Sebelumnya telah kami postkan pelajaran kesatu sampai kelima tentang Ittishālu Sanad atau tersambung sanad. yang belum sempat membacanya silahkan untuk klik disini, ….

Pembahasan selanjutkan pelajaran keenam yaitu  Membedakan Periwayatan Wijadah Dengan Periwayatan Dari Kitab Syaikh Yang Pasti Sama’nya

Membedakan Antara Apa yang diriwayatkan oleh seorang rawi dari kitab (Wijadah) dengan apa yang diriwayatkan dari Kitab Syaikh yang telah pasti sama’ nya

Masalah ini memang cukup pelik. Kebanyakan ahli ilmu tidak berhujjah dengan riwayat yg didapatkan dari kitab orang lain tanpa sama’. Berbeda dengan periwayatan dari sebuah kitab orang lain yang dipastikan sama’nya dari syaikh. Yang kedua ini Imam Muslim dan yang lainnya berhujjah.

contohnya:

Riwayat Thalhah bin Nafi’ dari Jabir r.a. riwayatnya dipakai hujjah oleh Imam Muslim di beberapa tempat pada riwayat ashal. Adapun imam al-Bukhary sepertinya lebih hati-hati memakainya dibeberapa tempat hanya sebagai maqrun, sebab perhatiannya terhadap qaul syaikhnya yaitu Imam Ibnu al-Madiny:

أبو سفيان لم يسمع من جابر إلا أربعة أحاديث

Abu Sufyan (thalhah bin Nafi’) tidak sama’ terhadap Jabir r.a kecuali 4 hadits saja” (Kitab al-‘Ilal al-Kabir).

———————————————-

Al-Hafidz berkata:

al-Bukhary tidak mengeluarkan riwayat thalhah selain pada 4 riwayat saja dari Jabir r.a, dan aku duga ia sangat perhatian terhadap pendapat syaikhnya ‘Aly bin al-Madiny. 4 hadits itu ialah :

  • 2 hadits pada bab minuman yg riwayatnya di maqrun oleh Aby Shalih dan bab fadlail.
  • 1 hadits ttg Arsy.
  • 1 hadits lagi ttg tafsir surat al-Jumu’ah yang riwayatnya di maqrun oleh Salim bin Aby al-Ju’d”(kitab at-Tahdzib Juz 5: hal. 25)

———————————————————-

Pendapatku :(syaikh ‘Amr)

Abu Sufyan (Thalhah) sebenarnya banyak sama’ dari Jabir r.a dan ia senantiasa mendampinginya beberapa bulan dimana al-Bukhary telah menguluarkan riwayatnya di kitab tarikh dengan sanad yang shahih. Dan ini cukup untuk memastikan sama’nya tidak diragukan lagi.

Sama’nya thalhah dari Jabir r.a diikuti oleh temannya yaitu Sulaiman al-yasykary.

Sulaiman biasa menulis, adapun ia ( Thalhah) menghafal. Hal ini sebagaimana di sebutkan oleh Imam Ahmad di dalam kitabnya al-‘Ilal :

حدثنا هشيم قال : أخبرنا أبو بشر جعفر بن أبي وحشية قال : قلت لأبي سفيان : مالي لا أراك تحدّث عن جابر كما يحدّث سليمان اليشكري ؟ قال : إنّ سليمان كان يكتب وإني لم أكن أكتب

Abu Basyar berkata kepada Abu Sufyan (thalhah): “Aku tidak melihat engkau meriwayatkna dari Jabir r.a sebagaimana Sulaiman meriwayatkan dari nya?

Thalhah menjawab: “(karena) Sulaiman itu menulis adapun aku sendiri tidak”

(kitab al-‘Ilal Juz 2 hal.248)

Atas kondisi seperti itu apa yang didengar Thalhah dan Sulaiman dari Jabir r.a oleh Thalhah diriwayatkan (dengan mengutip) catatan Sulaiman.

Imam ‘Aly bin al-Madiny mengutip perkataannya Ibnu Mahdy bahwa Syu’bah berpendapat hadits-hadits Aby Sufyan dari Jabir r.a adalah apa yg ia dapatkan di kitab temannya yaitu Sulaiman al-yasykary. (Ma’rifatu ‘Ulumi al-Hadits: 129).

Disinilah perbedaanya (meriwayatkan dari kitab syaikh) dengan metode Wijadah yaitu seseorang meriwayatkan dari kitab orang lain yang sama’nya ia dengan pemilik kitab ke syaikhnya adalah dipastikan sama’.

Bersambung, ….


Akhukum Fillah

Abu Aqsith

Bandung Jawa Barat Indonesia

————————————-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − twelve =