Sebelumnya telah kami postkan pelajaran pertama tentang Ittishālu Sanad atau tersambung sanad. yang belum sempat membacanya silahkan untuk klik disini, ….

Pembahasan selanjutkan adalah bagaimana cara mengetahui sama’nya seorang rawi mudallis.

2. Sahnya sama’ seorang rawi mudallis.

Secara umum rawi yang bertadlis ketika didapatkan pada salah satu sanadnya ber-‘an’anah maka mestilah di cari pada jalur yang lain (dari tema yang sama) ia menyatakan sama’ pada syaikhnya tersebut.

Contoh Ibnu Jureij yang dikenal banyak bertadlis sehingga al-Hafidz Ibnu Hajar memasukkannya pada martabat ke 3 dikitabnya thabaqaat al-mudallisin:

حَدَّثنا مُحَمد بن مَعْمَر ، حَدَّثنا روح ، عَن ابن جريج ، عَن نافع ، عَن ابن عُمَر قال : نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أن يقيم الرجل الرجل من مقعده ثم يجلس فيه قلت :يوم الجمعة ؟ قال : يوم الجمعة وغيره.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bazzar no.5779 dalam kitab musnadnya dimana didapatkan Ibnu Jureij pada sanad ini ber’an’anah dari Imam Nafi’.

Namun didapatkan pada sanad lain Ibnu Jureij tashrih bissama’ dari Imam Nafi’:

حدثنا محمد قال أخبرنا مخلد بن يزيد قال أخبرنا ابن جريج قال سمعت نافعا يقول سمعت ابن عمر رضي الله عنهما يقول : نهى النبي صلى الله عليه و سلم أن يقيم الرجل أخاه من مقعده ويجلس فيه . قلت لنافع الجمعة ؟ قال الجمعة وغيرها

(رواه البخاري:869)

Dengan demikian pada dasarnya Ibnu Jureij walau ber’an’anah pada riwayat al-Bazzar namun ‘an’anahnya dipastikan sama’ dari Imam Nafi’ dengan dasar didapatkan pada jalur sanad yang lain tashrih bissama yakni di kitabnya al-Bukhary.

Apabila seorang rawi mudallis ini dalam sanadnya ber’an’anah dan pada jalur yang lainpun (dari tema yg sedang di kaji) semuanya didapatkan ber’an-anah tanpa satupun didapatkan tashrih bissama’ maka kembali kepada kaidah yang umum pada dasarnya rawi mudallis ditolak riwayat ‘an’anahnya, kecuali:

  • Rawi Mudallis ini termasuk yang sedikit sekali dalam bertadlisnya.

Syarat no.1 ini seyogyanya bagi kita untuk tidak terlalu ketat (tasyaddud) dalam menilai riwayatnya dan tidak perlu bersusah-susah mencari riwayat di sanad lain (dari tema yg sama) akan sama’nya.

KECUALI apabila rawi mudallis jenis ini walau diketahui sedikit sekali tadlisnya namun pada tema yang sedang dibahas didapatkan di jalur lain ada rawi antara ia dari syaikhnya maka itu menjadi petunjuk yang kuat bahwa rawi ini sedang bertadlis dalam riwayat ini.

rawi mudallis yang muqill ini diantaranya dua Sufyan yakni : Sufyan bin ‘Uyainah dan Sufyan ats-Tsaury. dan lebih lengkapnya silahkan hafalkan rawi-rawi mudallis yang telah al-Hafidz susun dikitab khususnya thabaqaat al-mudallisin untuk rawi mudallis yang sedikit bertadlis ada di thabaqah 1 dan thabaqah ke 2. Adapun thabaqah ke 3 sudah mulai harus ketat dalam beranalisa.

  • Rawi Mudallis ini termasuk yang sedikit sekali dalam tadlisnya dan termasuk rawi mimman laa yarwie Illaa ‘an tsiqah.

ممن لا يروي إلا عن ثقة

“rawi yang tidak meriwayatkan kecuali dari yang tsiqah

(Untuk mengenal siapa saja rawi-rawi yang dikenal akan kaidah ini in syaa Allah nanti di bahas ditengah diskusi pelajaran kedua ini)

  • Rawi Mudallis ini termasuk yang sedikit atau banyak bertadlis namun khusus ’an’anahnya terhadap syaikh yang banyak bermulazamah dan banyak meriwayatkan darinya maka riwayatnya diterima.

Seperti Al-A’masy dari Aby Shalih atau Ibnu Jureij dari ‘Atha:

حدثنا إسحق بن نصر قال حدثنا عبد الرزاق أخبرنا ابن جريج عن عطاء قال : سمعت ابن عباس قال لما دخل النبي صلى الله عليه و سلم البيت دعا في نواحيه كلها ولم يصل حتى خرج منه فلما خرج ركع ركعتين في قبل الكعبة وقال ( هذه القبلة )

(رواه البخاري)

pada riwayat ini ibnu Jureij seorang rowi mudallis tingkat 3 di kitab thabaqatnya al-Hafidz sedang ber’an’anah terhadap Imam Atha namun al-Bukhary tetap memasukkan riwayat ini dalam kitab shahihnya.

Dalam penelusuran riwayatnya ibn Jureij dari Imam Atha akan kita dapatkan banyak sekali riwayat yang menunjukkan adalah Imam Atha memang sebagai syaikh dekatnya, syaikh yang selalu diambil faidahnya oleh Ibnu Jureij.

Namun sebenarnya tidak cukup rawi mudallis ini hanya karena dapat dari syaikh dekatnya riwayatnya diterima tanpa ada penguat lain yg dapat menentramkan ahlu hadits menerima riwayatnya

Diantara penguat lain bahwa ‘an’anahnya Ibnu Jureij dari Imam Atha guru dekatnya muthlaq diterima adalah pengakuan Ibnu Jureij sendiri pada perkataannya:

حَدثنَا إِبْرَاهِيم بن عَرْعرة، قَالَ: نَا يحيى بن سعيد الْقطَّان، عَن ابْن جريج قَالَ: إِذا قلت: قَالَ عَطاء فَأَنا سمعته مِنْهُ، وَإِن لم أقل سَمِعت. (أخبار المكيين من تاريخ ابن أبي خيثمة:350

_Ibnu Jureij berkata: “Apabila aku berkata: Imam Atha berkata,. Maka aku mendengar darinya walaupun aku tidak mengatakan: Aku mendengar”_

AKAN TETAPI

Mestilah kita tetap hati-hati pada jenis contoh ini pada beberapa kondisi keadaan tertentu seperti rawi yang bernama al-Mughirah bin Muqsim yang banyak sekali meriwayatkan dari Ibarahim an-Nakha’ie sebagai guru dekatnya namun ia juga masih sering bertadlis pada guru dekatnya ini. Karena itu al-Hafidz mengomentarinya di kitabnya at-Taqrib:

ثقة متقن إلا أنّه كان يدلّس ولا سيما عن إبراهيم

”(al-Mughirah) ini rawi tsiqah mutqin akan tetapi ia rawi mudallis terutama pada Ibrahim an-Nakha’ie”

 

Bersambung, ….


Akhukum Fillah

Abu Aqsith

Bandung Jawa Barat Indonesia

1 KOMENTAR

  1. terus lanjutkan ustadz sangat bermanfaat sekali bagi saya yang ingin memahami islam dari sumber yang benar yaitu hadist-hadist rasulullah, lanjutkan ustadz…. Barokallohu fikum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − sixteen =