Lutut Dulu atau Tangan Dulu?, Misteri Riwayat Isroil (bag.2)

MISTERI RIWAYAT ISROIL BIN YUNUS

(Pembahasan ke 2 ini lanjutan dari Pembahasan ke 1. bagi Ikhwan dan Akhwan yang belum membaca Pembahasan 1 silahkan klik disini)

Disaat Imam At-Turmudzy mengatakan :“Hadits ini Hasan Ghorib tidak diketahui rowi lain meriwayatkannya selain Syarik”[1])

Disaat Imam Al-Baihaqy mengatakan : “Hadits ini kembali pada menyendirinya Syarik Al-Qody”[2])

Disaat Imam Ad-Daroquthny mengatakan :“Telah menyendiri dengan hadits ini Yazid bin Harun dari Syarik, dan tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim bin Kulaib selain Syarik, sedangkan Syarik itu bukan perawi yang kuat jika tafarrud (menyendiri)” [3])

Disaat Al-Mubaroqfury mengatakan : : “Syarik Tafarrud dalam hadits ini.[4]) “

Namun ternyata Nama Isroil bin Yunus yang tsiqoh muncul di kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban sebagai Mutabi’ nya Syarik.

Berikut riwayat dari kitab Mawarid :

أخبرنا محمد بن إسحاق الثقفي حدثنا الحسن بن علي الحمال حدثنا يزيد بن هارون أنبأنا إسرائيل عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر قال : رأيت النبي ﷺ إذ سجد وضع ركبتيه قبل يديه وإذا نخض رفع يديه قبل ركبتيه.

Dalam riwayat ini terdapat nama Isroil rowi tsiqoh yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib. Sebatas disini saja dulu apabila riwayat ini benar adanya maka kemungkinan besar :

  1. Para Imam kritikus hadits diatas seperti Imam At-Turmudzy, Imam Al-Baihaqy, Imam Ad-Daroquthny dan Imam Al-Mubaroqfury tidak akan mengomentari akan ketafarudan Syarik. Namun kenyataannya mereka para imam ini mengatakan : “Syarik Tafarrud dalam periwayatan ini”
  2. Perselisihan dari mulai Imam-imam yang meriwayatkan dan para imam kritikus hadits semisal Ibnu Hajar atau Ad-Daroquthny (perselisihan itu) tidak akan terjadi. Namun kenyataannya perselisihan terjadi.
  3. Bahkan Ibnu Hajar mengatakan ketika mengomentari Hadits Sa’ad r.a: “……. kalaulah hadits ini (Hadits Sa’ad) shohih maka sudah dari dulu perdebatan selesai, akan tetapi (kenyataannya) Ibrohim bin ismail dan ayahnya adalah lemah/dloif”,..[5])

 Artinya disini Ibnu Hajar memahami bahwa hadits Syarik ini sudah banyak terjadi perdebatan dari riwayat-riwayat Syawahidnya yang lemah. Dan Ibnu Hajar tidak mendapatkan nama Isroil sebagai Mutabi’ nya Syarik dari kitab-kitab sumber primernya (sumber-sumber asalnya). Mengutip perkataan Ibnu Hajar diatas, penulis katakan: “Kalaulah hadits ini (riwayat Isroil) ada maka sudah dari dulu perdebatan selesai, akan tetapi (kenyataannya) Iroil bin Yunus tidak ada dalam daftar kajian mereka”,.”

Dengan beberapa kenyataan diatas secara faktor eksternal dapat dibuktikan rowi yang bernama Isroil tidak ada dalam catatan mereka, dalam diskusi mereka, dalam kajian mereka dan dalam catatan kitab sumber Asli (Mashodir Ashliyyah) yang mereka punya.

Melihat kenyataan seperti ini langkah selanjutkan yang harus di kaji adalah : Apakah mungkin kitab ini salah cetak dari penerbitnya?. Dari beberapa sumber terbitan (percetakan) secara umum kitab ini dicetak dengan merujuk diantaranya kepada Makhthuthah Mawarid azh-Zham’an yang terdapat di Maktabah Mahmudiyyah. Dan menurut Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini[6])bahwa syaikh al-bany telah mengecek langsung naskah aslinya itu ternyata memang tertulis nama Isroil bukan Syarik. Artinya ini bukan kesalahan cetak karena nama Isroil memang tercantum dalam naskah aslinya yang ditulis oleh penyalin naskah atau penyusun kitab ini.

Sampai langkah ini tidaklah lantas diambil sikap karena begitu kenyataannya dalam teks naskah aslinya tertulis nama Isroil diterimalah Isroil sebagai mutabi’nya Syarik. Karena seperti sebelumnya yang penulis kemukakan diawal catatan ini, kenapa para imam mengatakan Syarik tafarrud (menyendiri) dalam periwayatan ini? kenapa para ahli jarh wa ta’dil (kritikan dan pujian) tidak kita dapatkan komentarnya? Dan kenapa di kitab-kitab 9 misalnya yaitu Shohih Bukhari, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Muwatto’Malik, Sunan Ad-darimi tidak kita dapatkan?  Wallahu A’lam.

Kemudian penelusuran lebih lanjut tentang rowi Isroil yang termuat hanya di kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban ini jalan terakhir yang bisa kita telusuri secara riwayat dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  1. Siapa pengarang kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban?
  2. Apa kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibba itu?

Dengan 2 pertanyaan ini kiranya bisa ditelusuri lebih dalam tentang rowi yang bernama Isroil bin Yunus ini.

  1. Siapa pengarang kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban?

Apabila melihat pada jilid kitabnya, maka pengarang kitab ini adalah :Al-Hafidz Nuruddin ‘Aly bin Abi Bakr Al-Haitsamy.

mawarid 2Biasa di kenal dengan Nuruddin Al-Haitsamy. Beliau lahir 735H-807H. Jika melihat kelahirannya maka Imam Nuruddin ini sezaman dengan Ibnu Hajar (773H852H). Zaman ini bukan lagi zaman periwayatan hadits tapi zamannya Ahdu As-Sarhi wa Al Jami’ wa At-Takhriji wa Al-Bahtsi, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pen-tahrij-an, dan pembahasan. Sehingga dari sini bisa lebih terang dan diketahui bahwa Nuruddin Al-Haitsamy bukan seorang Penyusun kitab-kitab Mashodir Ashliyyah (sumber kitab asal) seperti Kitab shohih, kitab Sunan ataupun kitab Musnad, dan beliau sangat jauh zamannya dgn imam Imam Al-Bukhory, Imam Muslim, Abu Daud dan yang lainnya.

Imam Al-Bukhory Lahir 196H, Imam Abu Dawud lahir pada tahun 202 H, Imam At-Turmudzy lahir pada tahun 209 H, dan imam imam yang lain yang menyusun riwayat lahir kisaran thn ini. Adapun Imam Nurudin al.haitamy lahir 735H. sungguh terpaut jarak yang sangat jauh zamannya kisaran 500 tahun dengan para pengumpul riwayat seperti Imam Al-Bukhary dan Muslim. Mustahil pada masa Nurudin al.haitamy masih bisa sempat mengumpulkan riwayat asli seperti apa yang dilakukan Imam Bukhory misalnya.

  1. Apa kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban itu?

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa jenis sumber data dalam takhrij hadits dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu :

[a] sumber primer (Mashodir ashliyyah) dan

[b] sumber sekunder (Mashodir taba’iyyah).

Sumber primer adalah kitab-kitab yang memuat data-data hadits sebagai objek takhrij (sumber asal). Dilihat dari sistematika penyusunannya, sumber primer terbagi kepada beberapa jenis:

(1)   sistem tashnif melahirkan jenis Mushannaf.

(2)   sistem Tasnid melahirkan jenis Musnad,

(3)   sistem Istidrak melahirkan jenis mustadrak,

(4)   sistem Istikhraj melahirkan jenis mustakhraj atau mukharraj,

(5)   sistem ta’jim melahirkan jenis Mu’jam.

Sumber sekunder adalah kitab-kitab yang memuat data-data hadits sebagai kutipan dari sumber primer. Dilihat dari sistematika penyusunannya, sumber sekunder terbagi kepada beberapa jenis:

(1) Tathrif kitabnya disebut Athraf,

(2) Takhrij kitabnya disebut takhrij,

(3) Tazyid kitabnya disebut zawaid,

(4) Jama’ atau ijma’ kitabnya disebut majma’ atau jami’.

Berdasarkan jenis sumber data dalam takhrij hadits seperti disebut di atas, maka dalam konteks status Al-Haitsamy, perlu diterangkan di sini bahwa sistem takhrij yang digunakan Al-Haitsamy adalah dengan pola tazyid. Pola tazyid ini masuk pada sumber sekunder dimana sumber sekunder ini adalah kitab-kitab yang memuat data-data hadits sebagai kutipan dari sumber primer.

Karena kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban termasuk sumber sekunder dan sumber sekunder adalah kumpulan data-data hadits mengutip dari sumber primer, maka pertanyaan selanjutnya:

  1. Dari sumber primer manakah Imam Nurudin al.haitamy mengutip riwayat ini?

Seperti yang sudah dijelaskan kitab ini menggunakan pola tazyid.Tazyid bentuk isim failnya Zaid atau Zaidah. Dari kata Zaid ini muncul bentuk jamaknya adalah Zawaid. Menurut bahasa Zawaidadalah An-Numu[7]) artinya: tambahan. Adapun menurut istilah merujuk pada kitab Ushulu At-Takhrij Wa Dirosatu Al-Asanid Zawaid adalah :“sebuah karangan kitab dimana penyusunnya mengumpulkan hadits-hadits tambahan pada sebuah kitab (sumber asli) dari (yang tidak dimuat) oleh kitab-kitab (sumber asli) yang lainnya”.

Untuk menjelaskan pengertian tersebut, misalnya jika kita katakan kitab “Zawaid Ibnu Majah ‘ala al Ushul al Khamsah”, maksudnya adalah kitab yang berisi hadit-hadits yang dicantumkan Imam Ibnu Majah dalam kitab sunannya (Sunan Ibnu Majah) tapi tidak diriwayatkan oleh para penyusun kitab-kitab hadits yang lima (Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, Imam Abu Dawud, dan Imam An-Nasai). Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan mereka semua (diriwayatkan Imam Ibnu Majah, juga diriwayatkan imam-imam yang lima lainnya) maka tidak disebutkan dalam kitab zawaid ini.

Begitulah kira-kira maksud kitab Zawaid yang bisa kita dapatkan pengertian berikut contohnya di kitab Ushulu At-Takhrij Wa Dirosatu Al-Asanid karangan Dr. Mahmud ath-Thahhan hal.119 cetakan : Daru Al-Qur’anu Al-Karimu.

Jenis kitab-kitab Zawaid ini telah banyak di karang oleh para banyak Imam diantaranya:

  1. Kitab Zawaid Muslim ‘Ala Al-Bukhory (hadits-hadits muslim yang tidak diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhory).
  2. Kitab Zawaid Abi Daud ‘Ala Ash-Shohihain (hadits-hadits Abu Daud yang tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim)
  3. Kitab Zawaid At-Tirmidzy ‘Ala Tshalatsaty (hadits-hadits Tirmidzy yang tidak diriwayatkan oleh Al-bukhory, Muslim dan Abu Daud)
  4. Kitab An-Nasai ‘Ala Al-Arr-Ba’ati (hadits-hadits Nasai yang tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhory, Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzy)
  5. Kitab Misbahu Az-Zujajati Fie Zawaid Ibni Majah (hadits-hadits Ibnu Majah yang tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhory, Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzy dan An-Nasai)

Demikian beberapa contoh kitab zawaid yang bisa kita telusuri keberadaannya. Bahkan Ibnu Hajar Al-Asqolany juga menyusun kitab zawaid ini yang dikenal dengan kitabnya Zawaidu Musnad Al-Bazar ‘Ala Musnad Ahmad Wa Al-Kutubi As-Sittati (yakni hadits-hadits Musnad Al-Bazar yang tidak diriwayatkan oleh imam Ahmad dan kitab yang 6).

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban yang disusun oleh Al-Haitsamy adalah sebuah kitab yang didalamnya memuat hadits-hadits Ibnu Hibban yang tidak dimuat oleh Imam Al-Bukhory dan Muslim.

Untuk mengetahui kata “tidak dimuat oleh Al-Bukhory dan Muslim” dapat kita dapatkan pada penjelasan Al-Haitsamy sendiri dalam Muqoddimahnya (pendahuluan):

“Dan setelahnya, Aku berpandangan untuk mengistimewakan Hadits-hadits shohih ibnu Hibban yang tidak dimuat oleh shohih Al-Bukhory dan Muslim,.. “ [8])

Dengan demikian dapatlah terjawab pertanyaan terakhir diatas yakni dari sumber primer manakah Imam Nurudin al.haitamy mengutip riwayat ini? jawabannya adalah dari kitab Shohih Ibnu Hibban.

Pertanyaan selanjutnya, apakah dalam kitab Shohih Ibnu Hibban terdapat riwayat Isroil sebagai mutabi’ nya Syarik? Jawabannya jelas tidak ada..!!

Mari kita lihat riwayat Ibnu Hibban dalam kitab Shohihnya :

kutipan ibn hibban

Disini dapat kita lihat bahwa dalam kitab shohih Ibnu Hibban bahwa yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib adalah masih tetap Syarik bukan Isroil dan riwayat Ibnu Hibban ini adalah sesuai dengan para penyusun kitab yang lain sebagai sumber asli seperti riwayat Imam At-Tirmidzy, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, Ath-Tabrani, Ad-Darimi, Ibnu Majah, Abu Dawud, An Nasai, dan Al-Baihaqi. Mereka semua para imam dalam kitabnya mencantumkan nama Syarik sebagai rowi yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib.

Artinya disini dapat kita simpulkan sebagai berikut :

  1. Ketika kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban yang disusun oleh Al-Haitsamy ini dikatakan kitab kutipan dari shohih Ibnu Hibban namun ternyata dalam kitab Shohih Ibnu Hibban nama rowi itu bukan Isroil namun tetap seperti kitab sumber asli yang lain yaitu Syarik.
  2. Dan ketika ditelusuri dari naskah aslinya (catatan Haitsamy) yang ada di Maktabah Mahmudiyyah ternyata memang tertulis nama Isroil bukan Syarik

Maka dari dua kenyataan ini dapat kita simpulkan secara ilmiah bahwa Imam Haitsamy telah keliru menulis dan menyalin dari Shohih Ibnu Hibban.Yang seharusnya Syarik beliau menulisnya Isroil.

Dan ternyata kekeliruan itu bukanlah hanya pada nama Syarik saja berubah menjadi nama Isroil namun juga terdapat kesalahan tulis di beberapa tempat. Mari kita bandingkan riwayat asli Ibnu Hibban dengan teks riwayat kutipan Al-Haitsamy.

Riwayat kutipan oleh Al-Haitsamy :

أخبرنا محمد بن إسحاق الثقفي حدثنا الحسن بن علي الحمال حدثنا يزيد بن هارون أنبأنا إسرائيل عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر قال : رأيت النبي ﷺ إذ سجد وضع ركبتيه قبل يديه وإذا نخض رفع يديه قبل ركبتيه.

Dari sini apabila kita perhatikan bukan nama Syarik saja yang berubah menjadi Isroil tapi nama rowi Al-Hasan bin ‘Aly Al-Hulwany saja berubah menjadi Al-Hamali, kemudian lambang periwayatan dari “Akhbarona” berubah menjadi “Anbaana”. Ini jelas kekeliruan Al-Haitsamy ketika mengutip riwayat Ibnu Hibban.

Dan apabila kita mau membaca dan meneliti sejenak riwayat-riwayat yang lainnya dari kitab Mawarid yang disusun oleh Al-Haitsamy ini maka sungguh kekeliruan Al-Haitsamy itu terdapat juga dibeberapa riwayat yang lain.

Kekeliruan atau kesalahan tulisan ini dikenal dalam ilmu hadits dengan istilah Mushohhaf. Yakni kekeliruan seorang imam dalam menulis riwayat baik keliru ketika menulis sanad atau keliru dalam menulis matan[9]).

Imam Ibnu Hajar dalam kitab karangannya Inbau Al-Ghumr bi Anbai Al-‘Umr Juz 2 hal.310 mengomentari keadaan riwayat Al-Haitsamy sebagai berikut:

“Aku telah mendapatkan banyak Wahm (kekeliruan) pada kumpulan kitab Zawaidnya.Dan aku ketahui bahwa hal demikian (yakni dalam menyusun zawaid) sungguh sangat memberatkannya. Maka aku tinggalkan (kitabnya)”[10])

Demikian sedikit penjelasan tentang Misteri rowi yang bernama Isroil bin Yunus bin Abi Ishaq yang terdapat di kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban yang disusun oleh Al-Haitsamy. Wallahu A’lam bishowab.

Bersambung ke Pembahasan ke 3.  tentang Lutut Unta itu Ada di Kedua Kaki Depan


[1]       Kitab Al-Jami’u Al-Kabiru Li-tirmdizy Juz I hal. 307 cetakan : Daru Al-Ghorb Al-Islamy

[2]       Kitab As-Sunanu Al-Kubro Lilbaihaqy: hal 142 Juz 2 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[3]       Kitab Sunnan Ad-Daroquthny Hal. 150 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[4]       Kitab Tuhfatu Al-Ahwadzy Juz 2 hal.134 Cetakan : Daru Al-Fikri

[5]       Teks asli Kitab Fathu Al-Barri. Ibnu Hajar. Jilid 3 hal.20 kitab Adzan. Cetakan Daru Thoibah

[6]        Lihat kitab Nahyu ash-Shuhbah ‘an an-Nuzul bi ar-Rukbah

[7]       Kitab Lisan al-‘Arab; Ibnu al-Manzhur. Cetakan: Ihyau At-Turots Al-‘Aroby. Juz 6 hal.123

[8]       Teks asli kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban pada Muqoddimahnya.

[9]       Lihat kitab Syarhu Lughoti Al-Muhaddits: Syaikh Thoriq ‘Aud hal.389 Cetakan: Maktabah Ibn Taimiyyah.

[10]     Inbau Al-Ghumr bi Anbai Al-‘Umr; Ibnu Hajar Juz 2 hal.310 Cetakan: Ihyau At-Turotsi Al-Islamy

[11]     Teks asli dari kitab Syarhu Ma’any Al-Aatsar Imam At-Thohawy.Juz 1 hal. 256 cetakan: Aalimu Al-Kutub

[12]     Kitab Al-Jarhu Wa At-Ta’dilu; Al-Hafidz Ar-Rozy : Juz 7 hal 89 cetakan : Ihyau At-Turots Al-‘Aroby.

[13]     Kitab Al-Jarhu Wa At-Ta’dilu: Juz 6 hal 554 dan Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 21 hal. 304

[14]     Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 7 hal. 60

[15]     Kitab Taqrib at-Tahdzib, I:254, biografi No. 2615

[16]     Kitab Mizanu Al-I’tidal hal.204 Juz 1

[17]     Kitab Tahdzibu Al-Kamal Juz 3 hal. 233

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *