Duduk Sebentar Ketika Hendak Berdiri Dari Sujud Riwayat Kholid Syad

Berikut riwayat Jalsatun Istirohah (Duduk sebentar ketika hendak berdiri) yang di masukkan oleh Imam Al-Bukhary dalam kitabnya Shahih Al-Bukhary:

Hadits Pertama:

حدثنا محمد بن الصباح قال: أخبرنا هشيم قال: أخبرنا خالد الحذاء، عن أبي قلابة قال: أخبرنا مالك بن الحويرث الليثي : أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم يصلّي فإذا كان في وتر من صلاته، لم ينهض حتى يستوي قاعدا.

Abu Qilabah berkata: “telah mengabarkan kepada kami Malik bin Al-Huwairits Al-Laitsy, bahwa dia melihat Nabi saw melaksanakan shalat, jika sampai pada raka’at ganjil, maka beliau tidak bangkit berdiri hingga duduk sejenak.”

(H.R. Al-Bukhory; Shohih Al-Bukhory no.823 hal.114 cet.Maktabah Ar-Rusydy)

Pada riwayat ini Muhammad bin As-Shabbah diikuti oleh Musaddad yang dikeluarkan oleh Abu Daud No.718, juga diikuti oleh ‘Aly bin Hujr yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzy No.264 dan oleh Imam An-Nasai No.1140.

Riwayat ini kuat rowi-rowinya tsiqoh. Dalam riwayat ini Muhammad bin Shobbah, Musaddad dan ‘Aly bin Hujr dapat dari Khalid Al-Khadza dari Aby Qilabah dari Malik bin Al-Huwairits bahwasanya Malik melihat Nabi saw shalat ketika hendak berdiri dari sujudnya menuju rakaat ganjil beliau duduk dulu sejenak (Jalsatun Istirohah).

Kholid Al-Hadza tidak sendirian meriwayat berita ini dari Aby Qilabah, adalah Ayyub rekan seperjuangan kholid dalam ilmu riwayat juga meriwayatkan dari Aby Qilabah. Berikut riwayatnya:

Hadits Kedua:

حدثنا معلى بن أسد قال حدثنا وهيب عن أيوب عن   أبي قلابة قال : جاءنا مالك بن الحويرث فصلى بنا في مسجدنا هذا فقال إني لأصلي بكم وما أريد الصلاة ولكن أريد أن أريكم كيف رأيت النبي صلى الله عليه و سلم يصلي . قال أيوب فقلت لأبي قلابة وكيف كانت صلاته ؟ قال مثل صلاة شيخنا هذا –يعني عمرو بن سلمة – قال أيوب وكان ذلك الشيخ يتمّ التكبير وإذا رفع رأسه عن السجدة الثانية جلس واعتمد على الأرض ثم قام

Dari Abu Qilabah, ia berkata, “Malik bin Al Huwarits datang kepada kami lalu shalat bersama di masjid kami ini. kemudian ia berkata, ‘Aku bukan ingin melakukan shalat, tapi aku akan menerangkan kepada kalian bagaimana Nabi saw melaksanakan Shalat’. Ayub berkata, ‘Maka aku bertanya kepada Abu Qilabah, ‘Bagaimana kaifiyah salatnya?’, ‘Ia berkata, “Seperti kaifiyah shalat syekh kita ini, yakni Amr bin Salimah” Ayub berkata, “dan syekh itu menyempurnakan takbir, dan apabila beliau mengangkat kedua kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk (dulu) pada tanah, kemudian baru berdiri”.

(H.R. Al-Bukhory; Shohih Al-Bukhory no.824 hal.114 cet.Maktabah Ar-Rusydy)

Mu’alla bin Asad diikuti oleh ‘Affan bin Muslim yang dikeluarkan oleh Imam At-Thobarony dalam Mu’jam Al-Kabir,

Riwayat ini juga shahih dan lebih rinci kejadiannya, dimana dalam riwayat ini Abu Qilabah bercerita ke Ayub bahwa beliau (abu qilabah) dan teman-temannya pernah kedatangan seorang shahabat nabi saw yaitu Malik bin Huwairits dan memperlihatkan bagaimana nabi saw sholat. Saat bercerita abu qilabah ditanya oleh ayub: bagaimana Malik melakukan sholat?. Maka Abu qilabah menyepertikan sholat malik itu seperti shalatnya ‘Amr bin Salamah. Dan ‘Amr bin Salamah apabila bangkit dari sujud  kedua ia duduk dulu sebentar kemudian berdiri.

Apakah yang dilakukan ‘Amr bin Salamah (tabiin) sholatnya sama dengan Malik bin Huwaits yang waktu itu sedang memperagakan shalatnya Rasul saw?

Berikut riwayat penjelasnya:

Hadits Ketiga:

 حدثنا أبو النعمان قال حدثنا حمّاد عن أيوب عن   أبي قلابة : أنّ مالك بن الحويرث قال لأصحابه : ألا أنبئكم صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم؟ قال : وذاك في غير حين صلاة، فقام، ثمّ ركع فكبّر، ثمّ رفع رأسه، فقام هنيّة، ثمّ سجد ، ثمّ رفع رأسه هنيّة، فصلى صلاة عمرو بن سلمة شيخنا هذا. قال أيوب :كان يفعل شيئا لم أرهم يفعلونه كان يقعد في الثالثة و الرابعة

Dari Aby Qilabah dari Malik bin Huwairits ia berkata kepada para shahabatnya,: “Maukah kalian aku sampaikan cara shalat Rasulullah saw? Padahal saat itu bukan pada waktu shalat. Malik kemudian berdiri lalu ruku’ dan bertakbir, kemudian mengangkat kepalanya lalu berdiri dan berdiam sejenak, kemudian dia sujud, lalu mengangkat kepalanya. Dia shalat seperti shalatnya ‘Amr bin Salamah, guru kita ini.” Ayyub berkata “Dia mengerjakan sesuatu yang tidak pernah aku lihat orang-orang melakukannya, dia duduk pada setiap akan berdiri ke rakaat ketiga dan keempat.”

(H.R. Al-Bukhory; Shohih Al-Bukhory no.818 hal.114 cet.Maktabah Ar-Rusydy)

Imam Ibnu Hajar mengomentarinya dalam kitab syarahnya:

قال ابن حجر :  هو الشك من الراوي، المراد منه بيان جلسة الاستراحة وهي تقع بين الثالثة والرابعة)

(pada hitungan ketiga dan keempat) itu adalah syak (keraguan) dari seorang rowi, yang dimaksud itu adalah penjelasan duduk istirahat yang terletak antara rakaat ketiga dan keempat).[1]

Abu Nu’man diikuti oleh Yunus yang di keluarkan oleh Imam Ahmad.

Hadits ketiga ini masih dari jalur Ayyub yang disampaikan ke Hammad, adapun hadits kedua Ayyub menyampaikan ke Wuhaib.

Pada hadits ketiga ini Ayub memperjelas dan mentakhsis apa yang dilakukan oleh ‘Amr bin Salamah yaitu jalsatun istirohah tidak dilakukan oleh yang  lain generasinya tabiin.

Dalam hal ini Wajhul Istidlalnya adalah: “Kana Yaf’alu Syai’an Lam Arohum Yaf’alunahu”.

Ini menjadi dalil kuat bahwa baru kali itu Ayub melihat praktek Jalsatun Istirohah seperti yang dilakukan ‘Amr bin Salamah. Dan itu bisa difahami guru-gurunya Ayyub yang diantaranya Abu Qilabah dari generasi tabiin kibar tidak melakukannya padahal beliau telah mendapat pengajaran dari Malik bagaimana tata cara shalatnya Rasul saw. Dan tentunya apabila Abu Qilabah dan syaikh yang lainnya melakukan Jalsatun  Istirohah seperti apa yang dilakukan oleh ‘Amr bin Salimah maka Ayyub tidak akan mengucapkan perkataan itu: “Kana Yaf’alu Syai’an Lam Arohum Yaf’alunahu”.

Dan apa yang bisa difahami dalam hadits ini Malik bin Huwairits pada waktu itu memang mencontohkan prakteknya shalat Nabi saw, dan prakteknya Malik pun sama dengan prakteknya ‘Amr bin Salamah terkecuali ketika hendak bangkit menuju raka’at ganjil ‘Amr melakukan duduk dulu. Dan praktek itu di pandang hanya praktek ‘Amr yang tidak dilakukan oleh yang lain generasi tabi’in juga bukan prakteknya Malik bin Huwairits.

Riwayat Ayyub ini (hadits kedua dan ketiga) sangat jelas menentang riwayat yang dibawa oleh Khalid Al-Khadza (hadits pertama).

Riwayat Ayyub menjelaskan praktek Jalsatun Istirohah adalah hanya praktek ‘Amr bin Salim adapun riwayat khalid memahami apa yang dilakukan ‘Amr bin Salim adalah prakteknya Malik bin Huwairits ketika malik memperagakan prakteknya Rasul saw.

Apakah disini Khalid keliru?

Berikut penjelasan kredibilitas Khalid dan Ayyub.

Kholid Al-Hadza

قال أبو بكر الأثرم عن أحمد بن حنبل : ثبت

Ahmad bin Hanbal berkata: (Kholid) Tsabtun.

وقال إسحاق بن منصور عن يحيى بن معين وأبو عبد الرحمن النسائي : ثقة

Yahya bin Ma’in dan An-Nasai menilai : (Kholid) Tsiqoh.

وقال أبو حاتم : يكتب حديثه ولا يحتجّ به.

Abu Hatim berkata: “Haditsnya ditulis, Namun tidak dipakai hujjah”.[2]

 

Ayyub bin Aby Tamimah

وقال أبو بكر بن أبي خيثمة عن يحيى بن معين : أيوب ثقة وهو أثبت من ابن عون وإذا اختلف أيوب وابن عون فأيوب أثبت منه

Yahya bin Main berkata; Ayyub Tsiqoh dan dia paling atsbat dari ibnu ‘Aun. Apabila Ayyub dan ibnu ‘Aun berselisih maka Ayyub paling Atsbat darinya.

وقال محمد بن أحمد بن البراء عن علي ابن المديني : وليس في القوم –يعني هشام بن حسان وسلمة بن علقمة وعاصما الأحول وخالد الحذاء – مثل أيوب وابن عون، وأيوب أثبت في ابن سيرين من خالد الحذاء

‘Aly bin Madiny berkata: tidak ada Qaum (yaitu Hisyam, Salamah, ‘Ashim dan Kholid) yang seperti Ayyub dan Ibnu ‘Aun. Dan Ayyub paling atsbat dari riwayat ibn Sirin daripada Kholid

وقال محمد بن سعد : كان ثقة ثبتا في الحديث ، جامعا كثير العلم ، حجة ، عدلا.

Ibnu Sa’ad berkata: Ayyub Tsiqoh, Tsabat dalam hadits, pengumpul banyak ilmu, ia Hujjah dan Adil”

وقال أبو حاتم : هو أحبّ إلي في كلّ شيء من خالد الحذاء.

Abu Hatim berkata: “(Ayyub) paling aku sukai dalam segala hal daripada khalid al-Hadza.

وقال النسائي : ثقة ثبت.

Imam An-Nasai menilai: “(Ayyub) adalah Tsiqoh dan Tsabat”

(Lihat semua komentar tentang Ayyub di kitab Tahdzib[3])


Dari penjelasan diatas, maka bisa diketahui Ayyub adalah rowi paling tsabat dan tsiqoh dibandingkan Kholid.

Kholid Al-Khadzza. Rowi ini walaupun tsiqoh, namun dalam penelusuran riwayat-riwayat yang dibawa oleh Kholid terdapat riwayat-riwayat yang idhthirob (goncang) ketika kholid tafarrud. Berikut satu riwayat yang penulis ajukan akan kegoncangan riwayat Kholid Al-Khazza:

Riwayat Kholid Al-Khadzza dari Kholid bin Aby Shilt.

Imam Adz-Dzahaby mengomentari riwayatnya dikitab Mizan[4]:

“خَالِدُ بن أبي الصَّلْتِ عن عِرَاكِ بن مَالِكٍ عن عَائِشَةَ: حَوِّلُوا مَقْعَدَتِي نحو الْقِبْلَةِ أو قد فَعَلُوهَا، لَا يَكَادُ يُعْرَفُ، تَفَرَّدَ عنه خَالِدٌ الْحَذَّاءُ، وَهَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ! فَتَارَةً رَوَاهُ الْحَذَّاءُ عن عِرَاكٍ، وَتَارَةً يقول: عن رَجُلٍ عن عِرَاكٍ”.

Riwayat yang dikomentari oleh Imam Adz-Dzahaby ini tepatnya dikeluarkan oleh Imam Ad-Daroquthny no.167. Imam Ath-Thohawy Kitab Syarhul Ma’anil Aatsar no.6595 dan no.6598. Imam Ibnu Majah di kitab sunannya no.324. Imam Ahmad di kitab Musnadnya no.25063, 25899. Dan Ishaq di kitabnya no.1095.

Semua sanadnya bersumber dari Kholid Al-hadzza dari Kholid bin Aby Shilt.

Imam Adz-Dzahaby menilai riwayat yang dibawa oleh Kholid Al-Hadzza adalah munkar karena beliau menyendiri dan riwayatnya idlthirob. Di riwayat lain ia menyebutkan langsung dari ‘Irok dan diriwayat yang lain lagi ia sebutkan dari seseorang (majhul) dari ‘Irok.

Riwayat ini telah nyata goncang, terlihat kholid hafalannya berubah.

Kegoncangan ini akan nampak jelas ketika didapatkan riwayat yang mahfudz (terpelihara) yang Imam Al-Bukhory sebut di kitabnya Tarikh Kabir Juz 3 hal. 156:

“وقال ابن بكير: حدثني بكر، عن جعفر بن ربيعة، عن عراك، عن عروة: أن عائشة كانت تنكر قولهم: لا تستقبل القبلة. وهذا أصح”.

Imam Al-Bukhory menilai inilah riwayat yang benar dari ‘Irok dari ‘Urwah dari ‘Aisyah r.a. karena itu masih di kitab ini Imam Al-Bukhory menilai riwayat yang dibawa oleh kholid Al-Khazza adalah Mursal.

Dalam riwayat ini nampak kegoncangan riwayat yang dibawa oleh Kholid Al-Khazza dari segi matan dan sanad.

Dan oleh karena itu walaupun kholid ini didapatkan pada riwayat-riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhory dalam kitab Shohihnya, namun riwayatnya akan selalu di ikuti oleh sahabatnya yaitu Ayub As-Sakhtiyani rowi paling tsiqoh muridnya Abu Qilabah, karena Imam Al-Bukhory tau bahwa kesendirian kholid adalah lemah apalagi apabila menyendiri dari Abu Qilabah tanpa disertai oleh murid Abu Qilabah yang paling tsiqoh yaitu Ayyub.

Atas beberapa riwayat yang dibawa oleh Kholid terjadi goncangan maka sangat kuat penilaian Abu Hatim terhadap Kholid Al-Hadzza dengan mengatakan:

يكتب حديثه ولا يحتجّ به

“Haditsnya dicatat namun tidak dipakai hujjah”[5]

Perubahan hafalan Kholid telah di nilai oleh Hamad bin Zaid semenjak kembalinya dari negri Syam:

أشار حماد بن زيد إلى أنّ جفظه تغير لمّا قدم من الشام وعاب عليه بعضهم دخوله في عمل السلطان

“Hamad bin Zaid memberi isyarat bahwa hafalan (kholid) telah berubah semenjak pulang dari negri Syam dan sebagian (para imam) telah menilai cacat padanya disaat ikut masuk dalam urusan kenegaraan (sultan)”[6]

Pernyataan Hamad bin Zaid sangat akurat dan terbukti dari beberapa riwayat yang dibawa oleh Kholid goncang.

Atas dasar itu pada riwayat yang dibawa khalid ini adalah keliru. Malik bin Huwaits tidak melihat rasul saw melakukan Jalsatun Istirohah. Informasi yang benar adalah datang dari Ayyub rowi paling tsiqoh dari arah Abu Qilabah yaitu Malik mengajarkan tata cara shalatnya rasul saw yang mirip dengan ‘Amr bin Salimah (seorang tabi’in) terkecuali praktek jalsatun istirohah adalah praktek ‘Amr bin Salimah saja.

‘Amr bin Salimah bin Qois adalah seorang tabi’in kibar yang disaat masa periwayatan Ayub dan Khalid dari Abu Qilabah usianya sudah menjelang tua.

Demikian pembahasan hari ini yang bisa kami sharing, seperti biasa apabila terdapat kekeliruan silahkan diberikan kolom komentar dibawah.

 

Wallahu A’lam Bishawab.

Abu Aqsith – Dadi Herdiansah

Pameungpeuk – Bandung – Jawa Barat – Indonesia – Alam Dunia


[1] Kitab Fathul Bary; Ibnu Hajar. Jilid ke 3. Hal.36 cetakan: Darul Thoyyibah

[2] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 8 hal.180 No.1655 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[3] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 3 hal.461 No.607 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[4] Kitab Mizanul I’tidal; Imam Adz-Dzahaby. Juz 2 hal.414 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[5] Kitab Tahdzibul Kamal; Imam Mizzy. Juz 8 hal.180 No.1655 Cet. Muassasatu Ar-Risalah

[6] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Tahqiq Abul Asybal. Hal. 292 cet. Darul ‘Ashimah

3 thoughts on “Duduk Sebentar Ketika Hendak Berdiri Dari Sujud Riwayat Kholid Syad

  1. relga

    Assalamualaikum, ustadz…
    Alhamdulillah ana peroleh bnyk lmu dr situs antum..
    Ustadz, klo ada kesempatan mohon dibahas takhrij hadist mengenai isyarat jari telunjuk, yg digerak2an maupun yg tdk.?
    Trus, apakah tambahan lafadz “yuharrikuha” itu termasuk syadz….?

    1. Abu Aqsith Post author

      Wa’alaikumussalam,
      Takhrij tentang Isyarat telunjuk sudah ada, hanya saja blm ana post kan disebabkan beberapa hal yg tidak bisa ana sampaikan disini.

      mungkin menunggu moment yang tepat. afwan.

  2. Riki Arisanto

    Ustadz, tulisannya sangat bagus. Mohon kiranya ana untuk mendapatkan copi tulisannya. syukron wa jazakumulloh khair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *