Belajar Takhrij Hadits 3: Rangkuman dan Urutan Penilaian Rowi

Rangkuman dari Pelajaran Pertama:

Sebelum masuk pada pembahasan baru perlu  kiranya disimpulkan dari Pelajaran Pertama yang sudah di bahas pada Belajar Tahkrij Hadits 1 dan Belajar Takhrij Hadits 2 yaitu:

  1. Apabila di temukan rowi yang terjadi perbedaan nilai dari para imam maka kita pakai Qaidah:

الجرح المفسر مقدم على التعديل

“Jarh (kritikan) yang ada penjelasan lebih didahulukan daripada yang menta’dil (pujian)”.

T Taqribu TahdzibDari Qaidah diatas bisa terjadi sebaliknya, yakni apabila terdapat Imam yang menjarh (mengkritik) tanpa ada penjelasannya maka banyaknya yang menta’dil (memuji) bisa didahulukan (dipakai).

  1. Sebagai pembandingnya dari apa yang bisa di fahami oleh kita dari hasil analisa di kitab-kitab biografi rowi tersebut, ana rekomendasikan untuk memiliki kitab Taqribu Tahdzib karya Ibnu Hajar. (silahkan download klik disini bagi yang belum punya)

Sebagai contoh:

Penelitian rowi: Makhlad bin Yazid Al-Qurosyie.

Apabila kita buka kitab Tahdzibul Kamal sebagai cara pertama,  maka akan didapatkan keterangan sebagai berikut:

قال أبو بكر الأثرم عن أحمد بن حنبل : لا بأس به ، وكان يهم.

وقال عثمان بن سعيد الدرامي عن يحيى بن معين، وأبو داود، ويعقوب بن سفيان : ثقة.

وقال أبو حاتم : صدوق.

Abu Bakar Al-Atsrom berkata: “Ahmad bin Hanbal (mengatakan tentang Makhlad): dia itu tidak apa-apa, (tapi) dia ada kekeliruan”.

Utsman bin  Said Ad-Daromy mengatakan: “Yahya bin Main, Abu Daud dan Ya’qub menilai: dia (Makhlad) adalah Tsiqoh (terpercaya).

Abu Hatim berkata: dia (Makhlad) rowi shoduq.

Dari penilaian para imam diatas. Penilaian mana yang akan kita ambil? Tsiqoh, La ba’sa bih atau Shoduq?

Penilaian para imam diatas terjadi perbedaan dalam menilai yang memungkinkan kita bingung penilaian mana yang akan kita ambil untuk belajar Takhrij Hadits?. Namun apabila kita hafal Qaidah pada no.1 diatas yakni : “Jarh (kritikan) yang ada penjelasan lebih didahulukan daripada yang menta’dil (pujian)”. Maka penilaian Imam Ahmad lebih tepat untuk di ambil. yaitu:

لا بأس به ، وكان يهم.

Penilaian ini lebih tepat kita ambil dikarenakan beberapa sebab, yaitu:

  1. Imam Ahmad memberikan penilaian “La ba’sa bih” dengan di jelaskan sebabnya yakni rowi ini ada kelirunya.
  2. Imam Ahmad mendapat dukungan nilai dari Abu Hatim dengan penilaiannya: Shoduq. (shoduq ini nilainya sama dengan La ba’sa bih yakni dibawah Tsiqoh).

Dengan begitu penilaian tsiqoh (terpercaya) dari Yahya bin Main, Ya’qub, dan Abu Daud belum bisa dijadikan kesimpulan bahwa Makhlad adalah benar-benar tsiqoh.

Nah, sebagai pembandingnya dari apa yang ana rekomendasikan di no.2 diatas yakni Kitab Taqribu Tahdzib karya Ibnu Hajar coba kita buka. Pada kitab itu kita dapatkan penjelasan sebagai berikut:

مخلد بن يزيد القرشي ، الحرّاني ، صدوق له أوهام ، من كبار التاسعة.

“Makhlad bin Yazid Al-Qurosyie Al-Harrony: (adalah) rowi shoduq yang memiliki kekeliruan-kekeliruan”.

Nah, sama khan penilaian Ibnu Hajar dengan hasil penilaian kita diatas? he..

Penjelasan Kitab Taqrib:

Kitab Taqribu Tahdzib karya Ibnu Hajar ini boleh dibilang kitab rangkuman dari hasil analisanya atas penilaian penilaian rowi dari para imam sebelumnya. Karena  itu kitab Taqrib ini sangat cocok sekali digunakan di akhir pencarian rowi setelah dicari di kitab Tahdzibul Kamal atau Tahdzibut Tahdzib terjadi perselisihan nilai dari imam antara yang menilai buruk (Jarh) dan yang menilai baik (ta’dil). Namun janganlah dibiasakan langsung membuka kitab Taqrib ini dikarenakan ingin cepat dapat kesimpulan nilai rowi tersebut tanpa cara-cara yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kenapa?

  1. Karena kebiasaan ini akan menumpulkan metode belajar kita menjadi kurang dalam wawasan rowi.
  2. Kemungkinan rowi yang dicari di kitab Taqrib tidak ketemu sehingga ini akan menyita waktu dalam pencarian selanjutnya.
  3. Dan juga hasil rangkuman nilai rowi yang ada di kitab Taqribu Tahdzib tidak mesti harus sama dengan hasil analisa kita. Misalnya setelah di telusuri di kitab-kitab rijal yang lainnya seperti kitab Lisanul Mizan, Mizanul I’tidal, Al-Jarh Wa Ta’dil dan kitab yang lain ternyata lebih menguatkan dan mengokohkan hasil analisa kita. (namun khusus no.3 ini perlu penguasaan ilmu mustholah yang lebih mapan untuk berbeda dengan Taqribu Tahdzib. He…)

sebagai penutup kesimpulan Pelajaran Pertama, berikut ana kutip bentuk-bentuk penilaian para Imam Jarh dan Ta’dil.

  • Penjelasan nilai Ta’dil (pujian) dari tertinggi sampai terendah. [1]

ـ1- ثبت حجة – ثبت حافظ – ثقة متقن – ثفة ثقة

ـ2ـ ثقة

ـ3ـ صدوق – لا بأس به – ليس به بأس

ـ4ـ محله الصدق – جيد الحديث – صالح الحديث – شيخ وسط – شيخ – حسن الحديث – صدوق إن شاء الله – صويلح – ونحو ذلك

Keterangan:

Rowi yang dapat sebutan di no.1 lebih kuat daripada rowi di no.2 dan seterusnya kebawah.

  • Penjelasan nilai Jarah (kritikan) dari terparah sampai kritikan biasa. [2]

ـ1ـ دجال – كذّاب – وضّاع – يضع الحديث

ـ2ـ متّهم بالكذب – متفق على تركه

ـ3ـ متروك – ليس بثقة – شكتوا عنه – ذاهب الحديث – فيه نظر – هالك – ساقط

ـ4ـ واهٍ بمرة – ليش بشيءٍ – ضعيف جدّا – ضعّفوه – ضعيف – واهٍ – منكر الحديث – ونحو ذلك

ـ5ـ يضفّف – فيه ضعف – قد ضُعّف – ليس بالقوي – غير حجة – ليس بحجة – ليس بذاك – تعرف وتنكر – فيه مقال – تُكُلّم فيه – ليّن – سيّء الحفظ – لا يحتجّ به – اختُلف فيه – صدوق لكنّه مبتدع

Keterangan:

  1. Rowi yang dapat sebutan di no.1 lebih parah dan buruk daripada rowi no.2 dan seterusnya kebawah.
  2. Khusus rowi-rowi yang dapat sebutan di no.1 s.d 4 rowi yang masuk katagori dloif goir muhtamal (riwayat yang dibawanya tidak bisa ditolong  atau tidak bisa dikuatkan oleh riwayat yang sejenis menjadi hasan lighoirih) kecuali ada beberapa catatan di no 3 dan 4 beberapa penilaian yang memungkinkan bisa terangkat.

Penjelasan tentang nilai-nilai rowi diatas akan dibahas lebih dalam dalam tema khusus. In Syaa Allah.

Demikianlah apa yang bisa ana simpulkan dari Pelajaran Pertama ini. Setelah ini kita masuk pada Pelajaran Kedua: Belajar mengenal dan menghafal rumus-rumus (kode) di kitab Tahdizbul Kamal. BERSAMBUNG.

Afwan atas kekurangannya. Sekian.

Wassalamu ‘Alaikum.

 


[1] Kitab Lisanul Mizan; Ibnu Hajar. Juz 1 hal.199 cet. Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyyah.

[2] Kitab Lisanul Mizan; Ibnu Hajar. Juz 1 hal.199-200 cet. Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyyah.

[3] Mursal adalah: riwayat yang terputus antara ia dengan gurunya dikarenakan beberapa sebab tidak sezaman atau tidak pernah bertemu walau sezaman dan beberapa sebab yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *