Istilah Maqbul Ibnu Hajar Antara Teori Dan Praktek

(studi kritis penilaian al-Hafidz Ibnu Hajar dengan Maqbul nya)

Telah nampak perselisihan di kalangan para ulama hadis berkenaan dengan penilaian maqbul nya al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Taqribu at-Tahdzib apakah termasuk penilaian pada Jarh atau Ta’dil ? dan apa yang melatar belakangi al-Hafidz menilai maqbul pada seorang rowi disaat para ulama hadis mutaqaddimin tidak ada seorangpun yang menggunakan istilah tersebut termasuk para ahlu hadis mutaakhkhirin. Oleh karena itu diperlukan penelusuran lebih lanjut makna maqbul dari al-Hafidz dan siapa rowi yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz dengan membandingkan penilaian para ulama ahlu hadis mutaqaddimin dan mutaakhirin.

 

PENDAHULUAN

Alhamdulillah atas nikmat Allah subhaanahu wata’aala sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallama dapat dilestarikan dan diselamatkan oleh para ulama dahulu khususnya yang konsen dan perhatian pada hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallama dengan di mudahkannya mereka dalam mempelajari dan menyusun kitab-kitab hasil karyanya baik kitab-kitab pokok tadwin berupa kitab shahih, sunan, musnad dan mushannafnya.

Tidak cukup dari itu, para ulama dahulu diberi anugrah oleh Allah subhaanahu wata’aala untuk bisa menelusuri jalur-jalur periwayatan sehingga dapat dikenali kedudukan para rowi yang menjadi sandaran hadis sampai pada kitab yang ditulisnya. Dengan demikian setiap rowi dari seluruh riwayat yang ada di kitab-kitab primer tersebut hampir dapat dikenali secara keseluruhannya kredibilitas dan kapabilitasnya dalam periwayatan. Dari sanalah kita dimudahkan dengan cukup merujuk pada penilaian-penilaian mereka yang sudah disusun dalam kitab-kitab rijalnya seperti:

  1. Kitab al-jarhu wa at-ta’dilu karya Ibnu Aby Hatim merujuk pada qaul-qaul bapaknya yakni Abu Hatim.
  2. Kitab al-Kamal fie Asmai ar-Rijal karya Imam al-Hafidz Abu Muhammad ‘Abdul Ghany bin ‘Abdul Wahid al-Maqdisy (w.600H).
  3. Kitab Tahdzib al-Kamal fie Asmai ar-Rijal karya al-Mizzy sebagai ringkasan dari kitab al-Kamal.
  4. Kitab Tahdzib Tahdzibu al-Kamal yang disusun oleh Imam Adz-Dzahaby sebagai ringkasan dan editan dari Kitab Tahdzib al-Kamal.
  5. Kitab Tahdzibu at-Tahdzib karya al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai ringkasan dan editan pula dari kitab pendahulunya Tahdzib al-Kamal.
  6. Kitab Taqribu at-Tahdzib karya al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai ringkasan dari kitabnya sendiri yaitu kitab Tahdzib at-Tahdzib.

 

Selain dari ke enam kitab diatas masih banyak kitab-kitab rijal yang disusun oleh para ulama hadis dimana isi dan metodologi yang diterapkan pada masing-masing kitab mereka berbeda-beda yang satu sama lainnya saling melengkapi.

Banyak dari para ulama ahli hadis dahulu begitu pedulinya dalam penelitian dan penilaian para rowi dengan dilewatinya malam dan siang demi berkhidmat terhadap umat dalam menyelamatkan sunnah-sunnah Nabinya. Diantara mereka para ulama yang konsen dalam ilmu periwayatan ini adalah:

  1. Imam Syu’bah bin Hajjaj (w.160H),
  2. Imam Ibnu Sa’id al-Qathan (w.198H),
  3. Imam Ibnu Mahdy (w.198H),
  4. Imam Yahya bin Ma’in (w.233H),
  5. Imam ‘Aly bin Madiny (w. 234H),
  6. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241H),
  7. Imam al-Bukhary (w.256H),
  8. Imam Abu Hatim (w. 277H),
  9. Imam an-Nasai (w. 303H),
  10. Imam ad-Daraquthny (w. 385H), dan yang lainnya.

Mereka adalah para ulama mutaqaddimin yang sangat banyak andil dalam menjaga sunnah-sunnah Nabinya dan banyak kaum muslimin yang merujuk pada perkataannya khususnya dalam ilmu hadis.

Sepeninggal mereka, atas izin Allah subhaanahu wata’aala telah lahir pula para ulama mutaakhkhirin yang berkhidmat dalam melayani umat dengan menguasai berbagai macam cabang ilmu agama khususnya ilmu hadis. Diantara para ulama tersebut adalah al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalany asy-Syafi’ie (w. 852H).

 

Nama dan Nasabnya:

Namanya Syihabuddin[1] Abul Fadhl[2] Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar,[3] al Kinani, al ‘Asqalani,[4] asy Syafi’i,[5] al Mishry.[6] Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya al Hafizh. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

 

Kelahirannya

Beliau lahir di Mesir pada tanggal 22 Sya’ban 773 H. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat pada tahun 777 H disaat beliau usia masih 4 tahun.[7]

 

Perjalanan Ilmiahnya

Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk maktab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun atas bimbingan al-Faqih Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazzaq. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I’rab. [8]

Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih al-Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makky Rahimahullah.[9]

 

Karya-Karyanya

Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis di tahun 796 H pada usia 23 tahun,[10] dan terus berlanjut sampai mendekati ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah subhaanahu wata’aala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau Rahimahullah.

Beliau menulis berbagai macam jenis kajian seperti kitab-kitab al-Arbaienaati, Al-Ma’ajim, Kitab-kitab tentang Takhrij, kitab-kitab at-Turuq, Kitab-kitab syarah, Ilmu hadis, ilmu fan, Kitab Rijal, Tarikh, Fiqih, Ushuluddin, Ushul Fiqih, kitab ‘Arud dan Adab yang semuanya mencapai 273 karya kitab.[11]

Di antara karya beliau yang terkenal ialah:

  1. Kitab Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari.
  2. Kitab Bulughul Marom min Adillatil Ahkam.
  3. Kitab al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah.
  4. Kitab Tahdzibut Tahdzib.
  5. Kitab Taqribu at-Tahdzib.
  6. Kitab ad Durarul Kaminah.
  7. Kitab Lisanul Mizan.
  8. Kitab Taghliqut Ta’liq.
  9. Kitab Inbaul Ghumr bi Anbail Umr.
  10. Dan lain-lain.

 

Pada tulisan ini penulis membatasi kajian bahasannya pada karya beliau kitab Taqribu At-Tahdzib khusus pada gagasan terbarunya yang tidak kita dapatkan pada ulama-ulama ahli hadis sebelumnya yaitu penilaian maqbul pada beberapa rowi di kitab rijal.

Kitab Taqrib At Tadzhib merupakan salah satu kitab Biografi para rowi hadis. Pada kitab ini Ibnu Hajar Al Asqalany merangkum kitabnya sendiri Tahdzib at Tahdzib menjadi seperenamnya. Kitab Tahdzib at Tahdzib Ibnu hajar itupun rangkuman dari kitab Tahdzib Al kamal karangan Al Mizzy ( w.742 H) dan Kitab Tahdzib Al kamal adalah meresume dari Kitab al-kamal fi Asma Ar Rijal karangan Al Hafidz Abdul Ghony bin Abdul wahid Al maqdisy al jamma’ily al Hambali (w.600 H).

 

Manhaj Kitab Taqrib Al Tahdzib.

Dalam rangkuman kitab ini Ibnu Hajar melakukan beberapa langkah yaitu :[12]

  1. Menyebutkan semua biografi yang terdapat pada kitab Tahdzib At Tahdzib dengan tidak dibatasi hanya pada biografi para rawi kitab-kitab hadis yang enam seperti yang dilakukan oleh Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al Kasyif sebagaimana ia susun biografi rowi itu berdasar urutan yang dibuatnya sendiri pada kitab At Tahdzib.
  2. Ditulisnya rumus-rumus biografi rowi yang pernah dicantumkannya sendiri pada kitab Tahdzib At Tahdzib. Hanya saja berbeda dengan rumus sunan yang empat jika (rumus rowi) itu kebetulan sama. Pada At Tahdzib diberinya rumus ( ع ) dan pada kitab ini diberinya rumus ( عم ). Seperti ditambahkannya satu rumus yang tdak terdapat pada “At Tahdzib” yaitu kata-kata (تمييز ). ia ini adalah isyarat untuk orang yang tidak mempunyai riwayat dalam kitab-kitab yang menjadi pokok bahasan kitab itu.
  3. Dalam mukaddimah disebutkannya urutan para rawi. Dibatasinya mereka menjadi dua belas tingkat (martabah). Yang pada tiap tingkatannya Disebutnya lafadz-lafadz alJarh wa at-ta’dil berikut lawan katanya. Bagi perujuk kitab ini hendaknya memperhatikan tingkatan-tingkatan ini dan lafadz-lafadz lawannya sehingga tidak keliru. Karena mungkin saja, sebagian isti-lah tersebut digunakannya istilah khusus pada kitab ini.
  4. Dalam mukaddimah kitab ini disebutkan juga thobaqat para rawi yang biografinya ditulis dibuat dua belas thobaqat juga. Sebelum merujuk (menggunakan) kitab ini selayaknya diketahui thobaqat-thobaqat tersebut hingga perujuk dapat mengetahui istilah khusus versi Ibnu Hajar dalam kitab ini.
  5. Ditambahkannya satu pasal di akhir kitab yang berhubungan dengan penjelasan para rowi wanita yang masih samar berdasarkan urutan orang yang meriwayatkan dari mereka pria atau wanita.

 

Tingkatan (maratib) Jarh dan Ta’dil dalam Kitab Taqrib at-Tahdzib

Ibnu hajar menyusun tingkatan jarh dan ta’dil ini menjadi 12 tingkatan:[13]

 

فأولها : الصحابة فأصرّح  بذلك لشرفهم.

  1. Yang pertama: adalah Sahabat. Disebutkannya demikian untuk memuliakannya.

 

الثانية : من أكد مدحه – إما بأفعل : كأوثق الناس، أو بتكرير الصفة لفظا : كثقة ثقة، أو معنى : كثقة حافظ.

  1. Yang kedua: adalah Orang yang dikuatkan keterpujiannya, baik dengan isim tafdlil (sebaik-baiknya) seperti :Autsaqunnasi, atau dengan mengulang sifatnya dengan sama lafadz seperti: tsiqah tsiqah. atau sama ma’na seperti tsiqat hafidz.

 

الثالثة : من أفرد بصفة، كثقة، أو متقن، أو ثبت، أو عدل.

  1. Yang ketiga: adalah orang yang hanya mempunyai satu sifat, seperti tsiqah, mutqin, tsabat, atau‘adl.

 

الرابعة : من قصر عن درجة الثالثة قليلا ، وإليه الإشارة : بصدوق، أو لا بأس به، أو ليس به بأس.

  1. Yang keempat: adalah orang yang derajatnya berkurang sedikit dari derajat yang ketiga biasanya diberi isyarah dengan shaduq, la ba-sa bih, atau laisa bihi ba’sun.

 

الخامسة : من قصر عن الرابعة قليلا ، وإليه الإشارة : بصدوق سيء الحفظ، أو صدوق يهم، أو : له أوهام، أو يخطئ أو تغير بآخره ، ويلتحق بذلك من رمي نبوع البدعة كالتشيّع ، والقدر، والنصب، والإرجاء، والتجهم، مع بيان الداعية من غيره.

  1. Yang kelima: adalah orang yang derajatnya berkurang sedikit dari derajat yang keempat biasanya diberi isyarah dengan shaduq sayyiul hifdzy, shaduq yahim, lahu auham, yukhty atau tagayyar biaakharah. Dan juga yang sejenisnya dari itu seperti orang yang tertuduh bid’ah seperti: syi’ah, Qadariyah, Nashbiyyah, Murji’ah, Jahmiyah beserta penjelasan akan tuduhan dari yang lainnya.

 

السادسة : من ليس له من الحديث إلا القليل، ولم يثبت فيه مايترك حديثه من أجله، وإليه الإشارة بلفظ : مقبول، حيث يتابع، وإلا فلين الحديث.

  1. Yang keenam: adalah orang yang tidak memiliki (periwayatan) hadits kecuali sedikit, dan tidak ada alasan yang kuat pada dirinya ada sesuatu yang membuat hadisnya ditinggalkan dengan sebab dirinya. biasanya diisyarahkan dengan maqbul apabila ada penyerta dan apabila tidak ada maka hadisnya layyin (lemah).

 

السابعة : من روى عنه أكثرمن واحد ولم يوثّق، وإليه الإشارة بلفظ : مستور، أو مجهول الحال

  • Yang ketujuh: adalah orang yang meriwayatkan darinya lebih dari satu dan tidak ada yang mentautsiq, biasanya diberi isyarah dengan lafadaz: mastur atau majhul hal.

 

الثامنة : من لم يوجد فيه توثيق لمعتبر ووجد فيه إطلاق الضعف ولو لم يفسّر وإليه الإشارة بلفظ : ضعيف.

  1. Yang kedelapan: adalah orang yang tidak ditemukan orang yang mentautsiqnya untuk dijadikan i’tibar, dan ditemukan pada rowi tersebut yang mendlaifkannya, walaupun tidak dijelaskan (kedlaifannya), biasanya diberi isyarah dengan dla’if.

 

التاسعة : من لم يرو عنه غير واحد ولم يوثّق وإليه الإشارة بلفظ : مجهول.

  • Yang kesembilan: adalah orang yang hanya seorang rowi saja meriwayatkan darinya, dan orang tersebut tidak ada yang mentausiqnya, biasanya diberi isyarah majhul.

 

العاشرة : من لم يوثق البتة، وضعّف مع ذلك يقادح، وإليه الإشارة : بمتروك، أو متروك الحديث، أو واهي الحديث ، أو ساقط.

  1. Yang kesepuluh: adalah orang yang tidak ada seorangpun mentausiqnya, dan hanya (didapatkan) yang menilai dlaif malahan ada yang mencelanya, diberi isyarah dengan matruk atau matrukul hadis, atau wahil hadis, atau saqith.

 

الحادية عشرة : من اتّهم بالكذب.

  1. Yang kesebelas: adalah orang yang diduga berbohong.

 

الثانية عشرة : من أطلق عليه اسم الكذب و الوضع.

  1. yang keduabelas: adalah orang yang menyandang gelar al-kadzdzab atau al-wadla’.

 

Dalam Kitab Taqrib at-Tahdzib juga terdapat rumus-rumus yang menjadi kode dari mukharrij hadits. Diantara contoh kodenya adalah (خ) itu berarti rowi tersebut ada dikitab shahih al-Bukhary. Pembahasan rumus ini tidak diperlebar kajiannya berkenaan rumusan masalah yang penulis ajukan disini adalah penilaian maqbul dari Ibnu Hajar terhadap para rawi.

Untuk lebih terarahnya pembahasan, maka penulis rumuskan masalah dalam penelitian rowi maqbul yang ada pada tabaqah (tingkat) kedua dan ketiga, dimana rumasannya adalah sebagai berikut:

  1. Apa makna maqbul dari perkataan Ibnu Hajar terhadap rowi yang dinilainya?
  2. Adakah rowi-rowi tsiqah yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz?
  3. Adakah rowi-rowi dlaif yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz?
  4. Adakah rowi-rowi majhul (tidak dikenal) yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz?
  5. Bagaimana status hadis yang terdapat rowi yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz?
  6. Apakah al-Hafidz konsisten atau tidak terhadap penilaiannya sendiri pada rowi yang dinilainya maqbul dengan tathbik nya?

 

Bersambung, Klik disini untuk selanjutnya, …

 


[1] Ini nama laqabnya beliau. Lihat kitab Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 1 hal. 101

[2] Ini nama Kunyah beliau. Diambil sebagai tasybih dari nama teman bapaknya yang menjabat Qady di Makkah yang namanya Abu al-Fadl Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz al-‘Uqaily an-Nuwairy. Lihat Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 1 hal. 101

[3] Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 1 hal. 101

[4] Al-Kinany adalah nama kabilahnya, adapun asqalany  adalah asal kabilah mereka yaitu suatu kota di pesisir pantai kawasan Syam yang berada di Negri Palistina.

[5] Adalah madzhabnya.

[6] Adalah Negri kelahirannya.

[7] Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 1 hal. 121

[8] Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 1 hal. 121

[9] Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 1 hal. 122

[10] Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 2 hal. 659

[11] Kitab al-Jawahir Wa ad-Durar Fie Tarjamati ibni Hajar; Imam as-Sakhawy. Juz 2 hal. 695

[12] Kitab Ushul at-Takhrij Wa Dirasatu al-Asanied; Dr. Mahmud at-Thahhan. hal. 191-192 Cet. Daru al-Quran al-Karim. Beirut

[13] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar. Muqaddimah al-Mushannif. Hal.80-81 cet. Darul ‘ashimah.

One thought on “Istilah Maqbul Ibnu Hajar Antara Teori Dan Praktek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *