Bayi Baru Lahir Di Adzani ?

Takhrij Hadits Meng-Adzankan Bayi Yang Baru Lahir

skema hadits mengadzankan bayix

Bagaimana hukum Meng-Adzankan bayi yang baru lahir?

Dengan menelusuri jejak riwayat tentang bayi yang di Adzankan, didapatkan keseluruhan riwayat sebagai mana skema yang kami buat dengan rincian sebagai berikut:

  1. Hadits Aby Rofy r.a:

حدثنا محمد بن بشار قال : حدّثنا يحيى بن سعيد وعبد الرحمن بن مهدي قالا : أخبرنا سفيان عن عاصم بن عبيد الله عن عبيد الله بن أبي رافع عن أبيه قال : رأيت رسول الله صلّى الله عليه وسلم أذّن في أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة.

Dari Aby Rofy r.a ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw adzan pada telinga Hasan bin ‘Aly ketika Fatimah melahirkannya”.

(Diriwayatkan oleh : Imam At-Turmudzy; Al-Jami’ Al-Kabir Littirmidzy. Juz 3 hal.175 No.1514 cet.Darul Ghorby Al-Islamy. Imam Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 5 hal.209 No.5105 cet.Daru Ibn Hazm. Imam Al-Baihaqy; As-Sunanu Al-Kubro Lilbaihaqy. Juz 9 hal.513 No.19303 cet.Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah. Syu’abul Iman. Juz 6 hal.389 No. : 8617-8618. Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyyah. Muhaqqiq: Abu Hajir Muhammad Sa’id.)

Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Al-Hakim, Imam At-Thobarony no.931, Imam Abdurrozaq no.5105 yang semua riwayatnya bermuara pada ‘Ashim bin Ubaidillah.

Ashim bin Ubaidillah termasuk rowi dloif. Berikut komentar-komentar para Ahlu Jarh: [1]

  1. Imam Al-Bukhory : “(Ashim) munkarul hadits”
  2. Imam Abu Hatim : “(Ashim) munkarul hadits, Mudlthoribul Hadits”
  3. Yahya bin Ma’in : “(Ashim) dloif”
  4. Al-Juzajany : “(Ashim) Dloiful Hadits”
  5. Ahmad bin Abdullah Al-‘Ijly: “La ba’sa bih”
  6. Ibnu Hajar Al-‘Atsqolany: “Dloif di martabat ke 4” [2]

Ket:

  • Munkarul Hadits maksudnya rowi yang suka memungkarkan hadits,
  • Mudlthoribul Hadits maksudnya hadits yang dibawanya goncang tidak ajeg.
  • La ba’sa bih maksudnya tidak apa-apa.

Dengan melihat standar penilaian Imam Al-Bukhory diatas jelas riwayat yang dibawa ‘Ashim bin ‘Ubaidillah termasuk Dloif goir muhtamal (riwayat dloif yang tidak bisa terangkat untuk menjadi hasan lighoirihi oleh hadits lain) dikarenakan rowi munkar masuk katagori “dloif syadid” yakni hadits yang sangat lemah sekali. Kalaupun ada penilaian “tidak apa-apa” dari Al-‘ijly namun penilaian Al-‘Ijly dikenal dengan “Tasahul” (lemah dalam penilaian). Terlebih kaidah mengatakan:

الجرح المفسر مقدّم على التعديل

“Jarh didahulukan atas ta’dil”.

Dan penilaian Al-‘Ijly inipun kalaulah diterima dan penilaian ulama yang menjarhnya tidak diperhatikan, tetap hadits ini dloif apabila tidak ada “Syawahid” atau “Mutaba’at”. Karena penilaian “la ba’sa bih” apabila “tafarrud”maka riwayatnya tertolak.

Hadits Abu Rofi di jalur ini termasuk hadits dloif goir muhtamal.

  1. Hadits Ibnu Abbas r.a:

وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان أنا أحمد بن عبيد الصفار نا محمد بن يونس نا الحسن بن عمر (بن سيف) السدوسي نا القاسم بن مطيب عن منصور بن صفية عن أبي معبد عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد فأذن في أذنه اليمنى وأقام في أذنه اليسرى

Dari Ibnu Abbas r.a bahwasannya Nabi saw Adzan pada telinga Hasan bin ‘Aly pada hari kelahirannya. Beliau (Nabi saw) Adzan di telinganya yang kanan, dan Qomat ditelinganya yang kiri.

(Diriwayatkan oleh : Imam Al-Baihaqy: Kitab Syu’abul Iman. Juz 6 hal.390 No. : 8620. Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyyah. Muhaqqiq: Abu Hajir Muhammad Sa’id).

Pada sanad ini terdapat Al-Hasan bin Amr bin Saif : “Rowi Matruk” Imam Al-Bukhory mengatakan: “Rowi Pendusta” [3]).

Riwayat ini “Maudlu” hadits palsu. Dan Jalur ini Dloif Goir Muhtamal (sangat tdk memungkinkan untuk saling menguatkan dgn hadits yang lain)

  1. Husein bin ‘Aly r.a:

أخبرنا أبو محمد بن فراس بمكة أنا أبو حفص الجمحي نا علي بن عبد العزيز نا عمرو بن عون أنا يحيى بن العلاء الرازي عن مروان بن سالم عن طلحة (بن) عبد الله العقلي عن (الحسين) بن علي قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من ولد له مولود فأذن في أذنه اليمتى وأقام في أذنه اليسرى رفعت عنه أم الصبيات

Dari Husein bin ‘Aly r.a ia berkata: telah bersabda Nabi saw : “Barang siapa yang melahirkan anak, kemudian di adzani di telinga kanan dan di iqomati di telinga kirinya, maka Ummu Shobiyyat (Jin) akan pergi darinya”.

(Kitab Syu’abul Iman: H.R. Baihaqy. Juz 6 hal.390 No. : 8619. Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyyah. Muhaqqiq: Abu Hajir Muhammad Sa’id).

Pada jalur ketiga ini terdapat Yahya bin Al-‘Ala Ar-Rozy. Rowi pemalsu hadits dan Juga termasuk rowi matruk (riwayatnya ditinggalkan).

Imam Ahmad mengatakan: “(dia) Pembohong dan pemalsu hadits”.

Imam An-Nasa’I dan Imam Ad-Daroquthny pun mengomentarinya: “Matrukul Hadits” (haditsnya ditinggalkan) [4].

Jalur ketiga ini Dloif Goir Muhtamal (sangat tidak mungkin untuk bisa saling menguatkan dengan hadits yang lain).

 

  1. Hadits Abu Rofi’ r.a:

حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي ثنا عون بن سلام (ح) وحدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا يحيى الحماني قالا ثنا حماد بن شعيب عن عاصم بن عبيد الله عن علي بن الحسين عن أبي رافع : أن النبي صلى الله علية وسلم أذن في أذن الحسن والحسين رضي الله عنهما حين ولدا وأمر به. واللفظ للحماني.

Dari Aby Rofi’ : bahwasannya Nabi saw Adzan di telinga Hasan dan Husen r.a ketika keduanya dilahirkan. Dan (beliau) memerintahkannya.

(Kitab Al-Mu’jamul Kabir Lithobarony. Juz 1 hal.313 No. : 926. Cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah).

Pada jalur ke empat ini, terdapat Hamad bin Syu’aib yang termasuk rowi dloif. Imam Al-Bukhory mengatakan: “Fiehi Nadzor”. Bentuk pernyataan dari Al-Bukhory ini menunjukkan riwayatnya dloif sekali yang tidak bisa saling menguatkan dengan hadits yang lain. Dan Imam Abu Daud pun menilai rowi tersebut hadits nya ditinggalkan (Matrukul Hadits). [5]

Dan juga terdapat rowi kedua yang lemah yaitu ‘Ashim bin Ubaidillah. Imam Abu Hatim dan Al-Bukhory menilainya : “Munkarul Hadits”. [6] (lihat pembahasan pada hadits pertama)

Dengan begitu Jalur ini Dloif Goir Muhtamal (Tdk memungkinkan untuk saling menguatkan)

Dari keseluruhan riwayat yang ada setelah melalui penelusuran dari berbagai kitab mashodir ashliyyah, terdapat 4 jalur diatas dengan kesimpulan:

  1. Jalur pertama terdapat 2 penilaian:
    a. Hadits dloif goir muhtamal. (dloif sekali yang tidak bisa saling menguatkan) penilaian ini sesuai kriteria Imam Al-Bukhory dan juga diperkuat oleh Abu Hatim dengan penialainnya “Munkarul Hadits”.
    b. Hadits dloif muhtamal (dloif ringan yang memungkinkan bisa saling menguatkan). Penilaian ini sesuai dengan penilaian Al-‘Ijly.
  2. Jalur ke dua sampai ke empat riwayatnya munkar, matruk dan maudlu (palsu) == tidak mungkin saling menguatkan.

Dengan begitu secara keseluruhan, riwayat ini tidak bisa diterima karena kedudukannya dloif sekali. Dan kalaupun penilaian Al-‘ijly diterima pada point b sebagai dloif yang muhtamal, namun tidak kita dapatkan jalur yang lain yang bisa menopang kelemahannya menjadi Hasan. Artinya riwayat tentang mengadzankan bayi yang baru lahir riwayatnya dloif (lemah).

Wallahu a’lam.


(Kami menerima masukan apabila ada jalur riwayat lain yang belum kami dapatkan, dan apabila membutuhkan copas artikel silahkan kutip email saudara di menu komentar, in-syaa Allah nanti di kirim). Syuron


[1] Kitab tahdzibul kamal. Juz 13 hal.500-506 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad. Kitab At-Tarikh Al-Kabir; tarjamah no. 3088.

[2] Kitab Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.472. No.rowi 3082. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

[3] Kitab tahdzibul kamal. Juz 6 hal.287 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

[4] Kitab tahdzibul kamal. Juz 31 hal.484 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

[5] Kitab lisanul Mizan. Juz 3 hal.270 cet.Maktab Al-Matbu’ah Al-Islamiyyah.

[6] Kitab tahdzibul kamal. Juz 13 hal.505 cet.Muassasatu Ar-Risalah. Tahqiq Basyar Awwad

5 thoughts on “Bayi Baru Lahir Di Adzani ?

  1. Taufik Ginanjar

    Terimakasih banyak atas pencerahannya..
    membantu sekali dlm menyelamatkan ibadah sesuai sunnah
    sebab sy sudah 2x disuruh mengadzani anak2 sy yg baru lahir oleh bidan..
    tp alhamdulillah sy mah tdk menuruti, ternyata betul hadits nya dhoif..

    thanks gan

    1. Abu Aqsith Post author

      Ana sudah kirim.
      Afwan. setiap mau posting lagi makalahnya mohon di kutip sumber situs ana, biar nanti ada koreksi dari pembaca ana ada tambahan ilmu yang belum ana faham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *