Bendera hitam atau putih bertuliskan kalimat tauhid selalu diidentikkan oleh sebagian kelompok sebagai bendera Islam atau bendera Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Dengan begitu sedikit terjadi konflik dengan kelompok lain yang bersebrangan dari sisi idiologi dan pemahaman hadits.

Tugas penulis seperti biasa hanya masuk pada keotentikan suatu hadits yang siap untuk diuji analisisnya tanpa takut merubah sikap jika hasil analisisnya terjadi kekeliruan. Adapun wilayah kepentingan, wilayah politik, wilayah bagi-bagi kekuasaan, jabatan dan ketenaran justru akan menjadikan kajiannya rusak, tidak utuh dan tidak kokoh yang akan mecedrai keagungan sunnah.

Berikut takhrīj hadīts mengenai informasi bendera Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam:

Hadits Pertama:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو يَعْقُوبَ الثَّقَفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ، مَوْلَى مُحَمَّدِ بْنِ القَاسِمِ قَالَ: بَعَثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ القَاسِمِ إِلَى البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَسْأَلُهُ عَنْ رَايَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ.

Muhammad Ibnul Qasim mengutusku kepada Al bara` bin Azib untuk bertanya tentang bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia lalu menjawab, “Bendera beliau berwarna hitam, bentuknya persegi empat dan terbuat dari kain wool yang bergaris.”

(Dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzy: Sunan At-Tirmidzy No. 1680 Juz 3 hal. 248)

Hadits ini hanya satu jalur (single strand) yang sanadnya bermuara ke Yahya bin Zakaria dari Abu Ya’qub ats-Tsaqafy dari Yunus bin ‘Ubaid dari al-Barā bin ‘Ăzib r.a.

Yang meriwayatkan dari Yahya bin Zakaria terdapat 6 orang yaitu:

  1. Ahmad bin Muni’ (H.R. at-Tirmidzy: Sunan At-Tirmidzy No. 1680 Juz 3 hal.248)
  2. Ibrāhīm bin Mūsa (H.R. Abu Daud: Sunan Aby Daud No. 2591 Juz 4 hal.235)
  3. Ahmad bin Hanbal (H.R. Ahmad bin Hanbal: Musnad Ahmad No. 18627 Juz 30 hal.589)
  4. Syujā’ bin Makhlad (H.R. Abu Ya’lā: Mu’jam Aby Ya’la No. 200 Juz 1 hal. 174)
  5. Sahl bin ‘Utsmān (H.R. At-Thabarāni: al-Mu’jam Al-Usāth No. 4733 Juz 5 hal. 81)
  6. Muhammad bin Sinān (H.R. Ar-Rūyani: Musnad ar-Rūyani No. 403 Juz 1 hal. 273)

 

Berikut bagan riwayatnya:

Dengan jalur sanad seperti ini maka dapat disimpulkan bahwa adalah benar ke 6 rowi ini mendapat riwayat dari Yahya bin Zakaria dari Abu Ya’qub ats-Tsaqafy dari Yunus bin ‘Ubaid dari al-Barā bin ‘Ăzib r.a. namun apakah dari jalur tunggal ini Yahya sampai ke al-Barā sanadnya kuat?

  1. Yahyā bin Zakaria. Ibnu Hajar menyimpulkan dalam kitabnya at-Taqrib: “Tsiqatun Mutqinun”
  1. Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim. Ibnu Hajar menyimpulkan dalam kitabnya at-Taqrib: “Fiehi Dla’fun”
  1. Yunus bin ‘Ubaid. Ibnu Hajar menyimpulkan dalam kitabnya at-Taqrib: “Maqbul”.
  1. al-Barā bin ‘Ăzib r.a. seorang shabat Nabi shallall.

 

Jalur ini titik tengkarnya ada pada 2 rawi dlaif yaitu Abu Ya’qub at-Tsaqafy dan Yunus bin ‘Ubaid.

  1. Abu Ya’qub At-Tsaqafy :

قال ابن عدي: روى عن الثقات مالا يتابع عليه.

Ibnu ‘Ady berkata: ia meriwayatkan dari rowi-rowi tsiqah tanpa ada mutābi’[1]

أحاديثه غير محفوظة

Ibnu ‘ady berkata: “hadits-haditsnya tidak terpelihara”[2]

قَالَ الْأَزْدِيّ ضَعِيف

Imam al-Azdy berkata: “ia lemah”[3]

قال العقيلي “في حديثه نظر وروى عن مالك حديثا لا أصل له”

Imam al-‘Uqaily berkata: “pada haditsnya Nadzar dan ia meriwayatkan dari Malik suatu hadits yang tidak ada asal usulnya”[4]

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا لَيَّنَهُ مِنَ الْقُدَمَاءِ

Imam adz-Dzahaby berkata: “aku tidak melihat seorangpun dari ulama-ulama mutaqaddimin melayyinkannya”[5]

فيه ضعف من الثامنة د ت س

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyimpulkan dalam kitabnya at-Taqrib: “padanya terdapat kelemahan (termasuk) dari thabaqah ke 8”[6]

 

  1. Yunus bin ‘Ubaid

 

Al-bukhary menyebutkannya dalam kitab at-Tarikh al-Kabir[7] tanpa ada komentar jarh ta’dil nya. Begitupun Abu Hatim hanya menyebutkan sanad tunggalnya[8]:

 يونس بن عبيد مولى محمد بن القاسم (1) روى عن البراء بن عازب روى عنه أبو يعقوب إسحاق بن ابراهيم الثقفي سمعت أبي يقول ذلك

Adapun Imam adz-Dzahaby mengomentarinya “ia tidak dikenal”:[9]

فَأَمَّا يُوْنُسُ بنُ عُبَيْدٍ: فَشَيْخٌ لاَ يُعْرَفُ، مِنْ مَوَالِي ثَقِيْفٍ

Bahkan Yahya bin Sa’id al-Qathan menilai kedua rowi tersebut (Abu Ya’qub dan Yunus) adalah rowi majhul[10]

وَفِيه رجلَانِ مَجْهُولَانِ: يُونُس بن عبيد، وَأَبُو يَعْقُوب: إِسْحَاق بن إِبْرَاهِيم الثقفيان

Adapun Ibnu Hibban seperti biasa menempatkan rowi majhul generasi tabi’in ini dalam kitab ats-Tsiqahnya:[11]

يُونُس بن عبيد مولى مُحَمَّد بن الْقَاسِم يروي عَن الْبَراء بن

Atas semua komentar diatas al-Hafidz Ibnu Hajar menyimpulkan:

يونس بن عبيد مولى محمد بن القاسم الثقفي مقبول من الرابعة د ت س.

Seperti biasa, al-Hafidz telah banyak memasukkan rowi-rowi yang hakikatnya majhul dipandang oleh para ahlu jarh wa ta’dil  di tingkat tabi’in namun oleh beliau dimasukkan pada kriteria rowi maqbul apabila ada mutabi’ . dan apabila tidak ada maka nilainya jatuh pada kedudukan layyin (lemah).

Dengan 2 rowi yang lemah pada jalur sanad tunggal yang dibawa oleh Yahya bin Zakaria ini menunjukkan sanad ini adalah lemah. (dlaif muhtamal).

 

Bersambung pada pembahasan Hadits Kedua,. Silahkan klik disini ….


[1] Kitab Mizanul I’tidal: Imam adz-Dzahaby. Juz 1 hal. 176

[2] Kitab Diwan ad-Dlu’afā: Juz 1 hal.26

[3] Kitab ad-Dlu’afau Wal Matrukien: Ibnu Aj-Jauzy. Juz 1 hal. 97

[4] Kitab Tahdizbu at-Tahdzib: Ibnu Hajar. Juz 1 hal 221

[5] Kitab at-Tarikh: Imam Adz-Dzahaby. Juz 4 hal. 304

[6] Kitab Taqribu at-Tahdzib: Ibnu Hajar Juz 1 hal. 78

[7] Kitab at-Tarikh al-Kabir: Imam al-Bukhary. Juz 8 hal. 403

[8] Kitab al-Jarhu wa At-Ta’dilu: Abu Hatim. Juz 9 hal. 242

[9] Kitab Siyaru al-A’lam an-Nubala: Imam Adz-Dzahaby. Juz 6 hal. 295

[10] Kitab Bayanu al-Wahm Wa al-Ieham: Juz 5 hal. 247

[11] Kitab Ats-Tsiqat Libni Hibban. Juz 5 hal. 554

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − 6 =