Sebelumnya telah kami postkan pelajaran kesatu sampai keempat tentang Ittishālu Sanad atau tersambung sanad. yang belum sempat membacanya silahkan untuk klik disini, ….

Pembahasan selanjutkan pelajaran kelima yaitu  memastikan suatu hadits itu termasuk yang didengar rawi dari syaikhnya.

Memastikan bahwa suatu hadits itu termasuk yang didengar rawi dari Syaikhnya

Sebagian rawi dari beberapa hadits tertentu sama’nya  dari syaikh adalah valid. Adapun sisa hadits yang lain yg di dapat masih dari syaikh yang sama adalah Mursal.  Dengan demikian mestilah bagi peneliti hadits untuk memastikan hadits-hadits mana saja yang tergolong sama’nya valid dan hadits mana yg sama’nya tidak valid.

Jenis seperti ini sebagian (ahlu hadits) menamakannya dengan Tadlis (yaitu hadits dimana si rawi tidak sama’ dari syaikhnya), sebagai pelengkap dari syarat tadlis.

Contoh jenis seperti ini adalah: al-Hakam bin ‘Utaibah tidak sama’ dari Muqsim kecuali hanya 5 hadits saja.

al-Hafidz al-‘Alāie didalam kitabnya Jāmi’u at-Tahsīl berkata:

قال شيخنا المزي في التهذيب : وقال شعبة : لم يسمع الحكم من مقسم إلا خمسة أحاديث ، وعدها يحيى القطان

”Syaikh kami al-Mizzy dalam kitabnya at-Tahdzīb berkata: Imam Syu’bah berkata: “al-Hakam tidak sama’ dari Muqsim kecuali 5 hadits saja. Yahya bin Sa’id al-Qathan menyebutkannya, yaitu :

  1. Hadits Witir
  2. Hadits Qunut
  3. Hadits ‘Azmah at-Thalaq
  4. Hadits balasan dari membunuh binatang ternak
  5. Hadits seorang laki-laki mendatangi istrinya yang sedang haid

Keduanya berkata: “Adapun selain dari ke 5 hadits diatas adalah Kitab (maksud kitab disini adalah seorang rawi mendapatkan dari syaikhnya bukan melewati liqa atau majelis akan tetapi sang rawi menemukan dari sebuah kitab).

Perbedaan antara jenis model ini dengan jenis tadlis adalah:

  1. Bahwa tadlis tercampurnya seorang rawi dari apa yg pernah ia dengar dengan apa yang tidak ia dengar sehigga sang rawi meriwayatkan dengan shigah tahammul (bentuk penerimaan) dari syaikh dengan lafadz ’an (dari) atau qāla (ia berkata).
  2. Adapun jenis ini, pada dasarnya tidak ada ketercampuran untuk membedakan antara apa yg ia dengar dengan apa yg tidak ia dengar dari syaikhnya.

Karena itu (untuk jenis ini) tidaklah mesti dalam kondisi seperti ini untuk menelusuri sama’nya seorang rawi dari jalur periwayatan yang lain. Dan cukuplah bagi peneliti melihat apakah hadits yg ditelitinya termasuk hadits yang disebutkan oleh ahli hadits memuat sama’nya atau tidak.

Bersambung, ….


Akhukum Fillah

Abu Aqsith

Bandung Jawa Barat Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − eleven =