MENGUSAP WAJAH SELESAI BERDO’A (Riwayat Mauquf)

Sebelumnya telah di bahas dan di takhrij seluruh jalur periwayatan yang marfu’ dimana secara kesimpulan seluruh riwayatnya lemah (dloif) dalam pengertian Nabi saw tidak pernah mengusap wajahnya selesai berdo’a. bagi ikhwan dan akhwat yang belum membaca jalur periwayatan yang marfu silahkan klik disini.

Adapun pada pembahasan kali ini adalah jalur periwayatan mauquf dimana jalur ini hanya didapatkan 1 atsar Ibnu Umar r.a. apakah atsar Ibnu Umar r.a ini shohih? Apakah atsar Ibnu Umar ini bisa di jadikan dalil disunnahkannya mengusap wajah selesai berdo’a? berikut takhrij atsar pada riwayat Ibnu Umar r.a:

Atsar Ibnu Umar r.a:

Pada atsar Ibnu Umar r.a ini terdapat 2 jalur periwayatan:

1. Jalur pertama:

Muhammad bin Fuleih<< bapaknya<< Abu Na’iem<< Ibnu Umar r.a:

حدثنا إبراهيم بن المنذر قال: حدّثنا محمد بن  فليح قال: أخبرني أبي ، عن أبي نعيم – وقو : وهب – قال: رأيتُ ابن عمر وابن الزبير يدعوان ، يديران بالراحتين على الوجه

“Aku melihat Ibnu Umar r.a dan Ibnu Az Zubeir r.a mereka mengusap wajah dengan telapak tangannya.”

(Dikeluarkan oleh: Imam Al-Bukhory; Adabul Mufrod. Jilid 2 hal.315 no.609 cet: Maktabah Al-Ma’arif Linnatsr Wa At-Tauzie’)

Jalur ini terdapat Muhammad bin Fuleih, dia itu shoduq tapi “Wahm” (suka keliru). Begitupun bapaknya yaitu Fuleih bin Sulaiman Shoduq Katsirul Khoto’.. (banyak salah) kata ibnu hajar[1]. Yahya bin Main, Abu Hatim, Imam An-Nasai mengatakan: “Laisa biqowie” (tidak kuat) yakni nilai sederajat dengan dloif. Dan di tempat lain Imam an.Nasai mengatakan: “dia Dloif”[2].

Riwayat ini dengan terdapat 2 rowi yang suka keliru dan banyak salah terlebih Imam An-Nasai mendloifkannya, maka atsar umar ini riwayatnya Dloif.

Namun jalur ini dengan dilihat susunan sanadnya, terlihat atsarnya Dloif Muhtamal (memungkinkan untuk naik jika ada riwayat lain).

 

2. Jalur kedua:

Abdurrozzaq<< Ibnu Jurej<< Yahya bin Sa’id<< Ibn Umar r.a:

 عبد الرزاق عن ابن جريج عن يحيى بن سعيد أن ابن عمر -رضي الله عنه – كان يبسط يديه مع العاص ، وذكروا أن من مضى كانوا يدعون ثم يردون أيديهم على وجوههم ليردوا الدعاء والبركة

“Bahwasannya Ibnu Umar r.a membentangkan kedua tangannya dengan tongkatnya, dan mereka menyebutkan bahwasannya orang terdahulu mereka berdoa kemudian mengusapkan tangan tangan mereka ke wajah-wajahnya untuk mendapatkan doa dan berkah”.

(Dikeluarkan oleh: Abdurrozaq; Mushonnaf Abdurrozzaq. Juz 2 Hal. 253 no.3256 cet. Habiburrohman Al-A’dzomy)

Riwayat ini terdapat 2 cacat:

  1. Sanadnya terputus (munqothy) antara Yahya bin Sa’id Al-Anshory (w 144H) dengan Ibn Umar r.a (w 73H). [3]
  2. Ibn Jurez rowi mudallis. Nama lengkapnya : Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Jurej. Beliau termasuk rowi tsiqoh menurut ibn Hajar, namun ada 2 ta’lil baginya:
  • Mursil: rowi ini termasuk suka memursalkan hadits
  • Mudallis: rowi ini juga banyak memudallaskan hadits

Untuk riwayat mursalnya ibn Jurej diriwayat ini tidak di dapatkan karena riwayatnya dari Yahya bin Said Al-Anshory adalah bersambung. Ketersambungannya didapatkan di kitab shohih muslim. Adapun sifat tadlisnya bisa dirasakan ketika pada riwayat ini beliau (Ibnu Jurej) menggunakan lambang periwayatan “An”. Yakni sebuah lambang yang diragukan sima’nya (pendengarannya). Imam Ibn Hajar memasukkannya pada rowi mudallis tingkat tiga[4] itu artinya pada tingkat ini riwayatnya tidak bisa di terima selama tidak ada penjelas sima’nya (mendengar dari syaikhnya). Dan setelah di telusuri riwayat-riwayat yang  lainnya, tidak kita dapatkan riwayat lain sebagai penjelas sima’nya.

Imam Ad-Daroquthny berkata:

شر التدليس تدليس ابن جريج فإنّه قبيح التدليس

“Seburuk-buruknya tadlis adalah tadlisnya ibn Jurej, karena ia adalah jelek sekali tadlisnya”[5].

Yahya bin Sa’id juga berkata:

كان ابن جريج صدوقا فإذا قال (حدثني) فهو سماع، وإذا قال: (أخبرنا) أو(أخبرني) فهوقراءة، وإذا قال: (قال) فهو شبه الريح

“Ibnu Jurej termasuk rowi Shoduq. Apabila ia berkata: “telah menceritakan kepadaku” maka ia mendengar. Dan apabila ia berkata: “telah mengabarkan kepada kami” atau “telah mengabarkan kepadaku” maka ia itu membaca. Dan apabila ia berkata “Qola (telah berkata)” maka ia seperti angin”.[6]

Dengan penilaian tadlis yang sangat buruk dimana dalam sanad ini beliau menggunakan shigoh “An” (tidak jelas apakah ia mendengar langsung atau dapat dari siapa?) dan didapatkan keterputusan sanad (munqothi) antara Yahya dengan Ibnu Umar r.a maka dengan dua cacat ini riwayatnya adalah dloif ghoir muhtamal (dloif yang tidak bisa saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya sebagai syahid) karena tadlisnya sangat buruk.

Demikian riwayat atsar Ibnu Umar r.a dengan kesimpulan atsarnya dloif dan dengan ini dapat di ambil kesimpulan adalah tidak benar Ibnu Umar r.a mengusap wajah selesai berdo’a.

Selain atsar Ibnu Umar r.a yang dloif ini, juga didapatkan amalan tabi’in dan tabi’u At-Tabi’ien tentang mengusap wajah selesai berdo’a. berikut riwayatnya:

  1. Atsar Al-Hasan bin Aby Hasan Al-Bashry (Tabi’ien) :

 قال الفريابي : حدثنا إسحاق بن  راهويه أخبرنا المعتمر بن سليمان : قال : رأيت أبا كعب – صاحب الحرير – يدعو رافعا يديه ، فإذا فرغ مسح بهما وجهه ، فقلت له : من رأيت يفعل هذا ؟ قال: الحسن بن أبي الحسن.

 “Aku (Mu’tamir) melihat Aba Ka’ab berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya. Dan ketika selesai ia usap wajahnya dengan kedua tangannya. Aku (Mu’tamir) bertanya kepadanya (Abu Ka’ab): siapa yang engkau lihat melakukan itu? Ia menjawab: Al-Hasan bin Aby Al-Hasan”.

(Dikeluarkan oleh: As-Suyuti; Fadlu Al-Wi’a. hal. 101)

  • l-Hasan bin Aby Al-Hasan: seorang tabi’in. Tsiqotun Faqihun (terpercaya dan Faqih) Namun banyak memursalkan hadits dan bertadlis.[7]
  • Abu Ka’ab: Nama aslinya ‘Abdu robbih bin ‘Ubaid. Rowi ini tsiqotun[8]
  • Al-Mu’tamir bin Sulaiman: Tsiqotun [9]
  • Ishaq bin Rohawaih: Yakni Ishaq bin Ibrohim bin Makhlad Al-Handzoly, Abu Muhammad bin Rohawaih. Rowi ini tsiqotun, hafidzun dan Mujtahidun.[10]

Sanad riwayat ini baik, semua rowinya tsiqoh. Namun riwayat ini tidak bisa di pakai hujjah karena amalan tabi’in. dalam hal ini adalah amalan Al-Hasan bin Aby Al-Hasan Al-Bisyri yang ditiru oleh Abu Ka’ab.

  1. Atsar Ma’mar bin Rosyid (Tabi’u At-tabi’ien) :

 قال عبد الرزاق : رأيت أنا معمرا يدعو بيديه عند صدره، ثمّ يردّ يديه فيمسح وجهه

 “Aku (abdurrozzaq) melihat ma’mar berdo’a dengan kedua tangannya sejajar dadanya, kemudian setelah itu ia mengusapkan (kedua tangannya) ke wajahnya”.

(Dikeluarkan oleh: Abdurrozaq; Mushonnaf Abdurrozzaq. Juz 2 Hal. 253 no.3256 cet. Habiburrohman Al-A’dzomy)

Riwayat ini masih kelanjutan dari atsar Ibnu Umar r.a di kitab mushonnaf Abdurrozzaq, dimana Abdurrozzaq melihat sendiri Ma’mar bin Rosyid Al-Basyry berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan  mengusapkannya ke wajahnya.

Riwayat ini shohih karena Abdurrozzaq sebagai Mushonnif (penyusun kitab) langsung melihat syaikhnya yaitu Ma’mar mengusap wajahnya setelah berdo’a. namun riwayat ini juga tidak bisa dipakai dalil dalam ibadah karena Ma’mar bukan Shahabat Nabi saw walaupun beliau tsiqoh, tapi Ma’mar hanya sebagai Tabi’u At-Tabi’ien (generasi setelah tabi’in).

KESIMPULAN:

Dari hasil analisa diatas penulis berkesimpulan bahkan riwayat yang mauquf sekalipun, yang dianggap amalan Ibnu Umar r.a adalah riwayatnya dloif tidak bisa dijadikan landasan dalam Ibadah. Karena do’a adalah Ibadah.

Mengusap wajah selesai berdo’a adalah pekerjaan Al-Hasan bin Aby Al-Hasan Al-Basyry seorang tabi’ien. Dan amalan yang dilakukannya bukanlah dalil yang harus kita ikuti apalagi dianggap sunnah Nabi saw.

Demikian pembahasan ini semua jalur riwayat seluruhnya yang penulis ketahui, seperti biasa apabila ada jalur riwayat yang belum penulis kutip di mohon masukkannya.

Akhukum Fillah.

Abu Aqsith. Pameungpeuk-Bandung Jawa Barat)


[1] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.787. No.rowi 5478. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[2] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 23 hal.317 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[3] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 31 hal.346 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[4] Kitab Thobaqot Al-Mudallisin; Ibn Hajar. hal. 14

[5] Kitab Thobaqot Al-Mudallisin; Ibn Hajar. hal. 14

[6] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 18 hal.351 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[7] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.236. No.rowi 1237. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[8] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.568. No.rowi 3812. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[9] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.958. No.rowi 6833. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[10] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.126. No.rowi 334. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

6 thoughts on “MENGUSAP WAJAH SELESAI BERDO’A (Riwayat Mauquf)

  1. ridwan alfaruki

    alhamdulillah
    dapat ilmu baru. mudah-mudahan bermamfaat, nyuhunkeun copyanna kanggo didakwahkeun ka nu sanes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *