Lutut Dulu atau Tangan Dulu?, Ketika Turun Hendak Sujud (bag.1)

Terdapat 2 kelompok besar dalam menyikapi permasalahan ini. Lutut dulu Tangan dulu?

skema turun dgn lututPerselisihan ini terjadi terkait riwayat riwayat yang dijadikan pegangan ini tidak terdapat dalam kitab shohihnya Al-Bukhory dan Muslim. Sehingga terjadi perbedaan pendapat antara yang menshohihkan dan mendloifkannya.

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang lutut dulu dan  tangan dulu kedua-duanya hemat penulis adalah lemah.

Berikut takhrij hadits tentang Lutut dulu atau Tangan dulu ketika hendak sujud.

A. Pendapat Lutut Dulu.

  1. Hadits Wail bin Hujr [1])

حدثنا سلمة بن شبيب وأحمد بن إبراهيم الدورقي والحسن بن علي الحلواني وعبد الله بن منير وغير واحد قالوا حدثنا يزيد بن هارون أخبرنا شريك عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد يضع ركبتيه قبل يديه وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه قال زاد الحسن بن علي في حديثه قال يزيد بن هارون ولم يرو شريك عن عاصم بن كليب إلا هذا الحديث

Wail bin Hujr berkata: “Aku melihat Rasul saw apabila sujud ia meletakkan kedua lututnya dulu sebelum kedua telapak tangannya,.dan apabila bangkit ia mengangkat kedua tangan dulu sebelum kedua lututnya”.

Dan Hasan bin ‘Aly menambahkan dalam haditsnya: Yazid bin Harun berkata: “Dan Syarik tidaklah meriwayatkan hadits dari ‘Ashim bin Kulaib kecuali (hanya) hadits ini saja”

(Diriwayatkan oleh : Abu Dawud, Sunan Abu Dawud I:367; Imam At-Tirmidzy : Al-Jami’u Al-Kabiru Li-tirmdizy I:306; An Nasai, Sunan An-Nasai II:553; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah II:54; Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi I:303; Ibnu Khuzaimah, Shohih Ibnu Khuzaimah I:318; Ad-Daraquthni, Sunanu Ad-Daraquthny II:150; Al-Baihaqi, As-Sunanu Al-Kubra II:142. Ath-Tabrani, Al-Mu’jamul kabir XII:39-40; Ibnu Hibban, Al-Ihsan Bi tartibi Shahibni Hibban III:190; Juga Ibnu Hibban: shohihIbnu Hibban tartib ibnu balban V:237 no.hadits 1912 dengan riwayat dari Muhammad bin Ishaq).

Pada riwayat ini terdapat Syarik yang dipermasalahkan, berikut komentar para ahlu jarh dan ta’dil:

a. Yazid bin Harun (118H-206H)

وزاد الحسن بن علي في حديثه : قال يزيد بن هارون: ولم يرو شريك عن عاصم بن كليب إلاّ هذا الحديث.

Hasan bin ‘Ali [2]) menambahkan (dalam hadits wail ini) : Yazin bin Harun berkata: “Tidaklah Syarik meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib kecuali hanya hadits ini”.[3])

b. Imam Ad-Daroquthny (306 هـ385 هـ)

قال الدارقطني: “تفرد به يزيد بن هارون عن شريك ولم يحدث به عن عاصم بن كليب غير شريك.وشريك ليس بالقوي فيما تفرد به

Imam ad-Daruquthni berkata, “Telah menyendiri dengan hadits ini Yazid bin Harun dari Syarik, dan tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim bin Kulaib selain Syarik, sedangkan Syarik itu bukan perawi yang kuat jika tafarrud (menyendiri).” [4])

c. Imam A.-Baihaqy (384 – 458 هـ):

قال البيهقي : هذا حديث يعد في أفراد شريك القاضي, وإنّما تابع همام من هذا الوجه مرسلا هكذا ذكره البخاري وغيره من الحفاظ المتقدمين رحمهم الله”

Imam Al-Baihaqy berkata: “Hadits ini kembali pada menyendirinya Syarik Al-Qody. Dan yang mengikutinya (Mutabi’) bagi Syarik hanya hammam dari arah ini Mursal. Seperti itulah Imam Al-Bukhory menyebutkan dan Imam yang lainnya dari Imam-imam terdahulu”.[5])

d. Abdurrahman bin Syarik:

وقال عبد الرحمن بن شريك : كان عند أبي عشرة آلاف مسألة عن جابر الجُعفي وعشرة آلاف غرائب.

Abdurrahman bin Syarik berkata: “Disamping bapakku (yakni:Syarik) terdapat 10 ribu masalah (hadits) dari jabir Al-Ju’fie dan 10 ribu (hadits) ghorib. [6]) Tambahan: di kitab Tahdzibu Al-Kamal dijelaskan 10 ribu ghoroib dari laits.[7])

e. Ibnu Mubarok (118-181 H)

وقال ابن مبارك : شريك أعلم بـحديث الكوفة من سفيان الثوري.

Syarik lebih tahu terhadap hadits orang-orang Kufah daripada Sufyan at-Tsauri” [8])

f. Yahya bin Sa’id Al-Qotthon (120H – 198H)

وروى محمد بن يحيى القطان عن أبيه قال : رأيت تخليط في أصول شريك وقال عبد الجبار بن محمد : قلت ليحيى بن سعيد : زعموا أنّ شريكا إنما خلط بأخرة ! قال مازال مخلطا.

“Muhammad bin yahya Al-Qotthon meriwayatkan dari bapaknya, ia berkata: “Aku melihat Takhlith (pikun) pada asal mula Syarik”. Abdul jabbar berkata: “Aku berkata kepada Yahya bin Sa’id: Mereka menduga bahwa Syarik itu Mukhtalith (pikun) di akhir hidupnya? Ia (yahya bin Sa’id) berkata: (Syarik) masih selalu Takhlith[9]

g. Yahya bin Ma’in (lahir 158H)

شريك ثفة إلاّ أنّه لا يتقن ويغلط و يذهب بنفسه على سفيان و شعبة

Syarik itu tsiqothun (akan tetapi) ia itu tidak bagus hafalannya (ghoir Mutqin) dan salah (gholat) dan meriwayatkan sendirian atas Sufyan dan Syu’bah”. [10])

h. Al-Juzajany (w. 259 H)

سَيِّءُ الْحِفْظِ مُضْطَرِّبُ الْحَدِيْثِ مَائِلٌ

Ibrahim bin Ya’qub al-Juzajani berkata, “Dia buruk hafalan, mudltoribul hadits (goncang), maa’il.”[11])

i. Abu Hatim (195-277 H)

وَقَالَ أَبُوْ حَاتِمٍ لاَ يَقُوْمُ مَقَامَ الْحُجَّةِ فِي حَدِيْثِهِ بَعْضُ الغَلَطِ

Abu Hatim berkata: “Dia tidak dapat mencapai derajat hujjah, pada haditsnya terdapat beberapa kesalahan”[12])

j.  Ibnu Hajar Al-‘Asqolany (773 هـ852 هـ):

صدوق يخطئ كثير , تغير حفظه منذ ولي القضاء بالكوفة

“Syarik itu Shoduq (jujur) tapi banyak salah, hafalannya berubah (pikun) semenjak diangkat menjadi hakim di kufah”[13])

k. “Syarik seorang Mudallis” [14]) dan masuk Tingkat Dua [15]).

Pembahasan Hadits Wail bin Hujr r.a:

Pada dasarnya hadits Wail dari jalan Syarik ini Marfu (terangkat) dan para rowinya tsiqoh (terpercaya) kecuali rowi yang bernama Syarik terdapat kritikan dan pujian dari para imam Jarh dan Ta’dil. Adapun Yazid bin Harun yang dapat riwayat dari Syarik walaupun tafarrud (sendirian) dari Syarik namun karena termasuk rowi yang tsiqoh tanpa cacat, dan termasuk shahabatnya maka tafarrudnya tidak membahayakan.

Para imam yang sezaman dengan Syarik, yakni: Abdurrahman bin Syarik, Ibnu Mutsanna (usia 45thn ketika Syarik 60thn), ibnu Mubarok (37thn ketika Syarik 60thn), Yahya bin Sa’id Al-Qotthon (35thn ketika Syarik 60thn), Yahya bin Ma’in (baru lahir ketika Syarik 63thn) Amr bin ‘Aly (baru lahir ketika Syarik 65thn), Al-Juzajany sezaman dengan Imam Ahmad bin Hambal (kira-kira 7thn ketika Syarik meninggal dunia)

Para imam yang sezaman ini ada yang memberikan Jarh ada pula yang memberikan Ta’dil terhadap Syarik (95H – 177H).(Lihat pembahasan sebelumnya diatas)

Imam Ibnu Mutsanna berbeda pendapat dengan Amr bin ‘Aly. Ibnu Mutsanna mengatakan bahwa Yahya bin Sa’id al-Qotthon dan Abdurrahman tidak meriwayatkan dari Syarik, sedangkan Amr bin ‘Aly mengatakan Abdurrahman meriwayatkan dari Syarik. Ibnu Mutsanna lebih dekat zamannya dengan Syarik.Dalam hal ini Ibnu Mutsanna lebih diunggulkan.

Yahya bin sa’id Al-Qotthon mengatakan bahwa Syarik asal mulanya pun takhlith (pikun) dan masih takhlith. Begitupun yahya bin Ma’in walaupun beliau memberikan penilaian tsiqoh terhadap Syarik namun juga memberikan catatan bahwa Syarik hafalannya tidak bagus dan salah.

Kemudian setelahnya adalah para imam yang tidak sezaman dengan Syarik, yakni: Ahmad Al-‘Ajaly (182 هـ261 هـ), Ya’qub bin Syaibah (182- 262 H), Abu Zur’ah (200H-264 H), Abu Hatim (195-277 H), Imam Muslim (206H-261H), Imam Ad-Daroquthny (306 هـ385 هـ), 12. Imam Adz-Dzahaby (673H – 748H), Ibnu Hajar Al-‘Asqolany (773 هـ852 هـ).

Walaupun para imam ini tidak sezaman, akan tetapi kritik dan pujian mereka juga perlu di perhitungkan melihat kredibilitas para imam ini tidak diragukan lagi oleh kita dalam karya-karyanya dan keilmuannya.

Para imam yang tidak sezaman seperti Ya’qub bin Syaibah, Abu Zur’ah, Abu Hatim memberikan Jarh (kritikan) terhadap Syarik dengan mengatakan: “buruk hafalannya, haditsnya tidak dipakai hujjah, selalu keliru, dalam haditsnya terdapat sedikit kekeliruan. Namun kritikan mereka difahami oleh beberapa ahli hadits yang lain berkenaan dengan takhlith-nya Syarik di akhir hidupnya setelah Syarik menjadi hakim di kufah. Adapun sebelum (menjadi hakim) para imam yang memberikan kritikan terhadap Syarik ini hakikatnya tidak mengetahui dikarenakan tidak sezaman dengan Syarik.

Namun pendapat ini hemat penulis kurang kuat berkenaan Jarh yahya bin sa’id dan Jarh yahya bin ma’in (yang sezaman dengan Syarik) ketika ditanya bahwa Syarik takhlith di akhir hidupnya (ketika jadi hakim di kufah) yahya bin sa’id justru mengatakan Syarik masih takhlith (sebelumnya juga) dan perkataan yahya bin ma’in menguatkan bahwa Syarik suka keliru hafalannya tidak bagus.

Dan kalaupun Syarik terbebas dari takhlith dalam periwayatan ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hibban, namun yahya bin ma’in memberikan Jarh bahwa Syarik tidak bagus hafalannya. Antara hafalan tidak bagus dan pikun adalah dua hal yang berbeda dalam penilaian rowi. Sehingga andaikan tidak terjadi takhlith pada periwayatan ini tetap saja harus dibuktikan oleh riwayat lain (Mutaba’ah) dikarenakan hafalannya tidak bagus dan ini diamini oleh Ibnu Hajar bahwa:“Syarik Shoduqun (jujur), tapi banyak salah, dan pikun diakhir hidupnya semenjak menjadi hakim”. Dan diamini pula oleh Imam Muslim bahwa Syarik tafarrudnya tidak kuat harus dibuktikan oleh rowi lain sebagai pengikut riwayatnya (Mutabi’). Terbukti Imam Muslim memakainya sebagai Mutabi’

Kesendirian (Tafarrud) Syarik ini juga memunculkan banyak pertanyaan:

  1. Dimana murid-murid ‘Ashim bin Kulaib yang termasuk ahli hadits dan rowi yang masyhur dalam periwayatan ini? dimana Shufyan bin ‘Uyainah, Syu’bah bin Hajjaj, Zaidah bin Qudamah, atau Bisyri bin Mufaddlol, misalnya? Padahal mereka adalah murid-murid ‘Ashim bin Kulaib yang masyhur dan banyak meriwayatkan darinya, sedangkan Syarik bukanlah murid ‘Ashim [16]). Dan juga masih banyak murid ‘Ashim bin Kulaib yang lain yang tidak kita dapatkan dalam periwayatan seperti ini. Artinya Syarik rowi yang tidak masyhur pada periwayatan ‘Ashim. Sedangkan ‘Ashim adalah Syaikh yang masyhur dikalangan murid-murid yang masyhur dalam periwayatan darinya.
  1. Kemudian pertanyaan yang lain Syarik hanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib hadits ini saja? adalah bukti bahwa ‘Ashim bin Kulaib bukan “Syaikhnya” (guru) bagi Syarik, Sehingga pantaslah Yazid bin Harun yang dapat riwayat ini dari Syarik mengatakan:

قال يزيد بن هارون: ولم يرو شريك عن عاصم بن كليب إلاّ هذا الحديث.

Yazin bin Harun berkata: “Tidaklah Syarik meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib kecuali hanya hadits ini saja”.

Tafarrud inilah yang paling lemah bagi Syarik dalam riwayat ini.

Imam Muslim telah memberikan catatan khusus seperti tafarrud-nya Syarik ini:

“Dan apabila contohnya seperti Imam Zuhry dan Hisyam bin Urwah yang (terkenal) kebesarannya dan banyak shahabatnya yang termasuk para ahli huffadz yang kuat hafalan haditsnya, dan hadits kedua (Imam) ini tersebar, diikuti dan riwayatkan oleh seluruh shahabat-shahabat yang lainnya secara ittifaq (sefakat), kemudian (disaat itu) terdapat seseorang yang meriwayatkan dari keduanya (Zuhri dan Hisyam) beberapa riwayat hadits yang tidak dikenal oleh shahabat-shahabat Zuhri dan Hisyam. Dan seorang rowi tersebut tidak termasuk kelompok mereka dalam periwayatan, maka riwayat (rowi ini) tidak boleh diterima dari contoh seperti ini”.[17])

Hadits Wail bin Hujr dari Jalan Syarik ini Ghorib (asing) karena tidak ada satupun Shahabat atau murid ‘Ashim yang masyhur meriwayatkan apa yang Syarik riwayatkan ini.

Imam Ahmad berkata:

لا تكتبوا هذه الأحاديث الغرائب, فإنّها مناكير

“Janganlah kalian catat hadits-hadits ghorib, karena ia itu termasuk hadits-hadits yang munkar”.[18])

Pemahaman Imam Ahmad ini diikuti oleh Syaikh Amr Abdul Mun’iem dalam kitabnya:

فمن أوجه الشذوذ أو النكارة : أن يروي الراوي حديثا عن أحد الحفّاظ الكبار لا يشاركه فيه أحد من أصحاب هذا الحافظ من الثقات الأثبات المشهورين , فينفرد به عنه , ولا يكون لهذا الحديث أصل آخر يعضده.

“Dari contoh Syudud dan Nakaroh (munkar) yaitu dimana seorang rowi meriwayatkan hadits dari seorang Imam Hafidz yang terkenal, dan dari shahabat-shahabat Imam Hafidz ini yang Tsiqoth dan Masyhur tidak ada seorangpun yang mengikuti (rowi tersebut), sehingga rowi ini menyendiri dari (Imam) tersebut. Maka keadaan hadits seperti ini tidak bisa membantu (menguatkan) sumber (hadits) yang lain”.[19])

Dan yang terakhir bahwa Syarik itu termasuk Mudallis[20]) tingkat dua. Dalam hadits ini Syarik menggunakan shigoh “An” lambang periwayatan yang tertolak bagi Mudallis sehingga tersimpan pertanyaan berikutnya:

  1. Apakah Syarik benar-benar mendengar (sima’) dari Ashim bin Kulaib atau tidak?. Kesendirian Syarik dari ‘Ashim dan hanya hadits ini saja Syarik meriwayatkan dari ‘Ashim lebih menguatkan bahwa Syarik sedang “tadlis” dalam periwayatan ini. kecuali ada riwayat penegas bahwa Syarik sima’ (mendengar).

Untuk cacat ini tidak didapatkan dalam riwayat yang lain dengan menggunakan shigoh Haddatsany atau Akhbarony[21]) baik dari riwayat Imam Abu Daud, Imam Nasa’i, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Imam Al-Baihaqy, Ibnu Khuzaimah, atau Ad-Daroquthny,

Riwayat Syarik yang dikeluarkan oleh para imam itu semuanya menggunakan shigoh “An”[22]).

Dan dengan bukti:

  • Bahwa hanya Syarik saja yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim bin Kulaib sedangkan banyak murid-murid ‘Ashim yang masyhur dalam hal ini tidak ada yang meriwayatkan.
  • Bahwa Syarik meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib hanya hadits ini saja menunjukkan ‘Ashim bukanlah syaikhnya (guru) bagi Syarik.
  • Bahwa Syarik menggunakan shigoh “An” diragukan riwayatnya apakah Syarik benar-benar mendengar langsung dari ‘Ashim, atau apakah Syarik pernah bertemu dengan ‘Ashim?

Maka dengan 3 bukti tersebut hemat penulis Syarik dalam hadits ini sedang tadlis Isnad [23]).

Dan seorang Mudallis tidak bisa diterima haditsnya hingga ada penjelasan dari riwayat lain bahwa rowi itu benar-benar mendengar langsung.

Kesimpulan Hadits Wail Bin Hujr r.a.

Ibnu Hajar telah tepat hanya memberikan penilaian kepada Syarik dengan “Shoduq (Jujur) tapi banyak salah”, Dan dia takhlith (pikun) diakhir hidupnya semenjak menjadi Hakim di Kufah.

Dan pantas pula Imam Muslim hanya memakai riwayat Syarik sebagai Mutabi’ karena rowi yang shoduq bahkan selalu salah jika tafarrud (menyendiri) tidak kuat dan tidak diterima alias dloif (lemah).

Imam Ad-Daroquthny juga telah tepat mengatakan :“Syarik tidak kuat jika meriwayatkan sendirian”.

Dengan demikian Hadits Syarik ini memiliki 3 Kelemahan, yakni:

  1. Tafarrud rowi yang shoduq dan banyak salah seperti Syarik adalah lemah dan Munkar.
  1. Syarik bukan rowi yang masyhur dari periwayatan ‘Ashim bin Kulaib (Ghorib) seperti yang dikatakan Yazid bin Harun dan Imam At-Turmudzy.
  1. Syarik sedang tadlis dalam riwayat ini.

Dari kelemahan diatas, Hadits Wail dari jalan Syarik ini dloif termasuk Dloif Goir Muhtamal [24]) (yakni hadits yang tidak memungkinkan bisa saling menguatkan dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi) dikarenakan tafarrud-nya rowi seperti Syarik dalam riwayat ini Ghorib (asing).Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim Bin Kulaib kecuali Syarik. Dan hanya hadits ini saja Syarik meriwayatkan dari ‘Ashim. Riwayat Syarik seperti ini masuk katagori hadits munkar.

Demikianlah pembahasan hadits wail bin hujr dari Syarik. Wallahu A’lam.

  1. MUTABI’

Hadits riwayat Hammam dari Syaqiq dari ‘Ashim satu-satunya Mutabi’ bagi Syarik adalah mursal[25])dan terdapat rowi yang Majhul (tidak dikenal). sehingga tidak diperhitungkan oleh imam Ad-Daroquthny, Imam Al-Baihaqy, dan imam-imam yang lain seperti yang sudah di bahas sebelumnya dimana Imam Ad-Daroquthny dalam hal ini dengan tegas mengatakan:

“Telah menyendiri dengan hadits ini Yazid bin Harun dari Syarik, dan tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari ‘Ashim bin Kulaib selain Syarik, sedangkan Syarik itu bukan perawi yang kuat jika tafarrud (menyendiri)”. [26])

Berikut Hadits Hammam dari Muhammad bin Juhadah dan dari Syaqiq dari ‘Ashim yang di duga Mutabi’’nya bagi Syarik.

حدثنا محمد بن معمر حدثنا حجاج بن منهال حدثنا همام حدثنا محمد بن جحادة عن عبد الجبار بن وائل عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم فذكر حديث الصلاة قال فلما سجد وقعتا ركبتاه إلى الأرض قبل أن تقع كفاه قال همام وحدثني شقيق قال حدثني عاصم بن كليب عن أبيه عن النبي صلى الله عليه وسلم بمثل هذا وفي حديث أحدهما وأكبر علمي أنه في حديث محمد بن جحادة وإذا نهض نهض على ركبتيه واعتمد على فخذه [27])

Dari Abdul Jabbar bin Wail, dari ayahnya (Wail); Sesungguhnya Nabi saw. -Maka Wail menerangkan hadits shalat- ia berkata, “Maka ketika beliau hendak sujud kedua lututnya kena pada tanah sebelum kedua telapak tangannya.”

Hamam berkata: Syaqiq telah menghabarkan kepada kami, Ashim bin Kulaib telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya (Kulaib bin Syihab), dari Nabi saw:..

Hadits Hammam dari jalan Muhammad bin Juhadah Munqothy (terputus) karena Abdul Jabbar hakikatnya tidak mendengar dari ayahnya.

وقال البخاري : لا يصح سماعه من أبيه, مات أبوه قبل أن يولد

Imam Al-Bukhory (196-256H) berkata: “Tidak sah “sima” (periwayatan Abdul Jabbar) dari Bapaknya, (karena) bapaknya meninggal dunia sebelum beliau di lahirkan”. [28])

Kemudian dari jalan Syaqiq:

Syaqiq :Majhul (tidak dikenal)[29]).

Ibnu Hajar : “Syaqiq Abu Laits Majhul tingkat 6” [30])

Dan juga riwayat Hammam dari Syaqiq ini Mursal dimana Kulaib tidak bertemu dengan Nabi SAW.

Kemudian terdapat jalan ummu yahya:

وأخبرنا أبو بكر بن الحارث الفقيه أنبأنا أبو محمد بن حيان, ثنا محمد بن يحيى , ثنا أبو كريب , ثنا محمد بن حجر , ثنا سعيد بن عبد الجبار , عن عبد الجبار بن وائل , عن أمّه عن وائل بن حجر قال : صليت خلف ريول الله صلى الله عليه وسلم ثمّ سجد وكان أول ما وصل إلى الأرض ركبتاه — رواه البيهقي

Wail bin Hujr telah berkata: “Aku shalat di belakang Rasul saw kemudian ia sujud dan adalah yang mulai dahulu jatuh ke tanah adalah kedua lututnya” [31])

Dalam hadits ini terdapat 3 illat:

Imam Adz-Dzahabi (673-748H) : “Muhammad bin Hujr itu banyak kemunkaran [32])

Sa’id bin ‘Abdul Jabbar bin Wail bin Hujr: “dia itu tidak kuat” [33])

Kesimpulan Mutabi’

Dari pembahasan riwayat diatas disimpulkan hadits-haditsnya dloif dan Goir Muhtamal (tidak mungkin saling menguatkan antara hadits satu dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi) dikarenakan hadits Hammam yang Mursal terdapat Syaqiq (rowi yang majhul/tidak dikenal) dan jalan Ummu Yahya terdapat Muhammad bin Hujr rowi yang Munkar dan Juga Sa’id bin Abdul Jabbar lemah.

Rowi yang Munkar[34]) dan Majhul Ain[35]) termasuk Hadits Goir Muhtamal. (tidak mungkin saling menguatkan antara hadits satu dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi).

Telah tepat sekali Imam Ad-Daroquthny mengomentari bahwa Syarik dalam haditsnya Tafarrud tidak ada Mutabi’ baginya.

  1. SYAWAHID 
  • Hadits Anas r.a

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا العباس بن محمد الدوري ثنا العلاء بن إسماعيل العطار ثنا حفص بن غياث عن عاصم الأحول عن أنس قال : رأيت رسول الله صلى الله عليهوسلم كبر فحاذى بإبهاميه أذنيه ثم ركع حتى استقر كل مفصل منه في موضعه ورفع رأسه حتى استقر كل مفصل منه في موضعه ثم انحط بالتكبير حتى سبقت ركبتاه يديه [36])

Dari Anas bin malik, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. bertakbir… Kemudian beliau turun (ke sujud) sambil bertakbir sehingga kedua lututnya mendahului kedua tangannya.”

Pada sanad hadits Anas r.a ini terdapat rowi yang bernama Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor, berikut komentar para imam tentangnya :

  1. Imam al-Hakim (321 – 405 H) mengomentari hadits ini:

هذا إسناد صحيح على شرط الشيخين ولا أعرف له علة ولم يخرجاه.

“Isnad hadits ini shohih atas syarat Al-Bukhory muslim dan aku tidak mengetahui ada illat (cacat) disini sehingga Al-Bukhory muslim tidak meriwayatkannya”.[37])

  1. Abu Hatim (195-277 H) mengomentari: “Hadits Anas ini Munkar”.[38])
  2. Imam Hakim (321 – 405 H) telah meriwayatkannya, namun dalam talkhis mustdarok Al-Hakim imam Adz-Dzahaby (673–748H) diam.[39])
  3. Ibnu Qoyyim (691 هـ751 هـ) berkata: “Al-‘Ala itu majhul[40])
  4. Ibnu Hajar Al-‘Asqolany (773 هـ852 هـ):“Dan Al-‘Ala telah menyelisihi riwayat Umar bin Hafs bin Ghiyats dalam hadits ini. dan Umar bin Hafs ini adalah yang lebih Tsabit dari arah riwayat bapaknya (Hafs). Dan Hadits riwayat umar bin Hafs adalah Al-Mahfutdz (terpelihara)” [41])

Untuk riwayat Umar bin Hafs yang “mahfudz” seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar lihat pembahasannya setelah ini pada bagian ke 2.

  1. Al-Mubaroqfury (1283-1353): “Imam Hakim telah keliru dalam menshohihkannya, Imam Al-Baihaqy mengatakan : Al-‘Ala tafarrud dan dia majhul, begitupun Imam Ad-daroquthny mengatakan: Al-‘Ala tafarrud dan dia majhul”.[42])
  2. Imam Al-Baihaqy (384-458هـ): “Al-‘Ala menyendiri”[43])
  3. Imam Ad-Daroquthby (306هـ385هـ) : “Al-‘Ala menyendiri”[44])

Penjelasan:

Kaidah tafarrud nya seorang rowi yang lemah yang telah menyelisihi rowi yang lebih tsiqoh dikatakan Munkar adalah kaidah yang telah disepakati secara umum. Sehingga ketika Abu Hatim memberikan komentar bahwa “Hadits Annas ini Munkar” adalah sudah tepat dan tidak ada hubungannya dengan beliau itu termasuk Ahli Jarh yangTasyaddud (kritikus yang keras) sehingga penilaiannya di tinggalkan.

Penilaian Abu Hatim ini adalah penilaian ilmiah yang didapatkan dari kaidah-kaidah ilmu hadits. Dan perkataan Abu Hatim ini dijelaskan dengan baik oleh Ibnu Hajar.

Komentar Al-Hakim dengan memasukan hadits Anas r.a ini sebagai shohih atas syarat syaikhoin dinilai keliru dan lemah dikarenakan kitab Mustadrok yang disusunnya pada kenyataannya terdapat banyak hadits maudlu dan hadits hadits munkar. Dan Al-Hakim sudah terkenal dengan “Tasahulnya” (lunak) dalam penilaian rowi.

Imam Adz-Dzahaby mengomentari juga tentang hakim:

قال الذهبي:”ففي المستدرك جملة وافرة على شرطهما، وجملة كبيرة على شرط أحدهما. لعل مجموع ذلك نحو النصف، وفيه نحو الربع مما صح سنده وفيه بعض الشيء، أو له علة. وما بقي، وهو نحو الربع، فهو مناكير وواهيات لا تصح، وفي بعض ذلك موضوعات، قد أعلمت بها لما اختصرت هذا المستدرك، ونبهت على ذلك

Adz-Dzahaby berkata :“Dalam kitab Al Mustadrak terdapat banyak hadits yang sesuai kriteria Al-Bukhory dan Muslim atau salah satunya. Jumlahnya sekitar separuh dari isi kitab.Seperempatnya memiliki sanad yang shohih, sedangkan sisanya (seperempat lagi) merupakan hadits-hadits munkar yang lemah dan tidak shohih, yang sebagiannya maudhu’ (palsu).Aku mengetahuinya ketika aku meringkas kitab Al Mustadrak ini dan aku tunjukkan mengenainya.[45])

Kesimpulan Hadits Anas r.a :

Hadits Anas ini terdapat beberapa imam yang“Men-Jarh” (mengkritik) keberadaan Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor dengan beberapa penjelasan:

  1. Bahwa Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor ini Majhul (menurut Ibnu Qoyyim).
  2. Bahwa Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor ini Tafarud (menurut Imam Baihaqy dan Imam Ad-Daroqutny)
  3. Bahwa Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor ini Munkar (menurut Abu Hatim)
  4. Bahwa Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor ini (munkar) karena telah menyelisihi riwayat yang lebih terpelihara dari jalan Umar bin Hafs (menurut Ibnu Hajar)

Adapun yang memberikan Ta’dil (pujian) terhadap Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor adalah hanya Imam Hakim itupun tidak secara langsung penilaian terhadap Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor dan tidak ada penjelasan dari Imam Hakim siapa Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor itu? Kenyataannya beliaupun mengatakan “Aku tidak mengetahui ada illat”.

Dengan melihat komentar Ibnu Qoyyim, Ibnu Hajar, Abu Hatim dan kaidah Jarh dan Ta’dil yang sudah dikutip sebelumnya, maka Hadits Anas ini dloif dikarenakan 4 sebab:

  1. Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor Majhul.
  2. Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor Tafarrud (Menyendiri)
  3. Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor Munkar.
  4. Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor Menyelisihi riwayat Umar bin Hafs yang lebih Tsiqoh dan Tsabtun.

Rowi yang Majhul dan Munkar termasuk Hadits Goir Muhtamal (tidak mungkin saling menguatkan antara hadits satu dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi)

  • Hadits Sa’ad r.a:

أخبرنا أبو طاهر ، نا أبو بكر ، نا إبراهيم بن إسماعيل بن يحيى بن سلمة بن كهيل ، حدثني أبي ، عن أبيه ، عن سلمة ، عن مصعب بن سعد ، عن سعد قال : ” كنا نضع اليدين قبل الركبتين ، فأمرنا بالركبتين قبل اليدين.” [46])

“Kami (dulu) menyimpan kedua tangan (dulu) sebelum kedua lutut.Maka (setelah itu) kami di perintahkan (menyimpan) kedua lutut dulu sebelum kedua tangan”.

Dalam sanad ini terdapat 3 illat Yaitu: Ibrahim bin Isma’il dan Ayahnya.

Untuk Ibrahim bin Isma’il bin Yahya dan Ismail bin Yahya (Meninggal 258 H) terdapat beberapa komentar:

  1. Abu Hatim (195-277 H): “(Ibrahim) di tinggalkan (Matruk). [47])
  2. Adapun Abu Zur’ah (200H-264 H) mengatakan : “Ia itu lemah.[48])
  3. Imam Ad-Daroquthny (306 هـ385 هـ) :“Isma’il bin Yahya Matruk”.[49])
  4. Ibnu Hajar (773 هـ852 هـ): “Ibrahim bin Ismail bin Yahya dan Ayahnya adalah Dloif”

Ibnu Hajar mengatakan: “……. kalaulah hadits ini (Hadits Sa’ad) shohih maka sudah dari dulu perdebatan selesai, akan tetapi (kenyataannya) Ibrohim bin ismail dan ayahnya adalah lemah/dloif”,..[50])

Untuk Yahya bin Salamah (meninggal 179 H) sebagai rowi yang ketiga lemah. Berikut komentar para Imam :

  1. Imam Abu Hatim (195-277 H): “Yahya seorang munkarul Hadits”
  2. Imam An.Nasa’I (214 هـ303 هـ): “Yahya Ditinggalkan (Matruk)”[51])
  3. Imam Nawawi (631هـ676هـ) mengomentari dalam karya kitabnya Kitabu Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab Juz 3 hal.396 cetakan Maktabah Al-Irsyad:

“…….. Riwayat ibnu Khuzaimah ini dianggap hadits Nasikh (penghapus) dari hadits mendahulukan tangan, demikianlah shahabat-shahabat kami bersandar, akan tetapi (hadits) ini tidak bisa dipakai hujjah karena Dloif,…” [52])

Kesimpulan Hadits Sa’ad :

Dengan melihat komentar dan penilaian para imam juga Kaidah Jarh dan Ta’dil maka hadits Sa’ad ini dloif karena mengandung 3 illat (cacat) yaitu:

  1. Ibrahim bin Ismail haditsnya Matruk (ditinggalkan) dan Lemah sekali riwayatnya.
  2. Ismail bin Yahya juga haditsnya Matruk.
  3. Yahya bin Salamah seorang Munkarul Hadits dan Matruk

Hadits yang matruk dan munkar termasuk Hadits Goir Muhtamal ((tidak mungkin saling menguatkan antara hadits satu dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi).

  • Hadits Abi Hurairoh r.a dari jalan Abdullah bin Sa’id:

وقد أخبرناأبو عبد الله الحافظ ، أنبأ أبو بكر بن إسحاق الفقيه ، أنبأ الحسن بن علي بن زياد ، ثنا إبراهيم بن موسى ، ثنا ابن فضيل، عن عبد الله بن سعيد ، عن جده ، عن أبي هريرة عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : إذا سجد أحدكم فليبدأ بركبتيه قبل يديه ، ولا يبرك بروك الجمل. [53])

Dari abu Hurairoh dari Nabi saw: “apabila kalian hendak sujud maka mulailah kedua lutut dulu sebelum kedua tangannya,.dan janganlah kalian sujud seperti turunnya unta”. [54])

Dalam hadits ini terdapat Abdullah bin Sa’id bin Abi Sa’id Kaisan Al-Maqbury :

  1. Abu Qudamah (w 241H) :“Yahya bin Sa’ied telah mendloifkan Abdullah bin sa’id”. [55])
  2. Abu Qudamah dari Yahya bin sa’id: “Abdullah bin Sa’id adalah seorang pendusta”.
  3. Abu Tholib dari Ahmad bin Hambal (164241هـ): “Abdullah bin Sa’id adalah Munkaru Al-Hadits dan Matruku Al-Hadits.”
  4. Abbas Ad-Daury (185-271 H) dari Yahya bin Ma’in: “Ia itu dloif”.
  5. Abu Hatim (195-277 H) :“Ia itu tidak kuat”.
  6. Al-Bukhory (196-256H) :“Ia itu banyak ditinggalkan”.[56])

Kesimpulan Hadits Abi Hurairoh dari Jalan Abdullah bin Sa’id :

Hadits Abi Hurairoh r.a dari jalan Abdullah bin Sa’id dloif dan Goir Muhtamal (tidak mungkin saling menguatkan antara hadits satu dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi) karena ada rowi pendusta yang riwayatnya ditinggalkan dan riwayatnya munkar yaitu Abdullah bin Sai’id.

  • Atsar Ibnu Mas’ud

أنّ الحجاج بن أرطاة أخبرهم قال : قال إبراهيم النخعي : حفظ عن عبد الله بن مسعود أن ركبتيه كانتا تقعان على الأرض قبل يديه. [57])

Dari Ibrahim An-Nakho’i: “Adalah Abdullah bin Mas’ud kedua lututnya jatuh ke tanah sebelum kedua tangannya”

Terdapat Al-Hajjaj bin Artho (meninggal 145 H) dloif. Berikut beberapa komentar para imam :

  1. Ahmad bin Hambal (164241هـ): “Hajjaj bin Artho termasuk Huffadz/Penghafal.dan ia termasuk seorang Mudallis”
  2. Yahya Ibnu Ma’in(lahir 158H): “beliau tidak kuat. Termasuk shoduq tapi Mudallis”.
  3. Yahya bin Ya’la :“Zaidah memerintahkan kami untuk meninggalkan hadits Hajjaj bin Artho”
  4. Imam An-Nasa’i (214 هـ303 هـ): “beliau tidak kuat”.
  5. Imam Ad-Daroquthny (306 هـ385 هـ) dan yang lainnya: “Haditsnya tidak bisa diambil Hujjah”.
  6. Syu’bahberkata :“Tulislah hadits dari Hajjaj dan Ishaq karena ia termasuk penghafal”. [58])
  7. Yahya bin Sa’id (120H – 198H) :“Hajjaj bin Artho dan Muhammad bin Ishaq sama saja, aku tinggalkan Hajjaj dan aku tidak pernah mencatat hadits darinya sama sekali”
  8. Ya’qub bin Syaibah (182- 262 H) :“Pada haditsnya hajjaj itu banyak “Idltirob” (kegoncangan), dan dia itu Shoduq”.
  9. Ibnu Khuzaimah (223-311H): “Aku tidak berhujjah darinya kecuali jika ia berkata: “Akhbarony”.
  10. Ibnu Hibban (270 هـ354 هـ) :“Ibnu Mubarok, Ibnu Mahdy, Yahya Al-Qothon, Yahya bin Ma’in, dan Ahmad bin Hambal meninggalkan haditsnya (Matruk)” [59])

Kemudian hal yang penting lagi secara ilmiah Ibrahim An-Nakho’i (46 – 96H) ini tidak berjumpa dengan Abullah bin Mas’ud (meninggal 32 H).Karena itu atsar ini munqothi (terputus).[60])

Kesimpulan Atsar Ibnu Mas’ud :

Atsar Ibn Mas’ud ini Dloif (lemah) karena terdapat 4 Illat (cacat) :

  1. Hajjaj bin Artho termasuk rowi yang tidak kuat
  2. Hajjaj bin Artho termasuk mudallis dan dalam periwayatan ini menggunakan shigoh “Qola”.
  3. Hajjaj bin Artho
  4. Atsar ini Munqothy/terputus karena hakikatnya Ibrahim An-Nakho’i tidak berjumpa dengan Abdullah bin Mas’ud.

Atsar Ibnu Mas’ud dloif yang Goir Muhtamal (tidak mungkin saling menguatkan antara hadits satu dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi) karena ada rowi hajjaj bin Artho yang riwayatnya Matruk (ditinggalkan).

  • Atsar Umar bin Khottob

Dari Ibrahim, bahwasanya Umar menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.” ـ[61])

Atsar dari Waqi’ dari A’masy ini Munqothy karena Ibrohim an-Nakho’i tidak bertemu dengan Umar bin Khotob, sama kedudukannya dengan Atsar Ibnu Mas’ud dari pembahasan sebelumnya, namun khusus riwayat ini masih satu jalur dengan riwayat Umar bin Hafs yang mahfudz yang di katakan oleh ibnu hajar (penjelasannya khusus di bagian ke 2)

Demikian seluruh riwayat yang bisa penulis temukan dari rujukan kitab-kitab yang dijadikan pegangan oleh pendapat yang mendahulukan lutut daripada tangan.

 

KESIMPULAN PENDAPAT LUTUT DULU

Setelah dipaparkan semua riwayat yang berhubungan dengan turun hendak sujud dengan lutut dulu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Hadits Syarik dloif, dia tidak ada Mutabi’ kesendiriannya tidak kuat seperti apa yang dikatakan oleh Imam Baihaqy[62]), Imam Ad-Daroquthny[63]), Imam Al-Mubaroqfury[64]), dan Imam Al-Bany.[65])karena dia seorang rowi yang derajatnya hanya sampai Shoduq, sering salah dan Mukhtalith. Tafarrud nya (menyendirinya) seperti Syarik dalam hadits ini termasuk Ghorib.dan hadits Ghorib termasuk hadits Munkar seperti apa yang dikatakan Imam Ahmad. Karena itu hadits Wail adalah Hadits Dloif Goir Muhtamal (tidak memungkinkan untuk saling menguatkan dengan hadits yang lain menjadi Hasan Lighoirihi).
  1. Hadits Syarik termasuk Hadits Mudallas karena Syarik seorang Mudallis dan Shigoh “An-anah”nya diragukan apakah ia mendengar atau tidak? Atau apakah ia pernah bertemu dengan ‘Ashim atau tidak? Tidak ada riwayat yang bisa menjelaskan sima’nya (mendengar) atau liqonya (bertemu).
  1. Riwayat Hammam dari 2 jalan yakni : Muhammad bin Juhadah dan Syaqiq. Dan riwayat dari jalan Ummu yahya. Semuanya dloif dan Goir Muhtamal (tidak mungkin untuk saling menguatkan menjadi Hasan Lighoirihi) walaupun Mursal karena terdapat Syaqiq yang Majhul dan dari jalan Ummu Yahya terdapat Muhammad Bin Hujr rowi yang Cacat rowi yang Jahalatu ‘Ain dan Munkar termasuk Hadits Dloif Goir Muhtamal.

Jahalatu Ain [66]) sebab tertolaknya periwayatan seorang rowi, berbeda dengan Jahalatu Al-hal , karena (jahalatu Ain) itu termasuk sebab-sebab Dlo’fu Syadid (lemah sekali) dalam riwayat. Riwayat Majhulu Ain tidak bisa menguatkan dan menjadi kuat antara Mutabiat dan Syawahid (yakni riwayat-riwayat yang menjadi saksi dan pengikut).Dan tidak dianggap (riwayat Jahalatu Ain) itu dalam Metode Tarjih. Berbeda dengan riwayat Majhulu Hal (Jahalatu Al-Hal) atau Mastur [67]) maka Jahalatu Hal termasuk sebab-sebab Dloif yang Muhtamal (memungkinkan untuk naik derajatnya). Apabila ada Mutabi’ (yang muhtamal atau shohih) dalam periwayatannya hilanglah kelemahannya, dan naik derajat haditsnya ke Hasan (ligoirihi) dengan dukungan banyak jalan periwayatan yang lainnya. Dan ini adalah sebuah keputusan (kesimpulan) para ahli Mustholah dari kebanyakan Ulama-ulama Muta’akhir, adapun pendapat para ulama Mutaqoddim (terdahulu) terjadi perselisihan”[68])

  1. Tiga hadits syawahid yang dipakai hujjah oleh pendapat ini semuanya Dloif (lemah).
  2. Hadits Anas r.a :Al-‘Ala bin Ismail Al-‘Athor tafarrud (menyendiri), majhul dan Munkar karena Menyelisihi rowi yang lebih Tsabit. (Goir Muhtamal)
  3. Hadits Sa’ad Matruk dan Munkar (Goir Muhtamal)
  4. Hadits Abi Hurairoh dari jalan Abdullah bin Said Maudu’, Matruk dan Munkar (Goir Muhtamal)

الضعف المتعلّق بالضبط إما أن يكون محتملا خفيفا غير شديد وهو ما ينجبر بالمتابعة, وإما أن يكون شديدا غير خفيف, فلا تفيد المتابعة ولا يفيد غيره بالمتابعة, ولا حتى في الترجيح. فمن الضعف المحتمل المتعلق بالضبط : سوء الحفظ الذي لا يصل إلى ترك الحديث الراوي أو اختلاط الثقة. ومن الضعف الشديد المتعلق بالضبط : النكارة , والشذوذ , وهما متعلقان بالمخالفة لمن هو أرجح وأضبط , والمتروك بسبب سوء حفظه , وكثرة مخالفته.

“Dloif yang berhubungan dlobt (hafalan) itu : 1. Ada yang Muhtamal (memungkinkan) dan dloif-nya ringan. Dan (dloif) ini dapat menjadi baik dengan Mutaba’ah (riwayat yang lain). 2. Ada yang dloif-nya kuat. dimana Mutaba’ah (riwayat yang lain) tidak bisa memberi faidah (menguatkan) dan juga yang lainnya tidak bisa memberi faidah (menguatkan) dengan Mutaba’ah. Sekalipun dalam tarjih.

Dari dloif muhtamal (yang memungkinkan bisa terangkat) diantaranya: lemah hafalan yang tidak sampai haditsnya ditinggalkan, atau takhlith-nya rowi yang tsiqoth. Dan dari dloif ghoir muhtamal (yang tidak memungkinkan saling menguatkan) diantaranya: rowi yang munkar dan Syad (cacat). Kedua cacat ini berhubungan dengan rowi yang menyelisihi rowi yang lebih baik dan kuat. Dan juga termasuk rowi yang matruk dengan sebab hafalan yang buruk dan banyak menyelisihi (riwayat yang lain).[69])

Kesimpulan Akhir tidak ada tuntunan yang riwayatnya shohih sampai ke Nabi saw tentang tata cara turun hendak sujud dengan Lutut.

 

Wallahu A’lam bishowab.

Bersambung ke bagian 2 Riwayat Isroil Yang Mushohhaf dan Umar bin Hafs Sebagai Jawaban Atas Kemungkaran Riwayat Anas a.s

Bagian 3 Pembahasan Riwayat Tangan Dulu Yang Juga Lemah.


[1]    Teks Asli Versi Al-Jami’ Al-Kabir Litirmdizy Juz 1:306 Cetakan: Daru Al-Gorb Al-Islamy

[2]    Hasan bin ‘Aly Al-Hulwany: Tsiqotun. Lihat Tahdzibu Al-Kamal Juz 6 hal. 259

[3]    Imam At-Tirmidzy : Al-Jami’u Al-Kabiru Li-tirmdizy Juz I hal. 306 no. hadits 268 cetakan : Daru Al-Ghorb Al-Islamy

[4]    Kitab Sunnan Ad-Daroquthny Hal. 150 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[5]    Kitab Sunan Al-Baihaqy Cetakan: Majlis Dairatu Al-Ma’arif Kitab Shalat Hal.99 Juz 2

[6]    Kitab Mizanu Al-I’tidal Fi Naqdi Ar-Rijal Juz 3 hal. 373 karya Imam Ad-Dzahaby Cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[7]    Kitab Tahdzibu Al-Kamal Jilid 4 Hal.273 cetakan: Al-Faruq Al-Haditsah Littiba’ah Wa An-Nasr

[8]    Kitab Al-Mughni fid Dhu’afa; Imam Adz-Dzahaby. Juz 1 hal.468 cetakan: Daru Al-Kutubi Al-Islamiyyati. dan juga kitab Tahdzibu Tahdzibu Al-Kamal Jilid 4 Hal.272 dan 273 cetakan: Al-Faruq Al-Haditsah Littiba’ah Wa An-Nasr

[9]    Kitab Mizanu Al-I’tidal Fie Naqdie Ar-Rijal: karya imam Ad-Dzahaby Juz 3 Hal. 373 Cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah)

[10]  Kitab Tahdzibu Tahdzibu Al-Kamal Jilid 4 Hal.272 dan 273 cetakan: Al-Faruq Al-Haditsah Littiba’ah Wa An-Nasr

[11]  Kitab Tahdzibul Kamal, Juz 12 hal.471; Mizanul I’tidal, Juz 3 hal.373

[12]  Kitab Al-Mughni fid Dhu’afa, Juz I hal.297. Dan dalam kitab ad-Dhu’afa wal Matrukin karya Ibnul Jauzi Juz 2 hal.39 dengan redaksi لَهُأَغَالِيْطُ (Syarik banyak salah)

[13]  Kitab Taqribu At-Tahdzib: Ibnu Hajar Al-‘Asqolany hal. 207 no. 2787 cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[14]  Seorang rowi yang menyamarkan sanad seolah-olah mendengar.

[15] Kitab At-Tabyin Li Asmai Al.Mudallisin: Karya Ibnu ‘Ajami Asy-Syafie hal 33 Cetakan Daru Al-Kutub Al-Ilmiyyah. Kitab Ahkamu Al-Marosil ha.107. Kitab Thobaqot Al-Mudallisin Juz 1 hal. 33 : Karya Ibnu Hajar.

[16]  Hemat penulis demikian, melihat komentar Yazid bin Harun yang dapat riwayat ini dari Syarik mengatakan bahwa hanya hadits ini saja Syarik meriwayatkan dari ‘Ashim.

[17]  Kitab Shohih Muslim; Muqoddimah hal. 5-6. Cetakan: Daru Al-Mughny

[18]  kitab Syarhu Lughoti Al-Muhaddits: Syaikh Thoriq ‘Aud hal.321 Cetakan: Maktabah Ibn Taimiyyah.

[19]  Kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 179-180 cetakan: Daru Ad-Diyai

[20]  Rowi yang menyamarkan sanad seolah-olah mendengar.Kitab Ulumu Al-Hadits Li-Ibni As-Sholah hal. 73

[21]  Haddatsany atau Akhbarony adalah lambang periwayatan yang menunjukkan seorang mudallis benar-benar “Sima” (mendengar).

[22]  Maksudnya lambang periwayatan dengan menggunakan “An” yang suka digunakan oleh seorang mudallis. Di ragukan apakah rowi ini mendengar atau tidak dari gurunya.

[23]  Yaitu: seorang rowi meriwayatkan dari pertemuannya dengan seseorang dimana rowi itu tidak mendengar langsung darinya tapi seolah-olah rowi itu mendengar darinya. kitab Ulumu Al-Hadits Li-Ibni As-Sholah hal. 73

[24]  Lihat kitab Syarhu Lughoti Al-Muhaddits: Syaikh Thoriq ‘Aud hal.326 Cetakan: Maktabah Ibn Taimiyyah.

[25]  Yaitu riwayat yang terputus sanadnya.Dari tabi’ien langsung ke Nabi.

[26]  Kitab Sunnan Ad-Daroquthny Hal. 150 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[27]  Teks asli versi kitab Sunan Abi Daud Juz 1 hal. 368 cetakan: Daru Ibni Hajm .

[28]  Kitab Tahdzibu At-Tahdzib: Ibnu Hajar Juz 2 hal.470. cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[29]  Kitab Mizanu Al-I’tidal Fi Naqdi Ar-Rijal Juz 3 hal. 384

[30]  Kitab Taqribu At-Tahdzibi; Ibnu Hajar. Hal.209

[31]  Kitab As-Sunanu Al-Kubro Lilbaihaqy: hal 143 Juz 2 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[32]  Kitab Al.Mughny Fi Ad-Dlu’afa hal 280 Juz 2 cetakan: Daru Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah

[33]  Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal: Jilid 10 halaman 521-522 cetakan: Muassasatu Ar-Risalah. Juga kitab Ad-Dlu’afa Linnasai, 265

[34]     Kitab Nuzhatu An-Nadzor Fie Taudihi Nukhbati Al-Fikari Fie Mustholahi Ahli Al-Atsari karya Ibnu Hajar Al-‘Atsqolany hal. 112 cetakan: Maktabati Al-Mulki Fahdi Al-Wathoniyyati Atsnai An-Natsri

[35]     Kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 55

[36]  Teks asli versi riwayat Al Baihaqi : Kitab As-Sunan Al-Kubro Lil-Baihaqy Juz 2 Hal 143. cetakan Darul Kutub Al.Ilmiyah

[37]     Kitab Al-Mustadrok ‘Ala Shohihain. Al-Hakim Juz 1 Kitab Shalat halaman 226. Cetakan Daru Al.Ma’rifah

[38]     Masih kitab yang sama halaman yang sama.

[39]     Kitab Lisanu Al.Mizan. Ibnu Hajar. Juz 5 halaman 462-463 cetakan: Maktabu Al-Mathbu’ati Al-Islamiati

[40]     Masih kitab yang sama halaman yang sama.

[41]     Kitab Lisanu Al.Mizan. Ibnu Hajar. Juz 5 halaman 462-463 cetakan: Maktabu Al-Mathbu’ati Al-Islamiati

[42]     Kitab Mir’at Al-Mafatih, Ubaidillah Al-Mubaroqfury. Juz 3 hal.220 Cetakan: Jami’ah As-Salafiyah

[43]     Kitab As-Sunan Al-Kubro Lilbaihaqy. Kitab Shalat hal.143 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[44]     Kitab Sunan Ad-Daroquthny.Juz 2.Hal. 150-151 cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[45]     Kitab Tarikh Al.Islam Fi Tarjamati Al-Hakim

[46]  Teks Asli versi riwayat Al Baihaqi : Kitab As-Sunan Al-Kubro Lil-Baihaqy Hal 144. cetakan Darul Kutub Al.Ilmiyah

[47]     Kitab Al-Mughny Fi Dlu’afa, Imam Adz-Dzahaby Hal.17 Juz 1 cetakan: Daru Al-Kutubi Al-Ilmiyyati

[48]     Kitab sama dengan keterangan no. 82

[49]     Kitab Mizanu Al-I’tidal, Imam Adz-Dzahaby hal. 417 Juz 1 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[50]     Teks asli Kitab Fathu Al-Barri. Ibnu Hajar. Jilid 3 hal.20 kitab Adzan. Cetakan Daru Thoibah

[51]     No.1 dan 2 Kitab Mizanu Al-I’tidal, Imam Adz-Dzahaby hal. 184 Juz 7 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah)

[52]     Teks Asli Kitabu Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab Lisyierozy. Juz 3 hal.396 cetakan Maktabah Al-Irsyad

[53]  Teks Asli versi riwayat Al Baihaqi : Kitab As-Sunan Al-Kubro Lil-Baihaqy Juz 2 Hal 143-144. cetakan Darul Kutub Al.Ilmiyah

[54]     Lihat rujukan kitabnya pada bab sebelumnya.

[55]     Kitab Dlu’afaau Al-‘Aqily: 102

[56]     No.2 s.d no.6 Lihat di kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asma’I Ar-Rijal Jilid 15 hal.31 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah. Lihat juga Kitab Tahdzibu At-Tahdzib Juz 2 hal.345 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[57]  Teks Asli versi kitab Syarhu Ma’any Al-Atsar; Imam At-Thohawi Juz 1 hal.256 Cetakan: ‘Alimu Al-Kutubi

[58]     No.1 s.d no.6 Lihat di kitab Mizanu Al-I’tidal, Imam Adz-Dzahaby hal. 197-198 Juz 2 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[59]     No.7 s.d no.10 Lihat di kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 1 hal.356-357 cetakan : Muassasatu Ar-Risalah.

[60]     Kitab Siyaru A’lami An-Nubalai : Syamsuddin Ad-Dzhaby Juz 1 hal.76 cetakan: Muassatu Ar-Risalah. Kitab Thobaqotu Ibni Sa’ad Juz 6 hal.283

[61]  Teks asli versi kitab Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah; Juz 2 hal. 489 cetakan : Syarikatu Dari Al-Qiblati

[62]     Kitab As-Sunanu Al-Kubro Lilbaihaqy: hal 142 Juz 2 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[63]     Kitab Sunnan Ad-Daroquthny Hal. 150 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[64]     Kitab Tuhfatu Al-Ahwadzy Juz 2 hal.134 Cetakan : Daru Al-Fikri

[65]     Kitab Irwau Al-Gholily Juz 2 hal.75-76 cetakan : Al-Maktabu Al-Islamy

[66]     Jahalatu ‘Ain atau Majhulu ‘Ain adalah: rowi yang tidak dikenal (Majhul) tidak ada biografinya. Lihat kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 52 cetakan : Daru Ad-Diyai

[67]     Majhulu Hal atau Mastur adalah : rowi yang dikenal keberadaannya tapi kosong dari kritikan dan pujian. . Lihat kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 50

[68]     Kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 55

[69]     Kitab Taisiru Dirosati Al-Asanid; Amr Abdul Mun’iem Salim hal. 75

[70]     Kitab Al-Jami’u Al-Kabiru Li-tirmdizy Juz I hal. 307 cetakan : Daru Al-Ghorb Al-Islamy

[71]     Kitab As-Sunanu Al-Kubro Lilbaihaqy: hal 142 Juz 2 cetakan: Daru Al-Kutub Al-Ilmiyah

[72]     Kitab Sunnan Ad-Daroquthny Hal. 150 Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[73]     Kitab Tuhfatu Al-Ahwadzy Juz 2 hal.134 Cetakan : Daru Al-Fikri

[74]     Teks asli Kitab Fathu Al-Barri. Ibnu Hajar. Jilid 3 hal.20 kitab Adzan. Cetakan Daru Thoibah

[75] Lihat kitab Nahyu ash-Shuhbah ‘an an-Nuzul bi ar-Rukbah

[76]     Kitab Lisan al-‘Arab; Ibnu al-Manzhur. Cetakan: Ihyau At-Turots Al-‘Aroby. Juz 6 hal.123

[77]     Teks asli kitab Mawarid azh-Zham’an ilaa Zawa’id Ibn Hibban pada Muqoddimahnya.

[78]     Lihat kitab Syarhu Lughoti Al-Muhaddits: Syaikh Thoriq ‘Aud hal.389 Cetakan: Maktabah Ibn Taimiyyah.

[79]     Inbau Al-Ghumr bi Anbai Al-‘Umr; Ibnu Hajar Juz 2 hal.310 Cetakan: Ihyau At-Turotsi Al-Islamy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *