Belajar Takhrij Hadits 2

Setelah kita selesai dan faham pada cara pertama dan cara kedua, maka kita masuk pada  tahap selanjutnya yaitu cara ketiga, bagi ikhwan dan akhwat yang belum membaca cara pertama dan kedua ada baiknya baca dulu. Silahkan klik disini.

CARA KETIGA:

T Jarh ta'dil ibn Aby HatimRowi-rowi yang tidak di muat oleh kitab Tahdzibul Kamal dan Tahdzibut Tahdzib biasanya rowi-rowi khusus dan  kurang masyhur dalam periwayatan. Biasanya rowi-rowi seperti ini periwayatannya ada di luar kitab yang 6. Seperti Musnad Al-Bazzar, Musnad Abddurrozzaq, Al-Hakim, Sunan AshFahany, Musnad Ibn Aby Syaibah dan Mushonnafnya, Musnad Asy-Syasyie dll.

Nah, apabila rowi yang kita cari tidak ditemukan biografinya di kitab Tahdzibul Kamal dan Tahdzibut Tahdzib maka cara ketiga ini adalah hal yang mesti kita usahakan untuk bisa mendapatkan biografi rowi tersebut dan sekaligus berkenalan dengannya. He….

Kitab biografi rowi yang mesti kita punya untuk cara ketiga ini adalah diantaranya:

1.       Al-Jarhu Wa At-Ta’dilu: Ibnu Aby Hatim             (klik disini untuk download)

2.       At-Tarikh Al-Kabir: Al-Bukhory                          (klik disini untuk download)

3.       Ats-Tsiqoot : Ibnu Hibban                                 (klik disini untuk download)

4.       Mizanul I’tidal: Adz-Dzahaby                            (klik disini untuk download)

5.       Lisanul Mizan: Ibnu Hajar                                 (klik disini untuk download)

6.       Al-Majruhin: Ibnu Hibban                                  (klik disini untuk download)

7.       Al-Kamil Fie Dlu’afaa: Ibnu ‘Adie                       (klik disini untuk download)

8.       Ad-Dlu’afaa : Al-‘Uqoily                                    (klik disini untuk download)

9.       Ta’jielul Manfa’ah: Ibnu Hajar                            (klik disini untuk download)

T Lisanul MizanKitab-kitab diatas adalah sebagai contoh rekomendasi yang layak di miliki bagi penuntut ilmu seperti ana.

Untuk memudahkan pemahaman pada penjelasan diatas, kita masuk pada contoh penerapannya.

Contoh 1:

Riwayat Musa Ath-Thowil dari ‘Aisyah r.a.

Apabila kita buka kitab AL-MAJRUHIN karya Ibn Hibban misalnya kita akan dapatkan keterangan sebagai berikut:

شيخ كان يزعم أنه سمع أنس بن مالك ، ………. روى عن أنس أشياء موضوعة كان يضعها ، أو وضعت له ، فحدّث بها

“Syaikh ini diduga mendengar dari Anas bin malik r.a ……. Ia meriwayatkan dari Anas r.a hadits-hadits maudlu (palsu), dan ia memalsukannya atau hadits yang dipalsukan (oleh rowi lain) kepadanya ia riwayatkan”.

Pada penjelasan diatas sebuah petunjuk akan kedloifan rowi yang bernama Musa Ath-Thowil tentang periwayatan hadits palsu, namun belum ada penjelasan dikitab tersebut apakah hadits maudlu itu berasal darinya atau dari rowi lain kemudian ia riwayatkan.

Untuk memperjelas status rowi tersebut kita masuk dan membuka kitab yang kedua MIZANUL I’TIDAL misalnya. Kita akan mendapatkan penjelasan dustanya sebagai berikut:

Musa meriwayatkan sebuah hadits dan berkata pada hadits tersebut:

رأيت عائشة – رضي الله عنها – بالبصرة على جمل أورق في هودج أخضر

“Aku melihat ‘Aisyah r.a di kota Bashroh sedang diatas unta coklat (dengan menduduki) Haudaj yang berwarna hijau”.

Ket: Haudaj adalah tempat yang biasa di simpan diatas punggung unta untuk membawa barang-barang bawaannya.

Dengan melihat perkataan Musa Ath-Thowil ini sepintas Nampak jelasnya pertemuan musa dengan Aisyah r.a dan mendengar riwayat darinya sangat memungkinkan. Namun Imam Adz-Dzhabi dalam kitab Mizan tersebut mengomentarinya:

انظر إلى هذا الحيوان المتهم كيف يقول في حدود سنة مائتين إنه رأى عائشة، فمن الذي يصدقه

“Lihatlah pada hewan (orang) yang berdusta ini!! Bagaimana (mungkin) ia berkata  dengan (terpaut) batas 200 thn bahwa ia melihat aisyah r.a? siapa yang bisa mempercayainya?

Dari penjelasan Imam Adz-Dzahabi dapat diketahui ucapan Musa Ath-Thowil bahwa ia bertemu Aisyah r.a adalah kedustaan karena ia dan Aisyah r.a tidak sezaman. Karena itu sanad yang dibawa oleh Musa adalah dloif. Bahkan Maudlu (palsu).

Contoh 2:

Riwayat Sholat Al-Bakkry dari Ibnu Mas’ud r.a:

Apabila kita membuka kitab-kitab diatas, rowi ini bisa kita dapatkan di kitab Al-Jarh wa Ta’dil karya ibn Aby Hatim. Berikut kutipannya:

صلت البكري :  روى عن ابن مسعود مرسل سمعت أبي يقول ذلك

“Sholat Al-Bakhry meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dengan keadaan Mursal. Aku (Ibnu Aby Hatim) mendengar begitu (penjelasan) dari bapakku”

Dengan melihat perkataan Abu Hatim seperti kutipan diatas, ini bisa menjadi dalil bahwa setiap riwayat Sholat Al-Bakhry dari Ibn Mas’ud r.a adalah Mursal [1]. Itupun apabila kita tidak mendapatkan penjelasan lain di kitab-kitab rijal yang lain yang memungkinkan riwayat Sholat dari Ibn Ma’sud Mausul (bersambung).

Demikian penjelasan singkat cara ketiga dari PELAJARAN PERTAMA yang bisa ana tulis.

Bagi ikhwan dan akhwat yang mengikuti pembelajaran ini ingin dapat informasi dari pembelajaran pembelajaran baru silahkan kutip alamat facebook atau twitter atau mungkin emailnya untuk dapat Tag.

IKUTI PELAJARAN KEDUA DI LAIN KESEMPATAN (Membedah rumus-rumus (kode) di kitab Tahdzibul Kamal)

BERSAMBUNG …..

 


[1] Mursal adalah: riwayat yang terputus antara ia dengan gurunya dikarenakan beberapa sebab tidak sezaman atau tidak pernah bertemu walau sezaman dan beberapa sebab yang lainnya.

7 thoughts on “Belajar Takhrij Hadits 2

  1. fazar azhari

    Saya ingin bisa mentakhrij hadits. mohon juga kirim lewat email saya copy kitab-kitab di atas ya.. syukran & jzkllah . . . ustadz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *