bendera-hitam

Salah satu informasi tentang imam mahdy adalah beliau memimpin pasukan perang dengan membawa bendera hitam dari khurosan. Berikut riwayat haditsnya:

حدثنا محمد بن يحيى و أحمد بن يوسف, قالا: ثنا عبد الرزاق عن سفيان الثوري عن خالد الحذاء عن أبي قلابة  عن أبي أسماء الرحبي عن ثوبان قال : قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم : ((يقتتل عند كنزكم ثلاثة كلهم ابن خليفة ثم لا يصير إلى واحد منهم ثمّ تطلع الرايات السود من قبل المشرق فيقتلونكم قتلا لم يقتله قوم)) ثم ذكر شيئا لا أحفظه فقال: ((فإذا رأيتموه فبايعوه ولو حبوا على الثلج فإنه خليفة الله المهدي)) رواه أبن ماجه

“Ada tiga orang yang akan saling membunuh di sisi simpanan kalian; mereka semua adalah putera khalifah, kemudian tidak akan kembali ke salah seorang dari mereka. Akhirnya muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun… (lalu beliau menutur-kan sesuatu yang tidak aku fahami, kemudian beliau berkata:) Jika kalian melihat (khalifah yang membawa bendera-bendera hitam) tersebut, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya ia adalah khalifah Allah al-Mahdi.”

(H.R. Abdurrozaq; H.R. Bazzar; H.R. Ibn Majah Juz 4 hal.412 No.4084 cet; Darul Ma’rifah)

Khurosan adalah negri yang sekarang berada utara Iran. Yang pada saat ini diduduki oleh Afganistan-Tajikistan-Turkmenistan dan Uzbekistan.

Afganistan adalah sebuah wilayah yang bergunung-gunung dengan iklim yang esktrim (musim panas yang kering dan musin dingin yang bersalju) , bahkan sering menjadi pusat terjadinya gempa, namun meski dianggap sebagai negeri termiskin di dunia, orang-orang Afghanistan adalah orang-orang yang ulet dan tangguh.

Terbukti imperium Rusia yang dulu bernama Uni Sovyet pernah menjajah mereka, namun mereka sangat kuat dengan segala keterbatasan alat perangnya dan mereka berhasil mengusirnya sehingga ekonomi Rusia defisit akibat perang Afghan.

Di samping itu saat ini negara tersebut meski sudah berdiri tapi masih dilanda pertikaian antar suku , bahkan pasukan AS dan sekutunya tak mampu menaklukan pertikaian yang ada.

Meski jumlah pasukan dan teknologi yang di turunkan tidak terbilang jumlahnya, namun Khurasan seolah tak terjamah oleh tangan manapun untuk menguasainya.

Pasukan-pasukan mujahid yang ada di sana disinyalir merangkak dan bergerak kebeberapa daerah yang masih konflik perang seperti Irak dan sekarang Suriah.

Para muslim yang meyakini keshohihan hadits bendera hitam ini berbondong bondong menuju daerah konflik tersebut yang dipercaya disana terdapat kolompok mujahid yang membawa bendera hitam seperti yang disebutkan oleh hadits tersebut.

Pertanyaan pertama: Apakah hadits tentang Bendera Hitam dari Khurosan itu shohih?

Pertanyaan kedua: Apabila shohih, apakah kelompok yang dimaksud oleh hadits itu Jabhah Nusroh? Ataukah IS yang sekarang bernama Daulah Islam? Ataukah kelompok mujahid yang lain?

Berikut takhrij tentang bendera hitam dari khurosan:

Terdapat 3 jalur riwayat yang marfu dari para shahabat dan beberapa riwayat yang mauquf tentang hadits bendera hitam ini. Berikut penjelasannya:

1. HADITS IBNU MAS’UD

حدثنا مُعَاوِيَةُ بن هِشَامٍ، عن عَلِيِّ بن صَالِحٍ، عن يَزِيدَ بن أبي زِيَادٍ، عن إبْرَاهِيمَ، عن عَلْقَمَةَ، عن عبداللهِ بن مَسْعُودٍ، قال: «بَيْنَا نَحْنُ عَنْدَ رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم إذْ أَقْبَلَ فِتْيَةٌ من بَنِي هَاشِمٍ، فلما رَآهُمْ النبي صلى الله عليه وسلم اغْرَوْرَقَتْ عَيْنَاهُ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ، قال: فَقُلْت له ما نَزَالُ نَرَى في وَجْهِك شيئاً نَكْرَهُهُ! قال: إنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ اخْتَارَ لنا اللَّهُ الْآخِرَةَ على الدُّنْيَا وَإِنَّ أَهْلَ بَيْتِي سَيَلْقَوْنَ بَعْدِي بَلاَءً وَتَشْرِيدًا وَتَطْرِيدًا حتى يَأْتِيَ قَوْمٌ من قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَعَهُمْ رَايَاتٌ سُودٌ يَسْأَلُونَ الْحَقَّ فَلاَ يُعْطُونَهُ فَيُقَاتِلُونَ فَيَضُرُّونَ فَيُعْطَوْنَ ما سَأَلُوا فَلاَ يَقْبَلُونَهُ حتى يَدْفَعُوا إلَى رَجُلٍ من أَهْلِ بَيْتِي فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا كما ملؤوها جَوْرًا فَمَنْ أَدْرَكَ ذلك مِنْكُمْ فَلْيَأْتِهِمْ وَلَوْ حَبْوًا على الثَّلْجِ»

Dari Ibnu Ma’sud ia berkata: “Tatkala kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok pemuda dari Bani Hasyim. Ketika Nabi melihat mereka, kedua mata beliau berlinang air mata dan berubahlah roman mukanya. Maka aku katakan: ‘Kami masih tetap melihat pada wajahmu sesuatu yang tidak kami sukai.’ Lalu beliau menjawab: ‘Kami ahlul bait. Allah telah pilihkan akhirat untuk kami daripada dunia. Dan sesungguhnya sepeninggalku, keluargaku akan menemui bencana-bencana dan pengusiran. Hingga datang sebuah kaum dari arah timur, bersama mereka ada bendera berwarna hitam1. Mereka meminta kebaikan namun mereka tidak diberi, lalu mereka memerangi dan mendapat pertolongan sehingga mereka diberi apa yang mereka minta, tetapi mereka tidak menerimanya. Hingga mereka menyerahkan kepemimpinan kepada seseorang dari keluargaku. Lalu ia memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana orang-orang memenuhinya dengan kezhaliman. Barangsiapa di antara kalian mendapatinya maka datangilah mereka, walaupun dengan merangkak di atas es’.”

(HR. Ibnu Aby Syaibah Juz 7 hal.527, Al-Bazzar Juz 4 hal.354 cet. Maktabah Ulum Wal Hukm. At-Thobarony Juz 6 hal.29. Abu Ya’la Juz 9 hal.17)

Pembahasan Sanad:

Pada jalur riwayat ini terdapat cacat yaitu Yazid bin Aby Ziyad.

< Aly bin al-Mundzir berkata dari Muhammad bin Fudloil:

كان من أئمّة الشيعة الكبار

“ia (Yazid) termasuk dari para pembesar imam Syi’ah” [1]

< Ahmad bin Hanbal mengatakan:

لم يكن بالحافظ

“ia tidak termasuk imam hafidz[2]

حدثنا عبد الله قال سمعت أبي يقول : حديث إبراهيم عن علقمة عن عبد الله ليس بشيئ يعني حديث يزيد بن أبي زياد قلت لعبد الله الرايات السود؟ قال : نعم.

Abdullah menceritakan dan berkata: Aku mendengar bapakku (Imam Ahmad) berkata: Hadits Ibrohim dari ‘Alqomah dari Abdullah bin Mas’ud adalah lemah. Maksudnya hadits yang dibawa oleh Yazid bin Aby Ziyad (dari Ibrohim). Aku berkata pada Abdullah: (apakah yang dimaksud) hadits bendera-bendera hitam? Ia berkata: Iya benar.[3]

< Yahya bin Ma’in mengatakan:

لا يحتجّ بحديثه

“Haditsnya tidak dipakai hujjah”[4]

< Imam Waqi’e mengatakan:

يزيد بن أبي زياد عن إبراهيم عن علقمة عن عبدالله – يعني حديث الرايات: ليس بشيء

“Yazid bin Aby Ziyad dari Ibrohim dari Alqomah dari Abdullah Yaitu tentang hadits bendera (hitam): (riwayatnya) lemah”.[5]

< Abu Qudamah mengatakan:

سمعت أبا أسامة يقول في حديث يزيد بن أبي زياد عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله في الرايات السود فقال : لو حلف عندي خمسين يمينا قسامة ما صدقته, أهذا مذهب إبراهيم ! أهذ مذهب علقمة ! أهذا مذهب عبد الله !

Aku mendengar Abu Usamah berkata tentang hadits yazid bin Aby Ziyad dari Ibrohim dari Alqomah dari Ibnu Masud. Ia (Abu Usamah) berkata: Andaikan dihadapanku bersumpah 50 orang aku tidak mempercayainya. Apakah ini madzhab ibrohim?  Apakah ini madzhab Alqomah? Apakah ini madzhab ibnu Mas’ud? [6]

< Imam Ibnu Hibban mengatakan:

وكان يزيد صدوقاً إلا أنه لما كبر ساء حفظه وتغير

“Adalah Yazid ini orangnya Shoduq (jujur) hanya saja disaat umurnya sudah tua hafalannya buruk dan telah berubah”

Kemudian Ibnu Hibban Mengatakan:

فسماع من سمع منه قبل دخوله الكوفة في أول عمره سماع صحيح، وسماع من سمع منه في آخر قدومه الكوفة بعد تغير حفظه وتلقنه ما يُلقن سماع ليس بشيء”.

“sama’nya (pendengarannya) dari seseorang sebelum ia masuk Kuffah (Iraq) ketika diawal hidupnya maka sama’nya adalah benar. Dan sama’nya dari seseorang setelah ia masuk Kuffah di akhir kehidupannya maka ia telah berubah hafalannya dan sama’nya adalah lemah” [7]

Pembahasan:

Jalur Ibrohim dari Alqomah dari Ibnu Mas’ud r.a yang dibawa oleh Yazid bin Aby Ziyad adalah Munkar.

Yazid seorang rowi yang lemah dan bukan seorang hafidz. Kelemahan seperti ini pada dasarnya bisa diterima apabila ada riwayat lain yang mendukungnya. Namun kebesaran ibrohim An-Nakho’ie seorang imam besar yang memiliki murid-murid yang tsiqoh dan masyhur adalah menunjukkan riwayat yang dibawa oleh Yazid dari Ibrohim adalah Munkar.

Ibrohim seorang Imam yang tsiqoh memiliki banyak murid yang tsiqoh yang sanadnya di keluarkan oleh Al-Bukhary dan Muslim diantaranya:

  1. Al-Hakam bin ‘Utaibah (rowi Jama’ah)
  2. Sulaiman Al-A’masy (rowi jama’ah)
  3. Zubaid Al-Yaamy (rijal Al-Bukhory)
  4. Simak bin Harb (rijal Muslim)
  5. ‘Abdullah bin ‘Aun (rijal Al-Bukhary Muslim)
  6. ‘Amr bin Murroh (rijal Muslim dan Abu Daud)
  7. Mughiroh bin Miqsam (rijal Al-Bukhory Muslim)
  8. Mansur bin Mu’tamir (rowi jama’ah)
  9. Al-Hasan bin ‘Ubaidillah (rijal Muslim)
  10. Hammad bin Aby Sulaiman (rijal Muslim)
  11. Ziyad bin Kulaib (rijal Muslim)
  12. ‘Abdurrohman bin Aby Sya’sya (rijal Muslim)

 

Ke 12 rowi diatas adalah para imam hafidz yang masyhur (terkenal) ketsiqohannya, keluasan ilmunya dan kedekatannya dengan sang gurunya yaitu Ibrohim An-nakho’ie mengakibatkan rowi lemah menyendiri darinya adalah Munkar. Belum para imam yang lain masih banyak yang berguru kepada Ibrohim An-Nakho’ie walau hanya sebatas shoduq dan kelemahan ringan.

Atas keluasan ilmu mereka dan kekuatan hafalan mereka, penulis mempertanyakan kenapa para imam ini tidak meriwayatkan dari Ibrohim sebuah riwayat yang dibawa oleh Yazid?

Memang tidaklah harus semua imam itu meriwayatkan dari apa yang dibawa Yazid dari Ibrohim, namun minimal 1 sampai 5 orang imam yang masyhur diatas haruslah mengetahuinya andaikan yang dibawa oleh yazid dari Ibrohim itu benar.

Namun kenyataannya dari hasil penelusuran riwayat dari kitab-kitab mashodir ashliyyah (kitab primer) tidaklah penulis dapatkan para imam besar ini meriwayatkan dari Ibrohim seperti apa yang dibawa oleh Yazid ini. Dari sinilah nampak kemungkaran riwayat yang dibawa oleh Yazid ini.

Yang menguatkan kemungkarannya adalah bahwa Yazid ini disamping seorang rowi yang lemah adalah ia seorang imam syi’ah dan termasuk pembesar syi’ah. Riwayat yang dibawa oleh Yazid ini nampak jelas wajib kita tolak disaat beliau menyendiri dari Ibrohim seorang imam besar maka riwayat yang dibawanya adalah sebuah riwayat yang ia buat untuk mendukung ke-syi’ahannya. Wallahu A’lam.

Sebelum masuk pada jalur sahabat Nabi yang lain, perlu diketahui sebenarnya terdapat satu riwayat yang seolah-olah riwayat ini adalah menguatkan riwayat yang dibawa oleh Yazid. Berikut riwayatnya:

أخبرني أبو بكر بن دارم الحافظ بالكوفة ثنا محمد بن عثمان بن سعيد القرشي ثنا يزيد بن محمد الثقفي ثنا حَنان بن سُدير، عن عمرو بن قيس الملائي، عن الحكم، عن إبراهيم، عن علقمة بن قيس وعبيدة السلماني، عن عبدالله بن مسعود – رضي الله عنه – قال: أتينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فخرج إلينا مستبشراً يعرف السرور في وجهه… حتى ترتفع رايات سود من المشرق، فيسألون الحق فلا يعطونه ثم يسألونه فلا يعطونه ثم يسألونه فلا يعطونه، فيقاتلون فينصرون، فمن أدركه منكم أو من أعقابكم فليأت إمام أهل بيتي ولو حبواً على الثلج فإنها رايات هدى يدفعونها إلى رجل من أهل بيتي يواطئ اسمه اسمي، واسم أبيه اسم أبي، فيملك الأرض فيملأها قسطاً وعدلاً كما ملئت جوراً وظلماً

(Dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim; Kitab Al-Mustadrok Juz 4 hal. 464 cet. Majlis Dairotu Al-Ma’arif)

Riwayat ini matannya (terjemahnya) hampir sama dengan yang dibawa oleh Yazid bin Aby Ziyad tentang bendera hitam dimana sepintas terlihat sanadnya saling menguatkan antara Yazid dengan Al-Hakam yang keduanya dapat dari Ibrohim. Dan Al-Hakam telah penulis kutip diatas bahwa beliau adalah rijalnya jama’ah. Andaikan benar pada jalur Ibrohim ini ada Al-Hakam yang tsiqoh maka apa yang dibawa Yazid adalah benar dan tidak sedang membawa kebid’ahannya dari background nya seorang syi’ah. Namun kenyataannya pada jalur ini sebenarnya tidak ada Al-Hakam dari Ibrohim karena pada sanadnya terdapat HANAN BIN SUDAIR. Rowi ini dloif.

Imam Ad-Daroqouthny mengatakan dalam kitabnya “Al-Mu’talif Wal Mukhtalif” dan di kitab “Al-‘Ilal”: “dia itu (Hanan bin Sudair) termasuk Syaikhnya Syi’ah”.[8]

Rowi ini tidak penulis dapatkan dikitab kitab rijal tentang penilaian jarh ta’dilnya. Rowi ini sepi dari penilaian baik dari para imam. Disaat rowi ini mastur, juga seorang pembesar syi’ah tulen. Sehingga kesendiriannya dari ‘Amr bin Qois adalah Munkar.

Rowi seperti Hanan yang lemah ini juga seorang Syi’ah tidak boleh sendirian dalam riwayat yang dibawanya dari ‘Amr bin Qois. Apabila sendirian maka riwayatnya mesti ditolak karena lebih dominan rowi ini sedang membawa riwayat untuk mendukung kebid’ahannya yaitu tentang Al-Mahdy.

‘Amr bin Qois seorang rowi tsiqoh yang memiliki murid-murid yang tsiqoh pula seperti Sufyan Ats-Tsaury. Karena itu kesediriannya dari ‘Amr bin Qois adalah bentuk kemungkaran.

Karena itu Imam Ad-Dzahaby dalam Talkhisnya Al-Hakim mengomentarinya dengan menilai: “Hadits ini Palsu”.[9]

Syaikh Abdurrohman Al-Mu’allimy pentahqiq kitab  Al-Fawaid Al-Majmu’ah karya Imam Asy-Syaukany mengomentari:

ابن أبي دارم رافضي كذاب ، وقال الحاكم نفسه : رافضي غير ثقة ، وشيخه وشيخه لم أعرفهما ، وحنان رافضي غال ، والخبر فيما أرى من وضع ابن أبي دارم

“Ibnu Aby Darim seorang Syi’ah rofidloh Kadzzab (pendusta). Dan Imam Al-hakim sendiri mengatakan: “dia seorang Syiah Rofidloh yang lemah. Dan Syaikhnya dan Syaikhnya adalah tidak aku kenal. Dan Hanan seorang Syiah Rofidloh yang berlebihan. Dan kabar tentang ini dari yang aku tahu adalah dari kepalsuan Abu Bakar bin Aby Darim”.[10]

Riwayat yang dibawa oleh Hanan bin Suraid adalah Munkar bahkan palsu karena telah menyelisihi murid-muridnya ‘Amr bin Qois dan juga kemungkinan besar sanad ini di palsukan oleh Ibnu Aby Darim seorang Syi’ah Rofidloh yang Kadzzab (pendusta).

Kesimpulan Jalur Ibnu Mas’ud r.a:

Atas penulusuran riwayat ini maka bisa diketahui riwayat dari arah Yazid bin Aby Ziyad adalah Munkar. Tidaklah benar Ibrohim mengabarkan kepadanya dari Al-Qomah dari Ibnu Mas’ud tentang kabar ini. Adapun Mutabi’ bagi Yazid yaitu Al-Hakam adalah juga tidak benar karena jalur ini dibawa oleh Hanan dan juga Abu Bakar bin Aby Darim seorang rowi pendusta.

Jalur riwayat dari arah Ibnu Mas’ud r.a adalah Dloif dan tidak sah sumber berita ini berasal dari Nabi saw. Kedua jalur dari arah ini tercium bau kebid’ahan yang dibawa oleh rowi-rowi Syi’ah dari Kuffah yang disana sudah banyak para penganut faham Syi’ah bertebaran.

Wallahu A’lam

Bersambung ke riwayat Aby Hurairoh r.a. Klik disini, ….


[1] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Imam Mizzy. Juz 32 hal.135 No.6991 Cet. Muassasatu Ar-Risalah.

[2] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Imam Mizzy. Juz 32 hal.135 No.6991 Cet. Muassasatu Ar-Risalah.

[3] Kitab Ad-Dlu’afa Al-Kabir Lil ‘Uqoily. Juz 4 hal. 381. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[4] Kitab Tahdzibu At-Tahdzib; Imam Mizzy. Juz 32 hal.135 No.6991 Cet. Muassasatu Ar-Risalah.

[5] Kitab Ad-Dlu’afa Al-Kabir Lil ‘Uqoily. Juz 4 hal. 381. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[6] Kitab Ad-Dlu’afa Al-Kabir Lil ‘Uqoily. Juz 4 hal. 381. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[7] Kitab Al-Majruhin Minal Muhadditsin; Ibnu Hibban. Juz 3 hal.100 cet. Darul Ma’rifah

[8] Kitab Lisanul Mizan; Ibnu Hajar. Juz 3 hal 304 cet. Maktabu Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah.

[9] Lihat Kitab Talkhisnya Al-Mustadrok pada hadits ini

[10] Kitab Al-Fawaid Al-Majmu’ah Fiel Ahadits Al-Maudlu’at; Asy-Syaukany. Tahqiq Al-Mu’allimy. Hal. 355 cet. Al-Maktab Al-Islamy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − 8 =