Lutut Dulu atau Tangan Dulu?, Lutut Unta Ada di Kaki Depan (bag.3)

Lutut Unta Ada di Kaki Depan

(Analisa pembahasan ke 3. bagi Ikhwan dan Akhwat yang belum membaca pembahasan ke 1 dan ke 2 silahkan klik disini Pembahasan ke 1 dan Pembahasan ke 2)

Sebagai jawaban dari lemahnya hadits Anas r.a dari pembahasan sebelumnnya pada Pembahasan ke 1. Dalam penjelasannya didapatkan bahwa Ibnu Hajar memberikan “To’nu Rowi” (cacat rowi) terhadap Al-‘Ala yang telah  menyelisihi riwayat yang lebih mahfudz (terpelihara) yakni riwayat Umar bin Hafs bin Ghoyyath, untuk itu berikut Hadits riwayat Umar bin Hafs:

حدّثنا فهد بن سليمان قال: ثنا عمر بن حفص قال: ثنا أبي قال: ثنا الأعمش قال: حدّثني إبراهيم عن أصحاب عبد الله علقمة و الأسود فقالا: حفظنا عن عمر في صلاته أنّه خرّ بعد ركوعه على ركبتيه كما يخرّ البعير ووضع ركبتيه قبل  يديه.

 “Kami hafal dari ‘Umar (bin al-Khaththab) mengenai shalatnya, bahwasanya dia turun setelah rukuknya dengan kedua lututnya sebagaimana unta turun dan ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.” [1])

(Penjelasan yang cukup jelas bahwa unta turun dengan lututnya yang ada di kaki depan)

Keterangan para Rowi:

  1. Fahd bin Sulaiman : Rowi Imam at-tohawy yang terpercaya. Imam Ibnu Abu hatim selalu mengambil faidah hadits darinya. [2])
  2. Umar bin Hafs bin Giyats : Rowi Tsiqoth. [3])
  3. Hafs bin Giyats : Rowi Tsiqoth. [4])
  4. A’masy

ثقة حَافِظٌ عَارِفٌ بِالْقِرَاءَاتِ وَرَعٌ لكِنَّهُ يُدَلِّسُ

“Ia tsiqah (kredibel), hafizh, mengetahui berbagai qira`at, wara’, namun ia melakukan tadlis (menyamarkan sanad).”[5])

  1. Ibrohim An-Nakho’i :”Hujjatun” [6])
  2. Alqomah dan Aswad : “Tabi’ien” Tsiqothun. [7])

A’masy walaupun masuk katagori Mudallis (yang sering menyamarkan sanad), namun dalam riwayat ini sudah menggunakan shigoh “Haddatsany” dipastikan mendengar langsung.Kemudian Ibrohim An-Nakho’ie yang sering memutuskan sanad atsar (Munqothi) dalam periwayatan ini bersambung dapat kabar langsung dari Alqomah dan Aswad.Atsar ini dikatakan Mahfudz (selamat dan terpelihara) oleh Ibnu Hajar, rowi-rowinya selamat.dan dikatakan riwayat Anas r.a dari Al’ala pada pembahasan sebelumnya telah menyelisihi riwayat ini dari Umar bin Hafs dari bapaknya.

Umar bin Hafs lebih Atsbat (unggul dan kokoh) periwayatan dari bapaknya yaitu Hafs bin Giyats daripada Al-‘Ala. Dan riwayat Umar bin Hafs ini lebih Mahfudz (terpelihara) adapun riwayat Al-‘Ala munkar karena telah menyelisihi riwayat Umar bin hafs, dimana sesungguhnya riwayat Hafs itu seharusnya mauquf (hanya sampai shahabat) yakni Atsar Umar bin Khottob.

Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini (yang begitu keras pembelaannya terhadap syaikhnya yakni Albany dan begitu keras pula kritikannya terhadap Ibnu Qoyyim) juga menilai riwayat Umar bin Hafs ini shohih.

Namun bisa kita baca dari kitab yang dikarangnya beliau syaikh Huwaini menyatakan bahwa sekalipun riwayat Umar ini shohih namun telah menyalahi riwayat Abu Hurairoh dari jalan Ad-Darowardy yang Shohih. Sehingga dikatakan amalan Umar ini tertolak.

Adapun kitab kecil Fathu Al-Ma’bud Bishihhati Taqdimi Ar-Rukbataini Qobla Al-Yadaini; karya Fureih bin Shalih Al-Bihlal yang pro lutut dulu, sangat disayangkan penulis tidak menemukan riwayat Umar bin Hafs ini dibahas secara makna namun hanya di kutip saja. Terlihat mengamini pendapat Ibnu Qoyyim bahwa hadits Abu Hurairoh dari jalan Ad-Darowardy yang dipakai hujjah tangan dulu adalah status haditsnya dloif dan maqlub (terbalik). Wallahu A’lam.

Atsar Umar ini menjadi hujjah (dalil) bahwa turunnya unta dengan kedua lututnya. Dan Atsar ini menyalahi pendapat yang memahami bahwa unta turun dengan tangannya (padahal tidak punya tangan). Namun juga atsar ini menentang pendapat tangan dulu yang akan dibahas setelah ini, bahwa Umar ternyata turun hendak sujud dengan lutut dulu bukan dengan tangan.

Kemudian pendapat lutut dulu menganggap hadits Abi Hurairoh itu maqlub (terbalik).

“Janganlah kalian turun (untuk sujud) seperti unta menderum, maka tempatkan tangan dulu kemudian lutut”

Jumlah ini di anggap maqlub (terbalik) oleh mereka dimana jumlah pertama melarang kita untuk tidak seperti unta menderum, tapi jumlah kedua justru menyuruh tangan dulu padahal unta menderum dengan tangan dulu (kata mereka). Sehingga mereka meyakini jumlah kedua ini terbalik, seharusnya:

“Janganlah kalian turun (untuk sujud) seperti unta menderum, maka tempatkan lutut dulu kemudian tangan”

Dan redaksi kedua ini ternyata ada di riwayat Abdullah bin Sa’id seperti yang sudah dibahas diatas, namun sayang riwayatnya dloif karena dia pendusta dan matruk (ditinggalkan).

Apakah benar Matan (redaksi) hadits Abu Hurairoh dari jalan Ad-Darowardy yang mengatakan “maka tempatkan tangan dulu kemudian lutut” adalah Maqlub (terbalik) ?

Lalu bagaimana dengan Atsar Umar bin Khottob yang dikatakan oleh Shahabat umar yakni Aswad dan Alqomah bahwa Umar r.a turun hendak sujud dengan lutut dulu seperti unta turun dengan lutut? Atsar Umar ini juga memperkuat pendapat para ahlu lughoh (Ahli bahasa) dari berbagai sumber kitab yang mengatakan bahwa lutut unta itu ada di depan kedua kakinya.

Berikut beberapa rujukan dari para ahli Lughoh (bahasa) dari berbagai kitab terdahulu tentang makna lutut unta. Rujukan makna lutut dari para ahli lughoh ini digunakan oleh pendapat yang mendahulukan tangan sebagai argument bahwa lutut unta itu ada di depan.

  1. Hadits Suroqoh: [8])

سمعت قراءة النبي ﷺ وهو لا يلتفت وأبو بكر رضي الله عنه يكثر الالتفات ساخت يدا فرسي في الأرض حتى بلغت الركبتين

“Aku mendengar bacaan Nabi saw dan ia tidak menolehnya dan (adapun) Abu Bakar r.a menolehnya (kesana kesini) dan kedua tangan kudaku terbenam ke dalam tanah sedalam kedua lututnya,…..”

Dikeluarkan oleh : Imam Ahmad : Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal 4:176; Imam Al-Bukhari (7/239–Fath al-Bari), Imam Al-Hakim III:6; Imam l-Baihaqi di kitab ad-Dala-il (2/485-487).

Hadits Suroqoh diatas terang menjelaskan kaki depan kuda itu biasa disebut kedua tangannya dan pada kedua tangan itulah lutut unta berada.

2. Kitab Lisanu Al-Arob: [9])

وركبة البعير في يده

“Dan lutut unta itu terdapat di tangannya (kedua kaki depan).”

3. Kitab Tahdzib Al-Lughoh: [10])

وركبة البعير في يده. وركبتا البعير المفصلان اللذان يليان البطن إذا برك ، وأما المفصلان الناتئان من خلف فهما العرقوبان

“Dan lutut unta itu terdapat di tangannya (kaki depan), dan kedua lutut unta itu merupakan dua persendian yang berada dekat perut ketika unta menderum. Adapun dua sendi yang menonjol dari belakang kedua lutut, itu adalah al-‘urqub (urat palingan).”

Pada kutipan kitab Tahdzib al-Lughoh ini lebih dijelaskan bahwa tulang yang menonjol di kedua kaki belakang itu bukan  lutut tapi tumit (‘Urquban) atau urat palingan dan bisa dilihat tulang itu menekuknya kebelakang. Adapun lutut itu menekuk ke depan seperti yang teradapat pada kedua kaki depan kuda.

4. Kitab Al-Muhkam wa Al-Muhith: [11])

وكل ذي أربع ركبتاه في يديه، وعرقوباه في رجليه

“Dan semua (binatang yang) berkaki empat, maka kedua lututnya berada di kedua tangannya (kaki depan), sedangkan kedua ‘urqub-nya ada di kedua kakinya (yang belakang).”

Kutipan-kutipan diatas telah terang benderang mana  yang disebut lutut kuda dan mana tumit (‘Urqub).

Kemudian permasalahan maqlub atau tidak ketika unta turun adalah permasalahan rumit karena selain lutut unta itu ada di depan kedua kakinya, namun kedua kakinya yang didepan itu juga biasa disebut kedua tangan. Artinya lutut unta itu ada di kedua tangannya (kaki depan). Sehingga jika mana dulu unta turun?Apakah lutut dulu atau tangan dulu, maka hal ini sulit untuk dijawab?Karena keduanya (lutut dan tangan) ada pada satu kesatuan.

Dan juga perlu dicatat!! bahwa unta tidak pernah mendahulukan tangan saat menderum, karena kedua tangan dan kedua kakinya sudah menempel secara bersamaan di saat berdiri. Berbeda dengan manusia, yang mana kedua tangannya saat berdiri tidak menempel di tanah.Yang menempel hanya kedua kakinya saja.

Jika dikatakan unta itu tangan dulu (yakni kedua kaki depannya) yang turun, kenyataannya kaki depan sebelum turun sudah menyentuh tanah. Dan yang turun adalah lututnya.

Jadi ketika manusia turun dengan lutut itu dianggap menyerupai unta. Tapi masalah yang lain muncul, ketika tangan manusia didahulukan daripada lutut yang terjadi adalah nungging kedepan dan inipun dianggap menyerupai nunggingnya unta.

Yang jelas atsar Umar yang shohih ini adalah penjelas bahwa unta turun dengan lututnya ketika kedua tangannya (kedua kaki depan) menempel di tanah. Dan walaupun atsar Umar ini derajatnya shohih ternyata di tentang oleh pendapat yang mendahulukan tangan dengan pernyataan bahwa walaupun atsar ini shohih namun telah menyalahi hadits Abi Hurairoh dari jalan Ad-Darowardy yang shohih dimana Nabi saw melarang untuk turun seperti unta yang menderum dan menyuruh untuk mendahulukan kedua tangan kemudian kedua lutut.

Namun pertanyaannya, apakah hadits Abu Hurairoh dari jalan Ad-Darowardy itu Shohih? In-Syaa Allah berikut sedikit penjelasan bagi pendapat tangan dulu. silahkan klik disini untuk melanjutkan pembahasannya.


[1]       Teks asli dari kitab Syarhu Ma’any Al-Aatsar Imam At-Thohawy.Juz 1 hal. 256 cetakan: Aalimu Al-Kutub

[2]       Kitab Al-Jarhu Wa At-Ta’dilu; Al-Hafidz Ar-Rozy : Juz 7 hal 89 cetakan : Ihyau At-Turots Al-‘Aroby.

[3]       Kitab Al-Jarhu Wa At-Ta’dilu: Juz 6 hal 554 dan Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 21 hal. 304

[4]       Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 7 hal. 60

[5]       Kitab Taqrib at-Tahdzib, I:254, biografi No. 2615

[6]       Kitab Mizanu Al-I’tidal hal.204 Juz 1

[7]       Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 3 hal. 233

[8]    Kitab Musnadu Al-Imam Ahmad bin Hambal Juz 4 hal.176

[9]    Kitab Lisan al-‘Arab Juz 14 hal.236 Ibn al-Manzhur Cetakan: Ihyau At-Turots Al-‘Aroby,

[10] Kitab Tahdzib al-Lughoh Juz 10 hal.216: Al-Azhari cetakan: Ad-Daru Al-Mishriyyah Li-Ta’lifi Wa At-Tarjamati

[11] Kitab al-Muhkam wa al-Muhith al-A’zhom (7/15) Ibnu Sayyidah. Cetakan: Daru Al-Kutubi Al-‘Ilmiyyati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *