Istilah Maqbul Ibnu Hajar Antara Teori Dan Praktek (bag.2)

Bismillahirrahmaanirrahim. sebelumnya telah kami post kan tema ini sebagai pendahuluan. bagi yang belum membacanya agar kajiannya mudah difahami silahkan klik disini menuju post pertama.

Pada post kedua ini penulis melanjutkan kajiannya masuk pada pembahasan awal. berikut analisisnya:

PEMBAHASAN

A. Apa makna maqbul dari perkataan Ibnu Hajar terhadap rowi yang dinilainya?

Pengertian Maqbul Berdasarkan Bahasa dan Istilah

Maqbul diambil dari kata kerja Qabila semakna dengan akhadza yang artinya menerima atau mengambil.[1] Bentuk isim masdarnya adalah al-Qubul yang maknanya ar-Ridla.[2] Adapun maqbul diambil dari isim maf’ul yang berarti diterima.

Oleh karena itu dapat di simpulkan berdasarkan istilah bahwa rowi maqbul adalah rowi yang riwayatnya diterima.

 

Maqbul Menurut Para Ulama Hadis

Setelah melewati beberapa analisa dengan merujuk pada beberapa perkataan ulama ahli hadis dalam kitab-kitabnya jarh ta’dil atau kitab-kitab takhrij dapat difahami bahwa lafadz maqbul apa yang mereka katakan sangat berbeda dengan makna maqbul yang dimaksud oleh al-Hafidz.

Berikut beberapa contohnya:

  1. Imam al-Khattaby:

ينقسم الحديث عند أهله  على ثلاثة أقسام: الصحيح ، و حسن، و ضعيف، لأنّه إمّا مقبول أو مردود. و المقبول إمّا أن يشمل من صفات القبول على أعلاها أولا، والأول الصحيح والثاني الحسن.[3]

 

  1. Imam Thahir al-Jazaairy:

ومثال ذلك في المروي أن يقال : كلّ مروي تكون روايته أهل عدالة و ضبط فهو مقبول يحتجّ به، ومروي لا تكون روايته من أهل العدالة و الضبط فهو مردود لا يحتجّ به[4]

 

  1. Imam as-Sakhawy:

والثنائيات في الموطّأ الإمام مالك والوحدان في حديث الإمام أبي حنيفة لكن بسند مقبول إذ المعتمد، أنّه لا رواية له عن أحد من الصحابة[5]

 

  1. Imam al-Hakim:

عيسى بن موسى البخاري (أبو أحمد الأزرق) : ثقة مقبول.

 

Pada contoh diatas dapat difahami bahwa lafadz maqbul yang dimaksud adalah hadis yang diterima sebagai landasan hukum dimana didalamnya tercakup hadis shahih, hasan dan dlaif. Adapun lawan dari maqbul adalah mardud. Bahkan Imam al-Jazaairy dengan tegas menyebutkan bahwa rowi yang memiliki ‘adalah dan dlabt yang tinggi maka riwayat yang dibawanya adalah maqbul. Adapun Imam al-Hakim menggunakan maqbul terhadap rowi yang tsiqah.

 Atas beberapa contoh diatas nampak jelas bahwa penggunaan kata maqbul di kalangan ahlu hadis lebih pada makna bahasa yang artinya riwayat yang dibawanya adalah diterima.

 

Maqbul Ibnu Hajar

Adapun Maqbul yang dimaksud oleh al-Hafidz dalam kitabnya Taqribu at-Tahdzib dapat dilihat pada perkataannya sendiri di muqaddimah yang telah penulis kutip diatas pada tingkatan Jarh Ta’dil para rowi yang semuanya ada 12 tingkatan, dimana lafadz maqbul beliau masukan pada martabat ke 6. Berikut pernyataannya:

السادسة : من ليس له من الحديث إلا القليل، ولم يثبت فيه مايترك حديثه من أجله، وإليه الإشارة بلفظ : مقبول، حيث يتابع، وإلا فلين الحديث.

Yang keenam: adalah orang yang tidak memiliki (periwayatan) hadits kecuali sedikit, dan tidak ada alasan yang kuat pada dirinya ada sesuatu yang membuat hadisnya ditinggalkan dengan sebab dirinya. biasanya diisyarahkan dengan maqbul apabila ada penyerta dan apabila tidak ada maka hadisnya layyin (lemah).”

 Atas perkataannya ini dapat di fahami bahwa makna maqbul Ibnu Hajar di Kitab Taqrib adalah:

أن يكون قليل الرواية

  • 1. Rowinya sedikit dalam periwayatan.

أن لا يثبت فيه ما يترك حديثه من أجله

  1. 2. Tidak ada alasan yang kuat pada dirinya ada sesuatu yang membuat hadisnya ditinggalkan dengan sebab dirinya.

حيث يتابع وإلا فلين الحديث

  1. 3. Ada penyerta dan apabila tidak ada maka hadisnya layyin (lemah).

 

Tiga syarat inilah yang menjadikan makna maqbul Ibnu Hajar dapat diketahui sehingga dari sini dapat difahami bahwa :

  1. Ibnu Hajar tidak akan memberikan penilaian maqbul pada rowi-rowi yang banyak riwayatnya walau syarat ke dua dan ketiga ada pada diri rowi tersebut, begitupun sebaliknya,
  2. Ibnu Hajar tidak akan memberikan penilaian maqbul pada rowi-rowi yang sedikit sekali riwayatnya namun didapatkan alasan kuat yang menjadikan rowi tersebut mesti ditinggalkan.
  3. Adapun syarat ketiga apabila syarat kesatu dan kedua terpenuhi namun rowi tersebut tafarrud maka nilai maqbulnya hilang dan jatuh pada penilaian layyinul hadis (hadisnya lemah).

 

Dengan membandingkan makna maqbul yang biasa dipakai oleh para ulama sebelumnya dengan makana maqbul Ibnu Hajar di kitab Taqribnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Maqbul nya Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib bukanlah makna maqbul yang biasa dipakai oleh para ahlu hadis sebelumnya. Perkataan maqbul para ulama ahli hadis sebelumnya menunjukkan makna secara bahasa, adapun maqbul nya Ibnu Hajar adalah makna Istilah yang definisinya sudah tercakup pada 3 syarat diatas tadi.
  2. Ibnu Hajar menggunakan lafadz maqbul sebagai lafadz bagian jarh ta’dil berbeda dengan ulama sebelumnya yang menggunakan lafadz maqbul terkadang pada kedudukan hadis, terkadang pada kedudukan sanad dan terkadang pada ta’dilnya seorang rowi yang disandingkan dengan lafadz
  3. Ibnu Hajar membatasi martabat rowi yang dapat nilai maqbul darinya ada pada martabat keenam berbeda dengan ulama sebelumnya mereka tidak membatasi lafadz

 

Penjelasan 3 Syarat Pada Penilaian Maqbul Ibnu Hajar

  1. Qalilu al-Hadis (sedikit hadisnya).


Rowi yang sedikit hadisnya tidak hanya ada pada rowi-rowi yang dinilai maqbul oleh Ibnu Hajar akan tetapi juga dibawa oleh rowi-rowi shaduq, tsiqah bahkan dari para shahabat r.a.

Perkataan qalilu al-Hadis dari al-Hafidz dapat ditelusuri di kitabnya at-Taqrib sebagai berikut:

  1. Ibnu Hajar memberikan komentar qalilu al-Hadis pada sebagian Shahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wasallama dengan perkataannya: Shahaby qalilu al-Hadis.

Contoh:

م – 6541- مخمر بكسر أوله وسكون ثانيه وفتح ثالثه ابن معاوية النميري صحابي قليل الحديث

 م- 6563- مرّة بن عمرو بن حبيب بن واثلة الفهري المدني صحابي قليل الحديث

 م- 1191- حزم بن أبي كعب الأنصاري السلمي بفتحتين المدني صحابي قليل الحديث 

 م- 1441- الحكم بن حزن بفتح المهملة وسكون الزاي الكلفي بضمّ الكاف وفتح اللام ثمّ فاء صحابي قليل الحديث 

 م- 2908- صخر بن العيلة بفتح المهملة وسكون المثناة التحتانية ابن عبد الله بن ربيعة الأحمسي صحابي قليل الحديث ويقال إن العيلة اسم أمه

  1. Ibnu Hajar memberikan komentar qalilu al-Hadis pada rowi-rowi yang dinilai tsiqah olehnya.

Contoh:

م- 2456- سلم بن أبي الذيال عجلان البصري ثقة قليل الحديث

 م- 3632- عبد الله بن معبد بن العباس بن عبد المطلب العباسي المدني ثقة قليل الحديث

م- 4368- عبيد بن حنين بنون مصغر المدني أبو عبد الله ثقة قليل الحديث

 

  1. Ibnu Hajar memberikan komentar qalilu al-Hadis pada rowi-rowi yang dinilai shaduq olehnya.

 م- 6804- معلى بن زياد القردوسي بقاف أبو الحسن البصري صدوق قليل الحديث

 م- 7669- يحيى بن يحيى بن كثير اليثي مولاهم الرطبي أبو محمّد صدوق فقيه قليل الحديث وله أوهام

 م- 3526- عبد الله بن غالب الحداني بضم المهملة وتشديد الدال البصري العابد صدوق قليل الحديث

 

Pada contoh-contoh diatas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Perkataan Ibnu Hajar qalilu al-Hadis bukanlah lafadz jarh atau ta’dil terhadap seorang rowi karena lafadz qalilu al-Hadis itu juga di sebutkan pada sebagian shahabat r.a sedangkan para shahabat adalah ‘udul.
  2. Perkataan Ibnu Hajar qalilu al-Hadis disebutkan untuk rowi-rowi siapa saja baik para shahabat atau tabi’ien kebawah yang mereka memiliki jumlah riwayat yang sedikit.

 

Penulis tidak mendapatkan lafadz qalilu al-Hadis di sematkan pada rowi dlaif dalam kitab at-Taqrib sehingga dapat difahami bahwa rowi-rowi dlaif yang sedikit riwayatnya tersebut sudah terakomodir oleh perkataannya al-Hafidz sendiri pada rowi-rowi maqbul yang akan dibahas setelah ini.

Adapun batasan maksimal jumlah hadis yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz penulis dapatkan pada rowi yang bernama Abdullah bin ‘Amr bin ‘Auf dimana jumlah riwayat keseluruhan yang dibawanya mencapai 10 riwayat. Dan kebanyakan rowi-rowi yang dinilai qalilu al-Hadis oleh al-Hafidz hanya memiliki 1 atau 2 riwayat saja. Oleh sebab itu berdasarkan jumlah riwayat yang dimiliki oleh rowi-rowi maqbul, al-Hafidz telah konsisten dan sesuai dalam pernyataannya qalilu al-Hadis terhadap rowi-rowi yang dinilai maqbul dengan tathbiq nya.

 

  1. An Laa Yatsbutu Fiehi Maa Yutraku Haditsuhu Min Ajlihi (Tidak ada alasan yang kuat pada dirinya ada sesuatu yang membuat hadisnya ditinggalkan dengan sebab dirinya).

 

Rowi-rowi ditinjau dari jarh ta’dil nya terbagi kepada beberapa bagian:

  1. Yang pertama: Rowi-rowi yang disepakati oleh ahlu naqd akan tautsiqnya, dan rowi-rowi ini pada dasarnya rowi-rowi tsiqah.
  2. Yang kedua: rowi-rowi yang disepakati oleh ahlu naqd akan kedlaifannya dan pada dasarnya rowi-rowi tersebut adalah
  3. Yang ketiga: rowi-rowi yang terjadi perselisihan didalamnya, ada yang men-jarh dan ada juga yang men-ta’dil
  4. Yang keempat: rowi-rowi dimana para ahlu naqd tidak memberikan komentar jarh ta’dil nya disaat para rowi tersebut didapatkan dalam beberapa kitab-kitab primernya.

 

Pada dasarnya jarh itu diterima apabila ada penjelasan yang menjadikan jarh nya diterima, hanya saja ketika jarh tersebut tidak di jelaskan, maka dari pernyataannya al-Hafidz An Laa Yatsbutu Fiehi Maa Yutraku Haditsuhu Min Ajlihi difahami bahwa:

  1. Jarh itu ada hanya saja bagi al-Hafidz jarh nya tidak kuat.
  2. Jarh itu ada hanya saja tertuju pada riwayat yang dikhususkan.
  3. Jarh itu ada hanya saja disebabkan karena kejahalannya, dan yang menjarh terhadap rowi majhul tidaklah kuat, kecuali matan yang dibawanya telah jelas kemungakarannya.
  4. Tidak didapatkannya penilaian jarh ta’dil dari para ahlu naqd mutaqaddimin

Khusus pada bagian keempat dimana para rowi tersebut tidak didapatkan komentar dari para ahlu naqd baik yang men-jarh maupun yang men-ta’dil pada dasarnya rowi-rowi ini disebabkan karena sedikitnya riwayat dan menyulitkan para ahlu naqd dalam menilainya berdasarkan I’tibar nya, sehingga para rowi seperti ini pada dasarnya adalah rowi-rowi majhul. dan al-Hafidz lebih banyak memberikan penilaian maqbul di bagian keempat ini.

 

  1. Haitsu Yutaba’ Wa Illa Falayyinu al-Hadis (Ada penyerta dan apabila tidak ada maka hadisnya layyin (lemah))

 

Mutaba’ah menurut bahasa adalah: seorang rowi hadis yang periwayatannya diikuti rowi yang lain dari guru yang sama atau dari guru diatasnya lagi.[6]

Dari definisi ini dapat difahami bahwa mutaba’ah adalah salah satu syarat bagi rowi yang dinilai maqbul oleh Ibnu Hajar, apabila ternyata menyendiri dan tidak didapatkan rowi lain yang menyertainya maka rowi tersebut adalah layyinu al-Hadis.

 

B. Rowi-rowi Maqbul Dalam Kitab Taqribu at-Tahdzib.

Dalam kitab Taqribu at-Tahdzib banyak didapatkan rowi-rowi yang hakikatnya majhul oleh al-Hafidz dimasukkan kepada martabat keenam dengan nilai maqbulnya. Namun didapatkan pula beberapa rowi yang telah dinilai tsiqah ataupun dlaif oleh sebagian ulama ahlu naqd namun al-Hafidz memasukkan di kitab Taqrib nya dengan nilai maqbul. Berikut penjelasannya:

  • Rowi-rowi Tsiqah Yang Dinilai Maqbul Oleh al-Hafidz

Maksud rowi-rowi tsiqah disini adalah para rowi yang didapatkan beberapa imam ahlu naqd menilainya tsiqah namun al-Hafidz menilainya maqbul berada pada martabat keenam. Berdasarkan analisa didapatkan rowi yang di-tsiqah kan oleh ahlu naqd namun oleh al-Hafidz dimasukan pada rowi maqbul mencapat 9 rowi. Berikut penulis sebutkan contoh 3 rowinya:

  1. Abu Katsir az-Zubidy al-Kufie

م- 8323- أبو كثيرالزبيدي بالتصغيرالكوفي اسمه زهير بن الأقمر وقيل عبد الله بن مالك وقيل جمهان أو الحارث بن جمهان مقبول من الثالثة [7]

Imam an-Nasai menilainya tsiqah[8]

Imam Ibnu Hiban[9] dan Imam al-‘Ijly[10] telah menilainya tsiqah.

 

  1. Abu al-Mutsanna al-Juhany al-Madany

 م- 8405- أبو المثنى الجهني المدني : مقبول من الثالثة

Yahya bin Ma’in menilainya tsiqah, adapun Ibnu al-Madiiny menilainya majhul dan Ibnu Hibban memasukkan di kitab at-Tsiqah.[11]

 

  1. Yazid bin Jariyah al-Anshary

 م- 7749- مزيد بن جارية بالجيم، الأنصاري، عن معاوية، مقبول، من الثالثة [12]

Imam an-Nasai menilainya tsiqah[13]

 

  • Rowi-rowi Dlaif Yang Dinilai Maqbul Oleh al-Hafidz

Yang dimaksud rowi-rowi dlaif disini maksudnya para rowi yang di dapatkan sebagian ahlu jarh menilainya dlaif hanya saja al-Hafidz menilainya maqbul. Berdasarkan analisis data didapatkan rowi-rowi yang mendapat penilaian dlaif dari ahlu naqd mencapai 8 rowi. Berikut penulis contohkan 3 rowinya:

  1. Humaidlah bin As-Syamardal al-Asady

1580 –  حميضة بن الشمردل الأسدي الكوفي : مقبول من الثالثة [14]

Imam al-Bukhary menilainya : fihi nadzar[15]

Imam Ibnu Hibban memasukkannya dikitab at-Tsiqat [16]

Yahya bin Sa’id al-Qathan mengatakan: laa Yu’raf (tidak dikenal)[17]

 

  1. Makhlad bin Khufaf al-Ghifary

6580- مخلد بن خفاف الغفاري : مقبول من الثالثة[18]

Imam al-Bukhary mengatakan: fihi nadzar[19]

Ibnu ‘ady berkata: laa Yu’raf lahu Gair Hadza al-Hadis.[20]

Imam Ibnu Hibban memasukkannya dikitab at-Tsiqah.[21]

 

  1. Jurie bin Kulaib as-Sudusy al-Bashary

927- جري بن كليب السدوسي البصري : مقبول من الثالثة[22]

‘Aly bin Madiny berkata: Majhul, aku tidak mengenal siapa yang meriwayatkan darinya kecuali Qatadah. Dan Abu Hatim berkata: seorang syaikh yang tidak dijadikan hujjah hadisnya.[23] Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab at-Tsiqat[24] dan al-‘Ijly mengatakan: tabi’ien tsiqah.[25]

 

  • Rowi-rowi Majhul Yang Dinilai Maqbul Oleh al-Hafidz

Yang dimaksud dengan rowi-rowi majhul disini adalah rowi-rowi yang dinilai oleh ulama ahli hadis dengan statusnya majhul hal ataupun majhul ‘ain dan hanya saja Ibnu Hibban dengan kesendiriannya banyak mentautsiq rowi-rowi majhulnya. Berdasarkan analisis data, rowi-rowi yang hakikatnya majhul namun al-Hafidz memasukkan dalam kitabnya at-Taqrib dengan penilaian maqbul didapatkan rowinya mencapai 270 rowi. Berikut 3 contoh rowinya:

 

  1. Abu Musa al-Hilaly

8467- أبو موسى الهلالي، مقبول من الثانية[26]

Imam Ibnu Hibban memasukkan dalam kitab at-Tsiqat[27]

Abu Hatim mengatakan: majhul (tidak dikenal)[28]

 

  1. Sulaiman bin Aby Sulaiman

2583- سليمان بن أبي سليمان الهاشمي مولاهم : مقبول من الثالثة[29]

Yahya bin Ma’in berkaa: aku tidak mengenalinya.[30]

Ibnu Hibban memasukkannya di kitab at-Tsiqah.

 

  1. Mahmud bin ‘Amr bin Yazid

6557- محمود بن عمرو بن يزيد بن السكن الأنصاري : مقبول من الثالثة [31]

Ibnu al-Qaththan mengatakan: majhulul Hal[32]

Ibnu Hazm mengatakan: Mahmud seorang rowi dlaif [33]

Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab at-Tsiqat[34]

 

Dari contoh-contoh diatas dapat di fahami bahwa rowi-rowi yang dinilai maqbul oleh al-Hafidz kebanyakan rowi-rowi majhul hal ataupun majhul ‘ain dimana yang bisa penulis fahami langkah al-Hafidz seperti ini lebih dimungkinkan sebagai bentuk komprominya dengan Ibnu Hibban yang disisi lain mentautsiqnya atau cukup menyebutkannya didalam kitab at-Tsiqatnya.

Namun lebih dari itu al-Hafidz pun tetap memasukkan beberapa rowi dalam martabat ke enam ini walau rowi tersebut telah ditautsiq oleh sebagian ahlu nuqd semisal Imam an-Nasai atau Ibnu Main dengan alasan yang bisa penulis fahami disebabkan rowi tersebut riwayatnya sedikit.

 

C. Kedudukan Hadis Yang Terdapat Rowi Maqbul

Pada dasarnya hadis yang didalamnya terdapat rowi maqbul hadisnya lemah apabila tidak ada hadis lain yang menguatkannya sebagai mutaba’ah atau syawahid. Hal itu berdasarkan kaidah al-hafidz sendiri yaitu maqbul haitsu yutaba’ wailla falayyinu al-hadis yang artinya hadis itu diterima apabila ada penguat dari hadis yang lain, apabila tidak ada maka hadisnya layyin (lemah).

Namun apabila melihat pada penilaian-penilaian al-hafidz didalam kitab-kitab karyanya akan didapatkan bertolak belakang dengan definisinya sendiri dimana dibeberapa hadis yang terdapat rowi maqbul beliau nilai hasan walau rowi tersebut tidak ada mutabi’ ataupun syawahid.

Berikut beberapa contohnya:

  1. Hadis Imam Ahmad No. 17159:

 

17159 – حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ الْحَضْرَمِيَّ، وَيَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، قَالَا: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنِ ابْنِ أَبِي بِلَالٍ، عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يَخْتَصِمُ الشُّهَدَاءُ وَالْمُتَوَفَّوْنَ عَلَى فُرُشِهِمْ إِلَى رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ فِي الَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنَ الطَّاعُونِ، فَيَقُولُ الشُّهَدَاءُ: إِخْوَانُنَا قُتِلُوا كَمَا قُتِلْنَا، وَيَقُولُ الْمُتَوَفَّوْنَ عَلَى فُرُشِهِمْ: إِخْوَانُنَا مَاتُوا عَلَى فُرُشِهِمْ كَمَا مِتْنَا عَلَى فُرُشِنَا (2) ، فَيَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى جِرَاحِهِمْ، فَإِنْ أَشْبَهَتْ جِرَاحُهُمْ جِرَاحَ الْمَقْتُولِينَ، فَإِنَّهُمْ مِنْهُمْ وَمَعَهُمْ، فَإِذَا جِرَاحُهُمْ قَدْ أَشْبَهَتْ جِرَاحَهُمْ “

Riwayat ini pada dasarnya dlaif disebabkan ada rowi yang bernama Abdullah bin Aby Bilal dimana rowi ini dinilai maqbul oleh al-Hafidz sendiri dan tidak didapatkan mutabi’ ataupun syahid, namun al-Hafidz menilainya hasan.

  1. Hadis Ibnu Aby Syaibah No. 3421

 

3421 – حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ حَمَاسٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَوْسِ بْنِ الْحَدَثَانِ الْنَصْرِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، «أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَأَتَى سَارِيَةً فَصَلَّى عِنْدَهَا رَكْعَتَيْنِ»

Riwayat ini pada dasarnya dlaif disebabkan ada rowi yang bernama Abu ‘Amr bin Hamas yang masuk pada rowi maqbul Ibnu Hajar sedang ia tidak memiliki mutabi’ ataupun syawahid namun Al-Hafidz mengatakan dalam kitabnya tagliequ at-Ta’lieq[35]: Wal Isnad Hasan (sanadnya hasan).

KESIMPULAN:

  1. Lafadz maqbul dalam kitab Taqrib at-Tahdzib adalah istilah khusus yang dipakai oleh al-Hafidz untuk menilai seorang rowi yang sedikit periwayatannya yang tidak didapatkan jarh ta’dil nya yang kuat dimana rowi tersebut ada mutabi’ .
  2. Beberapa rowi yang sedikit riwayatnya ini walaupun ditsiqahkan ataupun didlaifkan oleh sebagian ahlu naqd semisal Imam an-Nasai, Imam ad-Daraquthny atau Yahya bin Ma’in namun sebagian rowi tersebut tetap dinilai maqbul oleh al-Hafidz.
  3. Kebanyakan rowi maqbul ini adalah rowi-rowi majhul hal yang hanya diriwayatkan oleh 2 rowi saja atau majhulul ‘ain yang teriwayatakan oleh seorang rowi saja.
  4. Jumlah rowi maqbul yang ada pada thabaqah ke dua dan tiga jumlah seluruhnya 338 rowi.
  5. Kedudukan hadis yang didalamnya terdapat rowi maqbul adalah hasan apabila ada mutaba’ah atau
  6. Penilaian al-Hafidz terhadap hadis di kitab-kitab karyanya seperti kitab Fathu al-Bary, Talkhis al-Habir yang didalamnya ada rowi maqbul namun al-Hafidz menilainya hasan walau hadis tersebut tidak ada muta’ba’ah atau syawahid diperlukan penelitian lebih lanjut dengan rumusan masalah hipotesa awal:
  7. a. Penilaian al-Hafidz di kitab-kitabnya seperti Fathu al-Bary atau Talkhis al-Habir dengan nilai Hasan adalah qaul qadim dimana kitab-kitab tersebut lebih dahulu disusun daripada kitab taqrib atau
  8. b. Beberapa hadis yang dinilainya hasan padahal didalamnya terdapat rowi maqbul adalah bentuk ketidak konsistenan al-Hafidz dari teori dan prakteknya.

 

Dua rumusan diatas baru tahap hipotesa sementara untuk dapat dilanjutkan tulisan ini lebih dalam mengungkap mutiara-mutiara yang masih tertutup kabut didalam kitabnya al-Hafidz agar kita semua dan khususnya penulis sendiri dapat meraup faidah sebanyak-banyaknya dalam kitabnya al-Hafidz yang tidak akan usang ditelan zaman.

 

Bersambug, ….

 

Akhukum Fillah

Abu Aqsith

Pameungpeuk Bandung Jawa Barat Indonesia’

 


[1] Kitab Mu’jam Maqaayies al-Lughah

[2] Kitab Mufradath Alfadzi al-Quran; al-Ashfahany. Juz 1 hal. 653

[3] Kitab Tadribu ar-Rawi Fie Syarhi Taqribi an-Nawawy; As-Suyuti. Juz 1 hal. 62 cet. Maktabah ar-Riyadl

[4] Kitab Taujih an-Nadzar Ilaa Ushuli al-Atsar; Thahir al-Jazaairy ad-Damasyqy.

[5] Kitab Fathu al-Mugits Syarh Alfiyah al-Hadis; Syamsuddin Muhammad bin ‘Abdurrahman As-Sakhawy. Juz 3 hal.11

[6] Kitab Tadribu ar-Rawi Fie Syarhi Taqribi an-Nawawy; Imam as-Suyuty. Hal. 157-158 cet. Daru al-Fikry.

[7] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 1196 No. 8387 cet. Daru al-‘Ashimah

[8] Kitab Lisanu al-Mizan; Ibnu Hajar Juz 7 hal. 480 No. 5635

[9] Kitab ats-Tsiqaat; Ibnu Hibban no. 2122

[10] Kitab ma’rifatu ats-Tsiqah; al-‘Ijly no. 2231

[11] Kitab al-Jarhu Wa at-Ta’dil; Ibnu Aby hatim

[12] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 1073 No. 7749 cet. Daru al-‘Ashimah

[13] Kitab Tahdzibu al-Kamal; Imam al-Mizzy. Juz 32 hal. 99

[14] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 277 No. 1580 cet. Daru al-‘Ashimah

[15] Kitab at-Tarikh al-Kabir; Imam al-Bukhary. Juz 3 hal. 133 cet. Daru al-Fikar

[16] Kitab at-Tsiqat; Imam Ibnu Hibban Juz 6 hal. 243

[17] Kitab Tahdzibu at-Tahdzib; Imam Ibnu Hajar. Juz 3 hal. 49

[18] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 927 No. 6580 cet. Daru al-‘Ashimah

[19] Kitab al-Mughny Fie ad-Du’afa; Imam ad-Dzahaby. Juz 2 hal.648

[20] Kitab al-Kamil Fie ad-Dlu’afa; Ibnu ‘Ady. Juz 6 hal. 444

[21] Kitab at-Tsiqat; Imam Ibnu Hibban Juz 7 hal. 505

[22] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 197 No. 927 cet. Daru al-‘Ashimah

[23] Kitab Tahdzibu at-Tahdzib; Imam Ibnu Hajar. Juz 2 hal. 67

[24] Kitab at-Tsiqat; Imam Ibnu Hibban Juz 4 hal. 117

[25] Kitab Tahdzibu at-Tahdzib; Imam Ibnu Hajar. Juz 2 hal. 67

[26] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 1212 No. 8467 cet. Daru al-‘Ashimah

[27] Kitab at-Tsiqat; Imam Ibnu Hibban Juz 7 hal. 663

[28] Kitab al-Jarhu wa at-Ta’dilu; Ibnu Aby Hatim. Juz 9 hal. 438

[29] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 2582 No. 8408 cet. Daru al-‘Ashimah

[30] Kitab Tahdzibu at-Tahdzib; Imam Ibnu Hajar. Juz 4 hal. 171

[31] Kitab Taqribu at-Tahdzib; Ibnu Hajar hal. 1212 No. 6557 cet. Daru al-‘Ashimah

[32] Kitab Bayan al-Wahm; Ibnu al-Qathan. Juz 3 hal. 590.

[33] Kitab al-Mughny Fie ad-Dlu’afa; Imam Adz-Dzahaby. Juz 2 hal. 647

[34] Kitab at-Tsiqat; Imam Ibnu Hibban Juz 7 hal. 663

[35] Kitab Tagliequ at-Ta’lieq; Ibnu Hajar. Juz 2 hal. 436

One thought on “Istilah Maqbul Ibnu Hajar Antara Teori Dan Praktek (bag.2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *