Lutut Dulu atau Tangan Dulu?, Ketika Turun Hendak Sujud (bag.terakhir)

Pada bagian terakhir ini perlu diketahui bagaimana para ulama dahulu berpendapat  tentang turun hendak sujud yang terbagi dalam dua pendapat besar. Pendapat dan perkataan para ulama ini tentunya bukanlah Hujjah yang bisa dijadikan dalil, namun hanya sebagai Khazanah (perbendaharaan) ilmu untuk mengetahui bagaimana para ulama terdahulu menyikapi tentang tema ini. dan ini sudah masuk wilayah ijtihad mereka.

Pendapat Lutut Dulu

  1. Imam Asy-Syafie (150-204H): [1])
    assyafie

Imam Asy-Syafie berkata : “Dan Aku suka untuk memulai takbir dengan berdiri, dan turun ditempatnya untuk sujud, kemudian yang pertama kali diletakkan ke tanah adalah kedua lututnya, kemudian kedua tangannya, kemudian wajahnya. Dan apabila wajah diletakkan lebih dulu daripada kedua tangan, atau kedua tangan lebih dulu daripada kedua lututnya maka yang demikian itu aku benci, (akan tetapi) tidak perlu di ulang (shalatnya) dan tidak perlu sujud sahwi. Dan seseorang itu sujud atas tujuh (anggota badan), yaitu: wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua telapak kaki”.[2])

  1. Imam An-Nawawi (631-676H): [3])

nawawi

Imam Nawawi berkata: “Dan adapun sempurnanya sujud, maka Sunnahnya awal ketika meletakkan ke tanah hendak sujud adalah kedua lututnya, kemudian kedua tangannya, kemudian hidungnya dan dahinya. Dan takbir dimulai bersamaan dengan turun (hendak sujud)”. [4])

 Muhammad Ibnu Sirin (w110H): [5])

ibn sirrin

Mahdy bin Maimun berkata: “Aku melihat Ibnu Sirin meletakkan kedua lutut (dulu) sebelum kedua tangannya”.[6])

 

  1. Ahlu Kufah: [7])

 قيل لعبد الله ما تقول قال كله طيب وقال أهل الكوفة يختارون الأول

Dikatakan kepada Abdullah: apa pendapatmu? Ia berkata: “Semuanya baik”. Dan Ia berkata: “Penduduk negri Kufah memilih yang pertama (yaitu lutut dulu)”. [8])

  1. Imam At-Thohawi (229-321H: [9])

 وهو قول أبي حنيفة وأبي يوسف ومحمد رحمهم الله تعالى

“Dan ini (mendahulukan lutut dulu) adalah pendapat imam Abu Hanifah dan Abi Yusuf dan Muhammad” [10])

  1. Ibnu Qudamah (541-620H):

ويكون أول ما يقع منه على الأرض ركبتاه ثم يداه، ثم جبهته وأنفه

Ibnu Qudamah berkata: “Dan yang pertama kali diletakkkan ke tanah (lantai) adalah kedua lututnya kemudian kedua tangannya kemudian dahinya dan hidungnya” [11])

  1. Ibnu Ahmad Mardawy (w 885): [12])

قوله)) فيضع ركبتيه، ثم يديه))، هذا المذهب، وعليه الأصحاب، وهو المشهور عن أحمد

Ibnu Qudamah berkata: “Dan ucapannya ((Maka ia meletakkan kedua lututnya kemudian kedua tangannya)) ini adalah pendapat Shahabat-shahabat (Madzhab Hambaly) dan pendapat ini Masyhur dari Imam Ahmad”

  1. Ibnu Aj-Jauzy (w 597H): [13])

السنة أن يضع ركبتيه قبل يديه إذا سجد.

Ibnu Aj-Jauzy berkata: “Adalah sunnah meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya apabila (hendak) sujud”.

 

Pendapat Tangan Dulu

  1. Imam Auza’i (88-157H): [14])

وقال الأوزاعي : أدركت الناس يضعون أيديهم قبل ركبهم

Auza’i berkata: “Aku dapatkan orang-orang menempatkan tangan-tangan mereka sebelum lutut-lututnya”.[15])

  1. Imam Malik (93-179H):

قال مالك : هذه الصفة أحسن في خشوع الصلاة. وبه قال الأوزاعي

Telah berkata Imam Malik: “Shifat ini (Turun dengan tangan dulu) adalah lebih bagus dalam kekhusyuan shalat. Dan begitu pula Imam Auja’ie berpendapat”.[16])

  1. Ibnu Hazm (w 456H) :

وفرض على كل مصل أن يضع إذا سجد يديه على الأرض قبل ركبتيه ولابد

Ibnu Hazm berkata: “Dan di wajibkan atas setiap orang muslim yang shalat untuk meletakkan kedua tangannya ke tanah (lantai) sebelum kedua lututnya (tidak boleh tidak) [17])

  1. Ibnu Sayyid:

أحاديث وضع اليدين قبل الركبتين أرجح

Ibnu Sayyid berkata: “Hadits-hadits meletakkan kedua tangan (dulu) sebelum kedua lutut adalah lebih baik”. [18])

  1. Ibnu Hajar (773هـ852 هـ):

وهو أقوى من حديث وائل

“Hadits ini (mendahulukan tangan) lebih kuat dari hadits wail bin hujr (mendahulukan lutut)” [19])

  1. Syaikh Al-bany (1333-1420H):

وهذا سند صحيح رجاله كلهم ثقات رجال مسلم غير محمد بن عبد الله بن الحسن وهو المعرف بالنفس الزكية العلوي وهو ثقة كما قال النسائى وغيره وتبعهم الحافظ في (التقريب).

“Dan (Hadits) ini Rowi-rowinya (riwayat mendahulukan tangan dulu) semua tsiqoth dan semuanya para rowi muslim kecuali Muhammad bin Abdullah yang dikenal dengan jiwa yang suci, namun dia tsiqoth sebagaimana pendapat An-Nasa’i dan yang lainnya diikuti juga oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya (Taqribu At-Tahdzibi)”.[20]

 

Demikianlah pendapat-pendapat para ulama dahulu menyikapi permasalahan ini. Pendapat-pendapat diatas baik pendapat lutut dulu atau tangan dulu penekanannya lebih kepada bentuk Afdloliyyah (lebih utama) dan sunnah seperti halnya pendapat Imam Asy-Syafie lebih utama memilih lutut dulu, dan apabila tangan dulu shalatnya tidak batal dan tidak perlu ada sujud sahwi. Namun khusus Ibnu Hazm dengan perkataannya bisa kita fahami bentuk pendapatnya wajib mendahulukan tangan, apabila lutut dulu shalatnya batal.

Khusus Imam Al-Bukhory sebenarnya penulis tidak mendapatkan di kitab-kitab sumber dari pendapatnya langsung apakah lebih memilih lutut dulu atau tangan dulu, hanya saja dengan mengutip atsar Ibnu Umar tentang mendahulukan tangan di kitab Shohihnya dengan sanad mu’allaq[21]) maka menurut Ibnu Hajar ini adalah bentuk terjemah yang menjelaskan makna global hadits pada bab itu. (Fiqih Imam Al-Bukhory). [22])

Kemudian untuk perkataan Ibnu Hajar dengan mengatakan bahwa hadits Abu Hurairoh yang mendahulukan tangan lebih kuat daripada hadits Wail bin Hujr yang mendahulukan lutut, juga hemat penulis ini adalah bentuk pilihan Ibnu Hajar dari faham fiqihnya. Wallahu A’lam.

Demikian beberapa perkataan para ulama yang bisa kita temukan dalam kitab-kitabnya. Pendapat-pendapat ini perlu disikapi oleh kita bahwa perselisihan itu tidak bisa dihindari manakala dalam kenyataannya terdapat riwayat-riwayat yang tidak bisa di kompromikan sehingga terjadi dua pendapat besar dalam memahami masalah ini.

Kedua pendapat besar ini tentunya berlandaskan riwayat-riwayat yang mereka dapatkan dari sumber-sumber kitab primer (Mashodir Ashliyyah) seperti kitab Sunan Abi Daud, At-Tirmidzy, Nasa’i dll.

Mudah-mudahan dengan perbedaan ini dapat lebih meningkatkan kepekaan kita akan pentingnya untuk saling menghargai. dan yang terpenting memotivasi kita untuk terus menuntut ilmu dan  mengggali dimana titik titik perbedaan itu terjadi dan mana yang menurut kita lebih bisa dipertanggung jawabkan berdasarkan ilmu yang kita miliki.

Wallahu A’lam Bishowab.


 

[1]    Imam Asy-Syafie termasuk ulama madzhab yang 4 (Imam Hanafie, Imam Maliki, Imam Asy-Syafie dan Imam Hambaly). Beliau berguru kepada Imam Malik di Hijaz. Dan sempat juga belajar fiqih di Iraq bersama ulama-ulama bermadzhab Hanafi. Beliau gabungkan fiqih diantara keduanya. Di Baghdad Iraq beliau memiliki pendapat sebagai Qoul Qodimnya. Dan ketika di mesir beliau juga memiliki pendapat sebagai Qoul Jadidnya. Dan kitab Al-Umm adalah kitab yang paling populer di kalangan para ulama bermadzhab Asy-Syafie.

[2]    Teks Asli Kitab Al-Umm; Imam Asy-Syafie. Juz 2 hal.259 cetakan: Daru Al-Wafa’i.

[3]    Imam Nawawi adalah seorang ulama bermadzhab Syafi’ie. Banyak kitab yang beliau susun. Diantaranya kitab Roudlotu At-Tholibin, Irsyadu Thullab, At-Taqribu Wa At-Taisiru. Riyadlu As-Sholihin, Al-Arba’una An-Nawawiyyah. Dan Al-Majmu Syarhu Al-Muhadzzab.

[4]    Teks Asli kitab Raudlotu At-Tholibien. Imam Nawawi; Juz 1 hal.364 cetakan: Daru ‘Alimi Al-Kutubi

[5]    Muhammad bin Sirin termasuk generasi tabi’ien

[6]    Teks asli kitab Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah; Juz 2 hal.490 cetakan : Syarikatu Dari Al-Qiblati

[7]    Penduduk Kufah. Kufah merupakah salah satu kota di Iraq.

[8]    Kitab Sunan Ad-Daromy Juz 1 hal.348 cetakan: Qodimy Kutubi Khonah

[9]    Imam At-thohawi adalah penyusun kitab Syarhu Ma’ani Al-Atsar.

[10] Kitab Syarhu Ma’ani Al-Atsar Juz 1 hal.256

[11] Kitab Al-Mughny; Ibnu Qudamah. Juz 2 hal.193. cetakan: Daru ‘Alim Al-Kutub

[12] Kitab Al-Inshof Fie Ma’rifati Ar-Rojihi Mina Al-Khilafi; Ibnu Ahmad Al-Mardawy. Juz 2 hal.60. Cetakan: Daru Al-Kutubi Al-‘Ilmiyyati.

[13] Kitab At-Tahqiq Fie Masaili Al-Khilafi; Ibnu Aj-Jauzy. Juz 2 hal.306. Cetakan: Daru Al-Wa’ie Al-‘Aroby

[14] Nama aslinya Abdurrahman bin Amr. termasuk ahli fiqih dari negeri Syam

[15] Kitab Tuhfatu Al-Ahwadzy Bisyarhi; Juz 2 hal.135 cetakan: Daru Al-Fikri

[16] Kitab Fathu Al-Barry; Ibnu Hajar. Juz 3 hal.20. Cetakan: Daru Thoyyibah.

[17] Kitab Al-Muhalla; Ibnu Hazm. Juz 3 Shifat Shalat. Cetakan: Idarotu At-Thiba’ati Al-Muniriyyati.

[18] Kitab Nailu Al-Author; Imam Asy-Syaukany. Juz 2 hal.284. Cetakan: Maktabah Musthofa

[19] Kitab Bulughul Maram Min Adillati Al-Ahkami Hal.115 cetakan: Maktabatu Ar-Rusydi; Ta’liq Ahmad bin Sulaiman

[20] Kitab irwau Al-Gholil Juz 2 hal.78 cetakan : Al-Maktabu Al-Islamiyu

[21] Rowi-rowinya tidak disebutkan. Ditulis langsung dari Shahabat Nabi saw.

[22] Lihat di Kitab Fathu Al-Barri. Ibnu Hajar. Jilid 3 hal.20 kitab Adzan. Cetakan Daru Thoibah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *