Post ini adalah lanjutan dari kajian sebelumnya yang telah kami share, Bagi yang belum baca artikel-artikel sebelumnya tentang tema ini silahkan klik disini,..

Riwayat Keenam: (cacat tanduk dan telinga hilang separuh)  dlaif

 حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ سَمِعَ جُرَيَّ بْنَ كُلَيْبٍ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيًّا يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُضَحَّى بِأَعْضَبِ الْقَرْنِ وَالْأُذُنِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dia menyebutkan bahwa dirinya pernah mendengar Jurayy  bin Kulaib menceritakan bahwa dia mendengar Ali menceritakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berqurban dengan hewan yang tanduk dan telinganya hilang lebih dari separuh (cacat).” (H.R.Ibnu Majah No. 3145) [1]

Takhrij Hadis:

Hadis ini selain dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah, juga dikeluarkan oleh: Imam Ahmad[2]. Imam At-Tirmidzy[3]. Imam Al-Bazzar[4]. Imam An-Nasai[5]. Imam Aby Ya’la[6]. Imam Ibnu Khuzaimah[7]. Imam Al-Hakim[8]

Semua riwayat yang mereka keluarkan bermuara ke Qotadah bin Di’amah dari Juraie bin Kulaib Az-Zuhry dari ‘Aly bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu.

Qotadah bin Di’amah seorang rowi tsiqatun tsabtun [9].

Juraie bin Kulaib Az-Zuhry seorang rowi majhul (tidak dikenal). Ibnu Madinie menilai: “ia majhul (tidak dikenal) aku tidak mengetahuinya”. Abu Hatim menilai:

شيخ لا يحتجّ بحديثه

“Dia seorang syaikh yang hadisnya tidak bisa dipakai hujjah”. [10]

Al-Hafidz mengomentari dikitab Taqribnya: maqbul [11] dimana maksud maqbul versi beliau seorang rowi tersebut diterima apabila ada mutabi termasuk syawahid didalamnya. Namun kenyataannya riwayat yang dibawa oleh Juraie ini tafarrud (menyendiri).

Riwayat ini dlaif.

SYARAH HADIS

Ketelitian dalam menentukan hewan qurban yang baik adalah hal utama dalam ibadah qurban, karena kita berharap dalam ibadah ini dapat meraih keridloan Allah subhanahu wata’ala.

Menentukan jenis hewan qurban para ulama sepakat bahwa hewan yang boleh di qurbankan mencakup 4 hewan yaitu onta, sapi, kambing dan domba. Hal ini didasari dari firman Allah subhanahu wata’ala sebagai berikut:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ– الحج: 34

“dan bagi tiap-tiap umat telah Aku syariatkan Mansak, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (Al-Hajj; 34)

Surat Al-Hajj ayat 34 ini adalah landasan pokok syarat hewan qurban dimana Allah subhanahu wata’ala menyebut jenis hewan yang bisa dijadikan hewan qurban yaitu bahimatul An’am. Definisi bahimatul an’am adalah hewan ternak berupa unta, sapi, kambing dan domba. Penyebutan keempat hewan ini telah di firmankan Allah subhanahu wata’ala dalam ayatnya:

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ – الأنعام: 143

 “(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing” (Al-An’am; 143)

وَمِنَ الْإِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ  [الأنعام: 144

“dan sepasang dari unta dan sepasang dari sapi.” (Al-An’am; 143)

Allah subhanahu wata’ala telah sangat jelas menyebutkan nama hewan yang termasuk bahimatul an’am yaitu unta, sapi, kambing dan domba. Bahkan dengan ayat ini pula menjadi dalil bahwa hewan yang diqurbankan tidak mesti jantan saja, namun boleh juga dari jenis betina. Kata “berpasangan” pada ayat diatas sudah sangat jelas yaitu antara jantan dan betina.

Dan dengan ayat ini pula menjadi hujjah tidak sahnya hewan yang diqurbankan selain ke empat hewan tersebut contohnya berqurban dengan ayam atau angsa dll. Karena hal tesebut juga belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama  contohkan. Adapun pengambilan dalil umum tentang keutamaan urutan shaf dalam shalat dimana dalam urutan keempat disebutkan ayam adalah pendalilan yang keliru disebabkan hadis tersebut pada kata qarraba masih lafadz yang bersifat umum bukan lafadz yang ditujukan pada udhiyyah atau hadyu. Sedangkan udhiyyah dan hadyu sudah diatur segala aspek tata cara ibadahnya oleh yang membawa syariat.

Dalam praktek dan perkataannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama selalu menyebutkan keempat jenis hewan ini yang sah dijadikan hewan qurban berikut hal-hal apa saja yang harus dihindari dari keempat jenis hewan ini sehingga tidak sahnya pelaksanaan udhiyyah.

Pada riwayat pertama terdapat informasi sebaik-baiknya hewan qurban adalah domba yang bertanduk, hanya saja riwayat ini sangat lemah sekali sehingga tidak bisa dijadikan dalil dalam penentuan hewan terbaik sebagai udhiyyah.

Pada riwayat kedua dalam kitab sunan Aby Daud disebutkan usia hewan yang harus dihindari dengan lafadz dajinan jadz’atan minal ma’ji.

Pada kata dajinan merujuk pada kitab kamus lisanul ‘Arab disebutkan:

دواجن هي جمع داجن و هي الشاة التي تعلفها الناس في منازلهم

“Dawajin adalah jama’ dari dajin yaitu seekor kambing yang diternak oleh manusia di rumah-rumah mereka” [12]

Adapun lafadz jadz’atan sebagaimana merujuk pada kitab kamus mu’jam lughat Al-Fuqaha disebutkan:

الجذع : بفتح الجيم ثم الذال ، الشاب القوي وهو من الغنم ما كان عمره أكثر من ستة أشهر، ومن الابل ما أتم السنة الرابعة ودخل في الخامسة ، ومن البقر ما دخل في الثالثة

Al-Jadza’ah, dengan memfathahkan Jim dan Dzal adalah pemuda yang kuat. Jika dari kambing maka maknanya adalah kambing yang usianya lebih dari 6 bulan. Dari unta, yang genap berusia empat tahun dan masuk tahun ke lima. Dari sapi, yang masuk tahun ketiga” [13]

Merujuk pada makna bahasa tersebut, ini artinya apa yang dimaksud para riwayat kedua adalah kambing yang usianya belum sampai pada umur mutsinnah. Adapun mutsinnah untuk kambing adalah genap 1 tahun. Dan usia inilah yang sah bagi kambing untuk diqurbankan. Masih dalam kitab kamus mu’jam lughat Al-Fuqaha didefinisikan makna musinnah sebagai berikut:

الثني : كل ما سقطت ثنيته من الحيوان ، ج ثناء وثنيان ، وهي ثنية ج ثنيات

من الإبل : ما أتم خمسة أعوام ، ومن البقر ما أتم حولين ، ومن الغنم ما أتم حو

“Tsaniyy adalah setiap hewan yang tanggal gigi serinya. Jamaknya Tsina’ dan Tsunyan. Bentuk lainya Tsaniyyah yang dijamakkan menjadi Tsaniyyat. Tsaniyy dari unta adalah unta yang genap berusia lima tahun, dari sapi yang genap dua tahun dan dari kambing yang genap satu tahun”[14]

Atas penjelasan ini nampaklah apa yang dimaksud riwayat kedua ini adalah tidak bolehnya kambing yang masih jadz’ah (belum genap 1 tahun) untuk dijadikan hewan qurban. Hanya saja pada riwayat ini Abu Burdah radliyallahu ‘anhu tidak memiliki hewan lagi untuk diqurbankan setelah hewan qurbannya disembelih sebelum waktunya kecuali yang ia punya adalah kambing yang masih muda belum genap 1 tahun tersebut. Atas sebab ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama mengizinkan untuk dijadikan hewan qurban namun dikhususkan untuk Abu Burdah saja adapun setelahnya sudah tidak sah lagi dijadikan hewan qurban bagi siapapun.

Adapun pada riwayat ketiga untuk hewan qurban jenis domba yang usianya masih jadz’atan (6 bulan jalan) dibolehkan dan sudah cukup umur untuk dijadikan hewan qurban itupun apabila usia musinnah sudah sulit didapat. Dan dikuatkan oleh riwayat keempat bahwa domba yang masih jadz’ah sudah mencukupi usia musinnah.

Setelah jenis hewan dan umur hewan telah jelas mana yang masuk syarat qurban, maka riwayat kelima memperinci kembali bahwa belum cukup ke empat hewan ini walau sudah mencapai usia musinnah untuk langsung bisa diqurbankan. Akan tetapi perlu dilihat dan diketahui cacat yang harus dihindari yang diantarannya mencakup 4 hal yang disebutkan dalam hadis yaitu Al-‘Aura yakni buta sebelah. Al-Maried yakni hewan tersebut sakit. Al-‘Arjaa yakni pincang. Al-kasier yakni kurus tidak memiliki sumsum. Adapun cacat yang lainnya apabila lebih parah dari 4 hal ini tentu lebih-lebih harus dihindari.

Masih pada riwayat keempat ini, juga disebutkan bahwa ‘Ubaid mengeluh selain 4 hal yang cacat diatas juga ia tidak suka apabila gigi hewan qurban terdapat ‘aib, namun Al-Barra menjawab bahwa hal demikian boleh saja untuk ditinggalkan namun tetap dipandang sah sebagai hewan qurban.

Pada riwayat keenam didapatkan larangan pula hewan yang akan disembelih tidak boleh tanduk atau telinganya patah sebelah, hanya saja riwayat keenam ini lemah karena melewati seorang rowi yang majhul dikalangan tabi’in.

 

bersambung ke pembahasan tata cara Qurban, Klik disini, …

 


[1] Kitab Sunan Ibnu Majah Juz 3 Hal. 540 No. 3145 Cetakan: Darul Ma’rifah. Beirut.

[2] Musnad Ahmad bin Hanbal No. 1048, 1158, 1294

[3] Sunan At-Tirmidzy No. 1504

[4] Musnad Al-Bazzar No. 875

[5] Sunan An-Nasai No. 4377

[6] Musnad Aby Ya’la No. 271

[7] Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2913

[8] Mustadrak ‘Ala Shahihain No. 1719 dan 7530.

[9] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 651 no. 4419 cetakan: Darul ‘Ashimah

[10] Kitab Jarh Wa Ta’dil; Imam Ar-Rozy.  hal.537 Juz 2 no. 2230 cet. Ihyau At-Turots Al-‘Aroby

[11] Kitab Taqribu Tahdzib; Al-Hafidz Ibnu Hajar. Hal. 197 no. 928 cetakan: Darul ‘Ashimah

[12] Kitab Lisanul ‘Arab;  Jilid 2 hal. 1331

[13] Kitab Mu’jam Lughat Al-Fuqaha Juz 1 hal. 194

[14] Kitab Mu’jam Lughat Al-Fuqaha Juz 1 hal. 194

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 − 1 =