّثْتُ بِهِ بُكَيْرَ بْنَ الأَشَجِّ ، فَقَالَ : حَدَّثَنِي كُرَيْبٌ بِذَلِكَ.

Ibnu Abbas berkata: aku pernah tidur di rumah bibiku maimunah (istri rasul saw). Pada malam tersebut adalah giliran rasul saw di rumah maimunah. Rasul saw berwudlu pada malam tersebut lalu mendirikan shalat (yakni shalat malam) maka aku pun berdiri di sebelah kiri beliau (sebagai makmum) lalu beliau mengambil aku (menarik) dan menjadiikanku di sebelah kanannya. Pada malam tersebut beliau shalat sebanyak tiga belas rakaat lalu tidur sehingga terdengar nafasnya, dan beliau apabila tidur terdengar (nafasnya) kemudian sampai muadzzin datang (hendak adzan) maka beliau keluar dan tidak berwudlu lagi.

(Diriwayatkan oleh: Imam Muslim; Shohih Muslim Bab Du’a Fie Sholati Lail Wa Qiyamihi. No.184 hal.385 cet.Darul Mughny)

  1. Jalur 6 :

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ فَلَمَّا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ قَعَدَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ { إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ } ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَنَّ فَصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ

Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: aku menginap di rumah bibiku maimunah (istri nabi saw). Dan rasul saw bercakap-cakap dengan keluarganya selama satu jam, kemudian beliau tidur dan tatkala di sepertiga malam terakhir beliau duduk dan melihat ke langit dan membaca (ayat al-Qur’an):

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi hingga ayat terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal) ‘ (QS. Ali’Imran: 190).

Kemudian ia berdiri dan berwudlu dan bersiwak kemudian shalat 11 rakaat kemudian bilal adzan, maka ia shalat dua rakaat kemudian ia keluar dan shalat shubuh.

(Diriwayatkan oleh: Imam Al-Bukhory; Shohih Al-Bukhory No. 4569 hal. 625 cet. Maktabah Ar-Rusydy)

Apabila kita perhatikan dari ke enam jalur diatas. Maka bisa kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Jalur 1 sampai jalur 6 semua riwayatnya shohih.
  2. Jalur 1 sampai jalur 6 temanya sama ttg sholatnya rosul saw dengan ibn Abbas pada Sholat malam.
  3. Jalur 1 terdapat redaksi tambahan yang tidak didapatkan pada jalur 2 sampai jalur 6.
  4. Redaksi tambahan pada jalur 1 adalah:

خَنَسْتُ ، فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِي: ” مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ ؟

Kemudian aku mundur………………….dst…

  1. Jalur 1 sampai jalur 3 semuanya bermuara ke Amr bin Dinar (tsiqoth). Dimana yg meriwayatkan darinya adalah:
  2. Jalur 1 : Hatim bin Abi Shogiroh. (Riwayat Ahmad)
  3. Jalur 2 : Daud bin Abdurrohman Al-Athor (riwayat Al-Bukhory)
  4. Jalur 3 : Sufyan bin Uyainah (Riwayat Al-Bukhory)
  5. Apabila kita perhatikan jalur 1 ini Hatim menyendiri dalam periwayatan tambahannya dan menyalahi periwayatan dari jalur 2 dan 3 yakni Daud dan Sufyan.
  6. Terlebih jalur 2 dan 3 ini di perkuat dengan Jalur 4, 5 dan 6 sebagai muttabi’nya Amr bin Dinar yg juga tidak terdapat tambahan diatas. Yakni Makhromah bin Sulaiman, Bukair bin Asyaj dan Syarik bin Abdullah bin Abi Namir yang sama sama meriwayatkan dari Kuroib dari Ibn Abbas r.a.
  7. Kesendirian Hatim bin Abi Shogiroh ini walaupun Tsiqoth namun apabila kita lihat komentar Abu Hatim pada jalur 1 diatas terhadap Hatim dgn penilaian Sholihul Hadits. Maka penilaian abu hatim ini sangat akurat karena penilaian Sholihul Hadits ini sejajar dengan Shoduq.
  8. Artinya Daud bin Abdurrohman dan Sufyan bin Uyainah dinilai lebih Tsiqoth daripada Hatim.
  9. Karena itu Jalur 1 yang dibawakan oleh Hatim bin Abi Shogiroh riwayatnya adalah SYAD (cacat).
  10. Artinya posisi Imam dan ma’mun ketika berduaan adalah imam dan ma’mum sejajar seperti hadits yang dibawakan pada jalur 2 sampai jalur 6 diatas.

(Kami menerima masukan apabila ada jalur riwayat lain yang belum kami dapatkan, dan apabila membutuhkan copas artikel silahkan kutip email saudara di menu komentar, in-syaa Allah nanti di kirim). Syuron.

Wallahu A’lam bishowab.


[1] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 14 hal 342 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

[2] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 5 hal.195 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

[3] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 22 hal 10 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

[4] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 24 hal.174 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

One thought on “Posisi Imam dan Ma’mum Ketika Shalat Berduaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *