Sebelumnya telah kami postkan pelajaran kesatu, kedua dan ketiga tentang Ittishālu Sanad atau tersambung sanad. yang belum sempat membacanya silahkan klik disini, ….

Pembahasan selanjutkan pelajaran keempat yaitu  mengetahui kapan seorang rawi mendengar dari syaikhnya kapan tidak mendengar.

Menentukan Hadits Tersambung dari Sama’nya Seorang Rawi Terhadap Syaikhnya

Ketahuilah bahwa sebagian periwayat hadits hanya beberapa kali ketemu dengan syaikhnya yg ia riwayatkan. Disaat pertemuannya memang ia mendengar perkataan syaikhnya, akan tetapi sama’nya dari syaikh tersebut tidak valid ketika ia meriwayatkan hadits-hadits yang lain.

Artinya,.. kapan saja ia meriwayatkan dari seorang syaikh sebuah hadits maka dinilai riwayatnya tidak ittishal (bersambung). Dan sama’nya dinilai mauquf.

Contoh seperti ini diantaranya adalah:

Al-Hasan al-Bashri dari Utsman bin ‘Affan r.a.

sama’nya al-Hasan dari Utsman bin Affan r.a hanya hadits ketika khutbahnya Utsman pada perintah untuk membunuh anjing.

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ ، قَالَ : شَهِدْتُ عُثْمَانَ يَأْمُرُ فِي خُطْبَتِهِ بِقَتْلِ الْكِلابِ وَذَبْحِ الْحَمَامِ.

Adapun sama’nya al-Hasan ke Utsman pada hadits-hadits yang lain dinilai tidak sah. Karena itu ketika al-Hasan meriwayatkan dari Utsman suatu hadits maka riwayatnya mursal atau maksudnya terputus.

Komentarku: penjelasan diatas dapat diketahui hanya dengan merujuk kepada penjelasan para ahlu naqd dan tidak bisa atau sulit sekali untuk bisa menetapkan seorang rawi sama’ atau tidaknya terhadap syaikh hanya bermodalkan analisa kita sendiri.

Contohnya dalam pelajaran ini disebutkan bahwa al-Hasan tidak sama’ terhadap Utsman bin ‘Affah kecuali hanya ketika khutbahnya Utsman pada perintah untuk membunuh anjing adalah merujuk pada qaul Ibnu Madiny seorang kritikus sanad yang disegani dan seorang guru yang telah melahirkan seorang murid yang piawai dalam ilmu hadits yaitu Masternya Ilmu hadits dialah al-Bukhary.

Imam Besar Aly bin Madiny:

وأما سماع الحسن من عثمان بن عفان فإنّه لم يسمع منه إلا خطبته المذكورة فحسب

“Adapun al-Hasan dari Utsman bin ‘Affan adalah ia tidak sama’ darinya kecuali hanya disaat khutbahnya Utsman saja”

Karena itu qaulnya para imam Ahlu Naqd tentang seorang rawi kurangnya ini dan itu adalah hujjah  selama qaulnya tidak ada yg menyelisihi. Dan inilah yang biasa disebut dengan‘Ilal.

Kajian ‘ilal al-hadits adalah suatu kajian khusus para ahlu naqd dalam menyingkap cacat yg tersembunyi dari seorang rawi yang hanya di ketahui oleh orang tertentu dikalangan ahlu naqd.

Rawi yang tersingkap ‘aibnya itu biasanya rawi tsiqah, dan ahli hadits yang dapat menyingkap tabir cacatnya itu biasanya seorang ahli hadits yang spesialis dibidangnya seperti Abu Hatim, Ibnu Madiny, Al-Bukhary dll.

In syaa Allah pembelajaran ‘Ilalu al-Hadits akan dikumpas tuntas pada grup level 4.

Bersambung, ….


Akhukum Fillah

Abu Aqsith

Bandung Jawa Barat Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten + six =