Sebagian besar Ahli Hadis berpendapat bahwa kitab-kitab klasik (mashadir ashliyyah) yang didalamnya terdapat periwayatan hadis belum tentu semuanya adalah shahih dan tersandarkan sampai ke Nabi saw kecuali kitab shahih al-bukhary dan kitab shahih muslim hampir sepakat bahwa didalam kedua kitab shahih tersebut semuanya adalah shahih. Akan tetapi, G.H.A. Juynboll dengan menggunakan teori common link berpendapat walaupun sebuah hadis tertentu telah direkam dalam kitab shahih al-bukhary dan kitab shahih sekalipun hadis itu belum tentu berasal dari nabi saw. G.H.A Juynboll sebenernya bukan orang pertama yang membicarakan fenomena common link dalam periwayatan hadis. Ia mengakui dirinya sebagai pengembang dan bukan penemu teori tersebut. Dalam beberapa tulisannya, ia selalu merujuk kepada Schacht serta menyatakan bahwa dialah pembuat istilah common link dan yang pertamakali memperkenalkannya dalam the orgins. Meski demikian, Schacht ternyata gagal mengamati frekuensi fenomena tersebut dan kurang memperhatikan perhatian elaborasi yang cukup memadai. Makalah ini penulis buat sebagai resume dari buku TEORI COMMON LINK G.H.A. Juynboll. Melacak Akar Kesejarahan Hadits khusus menyoroti bab ke III yaitu Implikasi Teori Common Link Terhadap Asal-Usul Dan Perkembangan Hadits.

FENOMENA COMMON LINK

Kajian hadis merupakan bagian dari domain Islamic Studies yang sangat kaya dan menarik minat, bahkan oleh kalangan outsider sekalipun. Sebagai sumber ajaran yang dipandang memiliki hubungan organik dengan al-Qur‟an, kajian hadis banyak mendiskusikan problem mulai dari sejarah periwayatan hingga upaya menangkap makna dalam hadis. Kajian outsider yang diwakili oleh orientalisme yang masih berlangsung hingga saat ini menunjukkan dialektika yang sangat dinamis dari masa ke masa[1]

Fenomena common link sejak awal sebenarnya sudah dikenal oleh para ahli hadis di kalangan Islam. At-tirmdzi dalam koleksi hadisnya menyebutkan hadis-hadis yang menunjukan adanya seorang periwat tertentu. Teori common link telah digunakan oleh G.H.A Juynboll untuk menyelidiki asal usul dan sejarah awal periwatan hadis selama dua puluh tahun tetakhir ini. Teori ini berpijak pada asumsi dasar yang menyatakan bahwa semakin banyak jalur periwatan yang bertemu pada seorang periwayat, baik yang menuju kepadanya atau meninggalnya, semakin besar pula seorang periwayat dan jalur peiwayatannya memiliki klaim kesejarahan.[2] Dengan kata lain, jalur periwayatan yang dapat dipercayai sebagai jalur historis adalah jalur yang bercabang ke lebih dari satu jalur. Sementara jalur yang berkembang ke satu jalur saja, yakni single strand, tidak dapat dipercayai ke sejarahannya.

Teori common link dengan metode analisis isnad-nya tidak lain adalah sebuah metode kritik sumber dalam ilmu sejarah. Metode Schcaht yang dikembangkan oleh Juynboll ini kemudian di elaborasi lebih rinci oleh Motzki dan menjadi metode analisis isnad – cum – matn. Secara keseluruhan, metode yang sangat terkait dengan problem penaggalan hadis ini merupakan salah satu metode dalam pendekatan sejarah.

Dalam kenyataannya, teori common link dengan metode analisis isnad-nya berbeda dengan metode kritik hadis dikalangan ahli hadis karna keduanya bepijak pada premis-premis yang berbeda secara total. Metode kritik hadis sudah dianggap mapan dan baku oleh para ahli hadis. Metode ini, menurut mereka, telah terbukti kehandalannya dan mampu menyingkirkan hadis-hadis yang lemah dan palsu. Bahkan, keunggulan metode ini tidak dapat digantikan oleh metode apapun, termasuk metode yang dimiliki oleh para sarjana barat modern.

Juynboll menawarkan metode common link sebagai ganti dari metode kritik hadis konvensional. Metode common link tidak hanya berinflikasi pada upaya merepisi metode kritik hadis konvensional, tetapi juga menolak asumsi dasar yang menjadi pijakan bagi metode itu. Jika metode kritik hadis konvensional berpijak pada kualitas periwayat hadis maka metode Common link tidak hanya menekankan kualitas periwayatannya saja, tetapi juga kuantitasnya.

Demikianlah, kriteria keshahihan sebuah hadis menurut teori Common link bukan hanya terletak pada kualitas riwayat, kuantitas, bahkan terletak pada konteks kesejarahannya. Semakin banyak jalur isnad yang memancar atau menuju seorang periwayat semakin besar pula kemungkinan jalur itu memiliki klaim kesejarahan.

 

IMPLIKASI TEORI COMMON LINK TERHADAP ASAL USUL DAN PERKEMBANGAN HADIS

Implikasi dan konsekwensi ketika menggunakan teori ini adalah sbb :

 Sumber dan Asal Usul Hadis[3]

Implikasi yang pertama dan utama dalam teori common link adalah menyangkut sumber hadis, siapa yang menjadi sumber hadis yang terhimpun dalam berbagai koleksi hadis, khususnya koleksi hadis konanik; apakah nabi, sahabat, tabiin, tabiit tabiin. Mayoritas para ulama hadissepakat bahwa semua hadis yang terdapat dalam koleksi kitab konanik adalah otentik, dan dengan demikian, bersumber dari Nabi.

 

 

Berbeda dengan Juynboll dengan tegas mengungkapkan hasil temuannya bahwa setiap hadis yang terdapat dalam koleksi hadis yang konanik sekalipun, tidak bersumber dari sahabat atau nabi sekalipun, sahabat dan nabi tidak bertanggungjawab atas dimasukannya nama-nama mereka kedalam isnad hadis. Adapun yang bertanggung jawab atas matan hadis dan juga isnad adalah seorang periwayat hadis yang berperan sebagai common link dalam suatu bundel hadis.

 

 Metode Kritik Hadis Konvensional[4]

Dalam rangka menghadapi gerakan pemalsuan hadis para ulama ahli hadis telah mengembangkan sebuah metode kritik hadis untuk mebedakan atara hadis otentik dan hadis lemah bahkan palsu. Metode tersebut berpijak pada lima kriteria, (1) Sanadnya bersambung, (2). Diriwayatkan oleh orang yang adil (3). Diriwayatkan oleh orang yang dhabit, (4). Terhidar dari syudzudz, (5). Terhindar dari ‘ilat. Metode ini menurut mereka telah terbukti kehandalannya dan mampu menyingkirkan hadis-hadis palsu dan lemah sehingga metode kritik hadis ini telah dianggap baku oleh para ulama hadis.

Berbeda dengan Juynboll, ia mengamati ada kelemahan yang terdapat dalam metode konvensional, metode itu menurutnya masih menimbulkan kontroversi jika digunakan untuk membuktikan kesejarahan penisbatan hadis kepada nabi. Menurutnya ada bebrapa titik kelemahan dalam metode itu; (1). Kemunculannya dianggap terlambat, (2). Isnad dapat dipalsukan secara keseluruhan, (3). Tidak diterapkan keritik matan yang tepat. Berangkat dari kenyataan ini Juynboll menawarkan metode common link sebagai ganti dari metode kritik hadis konvensional. Metode common link ternyata tidak hanya berimflikasi merevisi metode kritik konvensional, tetapi juga menolak seluruh asumsi dasar yang menjadi pijakan bagi metode itu. Jika metode kritik hadis konvensional berpijak pada kualitas periwayat, maka metode common link tidak hanya berpijak pada kualitas periwayat namun berpijak pula pada kuantitasnya. Ini berarti Juynboll secara tidak langsung menolak seluruh hadis ahad dan mengharapkan bahwa seluruh hadis seharusnya diriwayatkan secara mutawatir dari masa yang sangat awal hingga masa akhir (kolektor).

Dalam menyikapi pendapat Juynboll ini kita tidak perlu heran, jika kita memahami metode yang dikembangkannya adalah metode yang dibangun diatas dasar-dasar prinsip kritik teks historis-filologis. Prinsip dasar ini menuntut bahwa ketika otentitas menuntut laporan yang terdapat dalam sebuah teks (dalam hal ini matan hadis), belum terbukti secara pasti maka kekosongan yang ada dalam deskrifsi harus diakui dan dipertimbangkan dalam setiap langkah untuk membangun sebuah rekonstruksi sejarah yang lebih lengkap.

 

Teori Mutawatir dalam Hadis[5]

Hadis, apabila ditinjau dari kualitas periwayatannya terbagi kedalam hadis shahih, hasan, dan dhaif, namun ketika ditinjau dari segi kuantitas periwayatannya terbagi kedalam hadis ahad dan hadis mutawatir. Mutawatir terbagi kepada dua; mutawatir lafzi dan mutawatir ma’na. Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah periwayat dari awal hingga akhir sanad yang menurut nalar dan kebiasaan mereka tidak mungkin bersekongkol untuk berbuat bohong.

Sejumlah ahli hadis beranggapan bahwa kemutawatiran sebuah hadis dapat dijadikan jaminan bahwa hadis tersebut bersumber dari Nabi. Oleh karena itu para periwayat hadis mutawatir tidak perlu diteliti bahkan mengamalkan hadis mutawatir adalah wajib dengan tanpa harus meneliti terlebih dahulu. Meskipun demikian para ulama hadis berbeda pendapat dalam menentukan berapa jumlah minimal periwayat yang tergolong kedalam hadis  mutawatir, disamping itu ulama-pun berbeda pandapat mengenai ada atau tidaknya hadis mutawatir; pendapat pertama menolak adanya hadis mutawatir, atau paling tidak merasa sulit untuk menemukannya. Ibn Shalah mengatakan : “sangat sulit menemukan hadis mutawatir”. Ibn Hibban al-buti dengan tegas mengatakan “adapun akhbar, makas setiap akhbar adalah akhbar ahad”. Pendapat kedua berpendapat, hadis mutawatir, sekalipun yang lafzi tidak sedikit jumlahnya. Diantara para pendukung pendapat ini adalah as-Suyuthi, Ibn Hajar dan khodhi ‘Iyad. Pendapat ketiga mengatakan, hadis-hadis yang dipakai sebagai bukti adanya hadis mutawatir lafzi, pada hakikatnya bukan mutawatir lafzi melainkan mutawatir ma’na.

Berbeda dengan Juynboll dalam kajiannya mengenai mutawatir, dalam kajiannya menekankan pada keraguannya akan otentitas hadis mutawatir sebagai benar-benar berasal dari nabi. Dalam hal ini mengatakan: kemutawatiran sebuah hadis bukanlah jaminan bagi kesejarahan penisbatannya kepada Nabi. Sebagai bukti ia meneliti dua buah hadis yang digolongkan oleh ahli hadis kedalam mutawatir yaitu hadis man kadzaba (larangan berbohong atas nama nabi) dan hadis niyaahah (meratapi kematian anggota keluarga). Setelah melakukan penelitian isnad dan matan kedua hadis tersebut ia menyatakan bahwa hadis tersebut disebarkan oleh generasi belakangan dan bukan berasal dari priode nabi. Lebih lanjut Juynboll mempermasalahkan definisi hadis mutawatir yang didefinisikan dengan penuh konflik perumusannya bahkan mengalami berbagai perubahan yang tidak sederhana. Ia terkadang dapat diterapkan dalam hadis dan konteks tertentu dan tidak pada dalam keadaan lain. Menurutnya satu-satunya yang dapat diterapkan pada berbagai periwayatan hadis mutawatir adalah criteria mengenai syarat bagi para periwayat yang berbeda pada tingkatan thabaqah tertua, yakni sejumlah sahabat dikatakan meriwayatkan satu matan hadis yang sama dari nabi, atau melaporkan satu kejadian yang sama mengenai kehidupannya namun pada thabaqah berikutnya jumlah thabaqat tidak memenuhi syarat ini tidak dapat dipenuhi.

 

Posisi Syu’bah bin Hajjaj dalam Perkembangan Hadis[6]

Dalam kitab-kitab biografi periwayatan hadis, Su’bah bin Hajjaj menduduki posisi terhormat diantara para hadis lainnya, khususnya di basrah. Berikut kesimpulan dari penilaian al-Hafidz Ibnu Hajar tentang Syu’bah bin Hajjaj:

شعبة بن الحجاج بن الورد العتكي مولاهم أبو بسطام الواسطي ثمّ البصري : ثقة حافظ متقن كان الثوري يقول : هو أمير المؤمنين في الحديث وهو أول من فتش بالعراق عن الرجال وذبّ عن السنة وكان عابدا من السابعة مات سنة ستين[7]

Syu’bah soerang rowi yang Tsiqah, Hāfidz, Mutqin, Amīrul Mu’minīn Fie al-Hadīts, ‘Abid.

Pada awalnya su’bah adalah seorang mawali dari Wasth yang kemudian tinggal dibasrah. Ia termasuk salah seorang ahli dalam kritik hadis. Disamping itu ia diakui oleh semua orang dan diberi gelar yang terhormat sebagai amir al-mu’miniin fi al-hadis (pemimpin orang-orang mu’min dalam hadis).

Su’bah bin Hajjaj termasuk salah seorang yang meriwayatkan hadis man kadzaba yang mana menurut Juynboll, hadis tersebut tidak didapat dipertahankan secara kesejarahan. Lanjut Juynboll, Su’bah juga terlibat dalam berbagai hadis lain yang kesejarahannya masih dipertanyakan.

Kecurigaan Juynboll atas keterlibatan Su’bah dalam perkembangan hadis merupakan konsekuensi dari teorinya yang berdiri diatas asumsi-asumsi kritik historis-filologi. Ia tidak menerima laporan dari berbagai kritikus hadis dalam kitab-kitab biografi para perawi hadis. Tetapi menempatkannya sebagai laporan sejarah bagi peristiwa yang sebenarnya yang mungkin terdapat kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan yang karena telah tercampur dengan berbagai interprestasi yang muncul belakangan.

 

Isnad keluarga: Historisitas Isnad Malik-Nafi-Ibnu Umar[8]

Sejak awal periwayatan hadis, tidak sedikit hadis yang diriwayatkan melalui isnadisnad keluarga kata keluarga disini tidak hanya mencakup hubungan darah saja, tetapi mencakup pula hubungan mawali, hubungan budak dengan tuannya. Salah satu diantara berbagai macam isnad keluarga yaitu jalur Malik-Nafi-Ibnu Umar yang diklaim oleh para ahli hadis sebagai isnad paling sahih “silsilah az-dzahab”.

Namun, dalam isnad keluargapun menurut Juynboll masih terdapat ketimpangan, terlebih ketika ia telah meneliti Almuatha Imam Malik. Keraguan Juynboll atas isnad emas ini didasarkan atas dua hal; yakni kesejarahan tokoh Nafi dan Hubungan guru murid antara Malik dan Nafi’. Dalam masalah pertama Juynboll paling tidak mengungkapkan tiga hal yang memperkuat bahwa tokoh Nafi’ adalah fiktif, bukan historis; (1) sangat sedikit sejarah hidup Nafi’ yang terdapat dalam kitab biografi, (2) asal usul Nafi’ (3) dalam kitab utama yang merekam para tabi’in; thabaqat al-kabir karangan ibn Sa’ad dan shifat asy-syafwah karangan ibn Jawzi biografi Nafi tidak dijumpai. Untuk masalah yang kedua, keraguan Juyboll dalam hubungan murid-guru antara Malik-Nafi’ didukung oleh berapa argument diantaranya; (1) pernyataan Malik bahwa ia adalah murid Nafi’ tidak masuk akal, karena perbedaan usia yang cukup jauh antara Malik dan Nafi’ (Malik 93 H-179 H, Nafi w. sekitar 117 H), (2) Nafi’ hanya berkedudukan sebagai a seeming atau an artificial common link sedangkan the real commonlinknya adalah Malik.

 

KESIMPULAN

Dr. Ali Masrur dalam bukunya ini menyimpulkan bahwa G.H.A Juynboll telah menggunakan teori common link untuk menyelidiki asal usul dan sejarah awal periwayatan hadits selama dua puluh tahun terakhir ini. Teori ini berpijak pada asumsi dasar bahwa semakin besar seorang periwayat dan jalur periwayatannya  memiliki klaim kesejarahan. Dengan kata lain, jalur periwayatan yang dipercaya secara historis adalah jalur yang bercabang kelebih dari satu jalur. Sementara jalur yang berkembang kesatu jalur saja tidak dapat dipercaya kesejarahannya. Akan tetapi hasil riset ini menunjukan bahwa asumsi ini tampaknya kurang menyakinkan.

Secara praktis, asumsi tersebut diterapkan oleh Juynboll melalui method analisis isnad yang terdiri atas beberapa langkah sebagai berikut; (1). Menentukan Hadis yang diteliti (2) menelusuri hadits dari berbagai sumbernya. (3) menghimpun seluruh isnad Hadits. (4) merekonstruksi seluruh jalur isnaddalamsebuah bundel isnad. (5) mendeteksi seorang periwayat yangm menduduki posisi common link. Juynboll mengembangkan teri common link setelah mengetahi bahwa metode krituk hadis yang ditawarkan oleh para ahli hadits masih controversial karena memiliki beberapa kelemahan yang cukup mendasar dan tidak memberikan kepastian mengenai sejarah periwayatan hadits.

Dalam kenyataanya, teori common link dengan methode analisi isnadnya berbeda dengan methode kritik hadits dikalangan muhaditsuun karena keduanya berpijak kepada premis-premis yang berbeda. Akibatnya teori tersebut mengakibatkan implikasi dan konsekuensi yang juga berbeda yang mengejutkan ahli-ahli hadis pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Diantara implikasi dan konsekuensi dari teori Juynboll tersebut adalah : pertama, banyak materi hadis yang terdapat dalam berbagai koleksi hadis dianggap tidak bersumber dari nabi. Kedua. Munculnya anggapan metode kritik hadits konvensional terdapat banyak kelemahan. Ketiga, teori mutawatir lafzi dalam hadits tidak pernah terjadi. Keempat, munculnya anggapan bahwa Su’bah terlibat dalam pemalsuan dalam meriwayatkan hadits. Kelima, historis isnad keluarga, seperti isnad Malik-Nafi-ibn Umar dinilai tidak meyakinkan karena dua hal; kesejarahan tokoh nafi’ dan hubungan guru-murid antara Nafi dan Malik.

Berbagai implikasi dari teori common link Juynboll memberikan indikasi yang sangat kuat sama ide-idenya dengan goldziher dan Schacht. Karena itu ide-idenya tidak lebih dari sekedar penjelas dan perluasan atas ide-ide Goldziher dan Schacht.

Perkembangan isnad sebuah hadits tampaknya  tidaklah sama dan seragam antara yang satu dengan yang lain. Sebuah isnad dapat berkembang sejak masa Shahabat kecil, atau terkadang baru berkembang di masa tabi’in atau tabi’u tabi’ien.

 Dengan demikian, studi ini menunjukkan bahwa common link adalah orang pertama yang menyebarkan hadits dengan kata-katanya sendiri secara publik, namun maknanya tetap memiliki kesinambungan dengan masa yang lebih tua daripada dirinya sendiri. Oleh karena itu pendapat Juynboll yang mengatakan bahwa common link adalah seorang pemalsu atau pencetus hadits adalah keliru dan tidak berdasar.

Untuk menduduki common link periwayat hadits tidak harus didukung oleh dua orang periwayat yang sama-sama memainkan sebagai peran partial common link, tetapi ia juga hanya dapat didukung oleh beberapa jalur tunggal yang dapat dipercaya. Untuk memastikan sebuah jalur tunggal dapat dianggap sebagai jalur historis atau tidak, seseorang seharusnya meneliti jarak hidup seorang murid dengan masa hidup seorang gurunya dan selanjutnya mencari bukti-bukti tentang kemungkinan tentang perjumpaannya. Begitupun dengan jalur penyelam (jalur penyelam adalah jalur seorang kolektor hadits yang tidak bertemu dengan jalur kolektor lainnya), menyatakan bahwa jalur penyelam adalah palsu hanya karena ia merupakan jalur tunggal juga tidak dapat dibenarkan. Menolak sebuah jalur isnad harus didasarkan kepada bukti-bukti yang lebih kuat. Dan, sampai sekarang tidak ada bukti yang lebih kuat daripada kembali kepada sumber-sumber biografi para periwayat yang terdapat pada kitab-kitab ahli hadis yang berhubungan dengan biografi seorang periwayat.

Dari beberapa bukti tersebut, adalah tepat jika disimpulkan bahwa teori common link yang dikembangkan oleh Juynboll dapat diterima validitasnya sebagai sebuah methode untuk menelusuri asal usul hadits. Teori tersebut paling tidak dapat memberikan jawaban yang lebih akurat dan memadai mengenai kapan, dimana, dan oleh siapa sebuah hadits disebarkan secara publik. Meskipun demikian beberapa intervestasi Juynboll atas fenomana common link, jalur tunggal (single srand), dan jalur penyelam (daiving strand) tampaknya tidak meyakinkan dan patut dipertanyakan serta direvisi karena mengandung banyak anomali. Intervestasi tentang fenomena common link, jalur tunggal dan jalur menyelam yang ditawarkan dalam studi ini berbeda dengan intervestasi Juynboll dan sangat berbeda dengan intervestasi Michael Cook dan Norman Calder. Intervestasi semacam itu lebih dekat dengan kesimpulan Motzki dan David S. Power

 


[1] Pemikiran G.H.A. Juynboll Tentang Hadis. Nur Mahmudah. Makalah Mutawatir Vol.3 No. 1 2013

[2] Lihat buku teori common link G.H.A. Juynboll: Dr. Ali Masrur. Hal. 3 Cet. LKiS Yogyakarta. 2007

[3] Lihat buku teori common link G.H.A. Juynboll: Dr. Ali Masrur. Hal. 103 Cet. LKiS Yogyakarta. 2007

[4] Lihat buku teori common link G.H.A. Juynboll: Dr. Ali Masrur. Hal. 110 Cet. LKiS Yogyakarta. 2007

[5] Lihat buku teori common link G.H.A. Juynboll: Dr. Ali Masrur. Hal. 116 Cet. LKiS Yogyakarta. 2007

[6] Lihat buku teori common link G.H.A. Juynboll: Dr. Ali Masrur. Hal. 127 Cet. LKiS Yogyakarta. 2007

[7] Kitab Taqrību at-Tahdzīb: Imam Ibnu Hajar. Hal. 436 cet. Dāru al-‘Ashimah

[8] Lihat buku teori common link G.H.A. Juynboll: Dr. Ali Masrur. Hal. 137 Cet. LKiS Yogyakartas. 2007

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − 5 =