KEMBALINYA KHILAFAH ‘ALA MINHAJI NUBUWWAH (Haditsnya Lemah)

Tidak ada orang Islam yang tidak ingin kekhilafahan model khulafa’u rosyidin datang lagi terwujud di muka bumi ini kecuali orang Islam yang dipertanyakan hakikat keislamannya. Hanya saja keinginan itu bentuk gerakannya berbeda-beda. di kalangan para pejuang syariah dan Khilafah, sangat terkenal hadits yang menerangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jalan kenabian). Hadits yang terkenal ini Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA yang dalam sanadnya terdapat kritikan dari beberapa ulama yang menshohihkan, menghasankan dan mendloifkannya.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada pengusung kembalinya ke-khilafahan, berikut takhrij yang telah penulis susun:

Jalur 1: (H.R. Ahmad no.18319)

حدثنا سليمان بن دوود الطيالسي حدّثني داود بن إبراهيم الواسطي حدثني حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير قال : كنا قعدوا في المسجد مع رسول الله ﷺ وكان بشير رجلا يكف حديثه فجاء أبوثعلبة الخشني فقال : يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله ﷺ في الأمراء، فقال حذيفة : أنا أحفظ خطبته فجلس أبو ثعلبة فقال حذيفة : قال رسول الله ﷺ : ” تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة. ثم سكت

“Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”

(Dikeluarkan oleh: Imam Ahmad; Musnad Imam Ahmad no.18319 hal.162 Jilid 14 cet.Darul Hadits)

Inilah hadits yang di yakini akan datangnya bentuk pemerintahan islam model Khilafah yang menempuh jejak kenabian. Pada Jalur 1 ini urutan masanya adalah: Masa kenabian >> Masa kekholifahan (khulafau Rosyidin >> Masa Kedzoliman dan Kedzoliman >> Masa kembalinya Khilafah lagi.

Dan pada riwayat ini susunan sanadnya adalah: Sulaiman bin Daud Thoyalusy << Daud bin Ibrohim Al-Wasithy << Habib bin Salim << Nu’man bin Basyir << Khudzaifah r.a<< Nabi saw:

Penilaian para rowi:

  • Khudzaifah : Shahabat Nabi saw
  • Nu’man r.a : Shahabat Nabi Shigor.
  • Habib bin Salim : Tsiqotun (Abu Hatim) Namun Fihi Nadzor/Dloif (Al-Bukhory) [1]
  • Daud bin Ibrohim Al-Wasithy : Tsiqotun (Ibn Aby Hatim) [2]
  • Abu Daud At-Thoyalisy: Tsiqotun, Hafidzun ada kekeliruan dalam hadits-haditsnya (ibn Hajar) [3]. Tsiqotun dan Shoduq (Ahmad bin Hambal dan Nasai).[4]

Jalur ini fokus kritiknya ada pada 2 rowi yaitu Habib bin Salim dan Abu Daud At-Thoyalisy.

Rowi Pertama: Habib bin Salim:

Imam Ibn Hatim telah mentautsiqnya (menilai terpercaya) adapun Imam Al-Bukhory menilainnya dloif dengan perkataannya: “Fihi Nadzor”[5].

Perkataan “Fihi Nadzor” ini dinilai oleh para ulama rowinya lemah sekali. Imam Ad-Dzahaby mengomentari:

قوله: فيه نظر، وفي حديثه نظر، لا يقوله البخاري إلا فيمن يتهمه غالبا

 “Perkataan dia (Imam Bukhari) : “fihi nazhar” (dia perlu dipertimbangkan), dan “fii hadiitsihi nazhar” (haditsnya perlu dipertimbangkan), tidaklah diucapkan oleh Imam Bukhari kecuali mengenai orang-orang yang dia tuduh [tidak kredibel] pada galibnya.” (Imam Adz Dzahabi, MizanuI I’tidal, 1/3-4).

Terdapat sanggahan dari pernyataannya “Fihi Nadzor” ini bahwa padanya tidak selalu otomatis rowinya lemah sekali. Dengan bukti bahwa imam At-Turmudzy pernah bertanya tentang hadits bacaan surat Al-A’la dan surat Al-Ghosyiyah pada dua sholat ied dan Jum’at dimana Imam Al-Bukhory menshohihkannya padahal dalam sanadnya ada Habib bin Salim. Berikut riwayatnya:

حدثنا قتيبة، حدثنا أبو عوانة، عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر، عن أبيه، عن حبيب بن سالم، عن النعمان بن بشير، أنّ النبي ﷺ كان يقرأ في العيدين، والجمعة، بـــ (سبح اسم ربّك الأعلى) و (هل أتاك حديث الغاشية) وربما اجتمعا في يوم فيقرأ بهما.

سألت محمدأ عن هذا الحديث. فقال: هو حديث صحيح. [6]

Disini Imam At-Turmudzy bertanya kepada Imam Al-Bukhory tentang Hadits yang di bawakannya. Imam Bukhory menjawab: haditsnya shohih.

Pada pernyataan ini di simpulkan bahwa pernyataan Al-Bukhory dengan perkataannya: “Fihi Nadzor” tidak selalu rowinya lemah.

Sanggahan diatas hemat penulis lemah dengan sebab:

  1. Imam Al-Bukhory menilai shohih tidak berarti rowi didalamnya shohih, termasuk Habib bin salim. Terbukti Imam Al-Bukhory mengatakan: “Hadits itu shohih”. Dan tidak mengatakan: “Sanadnya Shohih”. Ini disebabkan karena riwayat tentang bacaan Surat Al-A’la dan Al-Ghosyiah pada dua hari raya itu banyak jalur periwayatannya bukan melalui Habib saja. Berikut jalur-jalur periwayatan tentang hadits ini:
  • Hadits Riwayat Abu ‘Utbah r.a:

أخرج ابن أبي شيبة وابن ماجة عن أبي عتبة الخولاني أن النبي كان يقرأ في الجمعة بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

  • Hadits Ibn Abbas r.a:

وأخرج ابن ماجة عن ابن عباس أن النبي كان يقرأ في العيد بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

  • Hadits Samaroh bin Jundab r.a:

وأخرج أحمد وابن ماجة والطبراني عن سمرة بن جندب أن النبي كان يقرأ في العيدين بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

  • Hadits Anas bin Malik r.a:

وأخرج البزار عن أنس أن النبي كان يقرأ في الظهر والعصر ب سبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

Dengan begitu, pernyataan Imam Al-Bukhory dengan mengatakan Hadits itu Shohih tidak berarti tertuju pada sanad yang dibawa Al-‘turmudzy itu yang padanya terdapat rowi yang bernama Habib bin Salim namun masih memungkinkan penilaiannya itu pada derajat haditsnya secara I’tibar.

2. Terdapat pernyataan dari Imam Al-Bukhory sendiri yang tidak diperlukan penjelasan lagi makna “Fihi Nadzor”. Dimana Imam Al-Bukhory mengatakan:

كل من لم أبين فيه جُرْحَةً فهوعلى الاحتمال ، وإذا قلت : فيه نظر ، فلا يحتمل

“Setiap rowi yang tidak aku jelaskan Jarh-nya (Kritikannya) di kitab (At-Tarikh) maka rowi itu bagiku Muhtamal. Dan apabila aku berkata (di kitab Tarikh): “Fihi Nadzor”, maka rowi itu Goir Muhtamal”.[7]

Keterangan:

  • Muhtamal         : Rowi dloif yang memungkinkan haditsnya untuk bisa saling menguatkan dengan hadits lain.
  • Goir Muhtamal : Rowi dloif yang tidak memungkinkan haditsnya untuk bisa saling menguatkan dengan hadits lain

Dari pernyataannya ini jelas, setiap pernyataan dari Al-Bukhory dengan perkataannya: “Fihi Nadzor” adalah penilaian keras terhadap seorang rowi hingga menurutnya rowi yang ada dalam sanad itu haditsnya lemah sekali, tidak bisa saling menguatkan untuk menjadi hadits hasan lighoirih dengan hadits yang lainnya.

Dari sini bisa kita simpulkan rowi-rowi yang sudah dapat penilaian “Fihi Nadzor” dari Imam Al-Bukhory maka sudah jelas rowi tersebut baginya sudah tidak diperhitungkan dan termasuk katagori Dloif syadid hingga Imam Al-Bukhory menyebutnya rowi tersebut “La Yuhtamal” artinya rowi tersebut tidak memungkinkan untuk dikuatkan oleh hadits yang lain.

Apa yang sudah dinilai oleh Imam Al-Bukhory bahwa rowi itu dloif tentu mungkin saja oleh Imam yang lain dinilai baik, seperti Habib ini, namun hai ini tidak berpengaruh pada hasil penilaiannya, karena masing-masing sudah ada pada wilayah ijtihad para Imam tersebut.

Dari dua penilaian berbeda ini antara Imam Al-Bukhory dan Abu Hatim, penilaian yang mana yang diterima dan penilaian mana yang ditolak?

Rowi ke dua : Sulaiman bin Daud At-Thoyalisy

Abu Daud At-Thoyalisy ini Tsiqoh namun Ibnu Hajar memberikan sedikit tambahan nilai padanya bahwa rowi ini ada kekeliruan dalam hadits-hadits yang dibawanya [8]. Tsiqotun dan Shoduq (Ahmad bin Hambal dan Nasai).[9]

Imam Ahmad ditanya: Apakah dia ada kesalahan? Ia menjawab: “Yuhtamal lahu” (kesalahannya terangkat). [10]

Imam Ibrohim bin Said Al-Jauhary berkata:

أخطأ أبو داود الطيالسي في ألف حديث

Abu Daud At-Thoyalisy keliru pada 1000 hadits”.

Kesimpulan:

Jalur 1 ini yang dibawa oleh Sulaiman bin Daud dari Daud bin Ibrohim dari Habib bin Salim dari Nu’man dari Khuzaifah riwayatnya dloif apabila penilaian Imam Al-Bukhory lebih kuat dari pada Abu Hatim. Dan juga dengan pertimbangan kelirunya Sulaiman. Dan bisa menjadi Hasan apabila penilaian Abu Hatim lebih kuat daripada penilaian Imam Al-Bukhory.

Untuk menentukan penilaian mana yang lebih kuat? Apakah hadits ini hasan atau dloif diperlukan jalur riwayat lain sebagai pembanding. Berikut penjelasan jalur-jalur yang lainnya:

Jalur 2: (H.R.Ath-Thobarony: 6581. H.R. Ibn Aby Syaibah)

حدّثنا محمّد بن جعفر بن أعين : ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا زيد بن الحباب : ثنا العلاء بن المنهال الغنوي : حدّثني مهنّد القيسي –كان ثفة- عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب عن حذيفة بن اليمان قال : قال رسول الله ﷺ: إنكم في نبوة ورحمة، و ستكون خلافة ورحمة، ثم يكون كذا وكذا، ثم يكون ملوكا عضوضا، يشربون الخمور، ويلبسون الحرير، وفي ذلك ينصرون إلى أن تقوم الساعة.

“Kalian )hari ini) ada dalam (masa) kenabian dan rahmat, kemudian (setelahnya masa) Kekholifahan (khulafau Rosyidin) dan rahmat. Kemudian (setelahnya) begini dan begitu,.. Kemudian (setelahnya) kerajaan-kerajaan yang keji, mereka minum minuman Khomr dan memakai pakaian sutra,….”.

(H.R.At-Thobarony; Mu’jam Ausath no.6581 Juz 6 hal.345 cet.Darul Haromain; H.R. Ibn Aby Syaibah; H.R. Ibn A’roby; Al-Mustagfiry. Riwayat diatas adalah riwayat At-Thobarony)

Riwayat At-Thobarony, Ibn Aby Syaibah dan Ibnu A’roby Semuanya bermuara ke: Zaid bin Al-Hubbab<< Al-‘Ala bin Minhal<< Muhannad bin Hisyam<< Qois bin Muslim<< Thoriq bin Syihab r.a<< Hudzaifah r.a<< Nabi saw:

semua Jalur ini Tsiqoth (In Syaa Allah):

  • Hudzaifah r.a: Shahabat Nabi saw
  • Thoriq r.a : Shabat Shigor Tsiqotun. [11]
  • Qois bin Muslim : Tsiqotun (Rijal Al-Bukhori dan Muslim). Yahya bin Ma’in dan Abu Hatim mentsiqohkannya [12]
  • Muhannad bin Hisyam : Al-‘Ijly mengatakan: “Dia orang Kufah Tsiqotun” [13] dan Ibnu Hiban memasukkannya di kitab At-Tsiqoth [14] dan di dalam sanad ibn aby syaibahpun dikatakan “Dia Tsiqoth”.[15]
  • Al-‘Ala bin Minhal : Abu Zur’ah menilainya :”Tsiqotun” [16]. Imam Al-‘Ijly pun menilainya: “Tsiqotun”.[17]
  • Zaid bin Al-Hubbab : Telah dinilai Tsiqoh oleh Ibn Main, ‘Aly bin Madany, Al-‘ijly [18]. Abu Hatim mengatakan: “Shoduq, Sholih”. Imam Ahmad menilain: “Shoduq”. [19].

Riwayat ini Shohih dengan rowi-rowinya yang Tsiqoth in Syaa Allah, pada riwayat ini urutan zamannya yaitu: Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman dan kedzoliman. Titik. dan tidak kita dapatkan penyebutan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Riwayat ke 2 ini jelas tidak sama dengan riwayat sebelumnya pada jalur 1 dari riwayat Sulaiman bin Daud dari Daud dari Habib. Dan apabila di bandingkan kedua riwayat tersebut tentunya jalur ke 2 ini yang diriwayatkan oleh Ibn Aby Syaibah dan Imam Athobarony dari jalan Zaid bin Hubbab adalah Mahfudz (terpelihara) karena rowi-rowi semuanya tsiqoh, adapun riwayat yang dibawa oleh Sulaiman bin daud yang terdapat Habib bin Salim yang di dloifkan oleh Imam Al-Bukhory riwayatnya adalah Munkar atau Syad.

Munkar apabila penilaian Imam Al-Bukhory di ambil bahwa Habib adalah Dloif dan juga kekeliruan hafalan Sulaiman bin Daud.

Syad apabila penilaian Abu Hatim di ambil bahwa Habib adalah tsiqoh dan lemahnya terdapat di Sulaiman yang kadang keliru dari hafalannya.

Kedua penilaian Imam diatas tetaplah riwayat yang dibawa oleh Sulaiman bin daud yang terdapat padanya Habib bin Sulaim adalah lemah (dloif).

Untuk memperkuat penilaian akan lemahnya riwayat Habib ini, berikut jalur ke 3 sebagai syahid bagi jalur 2 yang dibawa oleh Zaid:

Jalur 3 : (H.R.Abu Na’im)

حدّثنا أبو أحمد محمّد بن أحمد ثنا عبد الله بن محمّد بن شيروية وحدّثنا أبو عمرو بن حمدان ثنا الحسن بن سفيان قالا: ثنا إسحاق بن إبراهيم أخبرنا عبد الرزاق ثنا بكاربن عبد الله حدّثني خلاد بن عبد الرحمن أن أبا الطفيل حدّثه أنّه سمع حذيفة يقول : يا أيها الناس ألا تسألوني؟ فإن الناس كانوا يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير، وكنت أسأله عن الشر، إن الله بعث نبيه صلى الله عليه وسلم فدعا الناس من الكفر إلى الإيمان، ومن الضلالة إلى الهدى، فاستجاب له من استجاب، فحيي من الحق ما كان ميتا، ومات بالباطل من كان حيا، ثم ذهبت النبوة فكانت الخلافة على منهاج النبوة، ثم يكون ملكا عضوضا، فمن الناس من ينكر بقلبه ويده ولسانه والحق استكمل، ومنهم من ينكر بقلبه ولسانه كافا يده وشعبة من الحق ترك، ومنهم من ينكر بقلبه كافا يده ولسانه وشعبتين من الحق ترك، ومنهم من لا ينكر بقلبه ولسانه فذلك ميت الأحياء

Hudzaifah berkata: Wahai manusia, tidakkah kalian bertanya kepadaku? Sesungguhnya manusia waktu itu bertanya kepada Rasul saw tentang kebaikan, dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan. Sesungguhnya Allah swt mengutus nabinya saw untuk menyeru orang-orang dari kekufuran kepada keimanan. Dan dari kesesatan kepada petunjuk. Maka terkabullah orang yang memohon dan hiduplah dalam kebenaran yang sebelumnya mati. Dan matilah kebatilan yang sebelumnya hidup. Kemudian lenyaplah kenabian (diikuti) era kekhilafahan atas manhaj kenabian. Kemudian setelah itu muncullah kerajaan yang menggigit (dzolim)……”

(H.R.Abu Na’im; Hilyatul Auliya. Juz 1 hal.274-275; Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah. H.R. Imam Ahmad)

Pada jalur ini penjelasan para rowinya adalah sebagai berikut:

  • Khuzaifah r.a : Shahabat Nabi saw
  • Abu Thufail r.a : Shahabat Nabi saw
  • Khollad bin Abdurrohman : Abu Zur’ah mengatakan: “Tsiqotun” [20]
  • Bakar bin Abdullah : Imam Ahmad dan Yahya binMa’in mengatakan : “dia (Bakar) Tsiqotun” [21]
  • Abdurrozzaq bin Hammam Abu Bakar Ashon’any : Tsiqotun [22] (Penyusun Kitab)
  • Ishaq bin Ibrohim Al-Handzoly: Tsiqotun Hafidzun Mujtahidun [23]
  • Al-Hasan bin Sufyan: Tsiqotun Shohibul Musnad. [24]
  • Abu ‘Amr bin Hamdan: nama Aslinya Muhammad bin Ahmad bin Hamdan Abu ‘Amr: Zahidun Tsiqotun. Imam Muhaddits [25]
  • ‘Abdullah bin Muhammad bin Syirowiyyah: Hafidzun Faqihun Penyusun Mushnaf. [26]. Dalam riwayat ini Ibnu Syirowiyah berserikat dengan Abu ‘Amr bin Hamdan (Maqrun)
  • Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad: nama lengkapnya Muhammad bin Ahmad bin Al-Husein Al-Qosim bin Al-Ghitrify. Imamnya Syaikh Abu Nai’m. Imam Ibn Hajar menilai: “Tsiqotun Tsabtun”.[27]

Jalur ke 3 ini Shohih (In Syaa Allah), Rowi-rowinya Tsiqoh dan sangat kuat. Di riwayat ke 3 ini cukup panjang matannya namun tetap jelas urutan zamannya sama dengan riwayat ke 2, yaitu: Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman dan Kedzoliman. Titik. Dan tidak kita dapatkan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Jalur ke 4 : (H.R. Na’im bin Hamad 233)

حدثنا بقية بن الوليد و عبد القدوس ، عن صفوان بن عمرو ، عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير. عن أبي عبيدة بن الجراح رضي الله عنه – قال أحدهما : قال رسول الله ﷺ : ” أول هذه الأمة نبوة ورحمة ثم خلافة ورحمة ثم ملكا عضوضا وقال أحدهما: عاض وفيه رحمة ثم جبروت صلعاء ليس لأحد فيها متعلق تضرب فيها الرقاب وتقطع فيها الأيدي والأرجل وتؤخذ فيها الأموال

(H.R. Na’im bin Hamad; Kitabu Al-Fitan. hal. 98 no. 233 cet. Maktabah At-Tauhid Al-Qohiroh)

Rowi-rowi diriwayat ini tsiqoh:

  • Abu Ubaidah r.a : Shahabat Nabi saw.
  • Abdurrohman Al-Khodromy : Tsiqotun (Abu Jur’ah, Nasa’I dll) dan Abu Hatim menilai: Sholihul Hadits [28]
  • Shofwan bin ‘Amr As-Saksaky : Tsiqotun (Al-‘iJly, Abu Hatim, Nasai). [29]
  • Abdul Qudus bin Hajjaj : Tsiqotun (Daroquthny, Al-‘Ijly, ibn Hibban) Shoduq (Abu Hatim). [30]
  • Baqiyyah bin Al-Walid : Tsiqotun (Ya’qub, ibn Sa’ad, Abu Zur’ah). Ibnu Hajar menilai beliau Shoduq banyak tadlis [31], disamping itu beliau punya sifat “Ath-Thoroif” yakni apabila meriwayatkan dari rowi dloif atau majhul, dimana riwayatnya tidak diterima. Namun disini baqiyyah tdk ada masalah karena:
  1. Berserikat (maqrun) dengan Abdul Quddus yg tsiqoh dan juga
  2. Meriwayatkan dari rowi tsiqoh.

Hanya saja riwayat ini munqothy (terputus) antara Abdullah bin Jubaer ke Abu Ubaidah r.a. namun riwayatnya terangkat menjadi hasan karena terdapat syawahid di jalur 2 dan 3 yang urutan masanya sama.

Jalur ini in Syaa Allah Hasan. Apa yg diriwayatkan pada jalur ini?

Di riwayat ke 4 ini juga sama dan jelas urutan zamannya sama dengan riwayat ke 2 dan 3, yaitu Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman yang keji memenggal leher dan memotong tangan. Titik dan tidak kita dapatkan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Kemudian kita masuk jalur ke 5

Jalur ke 5 : (H.R. Bazzar)

حدثنا محمد بن مسكين قال: نا يحيى بن حسان قال: نا يحيى بن حمزة عن أبي وهب عن مكحول عن أبي ثعلبة عن أبى عبيدة بن الجراح قال : قال رسول الله ﷺ : ” إنّ أول دينكم بدأ نبوة ورحمة ثم تكون خلافة ورحمة ثم يكون ملكا وجبرية يستحل فيها الدم “.

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya permulaan agama kalian itu dimulai era kenabian dan rahmat kemudian setelahnya Khilafah (khulafau Rosyidin) kemudian setelahnya kerajaan Jabariyyah yang menghalalkan darah”.

(H.R. Al-Bazzar; Al-Bahrul Zakhor Musnad Al-Bazzar. Juz 4 hal.108 no.1282 cet. Maktabah Al-‘Ulum Wal Hukm)

Juga diriwayatkan oleh Ath-Tobarony dan Ad-Daromy semua bermuara ke : Yahya bin Hamzah<< Abu Wahab<< Makhul<< Abu Tsa’labah r.a<< Abu Ubaidah r.a:

Penjelasan rowi :

  • Abu Ubaidah : Shahabat Nabi saw.
  • Abu Tsa’labah r.a : Shahabat nama aslinya Jartsum bin Natsir.
  • Makhul As-Syamy: Tsiqotun Mursil (Ibn Hajar)[32]. Tsiqotun (Al-‘Ijly) Faqih (Abu Hatim)[33]
  • Abu Wahab (Ubaidillah bin Ubaid) : Shoduq (ibn Hajar).[34]
  • Yahya bin Hamzah : Tsiqotun (Rijal Al-Bukhory dan Muslim).[35]

Semua rowi pada jalur ini baik. Hanya saja rowi yang bernama Makhul terputus ke Abu Tsa’labah, namun Jalur 2 dan 3 yang riwayatnya Shohih dan jalur ke 4 adalah sebagai syahid yang mengangkat derajat hadits ini menjadi hasan.

Di riwayat ke 5 ini juga sama dan jelas urutan zamannya sama dengan riwayat ke 2, 3 dan 4 yaitu Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman yang keji yang suka mengalirkan darah. Titik dan tidak kita dapatkan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Jalur ke 6: (H.R. Muslim):

حدثنا شيبان بن فروخ حدثنا سليمان بن المغيرة حدثنا حميد بن هلال عن خالد بن عمير العدوي قال خطبنا عتبة بن غزوان فحمد الله وأثنى عليه ثم قال أما بعد………………….. وإنها لم تكن نبوة قط إلا تناسخت حتى يكون آخر عاقبتها ملكا فستخبرون وتجربون الأمراء بعدنا.

“…….. Dan sesungguhnya tidak pernah ada kenabian ( dan jalannya ) kecuali ( yang akhirnya ) kenabian itu terlupakan orang sehingga menjadi semata-mata kerajaan duniawi. Oleh sebab itu pada masa akan datang kamu akan mengalami gubernur-gubernur lain setelah kami”.

(HR.Muslim; Shohih Muslim. Kitab Juhdi Wa Roqoiq. Hal 1586 no.2967 cet.Darul Mughny)

Jalur ke 6 riwayat Muslim ini shohih sebagai saksi (Syahid) bahwa setelah kenabian dan kekholifahan para sahabat yang muncul adalah kerajaan dan kenegaraan duniawi.

Jalur ke 7: (H.R.Abu Daud)

حدثنا سوار بن عبد الله، حدثنا عبد الوارث بن سعيد ، عن سعيد بن جمهان ، عن سفينة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “الخلافة النبوة ثلاثون سنة ، ثم يؤتي الله الملك ، أو ملكه من يشاء” .

Nabi saw bersabda: “Khilafah kenabian itu 30 tahun. Kemudian setelahnya Allah mendatangkan era kerajaan”

(H.R.Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 5 hal.27 no.4646 juga no.4647 cet.Daru Ibn Hazm)

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no.6657 dari jalan Ibrohim dari Abdul Warits dari Sa’id.

Jalur ini baik. Berikut penjelasan rowinya:

  • Said bin Jamhan: Shoduq.[36]
  • Abdul Warits bin Sa’id: Tsiqotun Tsabtun. [37]
  • Sawwar bin ‘Abdullah bin Sawwar bin Qudamah: Tsiqotun. [38]

Di riwayat ini jelas bahwa Kekhilafahan Nabawiyyah pada umat Islam itu hanya 30 tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan. Coba kita hitung masa kekhalifahan khulafaur-Rasyidin: Abu Bakar 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun , Ali bin Abi Thalib 6 tahun, maka sempurnalah menjadi 30 tahun. Sedangkan pemimpin sesudahnya pada hakikatnya adalah para raja-raja seperti yang digambarkan pada riwayat-riwayat diatas.

Namun berdasarkan fakta muncul kekhilafahan sepeninggal Khilafah Khulafaurrasyidin (khilafah yang 4) diantaranya adalah khilafah Mu’awiyah sepeninggal Kekhilafahan ‘Ali r.a, kemudian setelahnya khilafah bani umayyah, khilafah bani abbasyiyah dan sampai sekarang beberapa faksi muncul mengatas namakan Khilafah seperti IS. apakah kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Nabi saw bahwa Khilafah Kenabian itu 30 thn?

Itu tidak bertolak belakang. karena seperti yang telah dikutip diatas laffadz “Khilafah ‘Ala Manhaj An-Nubuwwah” itu memang di alamatkan hanya kepada Khilafah khulafaurrasyidin.

Al-hafidz telah memperjelas makna Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah:

حَدِيثِ الْخِلَافَة بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَة لِأَنَّ الْمُرَاد بِهِ خِلَافَة النُّبُوَّة وَأَمَّا مُعَاوِيَة وَمَنْ بَعْده فَكَانَ أَكْثَرُهُمْ عَلَى طَرِيقَة الْمُلُوك وَلَوْ سُمُّوا خُلَفَاء ، وَاَللَّه أَعْلَمُ

“(berdasarkan) hadits khilafah kenabian 30 thn sesungguhnya yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah Khilafah Nubuwwah (Khilafah yang berjalan diatas metode kenabian), adapun Mu’awiyah serta penguasa-penguasa setelahnya yang jumlah mereka sangat banyak berjalan diatas thariqah (tabi’at) al-muluk (raja-raja) walaupun semuanya dinamakan sebagai Khalifah. Wallahu a’lam.“

(Kitab Fathul Bary; Ibnu Hajar. Juz 12 hal. 392 Cetakan: Darul Ma’rifah)

Dengan melihat riwayat-riwayat diatas, penulis melihat bahwa penilaian Imam Al-Bukhory sangat tepat terhadap rowi yang bernama Habib bin Salim dengan mengatakan “Fihi Nadzor”. Seperti yang sudah dibahas diatas, Imam Al-Bukhory yang langsung menjelaskan maksud perkataannya “Fihi Nadzor” ini adalah penilaian yang sangat lemah sekali yang baginya rowi seperti ini tidak bisa dibantu riwayatnya oleh riwayat yang lain dalam tema Hasan Lighoirih. Ditambah rowi yang bernama sulaiman bin daud walaupun tsiqoh namun dikatakan oleh beberapa imam diataranya Imam Ibn Hajar bahwa riwayatnya suka ada kekeliruan.

Kesimpulan:

Dengan melihat 7 Jalur diatas berikut Kesimpulannya:

  1. Jalur ke 2 s.d ke 5 urutan masanya sama yaitu : Masa kenabian >> Masa Kekholifahan >> Masa Kedzoliman dan Kekejian. Titik. Sangat berbeda dengan jalur ke 1 ada tambahan setelahnya kembalinya Masa Kekholifahan ‘Ala minhaji Nubuwwah.
  2. Jalur ke 2 dan jalur ke 3 riwayatnya Shohih dan sangat kuat. Adapun jalur 4 dan jalur 5 riwayatnya Hasan.
  3. Jalur ke 1 peralihan masanya terdapat tambahan kembalinya lagi kekholifahan setelah masa kedzoliman. Dan jalur ke 1 ini tafarrud (menyendiri) tidak kita dapatkan riwayat lagi sekalipun riwayat yang dloif yang menyertainya.
  4. Jalur ke 1 ini disamping berbeda matannya. Juga rowinya terdapat 2 cacat, yaitu: Habib bin Salim : disaat yang lain mentsiqohkan, Al-Bukhry melemahkannya (fihi Nazor). dan Sulaiman bin Daud walaupun Tsiqoh namun dinilai oleh Ibn Hajar (gholat) yakni suka keliru juga dlm periwayatannya.
  5. Dengan 2 cacat pada jalur 1 diatas, Al-Bukhory cukup cerdas memberikan komentarnya “Fihi Nadzor” pada Habib bin Salim, karena memang pada riwayat ini Habib menyalahi 4 jalur yang lain. Atau kemungkinan kedua, kekeliruan riwayat jalur 1 ini ada pada Sulaiman bin Daud walaupn Tsiqoth kadang ia suka keliru dalam hadits.nya. dan terbukti pada periwayatan tema ini riwayatnya menyalahi 4 riwayat yang lain.
  6. Jalur ke 1 ini yang dibawa oleh Sulaiman bin Daud dari Daud dari Habib karena menyalahi 4 jalur yang lain yang Shohih dan jalur ke 6 dan ke 7, maka jalur ke 1 ini Syad atau Munkar.
  7. Syad apabila jalur 1 ini Habib dinilai Tsiqoth oleh aby Hatim.
  8. Dan Munkar apabila jalur ini Habib dinilai Dloif oleh Al-Bukhory.
  9. Riwayat Jalur 1 tentang “kembalinya Kekholifahan baru” setelah masa kedzoliman adalah dloif dengan 2 cacat diatas ditambah riwayatnya Syad dan Munkar.

 

Demikian takhrij hadits tentang kembalinya Kekhilafahan atas Manhaj kenabian. Dengan tidak mengurangi rasa simpati penulis kepada pengusung kekhilafahan penulis menilai hadits yang dibawa oleh Sulaiman bin daud dari daru Daud dari Habib derajat haditsnya dloif.

Adapun hadits-hadits tentang datangnya seorang laki-laki yang adil yang disebut Imam Mahdi di akhir zaman pembahasannya akan di bahas pada judul yang baru di situs ini. In Syaa Allah.

Wallahu A’lam.

Abu Aqsith

Dadi Herdiansah

Pameungpeuk-Bandung Jawa Barat Indonesia


 

[1] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 5 hal.374-375 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[2] Kitab Jarh Wa Ta’dil; Imam Ar-Rozy. hal.407 Juz 3 no. 1865 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

[3] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.406 no.2565 cet.Darul ‘Ashimah

[4] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 11 hal.406 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[5] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 5 hal.374-375 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[6] Kitab ‘Ilal At-Tirmidzy Al-Kabir; Imam At-Tirmidzy. hal.92 No.hadits: 152 cet. Maktabah An-Nahdloti Al-‘Arobiyyati.

[7] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 18 hal.265 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[8] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.406 no.2565 cet.Darul ‘Ashimah

[9] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 11 hal.406 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[10] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 11 hal.406 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[11] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 2 hal.232. Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[12] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 24 hal.83 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[13] Kitab Ma’rifatu Ats-Tsiqoth; Al-‘Ijly. Juz 2 hal.302 no.1807

[14] Kitab Ats-Tsiqoth; Ibnu Hibban; Juz 7 hal 518

[15] Kitab Mu’jam Ausath no.6581 Juz 6 hal.345 cet.Darul Haromain

[16] Kitab Jarh Wa Ta’dil; Imam Ar-Rozy. hal.361 Juz 6 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

[17] Kitab Ma’rifatu Ats-Tsiqoth; Al-‘Ijly. Juz 2 hal.151 no.1287

[18] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 10 hal.45 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[19] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 24 hal.44 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[20] Kitab Jarh Wa Ta’dil; Imam Ar-Rozy. hal.365 Juz 3 no. 1662 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

[21] Kitab Jarh Wa Ta’dil; Imam Ar-Rozy. hal.409 Juz 2 no. 1608 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

[22] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 18 hal.52 cet. Muassasatu Ar-Risalah

 

[23] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.126 no.334 cet.Darul ‘Ashimah

[24] Kitab Lisanul Mizan; Ibn Hajar. Juz 3 hal.52 cet.Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyah

[25] Kitab Lisanul Mizan; Ibn Hajar. Juz 6 hal.499 cet.Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyah

[26] Kitab Siyaru A’lam An-Nubala. Juz 14 hal.166 no.96 cet.Muassasatu Ar-Risalah

[27] Kitab Lisanul Mizan; Ibn Hajar. Juz 16 hal.496 cet.Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyah

[28] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 17 hal.27 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[29] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 13 hal.204 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[30] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 18 hal.239 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[31] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.174 no.741 cet.Darul ‘Ashimah

[32] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.969 no.6923 cet.Darul ‘Ashimah

[33] Kitab Tahdzibu Al-Kamal Fi Asmai Ar-Rijal; Jamaludin Al-Mizzy. Juz 28 hal.472 cet. Muassasatu Ar-Risalah

[34] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.642 no.4348 cet.Darul ‘Ashimah

[35] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.1052 no.7586 cet.Darul ‘Ashimah

[36] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.375 no.2292 cet.Darul ‘Ashimah

[37] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.632 no.4279 cet.Darul ‘Ashimah

[38] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.422 no.2699 cet.Darul ‘Ashimah

28 thoughts on “KEMBALINYA KHILAFAH ‘ALA MINHAJI NUBUWWAH (Haditsnya Lemah)

  1. anis

    Alhamdulillah…dengan membaca artikel ini,saya jadi tahu tentang hadits.mohon kirim copy nya,untuk pelajaran,agar saya bisa membaca & memahami nya.terima kasih

  2. ridwan taufiq

    bismillah..takhrij yang bagus dan dibutuhkan umat mudah2an ana bisa dapet file nya
    jazakalloh khoiron katsiron

  3. Al-Amin

    Maaf saya juga memperoleh penjelasan mengenai ke dho’ifan hadits tsb dan mendapatkan penjelasan seperti ini, saya copy paste kan mohon penjelasan nya sebenarnya bagaimana.:

    hadis tentang bisyarah kembalinya Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini lemah, karena di dalamnya terdapat perawi Habib bin Salim. Perawi ini dituduh tidak kredibel. Alasannya, karena Imam al-Bukhari berkomentar tentang Habib bin Salim ini: fîhi nazhar (ia perlu diteliti).

    Benarkah dengan ungkapan itu Imam al-Bukhari menilai Habib bin Salim perawi dha’if sehingga hadis bisyarah di atas juga dha’if? Jika diteliti dengan seksama ternyata tidak seperti itu.

    Tentang Habib bin Salim, Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan: Habib bin Salim al-Anshari maula an-Nu’man bin Basyir sekaligus penulisnya: Abu Hatim berkomentar, “Tsiqqah.” Al-Bukhari berkomentar, “Tentang dia, harus diteliti (fîhi nazhar).” Abu Ahmad bin ‘Adi berkomentar, “Di dalam matan-matan hadisnya tidak terdapat satu pun hadis mungkar.” Aku [Ibn Hajar] berkomentar, “Al-Ajiri menuturkan dari Abu Dawud, “Tsiqqah.” Ibn Hibban menyebutkannya dalam kitabnya “At-Tsiqqât”. Dia pun disebutkan di sana.” (Lihat: Ibn Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, II/161).

    Al-Hafizh Ibn Hajar juga menyebutkan di dalam Taqrîb at-Tahdzîb poin 1095: Habib bin Salim al-Anshari mawla an-Nu’man bin Basyir sekaligus penulisnya, ia: lâ ba’tsa bihi min ats-tsâlitsah.

    Ibn Hajar juga menyebutkan nama Habib bin Salim, tetapi Habib bin Salim yang lain. Tentang ini, beliau menulis: “Jika ia bukan mawla an-Nu’man [bin Basyir], saya tidak tahu, siapa dia. Al-‘Uqaili telah menolak hadisnya dari an-Nu’man.” (Lihat: Ibn Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, II/161).

    Ibn Abi Hatim di dalam Jarh wa at-Ta’dil mengatakan tentang Habib bin Salim al-Anshari, “Bapakku (yakni Abu Hatim) berkata: Ia tsiqah.”

    Mengenai maksud perkataan Imam al-Bukhari “fîhi nazhar” (harus diteliti) ketikamengomentari Habib bin Salim, tepatnya dalam kitabnya At-Târîkh al-Kabîr (II/318), al-Bukhari pada poin 2606 berkomentar: “Habib bin Salim, mawla (bekas budak) Nu’man bin Basyir al-Anshari, meriwayatkan hadis dari an-Nu’man; juga meriwayatkan [hadis] dari dia: Abu Basyir, Basyir bin Tsabit, Muhammad bin al-Muntasyir, Khalid bin ‘Arfathah dan Ibrahim bin Muhajir. Dia [Habib bin Salim] adalah penulis/sekretaris Nu’man, dia perlu diteliti.” (Lihat: Al-Bukhari, At-Târîkh al-Kabîr, II/318).

    Pada poin ke-3347, ketika Imam al-Bukhari menyatakan bahwa Yazid bin an-Nu’man bin Basyir sebagai sahabat Umar bin Abdul Aziz, beliau mengutip pernyataan Habib bin Salim (yang beliau nilai dengan ungkapan: fîhi nazhar).

    Perkataan al-Bukhari “fîhi nazhar” (dia harus diteliti) ini sudah banyak dijelaskan oleh para ulama. Al-‘Iraqi berkata dalam kitabnya Syarh al-Alfiyah: ”[Perkataan] “fîhi nazhar” (dia harus diteliti) dan “fulan sakatû ‘anhu” (si Fulan telah didiamkan) merupakan dua perkataan yang diucapkan oleh al-Bukhari mengenai periwayat hadis yang hadisnya ditinggalkan.” (Lihat: Al-‘Iraqi, Syarh al-Alfiyah, II/11).

    Adz-Dzahabi berkata dalam mukadimah kitabnya, Mizânu al-I’tidâl: “Perkataan al-Bukhari “fîhi nazhar” (dia harus diteliti) dan ”fî hadîtsihi nazhar” (hadisnya perlu diteliti) tidaklah diucapkan oleh al-Bukhari, kecuali mengenai orang-orang yang dia nilai [tidak kredibel] pada galibnya.” (Lihat: Adz-Dzahabi, Mizânu al-I’tidâl, I/3-4).

    Namun, kutipan di atas juga bisa menunjukkan kaidah umum dari perkataan al-Bukhari “fîhi nazhar” (dia harus diteliti), yang memang menunjukkan lemahnya kredibilitas periwayat hadis, namun bukan berarti hadisnya dha’if.

    Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam Al-Ba’its al-Hatsîts fi Ikhtishâri Ulûm al-Hadîts menjelaskan, bahwa jika al-Bukhari berkata tentang perawi (hadis) sakatû ‘anhu atau fîhi nazhar, itu artinya: fa innahu yakûnu fi adna al-manâzili wa ardâ’iha ‘indahu, lakinnahu lathîf al-‘ibârah fi at-tajrîh (perawi itu ada pada tingkat terendah dan beban terberat bagi al-Bukhari, tetapi (al-Bukhari) menggunakan ungkapan yang halus dalam tajrih (menyatakan jarh).”

    Namun, dalam kasus Habib bin Salim, perkataan al-Bukhari ini bukanlah merupakan jarh yang kemudian melemahkan hadis yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim. Pasalnya, terdapat dua qarinah (indikasi) yang dapat mempertahankan kredibilitas Habib bin Salim dan juga hadis yang dia riwayatkan.

    Indikasi pertama: Al-Bukhari menilai sahih hadis yang di dalamnya ada periwayat Habib bin Salim. Kedua: seorang perawi yang dinilai al-Bukhari dengan kalimat “fîhi nazhar” (dia perlu diteliti) boleh jadi dianggap kredibel oleh ahli hadis lain.

    Indikasi pertama telah ditunjukkan oleh at-Tirmidzi dalam kitabnya Al-‘Ilal al-Kabîr (I/33). Disebutkan, at-Tirmidzi suatu saat pernah bertanya kepada al-Bukhari mengenai suatu hadis. Hadis ini diriwayatkan oleh Habib bin Salim dari Nu’man bin Basyir, bahwa Nabi saw. dalam dua shalat Id dan shalat Jumat telah membaca surat Sabbihisma Rabbikal A’la dan surat Hal Atâka Hadîstul Ghâsiyah; dan bisa jadi keduanya (Id dan Jumat) bertemu pada satu hari dan Nabi saw. membaca kedua surat itu. Al-Bukhari berkomentar, “Huwa hadits shahih (Itu hadis sahih).” (Lihat: At-Tirmidzi, Al-‘Ilal al-Kabîr, I/33).

    Ini jelas menunjukkan bahwa al-Bukhari telah menilai sahih hadis yang perawinya dia nilai sebagai “fîhi nazhar”. Fakta ini menunjukkan, ketika al-Bukhari menilai seorang perawi dengan mengucapkan “fîhi nazhar”, tidaklah selalu berarti hadisnya otomatis lemah (dha’if) dan tak dapat dijadikan hujjah. Contohnya kasus Habib bin Salim ini.

    Yang mungkin menjadi pertanyaan, mengapa al-Bukhari tetap mensahihkan hadis yang perawinya ia komentari dengan ungkapan “fîhi nazhar”? Menurut Khalid Manshur Abdullah ad-Durais, hal itu karena al-Bukhari tidak sampai derajat yakin, bahwa Habib bin Salim telah bertemu (liqâ’) atau mendengar (as-samâ’) hadis dari an-Nu’man bin Basyir. Imam al-Bukhari ragu (syakk), apakah Habib bin Salim pernah bertemu (mendengar) hadis tersebut dari Nu’man bin Basyir (Lihat:Khalid Manshur Abdullah ad-Durais, Mawqif al-Imâmayni al-Bukhari wa Muslim min Isytirath al-Liqâ’ wa as-Samâ’, Maktabah ar-Rusyd, t.t., hlm. 120-121).

    Namun, ketidakyakinan al-Bukhari ini tak berarti ia secara mutlak tak memercayai Habib bin Salim. Dengan mencermati deskripsi al-Bukhari mengenai biografi Habib bin Salim, akan dapat disimpulkan bahwa al-Bukhari sebenarnya mempunyai dugaan kuat (zhann ghâlib), bahwa Habib bin Salim pernah bertemu (liqâ’) atau mendengar (samâ’) dari Nu’man bin Basyir, walau tak sampai derajat yakin.

    Ada dua alasan untuk itu. Pertama: Al-Bukhari menyebut Habib bin Salim adalah mawla (bekas budak). Artinya, dulu Habib bin Salim adalah budak milik Nu’man bin Basyir, lalu Nu’man memerdekakan Habib bin Salim. Jadi, sangat mungkin Habib bin Salim mendengar hadis dari Nu’man bin Basyir. Kedua: Al-Bukhari menyebut Habib bin Salim adalah penulis atau sekretaris Nu’man bin Basyir. Pada galibnya, seorang penulis sering bertemu atau mendengar perkataan dari atasannya. Jadi, sangatlah mungkin Habib bin Salim mendengar hadis dari Nu’man bin Basyir. Kedua alasan inilah kiranya yang menjadikan al-Bukhari tetap menilai sahih hadis yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim (Lihat: Khalid Manshur Abdullah ad-Durais, Mawqif al-Imâmayni al-Bukhari wa Muslim min Isytirath al-Liqâ‘ wa as-Samâ’, Maktabah ar-Rusyd, tt, hlm. 121).

    Indikasi kedua: Seorang perawi yang dinilai al-Bukhari dengan kalimat “fîhi nazhar” bisa jadi tetap dianggap kredibel oleh ahli hadis lainnya. Ini sungguh terjadi dan contohnya banyak.

    Sebagai contoh Habib bin Salim. Meski al-Bukhari menilai dia dengan “fîhi nazhar”, menurut Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn ‘Adi, Abu Hatim, Abu Dawud dan Ibn Hiban, Habib bin Salim dianggap tidak ada masalah. Contoh-contoh lainnya banyak diberikan oleh Syaikh Syuaib al-Arna’uth, yang men-tahqiq kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi (XII/439). Di antaranya adalah sebagai berikut: Pertama, perawi bernama Tamam bin Najih. Al-Bukhari menilai dia: “fîhi nazhar”. Namun, Tamam bin Najih dianggap tsiqah oleh Yahya bin Ma’in. Abu Dawud dan at-Tirmidzi juga tidak meninggalkan hadisnya.

    Kedua, perawi bernama Rasyid bin Dawud ash-Shan’ani. Al-Bukhari menilai dia: “fîhi nazhar”. Namun, Yahya bin Ma’in menganggap dia tsiqah. Ibn Hibban memasukkan namanya dalam kitabnya, Ats-Tsiqât. An-Nasa’i juga meriwayatkan hadis dari dia.

    Ketiga, perawi bernama Tsa’labah bin Yazid al-Hammani. Al-Bukhari menilai dia: “fî hadîtsihi nazhar” (harus diteliti). Namun, an-Nasa’i berkata, dia tsiqah. Ibn ‘Adi mengatakan, “Aku tidak melihat hadisnya mungkar (menyalahi periwayat lain yang lebih tsiqah) dalam kadar yang dia riwayatkan.”

    Demikan seterusnya, banyak sekali.

    Jadi, penilaian al-Bukhari “fîhi nazhar” kepada seorang perawi tidak berarti hadis yang dia riwayatkan secara mutlak tertolak atau selalu tertolak. Pasalnya, bisa jadi para ahli hadis lain menilai perawi tersebut sebagai tsiqah (perawi terpercaya), yang menghimpun karakter ‘adil (taqwa) dan dhabith (kuat hapalannya).

    Apalagi tentang Habib bin Salim ini, ia termasuk rijal dalam Shahîh Muslim. Imam Muslim, salah satu murid Imam al-Bukhari, di dalam kitab Shahih-nya pada hadis nomor 2065, juga meriwayatkan hadis dari Habib bin Salim dari Nu’man bin Basyir tentang Rasulullah saw. yang di dalam dua shalat Id dan shalat Jumat membaca “Sabbihisma Rabbika al-A’lâ” dan “Hal atâka hadits al-ghâsyiyah”.

    Artinya, menurut Imam Muslim, Habib bin Salim al-Anshari memenuhi syarat yang telah beliau tetapkan dalam mukadimah kitab sahih beliau. Karena itu bisa dimengerti mengapa Al-Hafizh Ibn Hajar di dalam Taqrîb at-Tahdzîb menyatakan tentang Habib bin Salim ini: lâ ba’sa bihi (tak ada masalah). As-Sakhawi di dalam kitab Fath al-Mughîts menjelaskan bahwa ungkapan lâ ba’sa bihi menurut ulama ilmu ushul al-hadits secara umum adalah tingkat paling rendah untuk menggolongkan perawi sebagai perawi tsiqah. Ibnu Ma’in, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh Ibn Katsir, juga mengungkapkan hal yang senada.

    Karena itu hadis tetang kembalinya Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah di atas bukanlah hadis dha’if. Al-Hafizh al-‘Iraqi dalam kitab Mahajjat al-Qarbi ilâ Mahabbat al-‘Arab menegaskan bahwa hadis tersebut sahih. Ibrahim bin Dawud al-Wasithi, di-tsiqah-kan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dan Ibnu Hibban, dan rijal sisanya (termasuk) dijadikan hujjah di dalam (kitab) sahih. Al-Haitsami di dalam Majma’ az-Zawâid mengomentari hadis tersebut, “Diriwayatkan oleh Ahmad dalam tarjamah An-Nu’man, dan al-Bazar lebih lengkap darinya dan Ath-Thabrani dengan sebagiannya dalam Mu’jam al-Awsath, dan para perawi (rijâl)-nya tsiqah.”

    Hadis tersebut juga dinilai sahih oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Syuaib al-Arna’uth.

    Dengan demikian anggapan bahwa bisyarah nabawiyah akan kembalinya Khilafah adalah dha’if merupakan anggapan yang tidak benar dan keliru. Apalagi bisyarah akan kembalinya Khilafah itu bukan hanya didasarkan pada satu riwayat Imam Ahmad itu saja. Masih banyak hadis lain yang secara maknawisejalan dengan hadis sahih di atas.

    Kesimpulan

    Kembalinya Khilafah adalah pasti karena merupakan janji Allah dan bisyarah Nabi-Nya. Karena itu menyerang nash-nash syariah, baik al-Quran maupun as-Sunnah, atau memutarbalikkan maknanya demi imbalan dunia yang tidak seberapa, hanya akan sia-sia belaka. Umat Islam pun kini sudah lebih cerdas dan paham tentang Khilafah. Mereka tidak lagi bisa ditipu, siapapun yang menipu mereka.

    Maka dari itu, daripada bersusah-payah menghabiskan energi untuk mengaburkan, menyerang atau membelokkan konsep Khilafah, lebih baik berjuang bersama-sama demi tegaknya kembali Khilafah. Pasalnya, apapun upaya untuk menghalangi tegaknya Khilafah tidak akan pernah berhasil karena melawan janji Allah dan bisyarah Nabi-Nya. Padahal janji Allah dan bisyarah Nabi-Nya itu pasti!

    WalLahu a’lam.

    1. Abu Aqsith Post author

      Apabila dilihat Antara Makalah yang ust copy dengan makalah yang kami, sebenarnya makalah yang kami buat ini adalah jawaban dari makalah yang ust. copy.

      Oleh karena itu kami ulang lagi dengan mempersingkat jawaban sebagai berikut:

      1. Penilaian Imam Al-Bukhory terhadap Habib bin Salim dengan “Fihi Nazhor” adalah penilaian keras darinya yang baginya Habib adalah rowi lemah dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah walau sampai harus sebagai mutabi’ untuk riwayat lain dalam kategori hadits taqwiyah. Imam Al-Bukhory sendiri yang menjelaskan makna “Fihi Nadzor” tersebut:

      كل من لم أبين فيه جُرْحَةً فهوعلى الاحتمال ، وإذا قلت : فيه نظر ، فلا يحتمل

      “Setiap rowi yang tidak aku jelaskan Jarh-nya (Kritikannya) di kitab (At-Tarikh) maka rowi itu bagiku Muhtamal. Dan apabila aku berkata (di kitab Tarikh): “Fihi Nadzor”, maka rowi itu Goir Muhtamal”

      Ket: Muhtamal : rowi lemah yang riwayatnya dapat terangkat oleh riwayat lemah lainnya yang muhtamal pula.
      Goir Muhtamal: rowi lemah yang riwayatnya tidak terangkat dan tidak bisa saling menguatkan dgn riwayat lainnya.

      2. Atas pernyataan tersebut Al-Bukhory istiqomah dalam pendapatnya dengan bukti tidak ada satupun riwayat di kitab Shohihnya menggunakan rowi Habib ini.

      3. Adapun dipertentangkan dengan Imam Muslim bahwa beliau nyatanya memasukkan Habib di kitab Shohihnya di tema Qiro’ah Shalat Jum’at. iya memang benar, namun riwayatnya tidak disimpan dalam riwayat Aslun. riwayatnya hanya di simpan sebagai Syahid dari riwayat yang lainnya.

      berikut beberapa riwayat lain yang mendukungnya:

      Hadits Riwayat Abu ‘Utbah r.a:

      أخرج ابن أبي شيبة وابن ماجة عن أبي عتبة الخولاني أن النبي كان يقرأ في الجمعة بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

      Hadits Ibn Abbas r.a:

      وأخرج ابن ماجة عن ابن عباس أن النبي كان يقرأ في العيد بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

      Hadits Samaroh bin Jundab r.a:

      وأخرج أحمد وابن ماجة والطبراني عن سمرة بن جندب أن النبي كان يقرأ في العيدين بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

      Hadits Anas bin Malik r.a:

      وأخرج البزار عن أنس أن النبي كان يقرأ في الظهر والعصر ب سبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

      Ini artinya Imam Muslim pun tidak sampai menjadikannya rowi andalannya, namun hanya sebagai syahid dan hanya diriwayat ini saja imam muslim memakainya.

      4. Adapun penilaian Imam-imam yang lain seperti Abu hatim dll. yang menilai Habib Tsiqoh, itu tidak jadi masalah, karena pada dasarnya penilaian Imam itu di beberapa rowi memang memiliki perbedaan dalam i’tibar riwayahnya. dan untuk kasus Habib ini penulis berkesimpulan penilaian Al-Bukhory lah yang lebih kuat.

      5. Komentar akhir atas makalah yang ust. kutip bahwa makalah kami dinilai telah mengaburkan atau membelokkan konsep Khilafah, kami terus terang tidak ada niat kesana. kami murni kajian takhrij saja, dan menilai riwayat habib munkar.

      6. Terakhir ana perjelas lagi makna Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah yang telah kami susun diatas bahwa makna khilafah disana adalah kekhilafafhan Shahabat Nabi saw.

      kami kutip lagi makalah kami diatas:

      حدثنا سوار بن عبد الله، حدثنا عبد الوارث بن سعيد ، عن سعيد بن جمهان ، عن سفينة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “الخلافة النبوة ثلاثون سنة ، ثم يؤتي الله الملك ، أو ملكه من يشاء” .

      Nabi saw bersabda: “Khilafah kenabian itu 30 tahun. Kemudian setelahnya Allah mendatangkan era kerajaan”

      (H.R.Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 5 hal.27 no.4646 juga no.4647 cet.Daru Ibn Hazm)

      Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no.6657 dari jalan Ibrohim dari Abdul Warits dari Sa’id.

      Jalur ini baik. Berikut penjelasan rowinya:

      Said bin Jamhan: Shoduq.[36]
      Abdul Warits bin Sa’id: Tsiqotun Tsabtun. [37]
      Sawwar bin ‘Abdullah bin Sawwar bin Qudamah: Tsiqotun. [38]

      Di riwayat ini jelas bahwa Kekhilafahan Nabawiyyah pada umat Islam itu hanya 30 tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan. Coba kita hitung masa kekhalifahan khulafaur-Rasyidin: Abu Bakar 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun , Ali bin Abi Thalib 6 tahun, maka sempurnalah menjadi 30 tahun. Sedangkan pemimpin sesudahnya pada hakikatnya adalah para raja-raja seperti yang digambarkan pada riwayat-riwayat diatas.

      Namun berdasarkan fakta muncul kekhilafahan sepeninggal Khilafah Khulafaurrasyidin (khilafah yang 4) diantaranya adalah khilafah Mu’awiyah sepeninggal Kekhilafahan ‘Ali r.a, kemudian setelahnya khilafah bani umayyah, khilafah bani abbasyiyah dan sampai sekarang beberapa faksi muncul mengatas namakan Khilafah seperti IS. apakah kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Nabi saw bahwa Khilafah Kenabian itu 30 thn?

      Itu tidak bertolak belakang. karena seperti yang telah dikutip diatas laffadz “Khilafah ‘Ala Manhaj An-Nubuwwah” itu memang di alamatkan hanya kepada Khilafah khulafaurrasyidin. adapun khilaffah setelahnya dari Khilaffah Umayyah sampai sekarang bisa saja mengatasnamakan Khilafah namun hakikatnya dinilai bentuk kerajaan.

      Untuk memperkuat pendapat kami, Al-hafidz telah memperjelas makna Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah:

      حَدِيثِ الْخِلَافَة بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَة لِأَنَّ الْمُرَاد بِهِ خِلَافَة النُّبُوَّة وَأَمَّا مُعَاوِيَة وَمَنْ بَعْده فَكَانَ أَكْثَرُهُمْ عَلَى طَرِيقَة الْمُلُوك وَلَوْ سُمُّوا خُلَفَاء ، وَاَللَّه أَعْلَمُ

      “(berdasarkan) hadits khilafah kenabian 30 thn sesungguhnya yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah Khilafah Nubuwwah (Khilafah yang berjalan diatas metode kenabian), adapun Khilafah Mu’awiyah serta penguasa-penguasa setelahnya yang jumlah mereka sangat banyak berjalan diatas thariqah (tabi’at) al-muluk (raja-raja) walaupun semuanya dinamakan sebagai Khalifah. Wallahu a’lam.“

      (Kitab Fathul Bary; Ibnu Hajar. Juz 12 hal. 392 Cetakan: Darul Ma’rifah)

      Dengan melihat riwayat-riwayat diatas, penulis melihat bahwa penilaian Imam Al-Bukhory sangat tepat terhadap rowi yang bernama Habib bin Salim dengan mengatakan “Fihi Nadzor”. Seperti yang sudah dibahas diatas, Imam Al-Bukhory yang langsung menjelaskan maksud perkataannya “Fihi Nadzor” ini adalah penilaian yang sangat lemah sekali yang baginya rowi seperti ini tidak bisa dibantu riwayatnya oleh riwayat yang lain dalam tema Hasan Lighoirih. Ditambah rowi yang bernama sulaiman bin daud walaupun tsiqoh namun dikatakan oleh beberapa imam diataranya Imam Ibn Hajar bahwa riwayatnya suka ada kekeliruan.

      Wallahu A’lam.

  4. حسن الماجالنكاني

    Bismillah.
    Afwan, Ustadz, berkatan dengan kesahihan hadis di atas, ilmu ana masih kurang untuk memahaminya. Tapi, di situs asuhan Syaikh Shalih Al-Munajjid, beliau mengutip pendapat Syaikh Al-Albani yang tidak sampai mendhaifkan hadis ini. Tentu ummat pun banyak yang mengakui ulama sekelas Al-Albani. Ust. Budi Ashari, Lc, yg alumni jurusan hadis univ islam madinah, pun pernah mengutip hadis ini dan tidak mendhaifkan. Hadis ini pun pernah dikutip Syaikh Dr. Muhammad Al-‘Arifi, ulama saudi di youtube.

    Terlepas dari hal di atas, Hadis tersebut memang sifatnya khabari berupa bisyarah. Namun, berkaitan dengan perkara ‘amali, yakni perkara wajibnya mengangkat khalifah, ana kutip pendapat Imam Ibnu Hajar yg spesifik tentang kewajiban ini:

    وأجمعوا على انه يجب نصب خليفة وعلى ان وجوبه بالشرع لا بالعقل وخالف بعضهم كالأصم وبعض الخوارج فقالوا يجب نصب الخليفة وخالف بعض المعتزلة فقالوا يجب بالعقل لا بالشرع وهما باطلان

    Sumber: http://islamport.com/w/srh/Web/2747/7491.htm

    Ustadz mungkin punya kitab fathul bari mungkin bisa coba diperiksa di situ.

    1. Abu Aqsith

      Berkenaan tashih dan tad’ief suatu hadits adalah hal yg biasa, krn itu pada dasarnya masing² memiliki cara penilaian yg berbeda.

      Menyangkut pentashihan hadits ini dari ulama sekaliber syaikh albany adalah bagian perbedaan itu, krn sebagian ulama yg lainpun ada juga yg mendloifkan semisal Dr.Kholid Al-Hayyik hanya saja argument yg dibangun sedikit berbeda dgn yg kami ajukan.

      Sebagai penuntut ilmu tentu kita tdk cukup sampai kata ulama saja tanpa menyelami metode penilaiannya sampai pada kesimpulan.

      Apabila ust memiliki rujukan bgmn jalan tashihnya dari beliau kami tunggu,

      Argument yg kami bangun telah kami paparkan diatas bahkan kami juga kutip pemahaman Al-Hafidz Ibn Hajar dimana beliaupun menilai pada dasarnya maksud khilafah nubuwwah itu adalah ditujukan pada para sahabat Nabi khulafau rasyidin saja adapun setelah semisal mu’awiyah, dan kholifah yg lain sampai generasi generasi berikutnya dipandang pemimpin kerajaan walaupun mereka menamakan dirinya khilahah.

      Ditambah hadits hadits dijalur lain nampak jelas tdk mengulang lafadz kholifah ‘ala minhaj nubuwwah, semakin nampak kemungkaran riwayat habib ttg lafadz yg diulang itu.

      Memang benar wajibnya mengangkat kholifah. Namun kholifah ‘ala minhaj kenabian hanya ada di periode sahabat saja, krn setelahnya yg muncul adalah kerajaan² walau sebagian kerajaan itu mengatas namakan khilafah.

      Kami tdk bisa berpanjang² diluar kajian takhrij, kecuali apabila ada kajian takhrij kami yg dinilai kurang atau lemah silahkan dikomentari dan kami akan kaji ulang sejauh mana kekuatan argument bisa di bertanggung jawabkan.

      Wallahu a’lam.
      Akhukum Fillah.

  5. nunu

    Khilafah Dalam Hadits Rasulullah SAW
    06 Sep 2014 in Tsaqofah Leave a comment
    Menghangatnya perbincangan tentang ISIS di media akhir-akhir ini, telah dijadikan oleh sebagian kalangan yang tidak suka terhadap Islam, untuk menjauhkan masyarakat dari ide khilafah. Keburukan keburukan yang disematkan kepada ISIS seolah menjadi absah untuk disematkan pula bagi sistem khilafah dan para pejuangnya. Padahal khilafah ‘ala minhajin nubuwwah jelas berbeda dengan Khilafah abal-abal dan tidak memenuhi syarat, pilar-pilar, batasan syar’iy, sebagaimana khilafah yang diproklamirkan ISIS. Oleh karena itu, kita mesti hati-hati agar tidak terjebak dalam kesalahan, termasuk menolak perkara yang wajib bahkan melecehkannya.
    Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia guna menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Khilafah atau al-Imamah al-‘Uzhma merupakan perkara ma’lûmun min ad-dîn bi adh-dharûrah (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam). Oleh karena itu para ulama sepakat bahwa mendirikan kekhilafahan hukumnya wajib. Riwayat Ijma’ ini, dinyatakan oleh para ulama mu’tabar dalam mazhab-mazhab Islam.
    Istilah khilafah atau khalifah sendiri merupakan dua istilah yang disebut dalam hadis-hadis Rasulullah saw., bukan semata hasil ijtihad para ulama. Terdapat banyak hadis Rasulullah Saw yang membahas seputar khilafah, baik yang secara langsung menggunakan istilah khilafah dan kholifah, ataupun lafadz-lafadz lain yang menunjuk kedua makna itu, baik secara keseluruhannya, ataupun sebagiannya. Bukan hanya membahas perintah menegakan khilafah dan perincian sistem ini, namun diantara hadis-hadis itu juga berisi tentang kabar gembira (bisyarah) kembali berdirinya daulah khilafah di masa yang akan datang. Di antara hadis-hadis itu adalah:

    A. Hadits-hadits yang secara langsung menggunakan lafadz Khilafah atau Khalifah

    1. عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ، فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ، فَقَالَ: يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي الْأُمَرَاءِ ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ، فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ، فَقَالَ حُذَيْفَةُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا ، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ ” ثُمَّ سَكَتَ. رواه أحمد

    Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam” (HR. Imam Ahmad)[1].
    Berdasarkan hadits ini, jelaslah bahwa penyebutan sistem pemerintahan Islam sebagai sistem khilafah adalah penyebutan dengan hadits. Bukan Istilah yang dibuat oleh para ulama. Meski demikian, sebuah istilah tentu tidak harus secara langsung menggunakan lafadz dalam nash. Hadits ini juga merupakan kabar gembira akan berdirinya khilafah di masa yang akan datang.

    2. عن سَفِينَةُ رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:الْخِلاَفَةُ فِي أُمّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً، ثُمّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ. رواه أحمد وحسنه الأرناؤوط.
    “Kekhilafahan dalam umatku 30 tahun.” (HR. Ahmad)[2]
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh para Imam yang lain dengan lafadz yang sedikit berbeda, diantaranya:

    الْخِلافَةُ بَعْدِي فِي أُمَّتِي ثَلاثُونَ سَنَةً
    “Kekhilafahan setelahku dalam umatku 30 tahun.” (HR. ath-Thabrani dalam
    al-Mu’jam al-Kabir)
    الْخِلافَةُ بَيْنَ أُمَّتِي ثَلاثُونَ سَنَةً
    “Kekhilafahan di antara umatku 30 tahun.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
    الخلافة ثلاثون سنة
    “Kekhilafahan 30 tahun.” (HR. Ibnu Hibban, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
    الخلافة ثلاثون عاما
    “Kekhilafahan 30 tahun.” (HR. ath-Thahawi dalam Musykil al-Atsar)
    الخلافة بعدي ثلاثون سنة
    “Kekhilafahan setelahku 30 tahun.” (HR. Ibnu Hibban)

    Meski lafadz hadis ini menyebutkan bahwa kekhilafahan setelah Rasulullah Saw 30 tahun, namun tidak berarti bahwa setelah itu tidak ada khilafah. Dengan kata lain, hadits ini tidak berarti bahwa sistem pemerintahan kaum muslimin setelah itu bukanlah sistem khilafah. Sebab, lafadz hadis ini berbentuk lafadz yang mutlaq yang ke-mutlaq-annya di-taqyid oleh hadis hudzaifah di atas. Artinya, kehilafahan yang 30 tahun itu adalah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, sementara setelahnya bukanlah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, meski tetap berbentuk sistem khilafah hingga datang masa mulkan jabriyyah (para penguasa diktator yang tidak menerapkan syariah).
    Kesimpulan ini juga didukung oleh hadis yang sama, dengan lafadz khilafah yang di taqyid oleh kata nubuwwah sebagaimana riwayat Abu Dawud, al-Hakim, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
    خِلاَفَةُ النُّبُوَّةِ ثَلاَثُونَ سَنَةً

    “Khilafah nubuwwah 30 tahun.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)[3]

    3. عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” الْخِلَافَةُ فِي قُرَيْشٍ. رواه أحمد
    “Kehilafahan itu ada (di tangan) orang Quraisy” (HR. Ahmad)[4]
    Hadits ini menjelaskan salah satu syarat afadhaliyah’ seorang khalifah. Yakni hendaknya ia orang Quraisy. Meski demikian, bukan berarti selain mereka tidak berhak atas khilafah. Dengan kata lain, syarat harus orang Quraisy bukanlah syarat in’iqad (syarat sah pengangkatan khilafah). Sebab, hadis di atas dan hadis-hadis semisal lainnya, dinyatakan dalam bentuk ikhbar yang tidak disertai dengan qarinah (indikasi) yang menunjukkan thalab yang jaazim (tegas). Dengan demikian perintah ini hanyalah perintah yang hukumnya sunnah. Adapun celaan dalam riwayat lain seperti disebutkan dalam al-Bukhari:
    عن معاوية أنه قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لَا يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّينَ رواه البخاري

    “Sesungguhnya urusan (pemerintahan/khilafah) ini ada di tangan Quraisy. Tidak seorang pun yang memusuhi mereka melainkan Allah akan menelungkupkannya wajahnya ke neraka, selama mereka menegakkan agama (Islam)”. (HR. Bukhari)
    Hadis ini bukanlah celaan bagi orang yang tidak mengangkat orang Quraisy sebagai pemimpin, melainkan celaan bagi orang yang memeranginya. Selain itu, hadis-hadis di atas juga dinyatakan dalam bentuk isim jamid (bukan isim sifat) sehingga tidak dapat diambil mafhumnya. Dengan kata lain tidak berarti selain kabilah Quraisy tidak sah menduduki jabatan khilafah.
    Selaian itu pula, hadis riwayat Imam al-bukhari di atas dinyatakan dalam bentuk umum, yakni lafadz al-amra (urusan pemerintahan) bukan hanya jabatan khalifah. Seandainya saja dari hadis itu boleh diambil mafhumnya, yakni selain orang Quraisy tidak boleh menduduki jabatan pemerintahan, niscaya Rasulullah Saw, tidak akan mengangkat Abdullah Bin Rawahah, Zaid Bin Haritsah, dan Usamah Bin Zaid dalam urusan pemerintahan, sebab para sahabat ini bukanlah dari kabilah Quraisy.

    4. عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَوَالَةَ الأَزْدِىُّ أنه قال قَالَ : يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الْخِلاَفَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةِ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلاَزِلُ وَالْبَلاَبِلُ وَالأُمُورُ الْعِظَامُ وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنَ النَّاسِ مِنْ يَدِى هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ
    “Wahai putra Hawalah, jika kamu melihat khilafah sudah benar-benar turun di tanah yang suci (Palestina), maka sungguh telah dekat gempa, ujian hidup dan hal-hal besar. Kiamat di hari itu lebih dekat kepada manusia dari pada tanganku ini ke kepalamu”[5]

    5. عن عبد الملك ابن عمير قال : قال معاوية : ما زلت أطمع في الخلافة منذ قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” يا معاوية ! إن ملكت فأحسن “.
    Abdul Malik bin Umair berkata: “Muawiyah berkata:“Aku selalu menginginkan khilafah sejak Rasululloh SAW bersabda kepadaku:“Wahai Muawiyah, apabila kamu berkuasa, maka berbuat baiklah”. (HR. Ahmad).
    Hadis ini menunjukkan bahwa kata khilafah, selain disebutkan oleh hadis, juga digunakan oleh para sahabat, diantaranya Muawiyah. Selain itu, beliau juga memahami kata “malakta” dalam sabda Rasulullah, adalah khilafah.
    Dalam kasus, al-Imam ath-Thabraniy meriwayatkan:

    حَدَّثَنِي الْمُطْعِمُ بن الْمِقْدَامِ الصَّنْعَانِيُّ , قَالَ: كَتَبَ الْحَجَّاجُ بن يُوسُفَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بن عُمَرَ: بَلَغَنِي أَنَّكَ طَلَبْتَ الْخِلافَةَ
    Muth’im bin Miqdam as-shon’aniy menyatakan bahwa al-Hajjaj bin Yusuf pernah menulis surat kepada ‘Abdullah bin Umar: “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau meminta jabatan khilafah” (HR. at-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Kabir)
    Al-Hajjaj dalam riwayat ini juga menggunakan lafadz khilafah, saat menyatakan bahwa Abdullah bin Umar” menginginkan kepemimpinan umum bagi kaum muslimin tersebut, meski dalam lanjutan riwayat ini ‘Abdullah bin Umar menyangkalnya.

    6. روى مسلم عن أبِي حازم قال: قاعدتُ أبا هريرةَ خمس سنين فسمعته يحدِّث عن النبيقال: َانَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيُّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَأَنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثَرُواْ، قَالُواْ: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُواْ، بَيْعَةَ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ. رواه مسلم
    “Dahulu politik Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap ada nabi meninggal, maka digantikan oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku. Dan akan ada para khalifah lalu mereka menjadi banyak”. Sahabat bertanya: “Lalu apakah perintahmu kepada kami?”, beliau menjawab: “Penuhilah baiat khalifah yang pertama, lalu khalifah yang pertama, dan berikanlah hak-haknya, sesungguhnya Allag SWT akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas rakyatnya ”. )HR Muslim([6]
    Lafadz “khulafa” dalam hadis ini adalah jamak dari kata “khalifah”. Oleh karena itu, berdasarkan hadis ini dan hadis semisal lainnya, jelaslah bahwa penyebutan khalifah untuk pemimpin tertinggi dalam pemerintahan adalah penyebutan berdasarkan hadits. bukan semata istilah yang dibuat oleh para ulama. Meski demikian, memang tidak harus selalu disebut khalifah, melainkan bisa dipanggil dengan sebutan yang lain seperti, imam, amirul mukminin, sulthan, dan sebagainya selama maknanya tidak kabur. Yakni, selama yang dimaksud dengan julukan-julukan tersebut adalah al-imam al-a’zham (pemimpin tertinggi bagi umat Islam) atau khalifah.
    Hadits ini juga merupakan perintah, agar kaum muslimin senantiasa berada dalam satu kepemimpinan. Oleh karena itu, kesatuan khilafah (wahdatul khilafah) merupakan salah satu pilar pemerintahan Islam. Dengan kata lain, setelah pembai’atan seorang khalifah itu sah, maka tidak boleh ada orang lain yang dibai’at. Pembai’atan khalifah yang kedua itu batal demi hukum. Namun , perlu dicatat bahwa ketentuan ini berlaku bila khalifah yang pertama tadi telah dibai’at secara sah.
    7. عن أبِي سعيد الخدريِّ عن رسول اللهأنه قال: إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُواْ الآخِرَ مِنْهُمَا
    “Jika dua orang khalifah dibai’at, maka bunuhlah yang terakhir (dibai’at) dari keduanya” (HR. Muslim)[7]
    Hadis ini juga mengaskan tentang kewajiban kesatuan kekhilafahan Islam. Dan hal ini pulalah yang difahami oleh para sahabat. Salah satu buktinya, tatkala dikatakan kepada Umar bin Khatab: “bagaimana bila diantara kalian diangkat seorang amir, dan diantara kami juga diangkat seorang amir?”, beliau saat itu langsung menghunus pedang, sambil berkata: “Tidak mungkin ada dua pedang dalam satu sarung”.

    B. Hadis-hadis khilafah yang menggunakan lafadz Imamah, Imam, Imarah, Amir, al-Amr, asy-Sya’n dan sejenisnya.

    Lafadz Imamah, Imam, Imarah, Amir, al-Amr, asy-Sya’n dan sejenisnya yang akan dikemukakan di sini adalah khusus lafadz-lafadz tersebut yang terkait dengan urusan pemerintahan atau kepemimpinan. Sebab, secara bahasa tentu lafadz-lafadz tersebut maknanya luas. Sebagai contoh, Imam al-Lughah al-Fairus Abadi dalam Qamus al-Muhiith, saat memaknai lafadz imamah menyebutkan:
    الإمامة في اللغة مصدر من الفعل ( أمَّ ) تقول : ( أمَّهم وأمَّ بهم : تقدمهم ، وهي الإمامة ، والإمام : كل ما ائتم به من رئيس أو غيره ) .
    “Secara bahasa imamah merupakan masdar dari kata kerja “amma”, (maka) anda menyatakan: ammahum dan amma bihim artinya adalah taqaddamahum (yang mendahului (memimpin) mereka; yakni, imamah (kepemimpinan). Sedangkan imam adalah setiap orang yang harus diikuti baik pemimpin maupun yang lain”[8].
    Al-’Allamah Muhammad Murtadlo Az-Zabidiy, dalam kitab Tajul ‘Arusy min Jawahir al-Qamus, menyatakan:
    والإمام : الطريق الواسع ، وبه فُسِّر قوله تعالى : وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ) سورة الحجر آية 79( أي : بطريق يُؤم ، أي : يقصد فيتميز قال : ( والخليفة إمام الرعية ، قال أبو بكر : يقال فلان إمام القوم معناه : هو المتقدم عليهم ، ويكون الإمام رئيسًا كقولك : إمام المسلمين ) ، قال : ( والدليل : إمام السفر ، والحادي : إمام الإبل ، وإن كان وراءها لأنه الهادي لها .. ) أ . هـ .
    “Imamah adalah jalan yang lapang. Pengertian tersebut ditafsirkan dari firman-Nya Ta’ala:
    وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ) سورة الحجر آية 79(
    Maksudnya pada jalan yang dituju (“yu’ammu”), sehingga menjadi lebih jelas (spesifik). (Orang) berkata: Khalifah adalah imamnya rakyat. Abu Bakar berkata: (kalau) fulan dikatakan sebagai imam suatu kaum artinya ia adalah orang yang terkemuka dari kaum tersebut. Imam itu adalah raais (kepala), sebagaimana pernyataan anda: imamnya kaum Muslim. Selanjutnya (dia) berkata: buktinya adalah: imam safar; dan al-haadiy : imamnya unta meski dia di belakang unta, karena dialah yang mengarahkan unta…” [9]

    Juga perlu difahami bahwa lafadz Imamah, Imam, Imarah, Amir, al-Amr, asy-Sya’n dan sejenisnya, yang berkonotasi urusan pemerintahan itu, pada dasarnya bermakna umum meliputi seluruh jabatan pemerintahan atau kepemimpinan, mulai khalifah hingga struktur di bawahnya. Ia tidak semata berkonotasi khilafah atau khalifah kecuali dengan qarinah yang menyertainya, seperti digandengkan dengan lafadz bai’at. Sebab, bai’at tidak dilakukan kecuali kepada seorang khalifah.
    Sementara itu, tatkala lafadz-lafadz Imamah, Imam, Imarah, Amir, al-Amr, asy-Sya’n dan sejenisnya, berkonotasi pemimpin tertinggi bagi kaum muslimin, baik sebagian atau keseluruhannya, maka yang dimaksud adalah khilafah/khalifah. Yang dimaksud sebagian di sini adalah, bila lafadz-lafadz itu berbentuk umum dan tidak ada lafadz atau nash lain yang mengkhususkannya. Maka makna kepemimpinan umum (khilafah) maksud di dalamnya. Adapun yang dimaksud seluruhnya, adalah bila lafadz-lafadz tersebut disertai qarinah (indikasi) bahwa yang dimaksud tiada lain adalah khilafah, seperti bila disandingkan dengan lafadz bai’at.
    Dengan kata lain, dalam kedua konteks ini, lafadz Khilafah, Imamah dan Imarah berkonotasi sama yakni kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia guna menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Begitupun lafadz khalifah, imam dan amir, juga berkonotasi sama yakni pemimpin politik tertinggi (al-Imam al-A’zham) bagi kaum muslimin.
    Syeikh Muhammad Najib Al Muthi’iy dalam takmilahnya atas Kitab Al Majmuu’ karya Imam An Nawawi menyatakan:
    ( الإمامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة )
    “Imamah,khilafah dan imaratul mukminin itu sinonim”
    Dalam bagian lain beliau menyatakan:
    ( يجوز أن يقال للإمام : الخليفة ، والإمام ، وأمير المؤمنين )
    “Imam boleh juga disebut dengan khalifah, imam atau amirul Mukminin”.[10]

    Al ‘Allamah Aburrahman Ibnu Khaldun menegaskan:
    وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام أ . هـ
    “Sebagaimana telah kami jelaskan, (imam) itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta mengurus duniawi. (jabatan) itu disebut khilafah dan imamah. Yang menempatinya adalah khalifah atau imam”.[11]

    Di antara hadis-hadis yang memuat lafadz-lafadz itu adalah:
    1. عن أبِي هريرة عن النبيقال: وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ؛ وَيُتَّقَى بِهِ. فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ وَعَدَلَ؛ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْراً. وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ
    “Dan sesungguhnyalah seorang Imam itu merupakan perisai, umat akan berperang/berjihad di belakang (amanah Imaam) serta berlindung dengannya. Bila ia (Imaam) memerintahkan untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya”. [12]
    Meski Lafadz Imam dalam hadis ini bersifat umum, meliputi seluruh orang yang menduduki jabatan pemerintahan, namun masuknya khalifah dalam lafadz ini termasuk kategori dhukul awaliy (paling utama), sebab khalifah adalah pemimpin tertinggi.
    ..
    2. روى مسلم أن النبيَّقال: وَمَنْ بَايَعَ إِمَاماً فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُواْ عُنُقَ الآخَرِ
    “Siapa yang membaiat seorang imam (khalifah) dan ia telah berikan genggaman tangannya dan buah hatinya maka hendaknya ia menaati imam itu semampu dia, dan jika datang orang lain hendak merebutnya maka penggallah leher orang lain itu”[13]

    3. وعن أبِي هريرةَ قال: قال رسول الله:ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ: رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالطَّرِيْقِ يَمْنَعُ مِنْهُ ابْنَ السَّبِيْلِ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَاماً لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَاهُ إِنْ أَعْطَاهُ مَا يُرِيْدُ وَفَّى لَهُ وَإِلاَّ لَمْ يَفِ لَهُ، وَرَجُلٌ يُبَايِعُ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ بِاللهِ لَقَدْ أُعْطِيَ بِهَا كَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا وَلَمْ يُعْطَ بِهَا
    “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka tidak juga menyucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Seseorang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir, namun ia mencegahnya dari ibnussabil yang membutuhkannya. Dan orang yang berjual beli dengan orang lain di waktu ‘Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambilnya segini dan segini, lalu orang itu mempercayainya padahal tidak demikian keadaannya. Dan orang yang membai’at pemimpinnya karena dunia, bila ia diberi oleh pemimpin ia melaksanakan bai’atnya, dan bila tidak diberi maka ia tidak mau melaksanakan bai’atnya.”[14]
    Lafadz imam dalam kedua hadis di atas tidak bermakna lain kecuali khalifah, sebab bai’at tidak dilakukan kecuali kepada seorang khalifah.

    4. عن عبد الرحمن بن سمرة قال : قال لي النبي صلى الله عليه و سلم: يا عبد الرحمن لا تسأل الإمارة فإنك إن أعطيتها عن مسألة وكلت إليها وإن أعطيتها عن غير مسألة أعنت عليها

    “Ya Abdurrohman bin Samuroh janganlah engkau meminta jadi pemimpin karena apabila engkau diberinya dengan meminta maka engkau tidak akan diberi pertolongan, dan apabila engkau diberi dengan tanpa meminta maka engkau akan diberi pertolongan”[15]

    5. عن سعيد المقبري عن أبي هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إنكم ستحرصون على الإمارة وستكون ندامة يوم القيامة
    “Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan, padahal ia hanyalah sebuah penyesalan dan kerugian di akhirat kelak.”[16]
    Tentang makna imârah dalam hadis ini, Imam Ibnu Hajar menyatakan dalam fathul bârî (syarah shahih bukhari):
    دَخَلَ فِيهِ الْإِمَارَة الْعُظْمَى وَهِيَ الْخِلَافَة ، وَالصُّغْرَى وَهِيَ الْوِلَايَة عَلَى بَعْض الْبِلَاد
    “Makna imârah pada hadis itu, meliputi kepemimpinan terbesar (al-imâroh al-kubra) yakni khilafah dan kepemimpinan lokal (al-imâroh al-sughra) di daerah setingkat “provinsi/kabupaten”.[17]

    6. عن ابنِ عبَّاس عن النبيِّقال: مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْراً فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
    “Siapa saja yang tidak menyukai sesuatu dari pemimpinya maka hendaknya dia bersabar. Karena tidaklah seseorang keluar sejengkal dari ketaatan kepada pemimpin lalu dia mati, kecuali dia mati seperti mati jahiliyah.”[18]
    Hadis senada dalam al-Bukhari dari Ibnu Abbas:
    مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهَهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْراً فَمَاتَ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
    “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyah.”[19]

    7. عن يونس عن الزهري أخبرني أبو سلمة ابن عبد الرحمن أنه سمع أبا هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصى أميري فقد عصاني
    “Siapa saja yang menaatiku sungguh ia sudah taat kepada Allah, siapa saja yang mendurhakaiku maka sungguh ia telah mendurhakai Allah, dan siapa saja yang menaati ‘pemimpinku’ sungguh dia sudah menaatiku, dan siapa saja yang mendurhakai ‘pemimpinku’, maka sungguh ia telah mendurhakaiku.”[20]
    Lafadz amîri di atas adalah setiap pemimpin kaum muslimin yang memerintah dengan syariah yang dibawa oleh rasulullah (kullu ma yatawalla ‘alal muslimin wa ya’mal fihim bima syara’ahu rusulullah). Dengan kata lain, yang diperintahkan bukan hanya sebatas ketaatan kepada pemimpin, namun ketaatan kepada pemimpin yang menerapkan Islam. Sebaliknya, kita dilarang untuk taat kepada pemimpin dalam perkara maksiat.
    8. عن عبادة بن الصامت قال: بَايَعْنَا رَسُوْلَ اللهِعَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، وَأَنْ نَقُوْمَ أَوْ نَقُوْلَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ

    “Kami membaiat Rasulullah Saw untuk mendengar dan menaati (perintahnya), baik senang maupun benci. Dan kami tidak akan merebut urusan (kekuasaan) itu dari pemiliknya; juga kami akan melakukan dan mengatakan dengan benar dan adil, serta kami tidak akan takut karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.”[21]

    9. عن عرفجة قال: سَمعتُ رسولَ اللهيقول: مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ
    “Siapa saja yang datang kepada kalian, sedangkan urusan kalian terhimpun pada satu orang laki-laki (seorang khalifah), lalu dia (orang yang datang itu) hendak memecah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah ia”[22]

    1. وعن جُنَادَةَ بن أبي أُمَيَّةَ قال: دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيْضٌ قُلْنَا: أَصْلَحَكَ اللهُ حَدِّثْ بِحَدِيْثٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنَ النَّبِيِّقَالَ: دَعَانَا النَّبِيُّفَبَايَعْنَاهُ. فَقَالَ: فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا [ أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأُثْرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْراً بُوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ ]
    2.
    “Kami berbai’at kepada Rasulullah untuk senantiasa mau mendengar dan taat kepada beliau dalam semua perkara, baik yang kami senangi ataupun yang kami benci, baik dalam keadaan susah atau dalam keadaan senang, dan lebih mendahulukan beliau atas diri-diri kami dan supaya kami menyerahkan setiap perkara-perkara itu kepada ahlinya. Beliau kemudian bersabda, ‘Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan bisa kau jadikan hujjah di hadapan Allah.’”[23]
    عن يحيى بن حصين عن جدته أم الحصين قال سمعتها تقول : ( حججت مع رسول الله صلى الله عليه و سلم حجة الوداع قالت فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم قولا كثيرا ثم سمعته يقول ( إن أمر عليكم عبد مجدع ( حسبتها قالت ) أسود يقودكم بكتاب الله فاسمعوا له وأطيعوا )
    “Andaipun kalian dipimpin oleh seorang budak hitam, yang memimpin kalian berdasarkan kitabullah maka taatilah” [24]

    1. عن جابر بن سمرة قال : دخلت مع أبي على النبي صلى الله عليه و سلم فسمعته يقول إن هذا الأمر لا ينقضي حتى يمضي فيهم اثنا عشر خليفة
    “Sesungguhnya urusan (kekhilafahan) ini tidak akan musnah sampai berlalu atas mereka 12 khalifah”[25]
    2. عن همام بن منبه قال هذا ما حدثنا أبو هريرة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم فذكر أحاديث منها : وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( الناس تبع لقريش في هذا الشأن(
    “ Manusia akan mengikuti Quraisy dalam urusan ini (kehilafahan)”[26]
    Lafadz al-amr atau asy-sya’n dalam hadis-hadis di atas semua berarti khilafah. Hal ini bukanlah perkara asing. Lafadz ini digunakan oleh sahabat untuk menunjuk makna khilafah. Sebagai contoh, dinyatakan oleh Abdurrahman Bin Auf saat beliau menjadi panitia pengangkatan khalifah setelah Umar Bin Khatab wafat.
    عن الزهري أن حميد بن عبد الرحمن أخبره أن المسور بن مخرمةأخبره أن الرهط الذين ولاهم عمر اجتمعوا فتشاوروا فقال لهم عبد الرحمن لست بالذي أنافسكم على هذا الأمر ولكنكم إن شئتم اخترت لكم منكم فجعلوا ذلك إلى عبد الرحمن
    “dari Az Zuhri, bahwa Humaid bin Abdurrahman mengabarinya, bahwa Miswar bin Makhramah mengabarinya; beberapa orang yang diserahi Umar untuk memegang mandat berkumpul dan bermusyawarah. Abdurrahman berkata kepada mereka; ‘aku bukan bermaksud menyaingi kalian dalam urusan ini (kekhilafahan), namun jika kalian berkenan saya akan memilih (seorang pemimpin) untuk kalian dari kalian sendiri’, maka mereka limpahkan wewenang itu kepada Abdurrahman”[27].

    c. Hadis-hadis lain yang menunjukkan kewajiban menegakkan khilafah dan berisi bisyarah qiyamil khilafah (kabar gembira berdirinya khilafiah), meski tidak secara langsung menggunakan lafadz-lafadz yang disebutkan sebelumnya.

    1. عن نافع قال : قال لي عبدالله بن عمر سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية )
    “Siapa saja yang melepaskan ketaatan (kepada seorang pemimpin), maka ia akan bertemu Allah Swt di hari kiamat tanpa membawa hujjah. Siapa saja yang mati sementara di pundaknya tidak ada bai’at, maka ia telah mati (seperti) dalam keadaan jahiliyah”[28]

    Melalui hadis ini, Rasulullah Saw mewajibkan kepada kaum muslimin agar di pundaknya terdapat bai’at. Sementara itu, setelah beliau wafat, bai’at tidak dilakukan, kecuali kepada seorang khalifah. Dengan kata lain, Rasulullah memerintahkan agar di tengah-tengah kaum muslimin, senantiasa ada seorang khalifah yang dibai’at oleh mereka. Perintah ini bersifat tegas, karena disertai dengan indikasi tegas (qarinah jazimah), yakni pernyataan Rasulullah bahwa orang yang di atas pundaknya tidak terdapat bai’at seperti mati dalam keadaan jahiliyah. Dalam kaidah ilmu ushul, sebuah perintah bila dikaitkan dengan keimanan, menunjukkan bahwa perintah itu bersifat tegas. Oleh Sebab itu, berdasarkan hadis ini, mengangkat khalifah yang akan menerapkah hukum-hukum Allah Swt, hukumnya wajib, sebab hanya dengannya lah di pundak kaum muslimin terdapat bai’at[29]

    2. عن ثوبان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “ إن الله زَوَى لي الأرضَ فرأيتُ مشارقَها ومغاربَها وإن أمتي سيبلغُ مُلكُها ما زُوِي لي منها… “ رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي
    ”Sesungguhnya Allah swt telah mengumpulkan (dan menyerahkan) bumi kepadaku, sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Sesungguhnya umatku, kekuasaannya akan mencapai apa yang telah dikumpulkan dan diserahkan kepadaku”.(HR. Imam Muslim, Tirmidziy, dan Abu Dawud)
    Al-‘Allamah as-Syaikh al-Mubarakfuri, dalam Tuhfatul Ahwadziy, menyatakan:
    ”..Maknanya adalah, sesungguhnya bumi telah dikumpulkan dan diserahkan kepadaku seluruhnya secara serentak, sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Kemudian, bumi akan ditaklukkan untuk umatku bagian demi bagian, hingga kekuasaan umatku meliputi seluruh bagian muka bumi”[30]
    Sementara itu, kita menyaksikan saat ini, kekuasaan kaum muslimin belum meliputi seluruh bumi ini, seperti yang dinyatakan baginda Rasulullah Saw. Bahkan kekuasaan mereka saat ini dalam keadaan terampas. Maka, hadis ini menjadi bisyarah (kabar gembira) bahwa di masa yang akan datang akan kembali tegak kekhilafahan Islam yang akan mengembalikan kekuasaan itu sekaligus melakukan futuhat ke seluruh dunia.
    Senada dengan hadits di atas, Imam Ahmad juga menuturkan sebuah hadits dari Tamim al-Daariy bahwasanya beliau mendengar Rasulullah saw bersabda:
    عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ“ وَكَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ يَقُولُ قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ
    “Urusan (agama) ini akan mencapai apa yang malam dan siang mencapainya. Dan Allah swt tidak membiarkan Bait al-Madar dan Bait al-Wabar, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam agama ini, dengan kemuliaan, atau dengan kehinaan. Kemuliaan, yang Allah akan memuliakannya dengan Islam, dan kehinaan, yang Allah akan menghinakannya dengan kekufuran”. Tamim al-Daariy berkata, “Saya melihat itu pada penduduk negeriku. Sungguh, sebagian orang yang masuk Islam mendapatkan kebaikan, kehormatan, dan kemuliaan. Sedangkan sebagian orang yang kafir, mereka mendapatkan kehinaan, kekerdilan, dan wajib membayar jizyah”.[HR. Imam Ahmad, dalam Musnah Imam Ahmad]
    3. عن ابن عمر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “ إذا تبايعتم بالعِينة وأخذتم أذنابَ البقر، ورضيتم بالزرعِ وتركتم الجهادَ، سلَّط الله عليكم ذُلاً لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم “ رواه أبو داود
    Dari Ibnu ‘Umar r.a., dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda”: Apabila kamu sekalian berjual-beli dengan cara ‘inah, (hanya) mengambil ekor-ekor sapi (sibuk mengurus ternak peliharaan), senang dengan tanaman (puas dengan hasil panen) dan (seraya, karena kesibukan duniawi) meninggalkan jihad (tugas keagamaan dalam rangka menegakkan agama Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasaimu, dan tidak akan pernah mencabutnya (kehinaan) hingga kamu sekalian kembali kepada agamamu. (HR Abu Dawud)
    Lafadz “hatta ta’udu ilaa diiniku” (hingga kamu sekalian kembali kepada agamamu), maksudnya, hingga kalian kembali berhukum dengan hukum-hukum Allah Swt, setelah sebelumnya kalian tinggalkan. Dengan kata lain, hadis ini merupakan bisyarah bahwa umat ini akan kembali menerapkan hukum-hukum Allah Swt.
    4. عن أبي قبيل قال: كنا عند عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه وسُئل أيُّ المدينتين تُفتَح أولاً القسطنطينية أو رومية. فدعا عبد الله بصندوق له حلقٌ فأخرج منه كتاباً قال، فقال عبد الله “ بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم نكتب إذ سُئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أيُّ المدينتين تُفتح أولاً أقسطنطينية أو رومية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مدينة هرقل تفتح أولا _ يعني القسطنطينية “ رواه أحمد.
    Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)
    Sabda Rasulullah bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan lebih awal, menunjukkan bahwa kota Roma pun yang terletak di Italia saat ini, akan ditaklukkan oleh kaum muslimin, meski bukan yang pertama. Hal ini, sulit dibayangkan bisa terjadi, kecuali setelah berdirinya kembali Khilafah Islam yang melanjutkan kembali futuhat ke seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, hadis ini merupakan kabar gembira berdirinya kembali Khilafah di masa yang akan datang.
    Hadits-hadits yang dikemukakan di atas, hanyalah sebagian hadits yang membahas tentang khilafah. Amatlah jelas, bahwa persoalan khilafah merupakan perkara yang terang benderang dibahas dan dinyatakan dalam hadits. Oleh sebab itu, pantaslah bila para fuqaha memandang masalah ini sebagai perkara yang telah maklumun min ad-dîn bi ad-dhorûroh. Sebaliknya, sungguh aneh bila ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah mendirikan negara atau tidak membahasnya. Sebagaimana sangat aneh bila ada yang menyatakan bahwa tidak ada kata khilafah dalam nash, yang ada adalah kata kholifah yang artinya pemimpin, kemudian berkesimpulan bahwa kaum muslimin tidak wajib menegakan khilafah jika mereka telah memiliki pemimpin. Padahal seandainya kata khilafah itu tidak ada dalam nash, tidak berarti pula bahwa khilafah menjadi tidak wajib. Sebab, sebuah istilah memang tidak harus selalu berdasarkan nash. Alhasil, penolakan terhadap khilafah adalah penolakan terhadap hukum Allah SWT dan pengingkaran pada sabda-sabda Rasul-Nya yang tidak mungkin dilakukan kecuali karena jahl (ketidaktahuan) atau mukabarah (kesombongan dan kelancangan).
    Memang hadits-hadits yang dikemukakan di atas, tidak secara terperinci menjelaskan konsep khilafah, sebab ia hanya sebagian hadis saja yang berkaitan dengan khilafah, namun secara khusus berkaitan dengan lafadz-lafadz hadits yang memuat Istilah khilafah atau yang semakna dengannya, sekaligus menunjukkan bahwa menegakan khilafah adalah sebuah kewajiban dan berdirinya khilafah di masa yang akan datang merupakan perkara yang dijanjikan bagi kaum muslimin. Selebihnya, para fuqaha qadîman wa hadîsan telah membahasnya secara terperinci dalam kitab-kitab mereka. Wallahu A’lam
    Catatan kaki:
    [1] Musnad Imam Ahmad, hadits no.17680, juga musnad al Bazzar (no. 2796). Riwayat ini termasuk haditsmarfu’ (bersambung hingga sampai Rasulullah saw). Al-Hafidzh Al-Iraqi (wafat 806 H), guru dari Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy (wafat 852 H), di dalam kitabnya Mahajjatul-Qarb ila Mahabbatil-Arab (II/17), mengatakan :”Status hadits ini shahih”, Syu’aib Arna’uth menyatakan : sanadnya baik (isnâduhu hasan), Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id (5/341) menyatakan perowi-perowinya terpercaya. Adapun komentar Imam Bukhori tentang Habib bin Salim, tidak serta merta menjadikan hadits ini lemah. Pernyataan beliau hanya menujukan bahwa ketsiqahannya perlu diteliti. Penelitian para ahli hadits di atas, menunjukan bahwa keberadaan Habib bin Salim tidak melemahkan hadits ini. Imam Muslim sendiri juga meriwayatkan hadits dari Habib Bin Salim semisal hadits: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu.” (HR. Muslim, No 878, 2/598)
    [2] Musnad Imam Ahmad, hadits no. 21928. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nasa-i dalam
    as-Sunan al-Kubra, ath-Thayalisi, al-Bayhaqi dalam Dalaail an-Nubuwwah, Ibn Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah. Syu’aib Arna’uth menyatakan : sanadnya baik (isnâduhu hasan)
    [3] Sunan Abi Dawud, no 4648, 4/342, al-Mustadrok ‘Ala Shohihain, no 4438, 3/75, al-Mu’jam al-Kabir no. 6330, 6/194. al-Albaniy menilai hadis ini hasan-shahih.
    [4]Musnad Imam Ahmad, no. 17653, 29/200
    [5]Musad Ahmad no. 22540, Sunan Abi Dawud No 2535, al-mustadrok no. 8309, Sunan al-Baihaqi no. 18333, dan at-Tarikh lil Bukhari No. 3615
    [6]Shahih Muslim, Kitab: wujubul wafa bibai’atil khalifah al-awwal fal awwal, no. 1842. Shahih al-Bukhari, Bab: maa dzukiro ‘an bani israil, no. 3268.
    [7]Shahih Muslim, Kitab: Idza Buyi’a Likhalifataini, no. 1842.
    [8] al-Fairuz Abadi, al-Qaamus al-Muhith, 4/ 78
    [9]Muhammad Murtadlo Az-zubaidi, Tajul Arus min Jawahir Al-qamus, 8/ 193
    [10] Syeikhul Islam Imam Al Hafidz Yahya bin Syaraf An Nawawi, Raudhah Ath Thalibin wa Umdah Al Muftiin, 10/49; Syeikh Khatib Asy Syarbini, Mughnil Muhtaj, 4/132.
    [11]Abdurrahman Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190.
    [12]Shahih Bukhari, Kitab: al-Jihad, Bab: Yuqatal min Warail Imam, no. 2957. Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: al-Imam Junnah, no. 1841.
    [13]Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: Wujub al-awafa bi bai’at al-khalifah al-awwal, no: 1844.
    [14]Shahih Bukhari, Kitab: al-Ahkam , Bab: Man baya’a rajulan li ad-dunya, no. 7212; Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, no: 108
    [15]Shahih Bukhari, Kitab: al-Ahkam , Bab: Man lam yasalil imarah a’anahullah ‘alaiha, no. 6727; Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: an-Nahyi ‘an thalabil imarah wal hirsh ‘alaiha, no: 1652
    [16]Shahih Bukhari, Kitab: al-Ahkam , Bab: Maa yukrah minl hirsh ‘alal imarah, no. 6729
    [17] Imam Ibnu Hajar, Fathul bari, 20/167
    [18]Shahih Muslim, Kitab: Wujub mulazamati jama’atil muslimin, no: 1849
    [19]Shahih Bukhari, Kitab: al-fitan, no: 7054,
    [20]Shahih Bukhari, Bab: Qaulullah ta’ala ati’ullaha wa ati’urrasul wa ulil amri minkum, no: 6718; Shahihi Muslim, Bab: Wujub tha’atil umara fi ghairi ma’shiyah, no: 1835
    [21]Shahih Bukhari, Kitab: al-Ahkam , Bab: Kaifa yubaya’ al-imamu an-nas, no. 7199; Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: Wujub tha’atil umara, no: 1709
    [22]Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah,, Bab: man hukmu man kharaqa, no. 1852;
    [23]Shahih Bukhari, Kitab: al-fitan , Bab: Qaul an-nabiyi shalallahu ‘alaihi wa sallam (satarauna ba’di umuraon tunkirunaha), no. 6647; Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: Wujub tha’atil umara, no: 1709
    [24]Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: Wujub tha’atil umara, no: 1838
    [25]Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: an-Nas tabi’un liquraisy wal khilafatu fi quraisy, no: 1821
    [26] Shahih Muslim, Kitab: al-Imarah, Bab: an-Nas tabi’un liquraisy wal khilafatu fi quraisy, no: 1818
    [27]Shahih Bukhari, Kitab: al-Ahkam , Bab: Kaifa yubaya’ al-imamu an-nas, no. 6781
    [28]Shahih Muslim, Kitab: Wujub mulazamati jama’atil muslimin, no: 1851
    [29]Lihat Ajhizatu Daulatil Khilafah fil Hukmi wal Idarah, dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, hal 11
    [30] Imam al-Mubarakfuriy, Tuhfat al-Ahwadziy bi Syarh Sunan al-Tirmidziy, juz 4/468

  6. nunu

    TAKHIRJ HADITS RIWAYAT IMAM AHMAD : KHILAFAH ‘ALA MINHAJ AN-NUBUWWAH
    5:13 PM | Author: el-Hafiy
    UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 5″/>
    حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (رَوَاهُ اَحْمَدُ)

    Imam Ahmad berkata, “Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami; di mana ia berkata, “Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, “Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khuthbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.[HR. Imam Ahmad]

    Takhrij Hadits
    Hadits ini bersumber dari Musnad Imam Ahmad, hadits no.17680, dan hanya Imam Ahmad bin Hanbal sendiri yang meriwayatkan hadits ini (infarada Imam Ahmad bin Hanbal). Riwayat ini termasuk hadits marfu’ (bersambung hingga Rasulullah saw). Adapun perawi hadits ini adalah sebagai berikut.
    Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy. Nama beliau adalah Sulaiman bin Dawud al-Jaarud. Beliau adalah seorang tabi’ut tabi’iy kecil (shugra min al-atbaa’). Nasabnya adalah al-Thayaalisiy. Kunyahnya adalah Abu Dawud. Beliau tinggal di kota Bashrah dan meninggal di kota yang sama pada tahun 204 Hijriyah. Guru-gurunya adalah Aban bin Yazid, Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar bin ‘Isyasy bin Salim, Ishaq bin Sa’id bin ‘Aman bin Sa’id bin al-‘Ash, Israil bin Yunus bin Abi Ishaq, Ismail bin Ja’far bin Abi Katsir, Asy’ats bin Said, Bustham bin Muslim bin Numair, Tsabit bin Yazid, Jarir, bin Hazm bin Zaid, Habib bin Abu Habib Yazid, Harb bin Syaddad, Huraisy bin Salim, Al-Hasan bin Abi Ja’far ‘Ijlaan, al-Hakam bin ‘Athiyyah, Himad bin Salamah bin Dinar, Humaid bin Abi Humaid Mahran, Kharijah bin Mush’ab bin Kharijah, Khalid bin Dinar, Dawud bin Abi al-Farat ‘Amru bin al-Farat, Dawud bin Qais, Rubbah bin ‘Ubadah bin al-‘Ilaa`, Zaidah bin Qudamah, Zum’ah bin Shalih, Dawud bin Ibrahim, Zuhair bin Mohammad, dan lain-lain.
    Murid-murid yang meriwayatkan hadits darinya adalah, Ahmad bin Ibrahim bin Katsir, Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Ali bin Suwaid bin Manjuf, Ahmad bin ‘Ubadah bin Musa, Ahmad bin Mohammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad, Ishaq bin Manshur bin Bahram, Hujjaj bin Yusuf bin al-Hujjaj, Al-Hasan bin ‘Ali bin Mohammad, Khalifah bin Khiyaath bin Khalifah bin Khiyaath, dan lain sebagainya.
    Menurut Ibnu Mahdi, beliau adalah manusia paling terpercaya (ashdaaq al-naas). Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Dia tsiqqah dan terpercaya (tsiqqah mashduuq). Yahya bin Mu’in mengomentari dirinya dengan “shaduuq” (orang yang paling terpercaya). Ali al-Madaniy mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling kuat hafalannya dibandingkan dirinya”. Amru bin Fallas menyatakan, “Aku tidak pernah melihat ahli hadits yang lebih hafal dibandingkan dirinya”. Al-‘Ajalaniy berkata, “Dia tsiqqah dan banyak hafalannya”.
    Dawud bin Ibrahim al-Waasithiy. Nama beliau adalah Dawud bin Ibrahim. Nasabnya adalah al-Wasithiy. Beliau termasuk tabi’iy kecil; dan wafat di kota Bashrah. Murid beliau adalah Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy, dan ia berguru kepada Habib bin Salim. Para ahli hadits menyatakan bahwa ia adalah tsiqqah (kepercayaan).
    Habib bin Salim. Nama beliau adalah Habib bin Salim al-Anshoriy. Beliau termasuk tabi’iy tengah. Nasab beliau adalah al-Anshoriy. Hadits beliau tidak menjadi masalah untuk diambil. Ibnu Hibban menganggapnya tsiqqah. Abu Hatim al-Raziy dan Abu Dawud al-Sajastaniy mengatakan, “Dia tsiqqah”. Imam Bukhari mengatakan, “Fiihi nadzar” (haditsnya perlu diteliti). Ibnu ‘Adiy mengatakan, “Hadits yang diriwayatkan darinya ada idldlirab di sanad-sanadnya”.
    Nu’man bin Basyir bin Sa’ad. Nama beliau adalah Nu’man bin Basyir bin Sa’ad. Nasabnya adalah al-Anshoriy al-Khazrajiy. Nama kunyahnya adalah Abu ‘Abdullah. Beliau tinggal di Kufah dan meninggal di kota Halwan pada tahun 65 Hijriyyah. Beliau adalah seorang shahabat yang keadilannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Murid-murid beliau, diantaranya adalah, Azhar bin ‘Abdullah bin Jami’, Habib bin Salim, al-Hasan bin Ali al-Hasan Yasar, al-Husain bin al-Harits, Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Haitsamah bin ‘Abdurrahman bin Abi Sabrah, Rabi’ah bin Yazid, Sammaak bin Harb bin Aus, Al-Dlahak bin Qais bin Khalid al-Akbar bin Wahab, dan lain-lain.

    Kesimpulan
    Hadits di atas adalah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqqah. Oleh karena itu, hadits di atas maqbul, alias absah dijadikan hujjah. Adapun penilaian Imam Bukhari terhadap Habib bin Salim, sesungguhnya tidak menggugurkan penilaian-penilaian ahli hadits yang lain terhadap Habib bin Salim. Meskipun Imam Bukhari tidak memasukkan riwayat ini di dalam kitab shahihnya, akan tetapi ulama-ulama hadits lain menganggapnya shahih, dan menilai Habib bin Salim sebagai perawi yang tsiqqah. Atas dasar itu, jika kita mengikuti penilaian Ibnu Hibban, dan muhadditsiin lain yang menganggap tsiqqah Habib bin Salim, maka hadits di atas adalah hadits shahih yang layak dijadikan dalil istinbath tanpa ada keraguan sedikitpun. Hadits ini didukung sekitar delapan hadits lain, dengan makna yang sama. Seperti masuknya Islam ke setiap rumah, al-waraq al-mu’allaq, turunnya Khilafah di al-Quds, dan sebagainya. Makna hadits kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah ini diriwayatkan oleh 25 sahabat, yang kemudian diriwayatkan oleh 39 tabiin, lalu diriwayatkan oleh 62 tabiit tabiin. Ini menunjukkan bahwa, hadits tentang bisyarah (khabar gembira) akan tegaknya Khilafah ‘Ala Minhaj An Nubuwwah termasuk hadits mutawatir bil makna.
    Hanya saja, tegaknya Khilafah ‘Ala Minhaaj al-Nubuwwah menyertakan peran dan andil dari kaum Muslim, bukan semata-mata hanya andil dari Allah swt. Untuk itu, kaum Muslim wajib merencanakan dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan dan mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah ini. Ia dilarang menunggu-nunggu tegaknya Khilafah Islaamiyyah tanpa melakukan tindakan apapun, dengan alasan berdirinya khilafah merupakan taqdir dan qadla’nya Allah swt. Oleh karena itu, seandainya hadits ini tidak ada, atau dianggap tidak layak dijadikan dalil, sesungguhnya kaum Muslim tetap diperintahkan untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah hingga datangnya hari kiamat. Mereka dilarang hidup tanpa keberadaan seorang Khalifah yang mengatur urusan mereka dengan syariat Allah swt. Sesungguhnya, yang diwajibkan syariat atas kaum Muslim adalah menegakkan Khilafah al-Islamiyyah tanpa memperhatikan lagi apakah Khilafah Islamiyyah bisa berdiri kembali atau tidak dalam prerograsi Allah. Hanya saja, seorang Muslim wajib menyakini dan mengimani apa yang telah dijanjikan Allah swt kepada mereka; yakni, jika mereka bersungguh-sungguh dan sabar dalam menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka. Allah swt berfirman;
    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.[TQS Mohammad (47):7]

    Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy

  7. nunu

    Syarah Hadits: “Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah, Mulkan ‘Addhan, Mulkan Jabariyyan”

    26 Oct 2016 in Tsaqofah Leave a comment

    Oleh: KH Hafidz Abdurrahman [Khadim Majlis-Ma’had Syaraful Haramain]

    Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits dari Nu’man bin Basyir, radhiya-Llahu ‘anhu, berkata:

    كنا جلوساً في المسجد فجاء أبو ثعلبة الخشني فقال: يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله ﷺ في الأمراء، فقال حذيفة: أنا أحفظ خطبته. فجلس أبو ثعلبة. فقال حذيفة: قال رسول الله ﷺ: تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكًا عاضًا فيكون ما شاء الله أن يكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكًا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، ثم سكت.

    ““Ketika kami sedang duduk di masjid, Abu Tsa’labah al-Khasyani datang. Dia berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah Anda hapal hadits Rasulullah saw. tentang kepemimpinan?” Hudzaifah berkata, “Saya hapal khutbah baginda.” Abu Tsa’labah pun duduk. Hudzaifah bertutur, “Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Akan ada era kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Baginda Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam kemudian diam.”

    Hadits yang sama diriwayatkan oleh at-Thayalisi, al-Baihaqi dan at-Thabari. Hadits ini disahihkan oleh al-Albani dalam kitabnya, Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, dan dinyatakan hasan oleh al-Arna’uth. Hadits ini juga mempunyai syahid [pendukung] dari Safinah radhiya-Llahu ‘anhu, budak Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam, yang menuturkan, Rasululullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

    الْخِلاَفَةُ فِي أُمّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً، ثُمّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ. ثُمّ قَالَ سَفِينَةُ: امْسِكْ عَلَيْكَ خِلاَفَةَ أَبي بَكْرٍ، ثُمّ قَالَ: وَخِلاَفةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمانَ، ثُمّ قَالَ لي: امسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيّ قال: فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً. رواه أحمد وحسنه الأرناؤوط.

    “Khilafah di tengah-tengah umatku ada tiga puluh tahun. Kemudian setelah itu “kerajaan”. Kemudian Safinah berkata, “Kalian wajib berpegangteguh dengan Khilafah Abi Bakar.” Beliau kemudian menuturkan, “Juga dengan Khilafah ‘Umar, ‘Utsman.” Kemudian beliau berpesan kepadaku, “Kamu harus pegang teguh Khilafah ‘Ali.” Perawi berkata, “Kami pun mendapatinya selama tiga puluh tahun.” [Hr. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Arna’uth]

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah, Radhiya-Llahu ‘anhu, berkata: “Era kenabian itu telah berlalu, maka [setelahnya] era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Riwayat ini dishahihkan oleh al-Arna’uth.

    Makna dan Penjelasan Hadits

    Mengenai makna, “Nubuwwah fikum” [era kenabian di tengah-tengah kalian] jelas maksudnya, yaitu era Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah era ini tidak ada lagi Nabi, kemudian urusan ummat Nabi diurus oleh para Khalifah. Inilah yang disebut era Khilafah. Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

    كَانَتْ بَنُوْ اِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ مِنْ بَعْدِيْ وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ.

    “Bani Israil telah dipimpin oleh para Nabi, ketika seorang Nabi telah wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang baru. Sesungguhnya, tidak ada Nabi setelahku, dan akan ada para Khalifah. Mereka jumlahnya banyak.” [Hr. Muslim]

    Jadi, setelah era Kenabian adalah era Khilafah. Hanya, era Khilafah ini kemudian dirinci dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas. Secara keseluruhan, di dalam hadits tersebut Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam merinci:
    1- Era Kenabian;
    2- Era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian;
    3- Era Khilafah yang zalim [‘adhudh];
    4- Era Mulkan Jabariyyah [penguasa diktator];
    5- Era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian;

    Mengenai makna era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian telah disepakati oleh para ulama’, yaitu: Khilafah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Ini sebagaimana yang dinyatakan dalam redaksi riwayat di atas, khususnya hadits Safinah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Apa yang dituturkan oleh Safinan, “Kalian wajib berpegangteguh dengan Khilafah Abi Bakar.” Beliau kemudian menuturkan, “Juga dengan Khilafah ‘Umar, ‘Utsman.” Kemudian beliau berpesan kepadaku, “Kamu harus pegang teguh Khilafah ‘Ali.” Perawi berkata, “Kami pun mendapatinya selama tiga puluh tahun.” [Hr. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Arna’uth] sebenarnya merupakan pernyataan sahabat, bukan Nabi, dengan begitu statusnya adalah Mauquf, tetapi bisa dihukumi Marfu’.

    Sebagai ulama’ yang lain, memasukkan Khilafah al-Hasan bin ‘Ali, yang memerintah selama 6 bulan, setelah ayahandanya, Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, di dalam era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, sehingga genap hitungannya menjadi 30 tahun. Persis sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits Safinah di atas.

    Adapun setelah 30 tahun, yang berarti dimulai sejak era Khilafah Umayyah, ‘Abbasiyyah, hingga ‘Ustmaniyyah di sini ada perbedaan di kalangan ulama’. Termasuk apa yang disebut Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam dengan istilah, “Mulkan ‘adhhan” [kekuasaan yang menggigit/zalim].

    Ibn ‘Atsir dalam kitabnya, an-Nihayah, menjelaskan makna:

    (ثم يكون ملك عضوض) أي يصيب الرعية فيه عسْفٌ وظُلْم، كأنَّهم يُعَضُّون فيه عَضًّا. والعَضُوضُ: من أبْنية المُبالغة. وفي رواية (ثم يكون مُلك عُضُوض) وهو جمع عِضٍّ بالكسر، وهو الخَبيثُ الشَّرِسُ. ومن الأول حديث أبي بكر (وسَتَرَون بَعْدي مُلْكا عَضُوضاً). اهـ.

    “Tsumma yakunu mulkun ‘adhudh” [Kemudian akan ada kekuasaan yang menggigit], maksudnya dia akan menimpakan kesulitan dan kezaliman kepada rakyatnya. Mereka seakan-akan tengah menggigit rakyatnya dengan gigitan. Lafadz “Adhudh” adalah bentuk “Mubalaghah” [klimaks]. Dalam riwayat, dinyatakan: “Tsumma yakunu mulkun ‘adhudh” [Kemudian akan ada kekuasaan yang menggigit], yaitu jamak dari “Idhdhin” dengan dikasrah, maknanya adalah yang jahat dan buruk perangai. Di antara yang paling awal adalah hadits Abu Bakar, yang menyatakan, “Setelahku, kalian akan menyaksikan kekuasaan yang menggigit.” – sampai di sini.

    Inilah makna, “Mulkan ‘Adhdhan” yang dinyatakan dalam hadits Imam Ahmad di atas. Mengenai makna, “Mulkan Jabariyyan” Ibn ‘Atsir dalam kitabnya, an-Nihayah, menjelaskan makna:

    وأما الملك الجبري، فالمراد به الملك بالقهر والجبر. قال ابن الأثير في النهاية: (ثم يكون مُلك وجَبَرُوت) أي عُتُوّ وقَهْر. يقال: جَبَّار بَيّن الجَبَرُوّة، والجَبريَّة، والْجَبَرُوت. اهـ

    “Adapaun “Mulk Jabary” yang dimaksud adalah kekuasaan yang dijalankan dengan tekanan [qahr] dan paksaan [jabar]. Ibn al-Atsir berkata, dalam kitabnya, an-Nihayah, “Tsumma yakunu Mulkun wa Jabarutun” [kemudian akan ada kekuasaan dan tekanan]. Maksudnya adalah melampui batas dan mengintimidasi. Ada yang mengatakan, “Jabbar untuk menjelaskan “Jabaruwwah” [kekuatannya yang menindas], “Jabariyyah [kesombongan], dan “Jabarut” [menakut-nakuti dengan kekuasaannya].” – sampai di sini.

    Mengenai terjadinya apa yang dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas, sebagian ulama’ salaf telah menyatakan, bahwa periodesasi tersebut telah terjadi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Habib, dalam riwayat al-Baihaqi:

    قَالَ حَبِيْبٌ: فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ، وَكَانَ يَزِيْدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ فِي صَحَابَتِهِ، فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيْثِ أَذْكُرُهُ إِيَّاهُ. فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّي أَرْجُوْ أَنْ يَكُوْنَ أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ – يَعْنِي عُمَرَ – بَعْدَ المُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبَرِيَّةِ، فَأُدْخِلَ كتِاَبِيْ عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ.

    “Habib berkata, “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berdiri, dan Yazid bin Nu’man bin Basyir [putra sahabat Nu’man bin Basyir yang meriwayatkan hadits Ahmad di atas] menyertainya, maka aku pun menulis surat untuknya berisi hadits [riwayat Ahmad dari Nu’man bin Basyir, ayah Yazid] ini. Aku mengingatkannya tentang isi hadits tersebut. Aku berkata kepadanya, “Saya berharap, Amirul Mukminin, maksudnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, termasuk penguasa setelah kekuasaan yang zalim dan diktator.” Aku pun menyelipkan suratku untuk ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Beliau pun merasa senang, dan terkesan dengan isinya.”

    Kesimpulan dan harapan Habib ini membuktikan, bahwa ciri-ciri yang dimaksud dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yaitu “Mulkan ‘Adhdhan” [kekuasaan yang zalim], dan “Mulkan Jabariyyan” [kekuasaan yang diktator] telah terjadi di masa Khilafah Bani Umayyah, sebelum era ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, sehingga Habib berharap, bahwa Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian itu jatuh kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

    Kesimpulan Habib ini di satu sisi bisa dibenarkan, yaitu terjadinya Mulkan ‘Adhdhan, yang dimulai sejak era Khilafah Bani Umayyah. Begitu juga harapan, bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz termasuk Khalifah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian juga benar. Tetapi, apakah beliau itulah yang dimaksud oleh periode hadits ini? Termasuk, apakah Mulkan Jabariyyah juga sudah terjadi di zaman itu? Di sinilah, para ulama’ berbeda pendapat dengan beliau. Antara lain, al-‘Allamah Syaikh Nashiruddin al-Albani:

    وَمِنَ الْبَعِيْدِ عِنْدِيْ جَعْلُ الْحَدِيْثِ عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ؛ لأَنَّ خِلاَفَتَهُ كاَنَتْ قَرِيْبَةَ الْعَهْدِ بِالْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ، وَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ مُلْكَانِ مُلْكٌ عَاضٌّ وَمُلْكٌ جَبَرِيٌّ. والله أعلم. اهـ

    “Menurut saya, terlalu jauh memberlakukan hadits ini untuk ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Karena kekhilafahannya dekat dengan era Khilafah Rasyidah. Padahal, sebelumnya belum pernah ada dua kekuasaan: kekuasaan yang zalim dan diktator.” – sampai di sini.

    Mengenai akan kembalinya Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian, sekaligus membuktikan, bahwa era Mulkan Jabariyyah [kekuasaan diktator] masih berlangsung hingga saat ini adalah hadits riwayat Muslim dan Ahmad:

    عَنْ أَبِيْ سَعِيْد وَجَابِر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (يَكُوْنُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ خَلِيْفَةٌ يُقَسِّمُ الماَلَ، وَلاَ يَعُدُّهُ)، وفي رواية: قال: (يَكُوْنُ في آخِرِ أُمَّتِي خَلِيْفَةٌ يُحْثِي الماَلَ حَثْيًا، وَلاَ يَعُدُّهُ عدًا).

    “Dari Abi Said dan Jabir, radhiya-Llahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Pada akhir zaman akan ada seorang Khalifah yang membagikan harta, dan tidak bisa menghitungnya [saking banyaknya].” Dalam riwayat lain, baginda bersabda, “Pada akhir zaman akan ada seorang Khalifah yang memobilisir harta sebanyaknya-banyaknya, dan tidak bisa menghitungnya [saking banyaknya].”

    Juga hadits kembalinya “ular ke liangnya”, Syam [Suriah, Yordania, Palestina dan Libanon] sebagai Dar al-Islam, serta ditampakkannya kekuasaan umat Nabi Muhammad meliputi tempat terbitnya matahari, dari ujung timur hingga barat bumi ini. Hadits-hadits akhir zaman, termasuk kembalinya Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian ini belum terjadi. Ini membuktikan, bahwa Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian terakhir, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas belum terjadi, dan akan terjadi.

    Sekaligus membuktikan, bahwa era saat ini adalah era Mulkan Jabariyyan [kekuasaan diktator], dan era Mulkan ‘Addhan sudah berakhir, yang dimulai sejak zaman Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah hingga ‘Ustmaniyyah. Meski, dalam kasus per kasus, ada juga para penguasa yang berada di era Mulkan ‘Addhan tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai Khalifah Rasyid, seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

    Pertanyaan kemudian, jika benar era ini disebut Mulkan Jabarriyyan, dengan menggunakan istilah Mulk, mengapa era Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah hingga ‘Ustmaniyyah juga disebut Mulk?

    Jawabannya adalah, bahwa istilah Mulk dalam konteks hadits di atas tidak bisa diartikan dengan konotasi istilah, Mulk sebagai kerajaan. Sehingga, Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah hingga ‘Ustmaniyyah tidak layak disebut sistem Khilafah lagi, tetapi sistem kerajaan. Sebaliknya, istilah Mulk di sini mempunyai konotasi bahasa, yaitu kekuasaan. Kalaupun ada praktik dalam sistem kerajaan yang digunakan, seperti waratsah [kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota], sebenarnya praktik seperti ini tidak bisa mengubah sistem Khilafah secara keseluruhan, karena faktanya bai’at tetap dipertahankan. Meski dalam implementasinya ada kesalahan, termasuk dengan menggunakan cara waratsah [kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota].

    Karena itu, dalam kitabnya Tarikh al-Khulafa’, Imam as-Suyuthi telah menyusun periodesasi Khalifah, sejak zaman Abu Bakar hingga zaman beliau, dan beliau memberikan komentar, bahwa para khalifah yang disusunnya itu berdasarkan kesepakatan para ulama’. Bukan para khalifah yang dianggap telah menyimpang. Pada saat yang sama, hadits Khilafah tiga puluh tahun juga beliau angkat dalam kitabnya, dimana Khilafah tiga puluh tahun tersebut identik dengan Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ustman, ‘Ali dan al-Hasan. Setelah itu, berlaku era berikutnya.

    Namun, uniknya, Imam as-Suyuthi tetap menyebut para penguasa yang hidup setelah era Khilafah tiga puluh tahun, atau Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj Nubuwwah itu dengan sebutan Khalifah, meski berbagai penyimpangan terjadi di dalamnya. Termasuk, implementasi bai’at yang dilakukan dengan cara waratsah [kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota].

    Kesimpulan

    Dengan demikian, bisa disimpulkan:
    1- Istilah “Mulkan ‘Adhdhan” yang dinyatakan dalam hadits Imam Ahmad di atas tidak berarti, sistem Khilafah telah berubah menjadi kerajaan. Dengan kata lain, istilah “Mulkan” di dalam hadits di atas lebih tepat diartikan dengan konotasi bahasa, bukan istilah.

    2- Secara bahasa, juga tidak salah jika diartikan, “Kaannahu Mulkan ‘Adhdhan” [kekuasaannya seolah seperti kerajaan yang menggigit/zalim]. Jadi, bukan berbentuk kerajaan yang sesungguhnya, hanya seolah-oleh seperti sistem kerajaan, karena dipraktekkannya waratsah [kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota]. Faktanya memang kesalahan dalam mengimplementasikan bai’at terjadi sejak zaman Mu’awiyyah hingga akhir Khilafah ‘Ustmaniyyah.

    3- Karena itu, Imam as-Suyuthi, sebagaimana yang disepakati ulama’ dan umat, menyebut para penguasa di era itu dengan “Khalifah”, dan jabatanya disebut “Khilafah”. Bukan “Malik”, dan “Mulk”. Kaidah yang digunaakan oleh as-Suyuthi ini juga digunakan oleh ulama’ berikutnya, ketika menentukan para Khalifah ‘Utsmaniyyah.

    4- Periode “Mulkan ‘Adhdhan” ini memang benar-benar telah berakhir, dengan runtuhnya Khilafah ‘Ustmaniyyah di Istambul, 3 Maret 1924 M.

    5- Setelah itu, hingga saat ini sedang berlangsung periode “Mulkan Jabariyyan” sebagaimana yang dijelaskan di atas. Periode ini akan segera berakhir, dan digantikan dengan periode baru, Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah.[]

  8. Abu Aqsith

    Makalah yg ust copas ke sini spertinya bukan sanggahan, namun sebaliknya makalah kami adalah jawaban dari makalah yg ust copas.

    Disini kami telah menyertakan argument dgn menyertakan riwayat yg mahfudz untuk membuktikan kemungkaran riwayat habib tersebut. Sangat jelas habib menyendiri dalam riwayatnya menyalahi riwayat² lain yg mahfudz (terpelihara). Dan ini tidak ada tanggapan sedikitpun di makalah copasan ust.

    Juga komentar al hafidz ibn hajar dan pelemahan habib oleh al-bukhory tdk dikomentari.

    Di akhir makalah, udah di jelaskan bhw pelemahan hadits habib jgn Disalah artikan kami anti khilafah atau syariat Islam.

    Fokus kami adalah takhrij. Dan perbedaan dlm menyikapi hadits adalah biasa,

    Setelah makalah ini kami pandang riwayat habib lemah dgn point² yg telah disebutkan diatas,. Berikutnya in syaa Allah makalah lain ttg tema ini akan kami postingkan sebab apa habib menambahkan kalimat khilafah di fase kedua. Dan siapa daud rowi yg dapat dari habib.

    Syukron sharing makalahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *